Kategori: Majalah AsySyariah Edisi 077
(ditulis oleh: Al-Ustadz Qomar Suaidi, Lc)
Para musuh dakwah beliau tak lepas dari salah satu dari sifat-sifat berikut ini,
1. Al-hadatsah (kemudaan)
2. Kedangkalan ilmu
3. Bid’ah
4. Suka untuk tampil
5. Merasa sebagai syaikh
Berbagai tuduhan tak berdasar dilontarkan kepada beliau dari beraneka ragam musuh dakwahnya. Tetapi, itu adalah sebuah risiko yang mesti terjadi di saat seseorang menjalankan sunnah Nabi n. Itulah yang terjadi pada asy-Syaikh al-Albani. Kami akan buktikan, insya Allah, bahwa berbagai tuduhan dan tudingan tersebut tidak sesuai dengan kenyataan. Namun, saya di sini akan memfokuskan pada beberapa hal saja dan terkhusus yang tersebar di negeri kita, karena keterbatasan waktu dan ruang.
Di antara tuduhan tersebut adalah sebagai berikut.
Tuduhan Berpemahaman Murji’ah
Tak diragukan bahwa tuduhan tentulah berasal dari orang-orang yang berpemahaman takfir atau terpengaruh oleh pemahaman mereka. Akan tetapi, yang lebih menyakitkan adalah ketika tuduhan itu juga dilontarkan oleh orang yang dianggap sebagai salafi juga. Asal tuduhan ini, karena asy-Syaikh al-Albani adalah tokoh yang sangat keras menentang pemikiran takfir (mengafirkan kaum muslimin) dan gerakan kelompok takfir, sehingga beliau tentu menjadi sasaran tudingan mereka. Safar al-Hawali, seorang yang berpemahaman Ikhwanul Muslimin atau takfir, menjadi salah satu pelopor tuduhan ini dalam bukunya, Zhahiratul Irja’. Tuduhan itu pun semakin tenar sehingga tak sedkit yang membeo mengikuti jejak Safar al-Hawali.
Benarkah tuduhan itu?
Siapakah yang disebut Murji’ah? Mereka adalah yang meyakini bahwa amal bukan termasuk iman, iman tidak bertambah serta berkurang, serta perbuatan dosa tidak menurunkan iman.
Dari keterangan siapakah yang disebut Murji’ah, sama sekali syaikh al-Albani tidak masuk dalam kategori mereka. Lihatlah keyakinan beliau dalam hal iman. Amal adalah bagian penting dalam iman dan dengan hanya pelanggaran anggota badan, seseorang bisa lepas sama sekali dari iman. Dua hal ini termasuk yang sangat membedakan antara Ahlus Sunnah dengan Murji’ah dalam hal iman. Sebagai bukti dalam al-Aqidah ath-Thahawiyah pada poin no. 58 dan 62.
Ketika ath-Thahawi mengatakan, “Dan kami tidak mengatakan ‘Tidak bermudarat dengan adanya iman dosa apa pun bagi orang yang melakukannya’.”
Beliau memberikan komentar, saya katakan, “Hal itu karena ucapan tersebut merupakan pendapat orang-orang Murji’ah yang mengarah kepada pendustaan terhadap ayat-ayat ancaman dan hadits-haditsnya yang datang (menerangkan) tentang para ahli maksiat dari umat ini, dan bahwa kelompok-kelompok dari mereka yang maksiat itu akan masuk ke neraka lalu keluar darinya dengan syafaat atau yang lainnya.
Juga ketika ath-Thahawi t menjelaskan tentang iman dan beliau keliru padanya yaitu, “Iman adalah ikrar dengan lisan dan pembenaran dengan kalbu.”
Beliau memberikan komentar, “Ini adalah mazhab Hanafiyyah dan Maturidiyyah. Berbeda dengan mazhab salaf dan mayoritas para imam seperti al-Imam Malik, Syafi’i, Ahmad, al-Auza’i, dan yang lain, karena mereka menambahkan pada ikrar dengan (lisan) dan pembenaran itu dengan tambahan pengamalan dengan anggota badan.”
Kiranya dua kutipan ini saja sudah cukup sebagai bukti lepasnya beliau dari tuduhan berdosa tersebut bagi orang yang adil dan berakal.
Alhamdulillah para ulama telah bersaksi atas lurusnya akidah dan keyakinan beliau, di antaranya asy-Syaikh Ibnu Utsaimin, beliau t berkata, “Barang siapa menuduh asy-Syaikh al-Albani sebagi Mur’jiah maka dia telah salah, mungkin dia tidak tahu apa itu Murji’ah atau siapa itu al-Albani.”
Tuduhan Penulis Blog Jamaah Tabligh
Dalam blog Jamaah Tabligh, dengan bahasa yang sangat merendahkan, penulis meremehkan ilmu haditsnya, dengan mengatakan, “Sebetulnya, kapasitas ilmu tukang reparasi jam ini sangat meragukan (kalau tak mau dibilang “ngawur”).”
Rasanya tak perlu saya jawab panjang lebar, karena terlalu rendah omongannya. Maklum, omongan orang yang tidak tahu ilmu hadits, tentu saja tidak menghargai ahli hadits. Begitulah seseorang apabila bicara bukan pada bidangnya. Adapun orang-orang yang paham ilmu hadits tidak akan meragukan keilmuannya. Bias jadi, penulis tersebut tidak pernah membaca Silsilah ash-Shahihah dan kitab beliau yang lain. Bisa jadi pula, dia tidak bisa membaca kitab gundul, atau tidak paham pembahasan mushthalah. Maklumlah, kesibukan Jamaah Tabligh (JT) dalam urusan lain.
Celaannya Terhadap Profesi Reparasi Jam
Sebetulnya, kapasitas ilmu tukang reparasi jam ini sangat meragukan (kalau tak mau dibilang “ngawur”).
Demikian tertulis dalam blog JT tersebut. Aneh bila kerjaan yang halal itu dicela, padahal Nabi n telah menganjurkan makan dari hasil kerja sendiri dan untuk berkerja yang halal walupun tampak sepele,
لَأَنْ يَحْتَزِمَ أَحَدُكُمْ حُزْمَةَ حَطَبٍ عَلَى ظَهْرِهِ فَيَبِيعَهَا خَيْرٌ مِنْ أَنْ يَسْأَلَ رَجُلاً فَيُعْطِيَهُ أَوْ يَمْنَعَهُ.
“Seseorang mengikat seikat kayu bakar lalu menggendongnya di atas punggungnya lebih baik daripada meminta-minta kepada seseorang, yang mungkin memberinya atau tidak memberinya.” (Sahih, HR. an-Nasa’i dan yang lain, dinyatakan sahih oleh asy-Syaikh al-Albani)
مَا كَسَبَ الرَّجُلُ كَسْبًا أَطْيَبَ مِنْ عَمَلِ يَدِهِ
“Tidaklah seseorang memperoleh suatu penghasilan yang lebih bagus dari kerjaan tangannya sendiri.” (Sahih. HR. an-Nasa’i dan yang lain, dinyatakan sahih oleh asy-Syaikh al-Albani)
Bagaimana dengan dua hadits di atas? Apakah kamu tidak akan menerima lantaran saya sebutkan bahwa yang menyatakan sahih adalah asy-Syaikh al-Muhaddits al-Albani?
Sungguh, pekerjaan tersebut lebih baik dari pada seseorang menjadi direktur bank atau kantor pajak. ”Nabi Zakariya dahulu adalah seorang tukang kayu,” (Sahih, HR. Muslim)
Tidak Berguru kepada Ahli Hadits
Tentu itu hanya sebatas tuduhan. Selintas, pada biografi singkat telah dijelaskan bahwa beliau tumbuh dalam keluarga yang agamis dan sejak berusia dini telah belajar dasar-dasar ilmu agama. Bahkan, ayahnya tidak memasukkannya ke sekolah lanjutan demi untuk diajari khusus ilmu agama oleh ayahnya dan teman-teman ayahnya, yang mereka bukan guru biasa, bahkan terhitung ulama di kalangan mereka.
Beliau pun ikut serta dalam seminar-seminar seorang ulama besar semacam Muhammad Bahjat al-Baithar. Dengan demikian, ketika menginjak dewasa dan mengarungi lautan ilmu, beliau bukan seperti orang buta yang berenang di lautan. Bahkan, ia melihat dan telah memiliki berbagai macam alat dan dasar-dasar teknik mengarunginya. Ilmu alat dan kunci-kunci ilmu telah beliau miliki.
Dalam ilmu hadits, lihat saja pengakuan ahli hadits dan al-musnid (ahli sanad) di negeri itu, asy-Syaikh Muhammad Raghib at-Thabbakh, yang kagum kepada beliau dalam bidang hadits sehingga memberikan ijazah sanad-sanad hadits kepada beliau, yaitu al-Anwar al-Jaliyyah fi Mukhtashar al-Atsbat al-Hanbaliyyah. Jadi, telaah dan ketekunan beliau dalam mengarungi lautan ilmu adalah pengembangan dan aplikasi dari dasar-dasar ilmu yang selama ini telah tertanam dalam diri beliau.
Menyerupakan Allah dengan Makhluk
Penulis pada blog Jamaah Tabligh menuliskan, “Menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya sebagaimana dia sebutkan dalam kitabnya berjudul Almukhtasar al Uluww hal. 7, 156, 285.”
Dengan merujuk kepada halaman yang disebutkan, tampaknya si penuduh tidak paham sama sekali atau mungkin tidak membaca dan hanya taklid kepada pencela al-Albani yang lain, atau mungkin tidak bisa membaca Arab gundul.
Pada halaman tersebut sama sekali tidak ada pernyataan beliau yang menyerupakan Allah l dengan makhluk. Bisa jadi, yang dia maksud adalah ketika asy-Syaikh al-Albani menceritakan mazhab ahlul hadits dan Hanabilah dalam hal mengimani kalamullah. Mereka mengimani al-Qur’an itu kalamullah, dan kalam Allah l itu terdengar karena itu suara dan huruf. Bisa jadi, dipahami bahwa ini berarti beliau menyerupakan Allah l dengan makhluk. Dianggap olehnya bahwa suara adalah seperti suara makhluk dan huruf seperti huruf makhluk.
Ya, maaf, itu salah paham yang cukup berat.
Pertama, justru pikiran Anda yang menyerupakan Allah l dengan makhluk. Saat Anda membaca ungkapan itu, langsung Anda hukumi menyerupakan Allah l dengan makhluk. Tidak ada dalam pikiran Anda saat orang menyatakan ‘kalam Allah l dengan suara’ selain gambaran seperti suara manusia atau makhluk lain. Jadi pikiran Andalah yang sudah terkotori oleh tasybih (penyerupaan Allah l dengan makhluk).
Sungguh benar pernyataan ulama dahulu “Setiap orang yang menolak sifat Allah l, pastilah dia juga musyabbih (menyerupakan Allah dengan mahluk).” karena sebelum dia tolak sifat Allah l tersebut, penyerupaan tersebut telah tergambar dahulu dalam pikirannya. Setelahnya, dia menolak hal itu. Apa yang kita bahas menjadi bukti kebenaran pernyataan itu.
Adapun Ahlus Sunnah wal Jamaah, tidak tergambar hal itu karena pikiran mereka tidak kotor dengan tasybih (penyerupaan Allah l dengan makhluk). Oleh karena itu, ketika mereka menyatakan bahwa kalam Allah l dengan suara dan huruf, artinya suara Allah l yang sama sekali tidak serupa dengan suara makhluk dan huruf makhluk. Begitu pula saat menetapkan sifat-sifat Allah yang lain yang ada dalam al-Qur’an atau al-Hadits, seperti cinta, benci, melihat, tangan, dan lain-lain.
“Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (asy-Syura: 11)
Adapun landasan Ahlus Sunnah bahwa kalam Allah l dengan suara dan huruf, sangat banyak. Saya akan cukupkan dengan dua saja di sini.
Dari Jabir dari Abdullah bin Unais z, ia berkata bahwasanya ia mendengar Rasulullah n bersabda,
يَحْشُرُ اللهُ الْعِبَادَ فَيُنَادِيهِمْ بِصَوْتٍ يَسْمَعُهُ مَنْ بَعُدَ كَمَا يَسْمَعُهُ مَنْ قَرُبَ: أَنَا الْمَلِكُ، أَنَا الدَّيَّانُ
“Allah mengumpulkan hamba-hamba-Nya, lalu Allah l memanggil mereka dengan suara yang didengar oleh yang jauh seperti yang didengar oleh yang dekat, ‘Akulah Sang Raja. Akulah Yang Maha Membalasi’.” (Sahih, HR. al-Bukhari secara mu’allaq dan Ahmad)
Dari Abdullah bin Mas’ud ia berkata bahwa Rasulullah n bersabda,
مَنْ قَرَأَ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ اللهِ فَلَهُ بِهِ حَسَنَةٌ وَالْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا، لاَ أَقُولُ الم حَرْفٌ وَلَكِنْ أَلِفٌ حَرْفٌ وَلاَمٌ حَرْفٌ وَمِيمٌ حَرْفٌ.
“Barang siapa yang membaca satu huruf dari kitabullah maka dengannya dia akan mendapat satu kebaikan. Satu kebaikan dilipatkan menjadi sepuluh kali lipatnya. Aku tidak mengatakan bahwa alif lam mim satu huruf. Akan tetapi, alif satu huruf, lam satu huruf, dan mim satu huruf.” (Sahih, HR. at-Tirmidzi)
Itu adalah pernyataan Ahlus Sunnah, dan itulah ijma’ mereka.
Asy-Syaikh al-Albani termasuk ulama yang sangat menentang tasybih (menyerupakan Allah dengan makhluk). Ini terbukti ketika ath-Thahawi menyatakan dalam kitab Aqidah-nya pada poin no. 9, “Dan para makhluk tidaklah menyerupai-Nya.” Asy-Syaikh al-Albani berkomentar, “Pada ucapannya terdapat bantahan terhadap pendapat musyabbihah (orang-orang yang menyerupakan al-Khaliq dengan makhluk). Mahasuci Allah dan Mahatinggi.
Allah berfirman,
“Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (asy-Syura: 11)
Beliau kemudian menukil ucapan Abu Hanifah, “Allah tidak menyerupai sedikit pun dari makhluk-Nya, dan tidak pula sesuatu pun dari makhluk-Nya menyerupai-Nya.”
Abu Hanifah melanjutkan, “Dan semua sifat-Nya berbeda dengqn sifat-sifat makhluk. Allah Maha berilmu, namun tidak seperti ilmu kita. Allah Mahamampu, namun tidak seperti kemampuan kita. Allah Maha Melihat, namun tidak seperti penglihatan kita.” (Syarh wa Ta’liq ‘ala al-Aqidah ath-Thahawiyah)
Mengafirkan Orang-Orang yang Tawassul
Penulis blog mengatakan, “Mengafirkan orang-orang yang bertawassul dan beristighatsah dengan para Nabi n dan orang-orang soleh seperti dalam kitabnya at-Tawassul.”
Demikian dengan ringkasnya tuduhan itu dilontarkan untuk membuat momok pada asy-Syaikh al-Albani. Sebetulnya, tuduhan itu adalah tanggung jawab penuduh, karena Allah l bakal menanyainya. Apalagi tuduhan mengafirkan, jangan dianggap sepele! Maka dari itu, semestinya dia tunjukkan dengan jelas pada halaman mana dari kitab tersebut.
Saya dengan segala keterbatasan, mencoba melihat-lihat kembali kitab tersebut (at-Tawassul Anwa’uhu wa Ahkamuhu), namun saya belum dapatkan apa yang mereka sebutkan. Yang saya dapatkan, beliau menuliskan, “Muncullah dari qiyas yang rusak dan pendapat yang tak laku ini kesesatan terbesar tersebut dan musibah terbesar, yang banyak kaum muslimin yang awam, bahkan sebagian orang khususnya, terjatuh padanya. Ketahuilah, itu adalah istighatsah, memohon pertolongan kepada para Nabi n dan orang-orang saleh selain Allah l di saat kesulitan dan musibah….” (hlm. 137)
Lalu beliau menukilkan ucapan sebagian ulama yang mencap bahwa ini perbuatan kekafiran dan kesyirikan.
Jadi, penjelasan beliau ini adalah dalam masalah istighatsah, mohon pertolongan kepada selain Allah l. Kalau tawassul ini sampai pada tingkatan tersebut, yaitu meminta dan berdoa kepada selain Allah l, tentu kafir.
Bagaimana menurut kalian? Apakah kalian sepakat dengan mereka dalam masalah ini?
Apabila kalian sepakat, mengapa kalian mencela al-Albani?
Kalau menurut kalian boleh, berarti kalian membolehkan berdoa kepada selain Allah l, yang itu adalah syirik. Sayangilah agama kalian!
Adapun tawassul dengan para nabi yang tidak sampai kepada tingkatan ini, tetapi bertawassul dengan kedudukannya, misalnya mengucapkan, “Aku mohon kepadamu, ya Allah, dengan kedudukan Nabi n Muhammad,” saya tidak mendapati beliau mengafirkannya, tetapi kata beliau, “Tidak boleh. Tidak disyariatkan karena tidak ada dalil yang pantas jadi landasannya.” (hlm. 46)
Beliau juga menyebutkan bahwa ini adalah bid’ah karena tidak ada satu pun dalam doa al-Qur’an dan hadits yang sahih! Jadi, ini bukan ajaran Nabi n dan amalan para sahabat. Apabila kalian menganggap sunnah sehingga senantiasa mendendangkannya, tunjukkan dalilnya yang sahih! Kami tunggu.
Adapun tawassul dengan Nabi n dan orang saleh saat masih hidup dengan doanya, asy-Syaikh al-Albani membolehkannya. Beliau mengatakan, “Tawassul yang disyariatkan dan ditunjukkan oleh nash-nash al-Kitab dan as-Sunnah, dan diamalkan oleh as-salafush shalih serta disepakati oleh muslimin yaitu:
1. Tawassul dengan salah satu nama Allah l atau salah satu sifat-Nya,
2. Tawasssul dengan amal saleh yang dilakukan orang yang berdoa,
3. Tawassul doa orang saleh.” (hlm. 46)
Inilah ucapan beliau, lantas dari mana celanya, wahai penuduh?
Tawassul itu sesuatu yang Allah l syariatkan sebagaimana dalam salah satu ayat, bagaimana kalian mengamalkan ayat itu? Dengan sesuatu yang Nabi n contohkan atau dengan karangan kalian sendiri?
Melarang Ziarah Kubur
Kata penulis blog JT, “Mengharamkan umat Islam mengunjungi sesamanya dan berziarah kepada orang yang telah meninggal di makamnya.”
Tuduhan ini pun tidak jauh dari yang sebelumnya, murahan dan tidak ilmiah. Mestinya, dia menukilkan sumber sekaligus kutipan yang lengkap. Ingat, kalian akan ditanya oleh Allah l nanti.
Mari kita menyimak penjelasan asy-Syaikh al-Muhaddits al-Albani tentang ziarah dalam kitabnya Ahkamul Janaiz, “Disyariatkan berziarah kubur untuk mengambil pelajaran dan untuk mengingatkan akhirat, dengan syarat dalam ziarahnya tidak mengucapkan kata-kata yang dimurkai oleh Allah l, seperti berdoa kepada orang yang dikubur tersebut, atau memohon pertolongan kepadanya selain Allah l, atau mentazkiyah serta memastikannya masuk surga.” (hlm. 227)
Kontradiksi dalam Menghukumi Hadits
Sebagian orang mengungkapkannya dengan bahasa rendahan, seperti ucapan Abu Salafy, “Syeikh agung mereka yang sering linglung dalam mentashih atau mentadh’if hadis!”
Bahkan, sebagian orang menganggap beliau tidak berhak menghukumi suatu hadits dengan mengatakan, “Sebetulnya, kapasitas ilmu tukang reparasi jam ini sangat meragukan (kalau tak mau dibilang ‘ngawur’).”
Dia sendiri mengakui bahwa sebenarnya dia tidak hafal sepuluh hadits dengan sanad muttashil (bersambung) sampai ke Rasulullah. Meskipun demikian, dia berani mentashih dan mentadh’ifkan hadits sesuai dengan kesimpulannya sendiri dan bertentangan dengan kaidah para ulama hadits yang menegaskan bahwa sesungguhnya mentashih dan mentadh’ifkan hadits adalah tugas para hafizh (ulama ahli hadits yg menghapal sekurang-kurangnya seratus ribu hadits).”
Inilah tuduhan penulis blog JT. Tuduhan ini berasal dari orang yang tidak tahu kapasitas dirinya. Mestinya, apabila menuduh hendaknya yang ilmiah sehingga tidak memalukan, tidak hanya asal bicara. Semestinya, mereka mempelajari ribuan hadits yang beliau hukumi, baru setelahnya mereka mengeluarkan kesimpulannya. Atau sebelum itu, mereka sudah bisa membaca Arab gundul atau belum? Ataukah mereka hanya membeo kepada orang Timur Tengah yang mengkritik beliau?
Alhamdulillah, tuduhan ini telah disanggah oleh para ulama. Di antaranya asy-Syaikh Muhammad Umar Bazmul dalam kitabnya al-Intishar li Ahlil Hadits. Kesimpulan beliau, ini adalah tuduhan kebodohan atau pura-pura bodoh. Ketahuilah, yang disepakati Ahlus Sunnah—mungkin Abu Salafy tidak ikut kesepakatan ini, -red.—bahwa kemaksuman tidak tetap bagi seorang pun dari umat ini, selain Rasulullah n.
Oleh karena itu, kekeliruan adalah sesuatu yang mungkin terjadi pada siapa saja. Jangankan beliau, ulama dan para hafizh pun tidak lepas darinya. Tetapi, apakah kekeliruan yang sifatnya manusiawi dalam hal yang ijtihadi dan dalam jumlah yang lumrah, menjatuhkan kapasitas ilmiahnya? Tidak seorang pun yang beranggapan demikian selain orang yang bodoh.
Perbedaan penilaian atau hukum dalam beberapa hadits yang terjadi pada beliau tidak keluar dari beberapa hal berikut ini.
1. Perubahan hukum beliau terhadap beberapa hadits disebabkan perkembangan ilmu beliau.
Misalnya, ditemukannya kitab yang baru tercetak, atau sanad lain, mutaba’ah, dan syawahid, atau tersingkapnya kelemahan hadits yang sebelumnya tidak diketahui. Hal ini cukup banyak, seperti yang beliau ungkapkan sendiri dalam mukadimah kitab Shahih Jami’ ash-Shaghir. Alhamdulillah, sekarang telah terbit buku Taraju’at al-Albani, yang menerangkan hadits-hadits yang asy-Syaikh al-Albani mengubah penghukuman beliau terhadap hadits tersebut dari sahih menjadi dhaif atau menjadi hukum yang lain.
2. Hadits yang dalam derajat hasan lighairihi.
Pembahasan hadits hasan lighairihi termasuk maslaah yang paling sulit dalam ilmu hadits. Oleh karena itu, kalau ijtihad ulama suatu saat berubah, itu adalah hal yang sangat wajar, baik pada al-Albani atau yang lain.
Simak penegasan adz-Dzahabi yang tak diragukan keilmuannya dalam ilmu hadits dan para rawi, “Jangan engkau harap bahwa hadits hasan memiliki kaidah yang semua hadits hasan dapat masuk ke dalamnya. Saya putus asa untuk itu. Betapa banyak hadits yang para hafizh ragu dalam hal ini, apakah itu hasan, dhaif, ataukah sahih. Bahkan, seorang hafizh terkadang berubah ijtihadnya dalam menghukumi satu hadits. Suatu hari ia menyatakan sahih, hari yang lain menyatakan hasan, atau justru menyatakannya dhaif. Dan ini benar….” (al-Muqizhah, hlm. 28—29)
3. Hadits-hadits yang beliau dianggap kontradiksi dalam menghukuminya, padahal justru si penuduhnya yang tidak bisa menilai.
4. Hadits-hadits yang asy-Syaikh al-Albani berbeda dalam menghukuminya karena keterbatasan yang sifatnya manusiawi yang tidak ada seorang pun lepas darinya. Yang seperti itu jumlahnya sedikit sekali apabila dibanding ribuan hadits yang beliau hukumi.
Kesimpulan akhir asy-Syaikh Muhammad Bazmul, “Vonis bahwa asy-Syaikh al-Albani kontradiksi dalam menghukumi hadits, dan upaya menghilangkan kepercayaan terhadap ilmu dan buku-bukunya adalah omong kosong belaka, dari orang yang dengki. Tidak ada bobotnya dalam timbangan kebenaran sedikit pun. “ (lihat hlm. 211—216 dengan sedikit penambahan dan ringkasan)
مَنْ ذَا الَّذِي تُرْضَى سَجَايَاهُ كُلُّهَا
كَفَى بِالْمَرْءِ نَبْلاً أَنْ تُعَدَّ مَعَايِبُهُ
Siapakah yang seluruh tabiatnya diridhai
Cukuplah sebagai kemuliaan seseorang itu dapat dihitung cacatnya.
Adapun ucapan penulis dalam blog JT di atas, saya anggap itu ucapan anak ingusan yang tidak tahu ilmu musthalah sama sekali. Siapa yang mensyaratkan orang harus hafal sepuluh hadits dengan sanadnya sampai kepada Rasulullah n, apalagi sanad dari zaman sekarang sampai kepada Rasulullah n?
Siapa yang mensyaratkan untuk menghafal ratusan ribu hadits, baru boleh menghukumi suatu sanad hadits sahih dan dhaifnya?!
Datangkan satu saja pensyaratan dari ulama mutaqaddimin (terdahulu)dalam hal ini, saya tunggu.
Tuduhan Abu Salafy
Ya, Abu Salafy sebutannya, tetapi jangan Anda mengira dia salafi. Mungkin anaknya yang salafi, semoga saja….
Dia katakan, “Syeikh Albani menukil pendapat sebagin kaum Musyabbihah (yang menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya) seraya membenarkan bahwa:
1. “Barang siapa berkata tentang Allah, ‘Dia dilihat tidak di sebuah jihah/sudut/sisi tertentu,’ hendaknya ia mengoreksi akalnya. Albani berkata, “Jika yang dimaksud dengan jihah adalah perkara ketiadaan dan dia adalah di atas alam semesta ini, di sana tidak ada selain Allah sendirian.”
Abu Salafy berkata, “Demikianlah akidah Salafi yang dibanggakan kaum Salafiyyun Wahhabiyyun yang diyakini Syeikh agung mereka yang sering linglung dalam mentashih atau mentadh’if hadis!
Coba bandingkan dengan akidah ulama Islam seperti yang dirangkum oleh al-Imam ath-Thahawi dalam Aqidah-nya, “Allah tidak dimuat oleh enam sisi seperti halnya makhluk.”
Maksudnya, Mahasuci Allah dari berada di sisi tertentu, sebab yang demikian itu meniscayakan bertempat dan dibatasi oleh batas dan segala konsekuensinya, seperti gerak, diam dll dari sifat makhluk.
Dengan omongannya itu, Syeikh Albani telah menuduh para ulama Islam tidak berakal. Dan pada waktu yang sama ia telah membuktikan bahwa ia telah menyimpang dari akidah Islam yang diyakini para imam Ahlusunnah.
Bantahan
Saya merujuk pada tiga halaman yang dia tunjuk sebagai sumber tuduhannya (Mukhtashar al-‘Uluw, hlm. 7, 156, 285) dalam kitab Mukhtashar al-‘Uluw yang saya miliki. Kitab yang saya miliki adalah cetakan kedua, terbitan al-Maktabul Islami. Akan tetapi, di semua halaman yang disebutkan di atas, tidak ada kata-kata tersebut.
Anehnya, dalam blog JT pada bahasan yang berbeda, yaitu asy-Syaikh al-Albani menyerupakan Allah l dengan makhluk, juga persis menunjuk buku dan halaman itu. Ada kesepakatan apa antara Abu Salafy dengan penulis di blog JT tersebut? Siapa mereka?
Juga pada referensi kedua, kitab (al-Aqidah ath-Thahawiyah Syarah wa Ta’liq al-Albani, hlm. 25) juga tidak saya dapati pada buku saya, cetakan kedua terbitan al-Maktabul Islami. Entah dia merujuk ke cetakan mana? Atau ini kritik ‘ilmiah’ yang bagaimana?
Yang jelas—tanpa saya tunjukkan, biar mereka cari sendiri dan itu mudah—, nukilan itu memang ada dalam buku asy-Syaikh al-Muhaddits al-Albani—semoga Allah l senantiasa membelanya dari rongrongan para musuh sunnah. Yang pertama adalah ucapan Ibnu Abil Izzi al-Hanafi yang dianggap musyabbih oleh Abu Salafy, bukan ucapan al-Albani.
Menjawab kritikan Abu Salafy, saya katakan, maksud dari perkataan yang pertama adalah membantah mazhab Asy’ariyah. Menurut Asy’ariyah, Allah nanti dilihat, tetapi tidak pada arah tertentu. Memang membingungkan, dilihat tapi tidak pada arah tertentu.
Maka dari itu, beliau katakan, “Coba koreksi akalnya.”
Mengapa mereka mengatakan demikian? Mereka mengatakan ‘dapat dilihat’ karena haditsnya banyak, tidak dapat dimungkiri. Di sisi lain, mereka mengatakan ‘tidak dari arah tertentu’ karena mereka tidak meyakini ketinggian Allah l di atas makhluk-Nya. Padahal, dalil bahwa Allah l di atas makhluk-Nya jauh lebih banyak daripada dalil bahwa Allah l dilihat dalam surga, tetapi mengapa yang ini justru diingkari? Alhasil, paduan dari dua keyakinan tadi, “Allah nanti dilihat, tetapi tidak pada arah tertentu.”
Adapun Ahlus Sunnah wal Jamaah (aswaja) meyakini bahwa Allah l di atas makhluk-Nya sehingga Allah l akan dilihat oleh hamba-Nya di atas mereka seperti hamba melihat bulan, sebagaimana hal ini terdapat dalam hadits yang mutawatir.
Adapun ucapan kedua, tampaknya sengaja dia potong untuk membuat bingung pembacanya. Padahal ucapan selengkapnya tidak demikian. Sebelum saya nukil, sedikit akan saya terangkan duduk masalahnya.
Tentang masalah “jihah” yang artinya arah atau sisi, apakah boleh dikatakan Allah pada jihah tertentu? Sebagian kelompok menolak untuk mengatakan bahwa Allah l berada pada jihah tertentu. Tetapi, di balik penolakan itu mereka ingin mengingkari ketinggian Allah l di atas makhluk-Nya. Sebagian lagi mengatakan bahwa Allah pada jihah, apabila yang mengatakan demikian adalah ulama salaf, yang mereka maksud adalah jihah fauqiyah, yakni Allah l di atas makhluk-Nya.
Yang paling tepat adalah mazhab Ahlus Sunnah wal Jamaah yang mengatakan, “Allah di atas makhluk-Nya sebagaimana tersebut dalam ayat dan hadits.” Adapun kata jihah, karena lafadz ini tidak terdapat dalam al-Qur’an dan hadits terkait dengan sifat Allah l, kita menjauhinya.
Karena semua ini, asy-Syaikh al-Albani mengatakan, “Ringkas kata dalam hal jihah, apabila yang dimaksud adalah sesuatu yang ada selain Allah l maka itu makhluk, padahal Allah l adalah di atas makhluk-Nya, tidak ada sesuatu pun dari makhluk yang meliputi-Nya dan membatasi-Nya, karena Dia terpisah dari makhluk sebagaimana akan disebutkan keterangannya dari sejumlah imam. Akan tetapi, apabila yang dimaksud dengan jihah itu adalah sesuatu yang tidak ada dan itu di atas alam ini, maka tidak ada di atas alam ini selain Allah l.”
Dari kutipan di atas, jelas bahwa beliau sedang mendudukkan sikap yang benar terhadap jihah.
Kembali menanggapi Abu Salafy, dari keterangan di atas, rasanya tidak tepat apabila penjelasan al-Albani diadu dengan ucapan ath-Thahawi karena beliau tidak sedang menetapkan jihah secara mutlak. Bagaimana bisa kemudian diadukan dengan pernyataan ath-Thahawi yang tidak menetapkan jihah? Paham, Abu Salafy?
Asy-Syaikh al-Albani meyakini ketinggian Allah l, Allah l di atas hamba-Nya. Ini pun diyakini oleh ath-Thahawi, seperti dalam ucapannya, “Muhiithun bi kulli syai’in wa fauqahu (Mencakup segala sesuatu dan berada di atasnya).”
Adapun ucapan beliau “tidak diliputi oleh enam arah,” maksud beliau adalah Allah l tidak diliputi oleh makhluk-makhluk-Nya. Beliau tidak meniadakan ketinggian Allah l di atas makhluk-Nya. Dengan demikian, tidak ada kontradiksi antara ucapan al-Albani dengan ath-Thahawi. Hanya saja penggunaan ath-Thahawi terhadap kata-kata tersebut yang tidak ada dalam ayat dan hadits lebih baik dihindari.
Hal ini karena bisa saja orang lain akan mengklaim beliau sebagai orang yang kontradiktif: di satu sisi mengatakan Allah l di atas segala sesuatu, di sisi lain mengatakan tidak diliputi oleh enam arah. Padahal maksud beliau dari kata yang terakhir seperti yang telah dijelaskan, bukan menafikan ketinggian Allah l di atas makhluk-Nya. Maka dari itu, semestinya ath-Thahawi mencukupkan dengan lafadz-lafadz yang terdapat dalam al-Qur’an dan as-Sunnah.
Abu Salafy berkata, “Dengan omongannya itu Syeikh Albani telah menuduh para ulama Islam tidak berakal. Dan pada waktu yang sama ia telah membuktikan bahwa ia telah menyimpang dari akidah Islam yang diyakini para imam Ahlusunnah.
Alhamdulillah, al-Albani tidak menuduh para ulama tidak berakal. Beliau hanya meminta mereka yang mengingkari ketinggian Allah l—bukan para ulama sunnah—untuk mengecek akal mereka. Beliau tidak menyimpang dari akidah para imam Ahlus Sunnah, bahkan sejalan dengan mereka. Justru Anda, wahai Abu Salafy, yang menyimpang dari para imam Ahlus Sunnah.
Nah, sebagai bukti saya akan bertanya. Apakah Abu Salafy mengimani akan ketinggian Allah l atau tidak?
Abu Salafy mengatakan, “Maksudnya Mahasuci Allah dari berada di sisi tertentu.”
Menurut Anda, apakah Allah l tidak di atas makhluk-Nya?
Saya tunggu jawabannya.
disusun dari berbagai sumber, di antaranya Muhadditsul ‘Ashr al-Albani, kaset-kaset rekaman ceramah beliau, Majalah al-Ashalah, dan buku-buku beliau yang lain)
http://asysyariah.com/musuh-dakwah-asy-syaikh-al-bani.html
Saturday, May 26, 2012
Monday, May 21, 2012
Himpunan Komen Ulamak Ahlus-Sunnah Wal-Jama'ah Mengenai Sambutan Hari Lahir
بسم الله
Berikut adalah beberapa komen mengenai sambutan hari lahir yang sempat aku kumpulkan. Aku nukilkan komen-komen itu dengan sedikit edit dan dengan disertakan sumber ambilan. Komen-komen itu adalah terjemahan ke bahasa Indonesia dari bahasa Arab. Ulamak-ulamak tersebut adalah orang yang layak untuk beri pandangan dalam hal ini kerana keluasan ilmu mereka lantas mereka layak untuk berijtihad dalam masalah ini.
Sila baca.
PERTAMA
SYAIKH MUHAMMAD BIN SOLIH AL-UTHAIMIN
HUKUM MERAYAKAN ULANG TAHUN ANAK
Oleh
Syaikh Muhamamd bin Shalih Al-Utsaimin
Pertanyaan.
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin ditanya : Apakah perayaan ulang tahun anak termasuk tasyabbuh (tindakan menyerupai) dengan budaya orang barat yang kafir ataukah semacam cara menyenangkan dan menggembirakan hati anak dan keluarganya ?
Jawaban.
Perayaan ulang tahun anak tidak lepas dari dua hal ; dianggap sebagai ibadah, atau hanya adat kebiasaan saja. Kalau dimaksudkan sebagai ibadah, maka hal itu termasuk bid’ah dalam agama Allah. Padahal peringatan dari amalan bid’ah dan penegasan bahwa dia termasuk sesat telah datang dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau bersabda :
Artinya : "Jauhilah perkara-perkara baru. Sesungguhnya setiap bid’ah adalah sesat. Dan setiap kesesatan berada dalam Neraka”.
Namun jika dimaksudkan sebagai adat kebiasaan saja, maka hal itu mengandung dua sisi larangan.
Pertama.
Menjadikannya sebagai salah satu hari raya yang sebenarnya bukan merupakan hari raya (‘Ied). Tindakan ini berarti suatu kelancangan terhadap Allah dan RasulNya, dimana kita menetapkannya sebagai ‘Ied (hari raya) dalam Islam, padahal Allah dan RasulNya tidak pernah menjadikannya sebagai hari raya.
Saat memasuki kota Madinah, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mendapati dua hari raya yang digunakan kaum Anshar sebagai waktu bersenang-senang dan menganggapnya sebagai hari ‘Ied, maka beliau bersabda :
Artinya : "Sesungguhnya Allah telah menggantikan bagi kalian hari yang lebih baik dari keduanya, yaitu ‘Idul Fitri dan ‘Idul Adha”
Kedua.
Adanya unsur tasyabbuh (menyerupai) dengan musuh-musuh Allah. Budaya ini bukan merupakan budaya kaum muslimin, namun warisan dari non muslim. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.
Artinya : "Barangsiapa meniru-niru suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka”
Kemudian panjang umur bagi seseorang tidak selalu berbuah baik, kecuali kalau dihabiskan dalam menggapai keridhaan Allah dan ketaatanNya. Sebaik-baik orang adalah orang yang panjang umurnya dan baik amalannya. Sementara orang yang paling buruk adalah manusia yang panjang umurnya dan buruk amalanya.
Karena itulah, sebagian ulama tidak menyukai do’a agar dikaruniakan umur panjang secara mutlak. Mereka kurang setuju dengan ungkapan : “Semoga Allah memanjangkan umurmu” kecuali dengan keterangan ‘ Dalam ketaatanNya” atau “Dalam kebaikan” atau kalimat yang serupa. Alasannya umur panjang kadangkala tidak baik bagi yang bersangkutan, karena umur yang panjang jika disertai dengan amalan yang buruk –semoga Allah menjauhkan kita darinya- hanya akan membawa keburukan baginya, serta menambah siksaan dan malapetaka.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :
وَالَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا سَنَسْتَدْرِجُهُم مِّنْ حَيْثُ لَا يَعْلَمُونَ * وَأُمْلِي لَهُمْ ۚ إِنَّ كَيْدِي مَتِينٌ
“Artinya : Dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami, nanti Kami akan menarik mereka dengan berangsur-angsur (kearah kebinasaan), dengan cara yang tidak mereka ketahui. Dan Aku memberi tangguh kepada mereka. Sesungguhnya rencana-ku amat teguh”
[Al-A’raf 7 : 182-183]
Dan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala :
وَلَا يَحْسَبَنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا أَنَّمَا نُمْلِي لَهُمْ خَيْرٌ لِّأَنفُسِهِمْ ۚ إِنَّمَا نُمْلِي لَهُمْ لِيَزْدَادُوا إِثْمًا ۚ وَلَهُمْ عَذَابٌ مُّهِينٌ
Artinya :"Dan janganlah sekali-kali orang kafir menyangka bahwa pemberian tangguh Kami kepada mereka adalah lebih baik bagi mereka. Sesungguhnya Kami memberi tangguh kepada mereka hanyalah supaya bertambah-tambah dosa mereka, dan bagi mereka adzab yang menghinakan."
[Ali-Imran 3 : 178]
[Fatawa Manarul Islam 1/43]
[Disalin dari kitab Fatawa Ath-thiflul Muslim, edisi Indonesia 150 Fatwa Seputar Anak Muslim, Penyusun Yahya bin Sa’id Alu Syalwan, Penerjemah Ashim, Penerbit Griya Ilmu]
sumber: http://www.almanhaj.or.id/content/1584/slash/0
(Diedit oleh Ibnu Hasan Al-Amin)
@ @ @ @ @ @ @
KEDUA
SYAIKH ABDUL AZIZ BIN ABDULLAH BIN BAZ
PERAYAAN HARI KELAHIRAN (ULANG TAHUN)
Oleh
Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz
Alhamdulillah, segala puji bagi Allah. Shalawat dan salam semoga dilimpahkan kepada Rasulullah, keluarga dan para sahabatnya serta mereka yang mengikuti jejak langkahnya. Amma ba’d.
Saya telah mengkaji makalah yang diterbitkan oleh koran Al-Madinah yang terbit pada hari Senin, tanggal 28/12/1410 H. Isinya menyebutkan bahwa saudara Jamal Muhammad Al-Qadhi, pernah menyaksikan program Abna’ Al-Islam yang disiarkan oleh televisi Saudi yang menayangkan acara yang mencakup perayaan hari kelahiran. Saudara Jamal menanyakan, apakah perayaan hari kelahiran dibolehkan Islam? dst.
Jawaban.
Tidak diragukan lagi bahwa Allah telah mensyari’atkan dua hari raya bagi kaum muslimin, yang pada kedua hari tersebut mereka berkumpul untuk berdzikir dan shalat, yaitu hari raya ledul Fitri dan ledul Adha sebagai pengganti hari raya-hari raya jahiliyah. Di samping itu Allah pun mensyari’atkan hari raya-hari raya lainnya yang mengandung berbagai dzikir dan ibadah, seperti hari Jum’at, hari Arafah dan hari-hari tasyriq. Namun Allah tidak mensyari’atkan perayaan hari kelahiran, tidak untuk kelahiran Nabi dan tidak pula untuk yang lainnya. Bahkan dalil-dalil syar’i dari Al-Kitab dan As-Sunnah menunjukkan bahwa perayaan-perayaan hari kelahiran merupakan bid’ah dalam agama dan termasuk tasyabbuh (menyerupai) musuh-musuh Allah dari kalangan Yahudi, Nashrani dan lainnya. Maka yang wajib atas para pemeluk Islam untuk meninggalkannya, mewaspadainya, mengingkarinya terhadap yang melakukannya dan tidak menyebarkan atau menyiarkan apa-apa yang dapat mendorong pelaksanaannya atau mengesankan pembolehannya baik di radio, media cetak maupun televisi, berdasarkan sabda Nabi Saw dalam sebuah hadits shahih :
Artinya : "Barangsiapa membuat sesuatu yang baru dalam urusan kami (dalam Islam) yang tidak terdapat (tuntunan) padanya, maka ia tertolak.” [1]
Dan sabda beliau :
Artinya : "Barangsiapa yang melakukan suatu amal yang tidak kami perintahkan maka ia tertolak.” [2]
Dikeluarkan oleh Muslim dalam kitab Shahihnya dan dianggap mu’allaq oleh Al-Bukhari namun ia menguatkannya.
Kemudian disebutkan dalam Shahih Muslim dari Jabir Radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwa dalam salah satu khutbah Jum’at beliau mengatakan :
“Amma ba’du. Sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah Kitabullah, sebaik-baik tuntunan adalah tuntunan Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, seburuk-buruk perkara adalah hal-hal baru yang diada-adakan dan setiap hal baru adalah sesat.” [3]
Dan masih banyak lagi hadits-hadits lainnya yang semakna. Disebutkan pula dalam Musnad Ahmad dengan isnad jayyid dari Ibnu Umar , bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
Artinya : "Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, berarti ia dari golongan mereka.” [4]
Dalam Ash-Shahihain disebutkan, dari Abu Sa’id Radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwa beliau bersabda :
Artinya : "Kalian pasti akan mengikuti kebiasaan-kebiasaan orang-orang sebelum kalian sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta, bahkan, seandainya mereka masuk ke dalam sarang biawak pun kalian mengikuti mereka.” Kami bertanya, “Ya Rasulullah, itu kaum Yahudi dan Nashrani?” Beliau berkata, “Siapa lagi.” [5]
Masih banyak lagi hadits-hadits lainnya yang semakna dengan ini, semuanya menunjukkan kewajiban untuk waspada agar tidak menyerupai musuh-musuh Allah dalam perayaan-perayaan mereka dan lainnya. Makhluk paling mulia dan paling utama, Nabi kita Muhammad, tidak pernah merayakan hari kelahirannya semasa hidupnya, tidak pula para sahabat beliau pun, dan tidak juga para tabi’in yang mengikuti jejak langkah mereka dengan kebaikan pada tiga generasi pertama yang diutamakan. Seandainya perayaan hari kelahiran Nabi, atau lainnya, merupakan perbuatan baik, tentulah para sahabat dan tabi’in sudah lebih dulu melaksanakannya daripada kita, dan sudah barang tentu Nabi Saw mengajarkan kepada umatnya dan menganjurkan mereka merayakannya atau beliau sendiri melaksanakannya. Namun ternyata tidak demikian, maka kita pun tahu, bahwa perayaan hari kelahiran termasuk bid’ah, termasuk hal baru yang diada-adakan dalam agama yang harus ditinggalkan dan diwaspadai, sebagai pelaksanaan perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala dan perintah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Sebagian ahli ilmu menyebutkan, bahwa yang pertama kali mengadakan perayaan hari kelahiran ini adalah golongan Syi’ah Fathimiyah pada abad keempat, kemudian diikuti oleh sebagian orang yang berafiliasi kepada As-Sunnah karena tidak tahu dan karena meniru mereka, atau meniru kaum Yahudi dan Nashrani, kemudian bid’ah ini menyebar ke masyarakat lainnya. Seharusnya para ulama kaum muslimin menjelaskan hukum Allah dalam bid’ah-bid’ah ini, mengingkarinya dan memperingatkan bahayanya, karena keberadaannya melahirkan kerusakan besar, tersebarnya bid’ah-bid’ah dan tertutupnya sunnah-sunnah. Di samping itu, terkandung tasyabbuh (penyerupaan) dengan musuh-musuh Allah dari golongan Yahudi, Nashrani dan golongan-golongan kafir lainnya yang terbiasa menyelenggarakan perayaan-perayaan semacam itu. Para ahli dahulu dan kini telah menulis dan menjelaskan hukum Allah mengenai bid’ah-bid’ah ini. Semoga Allah membalas mereka dengan kebaikan dan menjadikan kita semua termasuk orang-orang yang mengikuti mereka dengan kebaikan.
Pada kesempatan yang singkat ini, kami bermaksud mengingatkan kepada para pembaca tentang bid’ah ini agar mereka benar-benar mengetahui. Dan mengenai masalah ini telah diterbitkan tulisan yang panjang dan diedarkan melalui media cetak-media cetak lokal dan lainnya. Tidak diragukan lagi, bahwa wajib atas para pejabat pemerintahan kita dan kementrian penerangan secara khusus serta para penguasa di negara-negara Islam, untuk mencegah penyebaran bid’ah-bid’ah ini dan propagandanya atau penyebaran sesuatu yang mengesankan pembolehannya. Semua ini sebagai pelaksanaan perintah loyal terhadap Allah dan para hambaNya, dan sebagai pelaksanaan perintah yang diwajibkan Allah, yaitu mengingkari kemungkaran serta turut dalam memperbaiki kondisi kaum muslimin dan membersihkannya dari hal-hal yang menyelisihi syari’at yang suci. Hanya Allah lah tempat meminta dengan nama-namaNya yang baik dan sifat-sifat-Nya yang luhur, semoga Allah memperbaiki kondisi kaum muslimin dan menunjuki mereka agar berpegang teguh dengan KitabNya dan Sunnah NabiNya Shallallahu ‘alaihi wa sallam serta waspada dari segala sesuatu yang menyelisihi keduanya. Dan semoga Allah memperbaiki para pemimpin mereka dan menunjuki mereka agar menerapkan syari’at Allah pada hamba hambaNya serta memerangi segala sesuatu yang menyelisihinya. Sesungguhnya Allah Maha kuasa atas hal itu.
Shalawat dan salam semoga senantiasa dilimpahkan kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan para sahabatnya
[Majmu Fatawa wa Maqalat Mutanawwi’ah, juz 4.hal. 81]
[Disalin dari kitab Al-Fatawa Asy-Syar’iyyah Fi Al Masa’il Al-Ashriyah Min Fatawa Ulama Al-Balad Al-Haram, Edisi Indonesia Fatwa-Fatwa Terkini, Penyusun Khalid Al-Juraisiy, Penerjemah Musthofa Aini, Penerbit Darul Haq]
__________
Foote Note
[1]. Muttafaq ‘Alaih: Al-Bukhari dalam Ash-Shulh (2697). Muslim dalam Al-Aqdhiyah (1718).
[2]. Al-Bukhari menganggapnya mu’allaq dalam Al-Buyu’ dan Al-I’tisham. Imam Muslim menyambungnya dalam Al-Aqdhiyah (18-1718).
[3]. HR. Muslim dalam Al-Jumu’ah (867).
[4]. HR. Abu Dawud (4031), Ahmad (5093, 5094, 5634).
[5]. HR. AI-Bukhari dalam Al-I’tisham bil Kitab was Sunnah (7320). Muslim dalam Al-Ilm (2669).
Sumber : http://www.almanhaj.or.id/content/498/slash/0
(Diedit oleh Ibnu Hasan Al-Amin)
@ @ @ @ @ @ @
KETIGA
SYAIKH ABDUL AZIZ BIN ABDULLAH BIN BAZ
PERINGATAN HARI KELAHIRAN (ULANG TAHUN)
Oleh
Syaikh Abdul Aiz bin Abdullah bin Baz
Pertanyaan :
Syaikh Abdul Aiz bin Abdullah bin Baz ditanya : Apa hukum perayaan setelah setahun atau dua tahun atau lebih umpamanya, atau kurang, sejak kelahiran seseorang, yaitu yang disebut dengan istilah ulang tahun atau tolak bala. Dan apa hukum menghadiri pesta perayaan-perayaan tersebut. Jika seseorang diundang menghadirinya, apakah wajib memenuhinya atau tidak? Kami mohon jawabannya, semoga Allah membalas Syaikh dengan balasan pahala.
Jawaban :
Dalil-dalil syari’at dari Al-Kitab dan As-Sunnah telah menunjukkan bahwa peringatan hari kelahiran termasuk bid’ah yang diada-adakan dalam agama dan tidak ada asalnya dalam syari’at yang suci, maka tidak boleh memenuhi undangannya karena hal itu merupakan pengukuhan terhadap bid’ah dan mendorong pelaksanaannya. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berfirman :
أَمْ لَهُمْ شُرَكَاءُ شَرَعُوا لَهُم مِّنَ الدِّينِ مَا لَمْ يَأْذَن بِهِ اللَّهُ ۚ
وَلَوْلَا كَلِمَةُ الْفَصْلِ لَقُضِيَ بَيْنَهُمْ ۗ وَإِنَّ الظَّالِمِينَ لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ
Artinya : "Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan selain Allah yang mensyari'atkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Allah?
Sekiranya tak ada ketetapan yang menentukan (dari Allah) tentulah mereka telah dibinasakan. Dan sesungguhnya orang-orang yang zalim itu akan memperoleh azab yang amat pedih."
[Asy-Syura 42 : 21]
Dalam ayat lain disebutkan :
ثُمَّ جَعَلْنَاكَ عَلَىٰ شَرِيعَةٍ مِّنَ الْأَمْرِ فَاتَّبِعْهَا وَلَا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَ الَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ * إِنَّهُمْ لَن يُغْنُوا عَنكَ مِنَ اللَّهِ شَيْئًا ۚ وَإِنَّ الظَّالِمِينَ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ ۖ وَاللَّهُ وَلِيُّ الْمُتَّقِينَ
Artinya : "Kemudian Kami jadikan kamu berada di atas suatu syari’at (peraturan) dari urusan agama itu, maka ikutilah syariat itu dan janganlah kamu ikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui. Sesungguhnya mereka sekali-kali tidak akan dapat menolak dari kamu sedikitpun dari (siksaan) Allah. Dan sesungguhnya orang-orang yang zhalim itu sebagian mereka menjadi penolong bagi sebagian yang lain, dan Allah adalah pelindung orang-orang yang bertaqwa.”
[Al-Jatsiyah 45 : 18-19]
Dalam ayat lainnya lagi disebutkan :
اتَّبِعُوا مَا أُنزِلَ إِلَيْكُم مِّن رَّبِّكُمْ وَلَا تَتَّبِعُوا مِن دُونِهِ أَوْلِيَاءَ ۗ قَلِيلًا مَّا تَذَكَّرُونَ
Artinya : "Ikutilah apa yang diturunkan kepadamu dari Rabbmu dan janganlah kamu mengikuti pemimpin-pemimpin selainNya. Amat sedikitlah kamu mengambil pelajaran (daripadanya).”
[Al-A'raf 7 : 3]
Diriwayatkan dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwa beliau bersabda :
Artinya : "Barang siapa yang melakukan suatu amal yang tidak kami perintahkan maka ia tertolak.” [1]
Dalam hadits lainnya beliau bersabda,
Artinya : "Sebaik-baik perkataan adalah Kitabullah, sebaik-baik tuntunan adalah tuntunan Muhammad s.a.w., seburuk-buruk perkara adalah hal-hal baru yang diada-adakan dan setiap hal baru adalah sesat.” [2]
Dan masih banyak lagi hadits-hadits lain yang semakna.
Di samping perayaan-perayaan ini termasuk bid’ah yang tidak ada asalnya dalam syari’at, juga mengandung tasyabbuh (menyerupai) kaum Yahudi dan Nashrani yang biasa menyelenggarakan peringatan hari kelahiran, sementara Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memperingatkan agar tidak meniru dan mengikuti cara mereka, sebagaimana sabda beliau,
Artinya : "Kalian pasti akan mengikuti kebiasaan-kebiasaan orang-orang sebelum kalian sejengkal dengan sejengkal dan sehasta dengan sehasta, sampai-sampai, seandainya mereka masuk ke dalam sarang biaivak pun kalian mengikuti mereka.” Kami katakan, “Ya Rasulullah, itu kaum Yahudi dan Nashrani?” Beliau berkata, “Siapa lagi.” [3]
Makna ‘siapa lagi’ artinya mereka itulah yang dimaksud dalam perkataan ini. Kemudian dari itu, dalam hadits lain beliau bersabda :
Artinya : "Barangsiapa menyerupai suatu kaum, berarti ia termasuk golongan mereka” [4]
Dan masih banyak lagi hadits-hadits lain yang semakna.
Semoga Allah menunjukkan kita semua kepada yang diridhai-Nya.
[Majmu' Fatawa wa Maqalat Mutannawwi’ah, juz 4, hal. 283]
[Disalin dari kitab Al-Fatawa Asy-Syar’iyyah Fi Al Masa’il Al-Ashriyah Min Fatawa Ulama Al-Balad Al-Haram, Edisi Indonesia Fatwa-Fatwa Terkini, Penyusun Khalid Al-Juraisiy, Penerjemah Musthofa Aini, Penerbit Darul Haq]
__________
Foote Note
[1]. Dikeluarkan oleh Imam Muslim dalam Al-Aqdhiyah (18-1718). Al-Bukhari menganggapnya mu’allaq dalam Al-Buyu’ dan Al-I’tisham.
[2]. Dikeluarkan oleh Imam Muslim dalam Al-Jumu’ah (867).
[3]. Dikeluarkan oleh Al-Bukhari dan Muslim: Al-Bukhari dalam Ahaditsul Anbiya’ (3456). Muslim dalam Al-‘Ilm (2669).
[4]. Ahmad (5094, 5634). Abu Dawud (4031)..
Sumber :
http://www.almanhaj.or.id/content/294/slash/0
(Diedit oleh Ibnu Hasan Al-Amin)
Berikut adalah beberapa komen mengenai sambutan hari lahir yang sempat aku kumpulkan. Aku nukilkan komen-komen itu dengan sedikit edit dan dengan disertakan sumber ambilan. Komen-komen itu adalah terjemahan ke bahasa Indonesia dari bahasa Arab. Ulamak-ulamak tersebut adalah orang yang layak untuk beri pandangan dalam hal ini kerana keluasan ilmu mereka lantas mereka layak untuk berijtihad dalam masalah ini.
Sila baca.
PERTAMA
SYAIKH MUHAMMAD BIN SOLIH AL-UTHAIMIN
HUKUM MERAYAKAN ULANG TAHUN ANAK
Oleh
Syaikh Muhamamd bin Shalih Al-Utsaimin
Pertanyaan.
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin ditanya : Apakah perayaan ulang tahun anak termasuk tasyabbuh (tindakan menyerupai) dengan budaya orang barat yang kafir ataukah semacam cara menyenangkan dan menggembirakan hati anak dan keluarganya ?
Jawaban.
Perayaan ulang tahun anak tidak lepas dari dua hal ; dianggap sebagai ibadah, atau hanya adat kebiasaan saja. Kalau dimaksudkan sebagai ibadah, maka hal itu termasuk bid’ah dalam agama Allah. Padahal peringatan dari amalan bid’ah dan penegasan bahwa dia termasuk sesat telah datang dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau bersabda :
Artinya : "Jauhilah perkara-perkara baru. Sesungguhnya setiap bid’ah adalah sesat. Dan setiap kesesatan berada dalam Neraka”.
Namun jika dimaksudkan sebagai adat kebiasaan saja, maka hal itu mengandung dua sisi larangan.
Pertama.
Menjadikannya sebagai salah satu hari raya yang sebenarnya bukan merupakan hari raya (‘Ied). Tindakan ini berarti suatu kelancangan terhadap Allah dan RasulNya, dimana kita menetapkannya sebagai ‘Ied (hari raya) dalam Islam, padahal Allah dan RasulNya tidak pernah menjadikannya sebagai hari raya.
Saat memasuki kota Madinah, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mendapati dua hari raya yang digunakan kaum Anshar sebagai waktu bersenang-senang dan menganggapnya sebagai hari ‘Ied, maka beliau bersabda :
Artinya : "Sesungguhnya Allah telah menggantikan bagi kalian hari yang lebih baik dari keduanya, yaitu ‘Idul Fitri dan ‘Idul Adha”
Kedua.
Adanya unsur tasyabbuh (menyerupai) dengan musuh-musuh Allah. Budaya ini bukan merupakan budaya kaum muslimin, namun warisan dari non muslim. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.
Artinya : "Barangsiapa meniru-niru suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka”
Kemudian panjang umur bagi seseorang tidak selalu berbuah baik, kecuali kalau dihabiskan dalam menggapai keridhaan Allah dan ketaatanNya. Sebaik-baik orang adalah orang yang panjang umurnya dan baik amalannya. Sementara orang yang paling buruk adalah manusia yang panjang umurnya dan buruk amalanya.
Karena itulah, sebagian ulama tidak menyukai do’a agar dikaruniakan umur panjang secara mutlak. Mereka kurang setuju dengan ungkapan : “Semoga Allah memanjangkan umurmu” kecuali dengan keterangan ‘ Dalam ketaatanNya” atau “Dalam kebaikan” atau kalimat yang serupa. Alasannya umur panjang kadangkala tidak baik bagi yang bersangkutan, karena umur yang panjang jika disertai dengan amalan yang buruk –semoga Allah menjauhkan kita darinya- hanya akan membawa keburukan baginya, serta menambah siksaan dan malapetaka.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :
وَالَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا سَنَسْتَدْرِجُهُم مِّنْ حَيْثُ لَا يَعْلَمُونَ * وَأُمْلِي لَهُمْ ۚ إِنَّ كَيْدِي مَتِينٌ
“Artinya : Dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami, nanti Kami akan menarik mereka dengan berangsur-angsur (kearah kebinasaan), dengan cara yang tidak mereka ketahui. Dan Aku memberi tangguh kepada mereka. Sesungguhnya rencana-ku amat teguh”
[Al-A’raf 7 : 182-183]
Dan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala :
وَلَا يَحْسَبَنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا أَنَّمَا نُمْلِي لَهُمْ خَيْرٌ لِّأَنفُسِهِمْ ۚ إِنَّمَا نُمْلِي لَهُمْ لِيَزْدَادُوا إِثْمًا ۚ وَلَهُمْ عَذَابٌ مُّهِينٌ
Artinya :"Dan janganlah sekali-kali orang kafir menyangka bahwa pemberian tangguh Kami kepada mereka adalah lebih baik bagi mereka. Sesungguhnya Kami memberi tangguh kepada mereka hanyalah supaya bertambah-tambah dosa mereka, dan bagi mereka adzab yang menghinakan."
[Ali-Imran 3 : 178]
[Fatawa Manarul Islam 1/43]
[Disalin dari kitab Fatawa Ath-thiflul Muslim, edisi Indonesia 150 Fatwa Seputar Anak Muslim, Penyusun Yahya bin Sa’id Alu Syalwan, Penerjemah Ashim, Penerbit Griya Ilmu]
sumber: http://www.almanhaj.or.id/content/1584/slash/0
(Diedit oleh Ibnu Hasan Al-Amin)
@ @ @ @ @ @ @
KEDUA
SYAIKH ABDUL AZIZ BIN ABDULLAH BIN BAZ
PERAYAAN HARI KELAHIRAN (ULANG TAHUN)
Oleh
Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz
Alhamdulillah, segala puji bagi Allah. Shalawat dan salam semoga dilimpahkan kepada Rasulullah, keluarga dan para sahabatnya serta mereka yang mengikuti jejak langkahnya. Amma ba’d.
Saya telah mengkaji makalah yang diterbitkan oleh koran Al-Madinah yang terbit pada hari Senin, tanggal 28/12/1410 H. Isinya menyebutkan bahwa saudara Jamal Muhammad Al-Qadhi, pernah menyaksikan program Abna’ Al-Islam yang disiarkan oleh televisi Saudi yang menayangkan acara yang mencakup perayaan hari kelahiran. Saudara Jamal menanyakan, apakah perayaan hari kelahiran dibolehkan Islam? dst.
Jawaban.
Tidak diragukan lagi bahwa Allah telah mensyari’atkan dua hari raya bagi kaum muslimin, yang pada kedua hari tersebut mereka berkumpul untuk berdzikir dan shalat, yaitu hari raya ledul Fitri dan ledul Adha sebagai pengganti hari raya-hari raya jahiliyah. Di samping itu Allah pun mensyari’atkan hari raya-hari raya lainnya yang mengandung berbagai dzikir dan ibadah, seperti hari Jum’at, hari Arafah dan hari-hari tasyriq. Namun Allah tidak mensyari’atkan perayaan hari kelahiran, tidak untuk kelahiran Nabi dan tidak pula untuk yang lainnya. Bahkan dalil-dalil syar’i dari Al-Kitab dan As-Sunnah menunjukkan bahwa perayaan-perayaan hari kelahiran merupakan bid’ah dalam agama dan termasuk tasyabbuh (menyerupai) musuh-musuh Allah dari kalangan Yahudi, Nashrani dan lainnya. Maka yang wajib atas para pemeluk Islam untuk meninggalkannya, mewaspadainya, mengingkarinya terhadap yang melakukannya dan tidak menyebarkan atau menyiarkan apa-apa yang dapat mendorong pelaksanaannya atau mengesankan pembolehannya baik di radio, media cetak maupun televisi, berdasarkan sabda Nabi Saw dalam sebuah hadits shahih :
Artinya : "Barangsiapa membuat sesuatu yang baru dalam urusan kami (dalam Islam) yang tidak terdapat (tuntunan) padanya, maka ia tertolak.” [1]
Dan sabda beliau :
Artinya : "Barangsiapa yang melakukan suatu amal yang tidak kami perintahkan maka ia tertolak.” [2]
Dikeluarkan oleh Muslim dalam kitab Shahihnya dan dianggap mu’allaq oleh Al-Bukhari namun ia menguatkannya.
Kemudian disebutkan dalam Shahih Muslim dari Jabir Radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwa dalam salah satu khutbah Jum’at beliau mengatakan :
“Amma ba’du. Sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah Kitabullah, sebaik-baik tuntunan adalah tuntunan Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, seburuk-buruk perkara adalah hal-hal baru yang diada-adakan dan setiap hal baru adalah sesat.” [3]
Dan masih banyak lagi hadits-hadits lainnya yang semakna. Disebutkan pula dalam Musnad Ahmad dengan isnad jayyid dari Ibnu Umar , bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
Artinya : "Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, berarti ia dari golongan mereka.” [4]
Dalam Ash-Shahihain disebutkan, dari Abu Sa’id Radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwa beliau bersabda :
Artinya : "Kalian pasti akan mengikuti kebiasaan-kebiasaan orang-orang sebelum kalian sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta, bahkan, seandainya mereka masuk ke dalam sarang biawak pun kalian mengikuti mereka.” Kami bertanya, “Ya Rasulullah, itu kaum Yahudi dan Nashrani?” Beliau berkata, “Siapa lagi.” [5]
Masih banyak lagi hadits-hadits lainnya yang semakna dengan ini, semuanya menunjukkan kewajiban untuk waspada agar tidak menyerupai musuh-musuh Allah dalam perayaan-perayaan mereka dan lainnya. Makhluk paling mulia dan paling utama, Nabi kita Muhammad, tidak pernah merayakan hari kelahirannya semasa hidupnya, tidak pula para sahabat beliau pun, dan tidak juga para tabi’in yang mengikuti jejak langkah mereka dengan kebaikan pada tiga generasi pertama yang diutamakan. Seandainya perayaan hari kelahiran Nabi, atau lainnya, merupakan perbuatan baik, tentulah para sahabat dan tabi’in sudah lebih dulu melaksanakannya daripada kita, dan sudah barang tentu Nabi Saw mengajarkan kepada umatnya dan menganjurkan mereka merayakannya atau beliau sendiri melaksanakannya. Namun ternyata tidak demikian, maka kita pun tahu, bahwa perayaan hari kelahiran termasuk bid’ah, termasuk hal baru yang diada-adakan dalam agama yang harus ditinggalkan dan diwaspadai, sebagai pelaksanaan perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala dan perintah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Sebagian ahli ilmu menyebutkan, bahwa yang pertama kali mengadakan perayaan hari kelahiran ini adalah golongan Syi’ah Fathimiyah pada abad keempat, kemudian diikuti oleh sebagian orang yang berafiliasi kepada As-Sunnah karena tidak tahu dan karena meniru mereka, atau meniru kaum Yahudi dan Nashrani, kemudian bid’ah ini menyebar ke masyarakat lainnya. Seharusnya para ulama kaum muslimin menjelaskan hukum Allah dalam bid’ah-bid’ah ini, mengingkarinya dan memperingatkan bahayanya, karena keberadaannya melahirkan kerusakan besar, tersebarnya bid’ah-bid’ah dan tertutupnya sunnah-sunnah. Di samping itu, terkandung tasyabbuh (penyerupaan) dengan musuh-musuh Allah dari golongan Yahudi, Nashrani dan golongan-golongan kafir lainnya yang terbiasa menyelenggarakan perayaan-perayaan semacam itu. Para ahli dahulu dan kini telah menulis dan menjelaskan hukum Allah mengenai bid’ah-bid’ah ini. Semoga Allah membalas mereka dengan kebaikan dan menjadikan kita semua termasuk orang-orang yang mengikuti mereka dengan kebaikan.
Pada kesempatan yang singkat ini, kami bermaksud mengingatkan kepada para pembaca tentang bid’ah ini agar mereka benar-benar mengetahui. Dan mengenai masalah ini telah diterbitkan tulisan yang panjang dan diedarkan melalui media cetak-media cetak lokal dan lainnya. Tidak diragukan lagi, bahwa wajib atas para pejabat pemerintahan kita dan kementrian penerangan secara khusus serta para penguasa di negara-negara Islam, untuk mencegah penyebaran bid’ah-bid’ah ini dan propagandanya atau penyebaran sesuatu yang mengesankan pembolehannya. Semua ini sebagai pelaksanaan perintah loyal terhadap Allah dan para hambaNya, dan sebagai pelaksanaan perintah yang diwajibkan Allah, yaitu mengingkari kemungkaran serta turut dalam memperbaiki kondisi kaum muslimin dan membersihkannya dari hal-hal yang menyelisihi syari’at yang suci. Hanya Allah lah tempat meminta dengan nama-namaNya yang baik dan sifat-sifat-Nya yang luhur, semoga Allah memperbaiki kondisi kaum muslimin dan menunjuki mereka agar berpegang teguh dengan KitabNya dan Sunnah NabiNya Shallallahu ‘alaihi wa sallam serta waspada dari segala sesuatu yang menyelisihi keduanya. Dan semoga Allah memperbaiki para pemimpin mereka dan menunjuki mereka agar menerapkan syari’at Allah pada hamba hambaNya serta memerangi segala sesuatu yang menyelisihinya. Sesungguhnya Allah Maha kuasa atas hal itu.
Shalawat dan salam semoga senantiasa dilimpahkan kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan para sahabatnya
[Majmu Fatawa wa Maqalat Mutanawwi’ah, juz 4.hal. 81]
[Disalin dari kitab Al-Fatawa Asy-Syar’iyyah Fi Al Masa’il Al-Ashriyah Min Fatawa Ulama Al-Balad Al-Haram, Edisi Indonesia Fatwa-Fatwa Terkini, Penyusun Khalid Al-Juraisiy, Penerjemah Musthofa Aini, Penerbit Darul Haq]
__________
Foote Note
[1]. Muttafaq ‘Alaih: Al-Bukhari dalam Ash-Shulh (2697). Muslim dalam Al-Aqdhiyah (1718).
[2]. Al-Bukhari menganggapnya mu’allaq dalam Al-Buyu’ dan Al-I’tisham. Imam Muslim menyambungnya dalam Al-Aqdhiyah (18-1718).
[3]. HR. Muslim dalam Al-Jumu’ah (867).
[4]. HR. Abu Dawud (4031), Ahmad (5093, 5094, 5634).
[5]. HR. AI-Bukhari dalam Al-I’tisham bil Kitab was Sunnah (7320). Muslim dalam Al-Ilm (2669).
Sumber : http://www.almanhaj.or.id/content/498/slash/0
(Diedit oleh Ibnu Hasan Al-Amin)
@ @ @ @ @ @ @
KETIGA
SYAIKH ABDUL AZIZ BIN ABDULLAH BIN BAZ
PERINGATAN HARI KELAHIRAN (ULANG TAHUN)
Oleh
Syaikh Abdul Aiz bin Abdullah bin Baz
Pertanyaan :
Syaikh Abdul Aiz bin Abdullah bin Baz ditanya : Apa hukum perayaan setelah setahun atau dua tahun atau lebih umpamanya, atau kurang, sejak kelahiran seseorang, yaitu yang disebut dengan istilah ulang tahun atau tolak bala. Dan apa hukum menghadiri pesta perayaan-perayaan tersebut. Jika seseorang diundang menghadirinya, apakah wajib memenuhinya atau tidak? Kami mohon jawabannya, semoga Allah membalas Syaikh dengan balasan pahala.
Jawaban :
Dalil-dalil syari’at dari Al-Kitab dan As-Sunnah telah menunjukkan bahwa peringatan hari kelahiran termasuk bid’ah yang diada-adakan dalam agama dan tidak ada asalnya dalam syari’at yang suci, maka tidak boleh memenuhi undangannya karena hal itu merupakan pengukuhan terhadap bid’ah dan mendorong pelaksanaannya. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berfirman :
أَمْ لَهُمْ شُرَكَاءُ شَرَعُوا لَهُم مِّنَ الدِّينِ مَا لَمْ يَأْذَن بِهِ اللَّهُ ۚ
وَلَوْلَا كَلِمَةُ الْفَصْلِ لَقُضِيَ بَيْنَهُمْ ۗ وَإِنَّ الظَّالِمِينَ لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ
Artinya : "Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan selain Allah yang mensyari'atkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Allah?
Sekiranya tak ada ketetapan yang menentukan (dari Allah) tentulah mereka telah dibinasakan. Dan sesungguhnya orang-orang yang zalim itu akan memperoleh azab yang amat pedih."
[Asy-Syura 42 : 21]
Dalam ayat lain disebutkan :
ثُمَّ جَعَلْنَاكَ عَلَىٰ شَرِيعَةٍ مِّنَ الْأَمْرِ فَاتَّبِعْهَا وَلَا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَ الَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ * إِنَّهُمْ لَن يُغْنُوا عَنكَ مِنَ اللَّهِ شَيْئًا ۚ وَإِنَّ الظَّالِمِينَ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ ۖ وَاللَّهُ وَلِيُّ الْمُتَّقِينَ
Artinya : "Kemudian Kami jadikan kamu berada di atas suatu syari’at (peraturan) dari urusan agama itu, maka ikutilah syariat itu dan janganlah kamu ikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui. Sesungguhnya mereka sekali-kali tidak akan dapat menolak dari kamu sedikitpun dari (siksaan) Allah. Dan sesungguhnya orang-orang yang zhalim itu sebagian mereka menjadi penolong bagi sebagian yang lain, dan Allah adalah pelindung orang-orang yang bertaqwa.”
[Al-Jatsiyah 45 : 18-19]
Dalam ayat lainnya lagi disebutkan :
اتَّبِعُوا مَا أُنزِلَ إِلَيْكُم مِّن رَّبِّكُمْ وَلَا تَتَّبِعُوا مِن دُونِهِ أَوْلِيَاءَ ۗ قَلِيلًا مَّا تَذَكَّرُونَ
Artinya : "Ikutilah apa yang diturunkan kepadamu dari Rabbmu dan janganlah kamu mengikuti pemimpin-pemimpin selainNya. Amat sedikitlah kamu mengambil pelajaran (daripadanya).”
[Al-A'raf 7 : 3]
Diriwayatkan dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwa beliau bersabda :
Artinya : "Barang siapa yang melakukan suatu amal yang tidak kami perintahkan maka ia tertolak.” [1]
Dalam hadits lainnya beliau bersabda,
Artinya : "Sebaik-baik perkataan adalah Kitabullah, sebaik-baik tuntunan adalah tuntunan Muhammad s.a.w., seburuk-buruk perkara adalah hal-hal baru yang diada-adakan dan setiap hal baru adalah sesat.” [2]
Dan masih banyak lagi hadits-hadits lain yang semakna.
Di samping perayaan-perayaan ini termasuk bid’ah yang tidak ada asalnya dalam syari’at, juga mengandung tasyabbuh (menyerupai) kaum Yahudi dan Nashrani yang biasa menyelenggarakan peringatan hari kelahiran, sementara Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memperingatkan agar tidak meniru dan mengikuti cara mereka, sebagaimana sabda beliau,
Artinya : "Kalian pasti akan mengikuti kebiasaan-kebiasaan orang-orang sebelum kalian sejengkal dengan sejengkal dan sehasta dengan sehasta, sampai-sampai, seandainya mereka masuk ke dalam sarang biaivak pun kalian mengikuti mereka.” Kami katakan, “Ya Rasulullah, itu kaum Yahudi dan Nashrani?” Beliau berkata, “Siapa lagi.” [3]
Makna ‘siapa lagi’ artinya mereka itulah yang dimaksud dalam perkataan ini. Kemudian dari itu, dalam hadits lain beliau bersabda :
Artinya : "Barangsiapa menyerupai suatu kaum, berarti ia termasuk golongan mereka” [4]
Dan masih banyak lagi hadits-hadits lain yang semakna.
Semoga Allah menunjukkan kita semua kepada yang diridhai-Nya.
[Majmu' Fatawa wa Maqalat Mutannawwi’ah, juz 4, hal. 283]
[Disalin dari kitab Al-Fatawa Asy-Syar’iyyah Fi Al Masa’il Al-Ashriyah Min Fatawa Ulama Al-Balad Al-Haram, Edisi Indonesia Fatwa-Fatwa Terkini, Penyusun Khalid Al-Juraisiy, Penerjemah Musthofa Aini, Penerbit Darul Haq]
__________
Foote Note
[1]. Dikeluarkan oleh Imam Muslim dalam Al-Aqdhiyah (18-1718). Al-Bukhari menganggapnya mu’allaq dalam Al-Buyu’ dan Al-I’tisham.
[2]. Dikeluarkan oleh Imam Muslim dalam Al-Jumu’ah (867).
[3]. Dikeluarkan oleh Al-Bukhari dan Muslim: Al-Bukhari dalam Ahaditsul Anbiya’ (3456). Muslim dalam Al-‘Ilm (2669).
[4]. Ahmad (5094, 5634). Abu Dawud (4031)..
Sumber :
http://www.almanhaj.or.id/content/294/slash/0
(Diedit oleh Ibnu Hasan Al-Amin)
Saturday, May 5, 2012
HERDIKAN ISLAM
Ramai sudah aku jumpa orang yang "pandai" yang merasakan tidak boleh mengeluarkan kata-kata keras kepada orang lain samada dalam perbualan atau semasa berda'wah. Apabila aku mengeluarkan kata-kata yang keras dan kesat kepada orang yang bodoh sombong lagi degil, mereka segera tuduh aku telah memaki hamun. Mereka kata Nabi sollAllohu 'alaihi wa aalihi wa sallam tidak pernah berkasar.
Apakah benar kata-kata orang bodoh itu. Jawapannya ialah tidak benar, kerana Al-Quran dan As-Sunnah dan perbuatan kholifah Islam telah membuktikan sangkaan mereka itu adalah salah. Mereka yang jahil itu hanya bersangka-sangka sahaja tentang Islam tanpa melihat kepada dalil yang sohih.
Berikut di bawah ini aku bawakan sebahagian dalil yang menunjukkan perkataan yang keras dari orang yang beriman. Sila baca.
DALIL PERTAMA
قَالَ لَهُم مُّوسَىٰ وَيْلَكُمْ لَا تَفْتَرُوا عَلَى اللَّهِ كَذِبًا فَيُسْحِتَكُم بِعَذَابٍ ۖ وَقَدْ خَابَ مَنِ افْتَرَىٰ
Berkata Musa kepada mereka: "CELAKA KAMU, janganlah kamu mengada-adakan kedustaan terhadap Alloh, maka Dia membinasakan kamu dengan siksa". Dan sesungguhnya telah merugi orang yang mengada-adakan kedustaan.
Al-Quran Surah Toha 20 : Ayat 61
DALIL KEDUA
وَقَالَ الَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ وَيْلَكُمْ ثَوَابُ اللَّهِ خَيْرٌ لِّمَنْ آمَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا وَلَا يُلَقَّاهَا إِلَّا الصَّابِرُونَ
Berkatalah orang-orang yang dianugerahi 'ilmu: "CELAKA KAMU, pahala Alloh adalah lebih baik bagi orang-orang yang beriman dan ber'amal saleh, dan tidak diperoleh pahala itu kecuali oleh orang-orang yang sobar".
Al-Quran Surah Al-Qosos 28 : Ayat 80.
DALIL KETIGA
وَالَّذِي قَالَ لِوَالِدَيْهِ أُفٍّ لَّكُمَا أَتَعِدَانِنِي أَنْ أُخْرَجَ وَقَدْ خَلَتِ الْقُرُونُ مِن قَبْلِي وَهُمَا يَسْتَغِيثَانِ اللَّهَ وَيْلَكَ آمِنْ إِنَّ وَعْدَ اللَّهِ حَقٌّ فَيَقُولُ مَا هَـٰذَا إِلَّا أَسَاطِيرُ الْأَوَّلِينَ
Dan orang yang berkata kepada dua orang ibu bapanya: "Cis bagi kamu keduanya, apakah kamu keduanya memperingatkan kepadaku bahawa aku akan dibangkitkan, padahal sungguh telah berlalu beberapa umat sebelumku?" lalu kedua ibu bapanya itu memohon pertolongan kepada Alloh seraya mengatakan, "CELAKA ENGKAU, berimanlah! Sesungguhnya janji Alloh adalah benar". Lalu dia berkata: "Ini tidak lain hanyalah dongengan orang-orang yang dahulu belaka".
Al-Quran Surah Al-Ahqof 46 : Ayat 17.
DALIL KEEMPAT
عَنْ اَبِيْ سَعِيْدِ الْخُدْرِيِّ قَالَ : بَيْنَمَا نَحْنُ عِنْدَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وهُوَ يَقْسِمُ قِسْمًا اَتَاهُ ذُوْ الْخُوَيْصِرَةِ وَهُوَ رَجُلٌ مِنْ بَنِيْ تَمِيْمِ فَقَالَ : يَا رَسُوْلَ اللهِ اِعْدِلْ . قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلِيْهِ وَسَلَّمَ : وَيْلَكَ وَمَنْ يَعْدِلْ اِنْ لَمْ اَعْدِلْ؟ قَدْ خِبْتُ وَخَسِرْتُ اِنْ لَمْ اَعْدِلُ ؟ فَقَالَ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ : يَا رَسُوْلَ اللهِ ! آئِذَنْ لِيْ فِيْهِ اَضْرِبُ عُنُقَهُ . قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: دَعْهُ فَاِنَّ لَهُ اَصْحَابًا يَحْقِرُ اَحَدُكُمْ صَلاَتَهُ مَعَ صَلاَتِهِمْ ، وَصِيَامُهُ مَعَ صِيَامِهِمْ ، يَقْرَؤُوْنَ الْقُرْآنَ لاَيُجَاوِزُ تَرَاقِيُهُمْ يَمْرُقُوْنَ مِنَ الْلاِسْلاَمِ كَمَا يَمْرُقُ السَّهَمُ مِنَ الرَّمِيَّةِ.
Dari Abi Sa’id Al-Khudri, dia berkata : Ketika kami bersama Rasulillah sollAllahu ‘alaihi wa sallam di suatu ketika beliau sedang membahagi-bahagikan beberapa pembahagian, datanglah kepada baginda Zul-Khuwaisiroh dari Bani Tamim dan berkata :
“Wahai Rasulalloh berlaku 'adillah”
Berkata rasululloh sollAllohu ‘alaihi wa sallam :
“CELAKA ENGKAU! Siapakah yang akan berlaku 'adil jika aku tidak 'adil, dosalah aku dan merugilah jika aku tidak berlaku 'adil”.
Maka Umar Bin Al-Khottob rodiyallohu ‘anhu berkata :
“Wahai Rasulalloh! Izinkan aku untuk memenggal lehernya.
Rasululloh sollAllohu ‘alaihi wa sallam berkata :
“Biarkan dia, kerana dia mempunyai teman-teman yang salah seorang antara kamu akan diremehkan solatnya jika dibandingkan dengan solat mereka dan puasanya jika dibandingkan dengan puasa mereka. Mereka membaca Al-Quran tetapi tidak melebihi kerongkong mereka, mereka terlepas dari Islam sebagaimana terlepasnya anak panah dari busurnya”.
Hadis Riwayat Al-Bukhori 3610, Muslim 1064 dan Ahmad 224.
DALIL KELIMA
Imam Ad-Darimi dalam Sunannya telah membawakan riwayat sebagai berikut :
أخبرنا الحكم بن المبارك، أنبأنا عمرو بن يحيى قال : سمعت أبي يحدث، عن أبيه قال : كُنَّا نَجْلِسُ عَلَى بَابِ عَبْدِ اللهِ بْنِ مَسْعُودٍ – رَضِيَ اللهُ عَنْهُ – قَبْلَ صَلَاةِ الغَدَاةِ، فَإِذَا خَرَجَ، مَشَيْنَا مَعَهُ إِلَى الْمَسْجِدِ، فَجَاءَنَا أَبُوْ مُوْسَى الْأَشْعَرِيُّ – رَضِيَ اللهُ عَنْهُ – فَقَالَ : أَخَرَجَ إِلَيْكُمْ أَبُو عَبْدِ الرَّحْمَنِ قُلْنَا : لَا، بَعْدُ. فَجَلَسَ مَعَنَا حَتَّى خَرَجَ، فَلَمَّا خَرَجَ، قُمْنَا إِلَيْهِ جَمِيْعًا، فَقَالَ لَهُ أَبُو مُوسَى : يَا أَبَا عَبْدِ الرَّحْمَنِ، إِنَّي رَأَيْتُ فِي الْمَسْجِدِ آنِفًا أَمْرًا أَنْكَرْتُهُ وَلَمْ أَرَ – وَالْحَمْدُ للهِ – إِلَّا خَيْرًا. قَالَ : فَمَا هُوَ ؟ فَقَالَ : إِنْ عِشْتَ فَسَتَرَاهُ. قَالَ : رَأَيْتُ فِي الْمَسْجِدِ قَوْمًا حِلَقًا جُلُوْسًا يَنْتَظِرُوْنَ الصَّلَاةَ فِي كُلِّ حَلَقَةٍ رَجُلٌ، وَفِيْ أَيْدِيْهِمْ حَصًا، فَيَقُوْلُ : كَبِّرُوا مِئَةً، فَيُكَبِّرُوْنَ مِئَةً، فَيَقُوْلُ : هَلِّلُوا مِئَةً، فَيُهَلِّلُونَ مِئَةً، فَيَقُولُ : سَبِّحُوا مِئَةً، فَيُسَبِّحُونَ مِئَةً. قَالَ : فَمَاذَا قُلْتَ لَهُمْ ؟ قَالَ : مَا قُلْتُ لَهُمْ شَيْئًا انْتِظَارَ رَأْيِكَ أَوِ انْتِظَارَ أَمْرِكَ. قَالَ : أَفَلَا أَمَرْتَهُمْ أَنْ يَعُدُّوا سَيِّئَاتِهِمْ، وَضَمِنْتَ لَهُمْ أَنْ لَا يَضِيْعَ مِنْ حَسَنَاتِهِم، ثَمَّ مَضَى وَمَضَيْنَا مَعَهُ حَتَّى أَتَى حَلَقَةً مِنْ تِلْكَ الْحِلَقِ، فَوَقَفَ عَلَيْهِمْ، فَقَالَ : مَا هَذا الَّذِيْ أَرَاكُمْ تَصْنَعُوْنَ ؟ قَالُوا : يَا أَبَا عَبْدِ الرَّحْمَنِ حَصًا نَعُدَّ بِهِ التَّكْبِيْرَ والتَّهْلِيلَ وَالتَّسْبِيْحَ. قَالَ : فَعُدُّوا سَيِّئَاتِكُمْ، فَأَنَا ضَامِنٌ أَنْ لَا يَضِيْعَ مِنْ حَسَنَاتِكُمْ شَيْءٌ وَيْحَكُمْ يَا أُمَّةَ مُحَمَّدٍ، مَا أَسْرَعَ هَلَكَتكُمْ ! هَؤُلَاءِ صَحَابَةُ نَبِيِّكُمْ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مُتَوَافِرُوْنَ، وَهَذِهِ ثِيَابُهُ لَمْ تَبْلَ، وَآنِيَتُهُ لَمْ تُكْسَرْ، وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ، إِنَّكُمْ لَعَلَى مِلَّةٍ هِيَ أَهْدَى مِنْ مِلَّةِ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَوْ مُفْتَتِحُو بَابِ ضَلَالَةٍ. قَالُوا : وَاللهِ يَا أَبَا عَبْدِ الرَّحْمَنِ، مَا أَرَدْنَا إِلَّا الْخَيْرَ. قَالَ : وَكَمْ مِنْ مُرِيْدٍ لِلْخَيْرِ لَنْ تُصِيْبَهُ، إِنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَدَّثَنَا أَنَّ قَوْمًا يَقْرَؤُونَ الْقُرْآنَ لَا يُجَاوِزُ تَرَاقِيَهُمْ، وَايْمُ اللهِ مَا أَدْرِيْ لَعَلَّ أَكْتَرَهُمْ مِنْكُمْ، ثُمَّ تَوَلَّى عَنْهُمْ. فَقَالَ عَمْرُو بْنُ سَلَمَةَ : رَأَيْنَا عَامَّةَ أُولَئِكَ الْحِلَقِ يُطَاعِنُونَا يَوْمَ النَّهْرَوَانِ مَعَ الْخَوَارِجِ.
Telah mengkhobarkan kepada kami Al-Hakam Bin Al-Mubarok : Telah memberitakan kepada kami ‘Amru bin Yahya, dia berkata : Aku mendengar bapaku meriwayatkan hadis dari bapanya, dia berkata :
“Sebelum solat Subuh, kami biasa duduk di depan pintu ‘Abdulloh bin Mas’ud rodiyallohu ‘anhu. Jika dia sudah keluar rumah, maka kami pun berjalan bersamanya menuju masjid. kemudian kami didatangi oleh Abu Musa Al-Asy’ari rodiyallohu ‘anhu, dan bertanya : “Apakah Abu ‘Abdir-Rohman (‘Abdulloh bin Mas’ud) sudah keluar menemui kamu?”. Kami menjawab : “Belum”. Lalu dia pun duduk bersama kami hingga dia (‘Abdulloh bin Mas’ud) keluar rumah.
Setelah dia keluar, kami pun bangkit menemuinya. Abu Musa berkata : “Wahai Aba ‘Abdir-Rohman, tadi aku melihat kejadian yang aku ingkari di masjid, namun aku menganggap, segala puji bagi Alloh, hal itu adalah baik”. Kata Ibnu Mas’ud : “Apakah itu?”. Abu Musa menjawab : “Jika engkau berumur panjang, engkau akan mengetahui. Ada sekelompok orang di masjid, mereka duduk berhalaqoh sedang menunggu solat. Setiap kelompok dipimpin oleh seseorang, sedangkan di tangan mereka terdapat kerikil. Lalu pimpinan halaqoh tadi berkata : “Bertakbirlah seratus kali”, maka mereka pun bertakbir seratus kali; “Bertahlillah seratus kali”, maka mereka pun bertahlil seratus kali; “Bertasbihlah seratus kali”, maka mereka pun bertasbih seratus kali”. Ibnu Mas’ud bertanya : “Lalu apa yang engkau katakan kepada mereka ?”. Abu Musa menjawab : “Aku tidak berkata apa-apa hingga aku menunggu apa yang akan engkau katakan atau perintahkan”. Ibnu Mas’ud berkata : “Tidakkah engkau katakan kepada mereka agar mereka menghitung kesalahan mereka dan kamu jamin bahwa kebaikan mereka tidak akan disia-siakan”.
Lalu Ibnu Mas’ud berlalu menuju masjid tersebut dan kami pun mengikuti di belakangnya hingga sampai di tempat itu. Ibnu Mas’ud bertanya kepada mereka : “Benda apa yang aku lihat kamu pergunakan ini ?”. Mereka menjawab : “Kerikil wahai Aba ‘Abdir-Rohman. Kami bertakbir, bertahlil, dan bertasbih dengan mengunakannya”. Ibnu Mas’ud berkata : “Hitunglah kesalahan-kesalahan kamu, aku jamin kebaikan-kebaikan kamu tidak akan disia-siakan sedikitpun. CELAKALAH KAMU wahai umat Muhammad! Betapa cepat kebinasaan / penyimpangan yang kamu lakukan. Para sohabah Nabi kamu masih ramai yang hidup. Sementara baju baginda sollAllohu ‘alaihi wa sallam juga belum lagi usang, bejana baginda belum juga retak. Demi Zat yang diriku berada di tanganNya! Apakah kamu merasa berada di atas millah yang lebih benar daripada millah Muhammad sollAllohu ‘alaihi wa sallam ataukah kamu akan menjadi pembuka pintu kesesatan?”. Mereka menjawab : “Wahai Aba ‘Abdir-Rohman, kami tidaklah menghendaki kecuali kebaikan”. Ibnu Mas’ud menjawab : “Betapa banyak orang yang menghendaki kebaikan namun dia tidak mendapatkannya. Sesungguhnya Rosulalloh sollAllohu ‘alaihi wa sallam pernah berkata kepada kami :
“Akan ada segolongan orang yang membaca Al-Quran, namun apa yang dibacanya itu tidak melewati kerongkongnya”.
Demi Alloh, aku tidak tahu, boleh jadi kebanyakan dari mereka adalah sebagian di antara kamu”.
‘Amr bin Salamah berkata : “Kami melihat kebanyakan diantara orang-orang yang ikut dalam halaqoh itu adalah orang yang menyerang kami dalam Perang Nahrowan yang bergabung bersama orang-orang Khowarij””
DALIL KEENAM
Ibnu Abi ‘Asim meriwayatkan dengan isnad yang sohih, bahwa ‘Ali bin Abi Tolib rodiyallohu 'anhu pernah melihat seorang lelaki yang menuturkan cerita, lalu dia berkata :
"Aku mengetahui yang nasikh dan yang mansukh".
Tapi kemudian dia (lelaki itu) berkata :
"Tidak".
Maka 'Ali berkata :
“ENGKAU CELAKA dan membuatkan orang lain celaka”.
Dinukilkan dari kitab Al-Muzakkir Wa At-Tazkir karya Ibnu Abi ‘Asim halaman 82.
DALIL KEENAM ini aku nukil dari buku Nasyid Bid’ah? karya Isham Abdul-Munim Al-Murry, edisi terjemahan Indonesia dengan edit.
@@@@@@@
Wallohu a'lam
Apakah benar kata-kata orang bodoh itu. Jawapannya ialah tidak benar, kerana Al-Quran dan As-Sunnah dan perbuatan kholifah Islam telah membuktikan sangkaan mereka itu adalah salah. Mereka yang jahil itu hanya bersangka-sangka sahaja tentang Islam tanpa melihat kepada dalil yang sohih.
Berikut di bawah ini aku bawakan sebahagian dalil yang menunjukkan perkataan yang keras dari orang yang beriman. Sila baca.
DALIL PERTAMA
قَالَ لَهُم مُّوسَىٰ وَيْلَكُمْ لَا تَفْتَرُوا عَلَى اللَّهِ كَذِبًا فَيُسْحِتَكُم بِعَذَابٍ ۖ وَقَدْ خَابَ مَنِ افْتَرَىٰ
Berkata Musa kepada mereka: "CELAKA KAMU, janganlah kamu mengada-adakan kedustaan terhadap Alloh, maka Dia membinasakan kamu dengan siksa". Dan sesungguhnya telah merugi orang yang mengada-adakan kedustaan.
Al-Quran Surah Toha 20 : Ayat 61
DALIL KEDUA
وَقَالَ الَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ وَيْلَكُمْ ثَوَابُ اللَّهِ خَيْرٌ لِّمَنْ آمَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا وَلَا يُلَقَّاهَا إِلَّا الصَّابِرُونَ
Berkatalah orang-orang yang dianugerahi 'ilmu: "CELAKA KAMU, pahala Alloh adalah lebih baik bagi orang-orang yang beriman dan ber'amal saleh, dan tidak diperoleh pahala itu kecuali oleh orang-orang yang sobar".
Al-Quran Surah Al-Qosos 28 : Ayat 80.
DALIL KETIGA
وَالَّذِي قَالَ لِوَالِدَيْهِ أُفٍّ لَّكُمَا أَتَعِدَانِنِي أَنْ أُخْرَجَ وَقَدْ خَلَتِ الْقُرُونُ مِن قَبْلِي وَهُمَا يَسْتَغِيثَانِ اللَّهَ وَيْلَكَ آمِنْ إِنَّ وَعْدَ اللَّهِ حَقٌّ فَيَقُولُ مَا هَـٰذَا إِلَّا أَسَاطِيرُ الْأَوَّلِينَ
Dan orang yang berkata kepada dua orang ibu bapanya: "Cis bagi kamu keduanya, apakah kamu keduanya memperingatkan kepadaku bahawa aku akan dibangkitkan, padahal sungguh telah berlalu beberapa umat sebelumku?" lalu kedua ibu bapanya itu memohon pertolongan kepada Alloh seraya mengatakan, "CELAKA ENGKAU, berimanlah! Sesungguhnya janji Alloh adalah benar". Lalu dia berkata: "Ini tidak lain hanyalah dongengan orang-orang yang dahulu belaka".
Al-Quran Surah Al-Ahqof 46 : Ayat 17.
DALIL KEEMPAT
عَنْ اَبِيْ سَعِيْدِ الْخُدْرِيِّ قَالَ : بَيْنَمَا نَحْنُ عِنْدَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وهُوَ يَقْسِمُ قِسْمًا اَتَاهُ ذُوْ الْخُوَيْصِرَةِ وَهُوَ رَجُلٌ مِنْ بَنِيْ تَمِيْمِ فَقَالَ : يَا رَسُوْلَ اللهِ اِعْدِلْ . قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلِيْهِ وَسَلَّمَ : وَيْلَكَ وَمَنْ يَعْدِلْ اِنْ لَمْ اَعْدِلْ؟ قَدْ خِبْتُ وَخَسِرْتُ اِنْ لَمْ اَعْدِلُ ؟ فَقَالَ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ : يَا رَسُوْلَ اللهِ ! آئِذَنْ لِيْ فِيْهِ اَضْرِبُ عُنُقَهُ . قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: دَعْهُ فَاِنَّ لَهُ اَصْحَابًا يَحْقِرُ اَحَدُكُمْ صَلاَتَهُ مَعَ صَلاَتِهِمْ ، وَصِيَامُهُ مَعَ صِيَامِهِمْ ، يَقْرَؤُوْنَ الْقُرْآنَ لاَيُجَاوِزُ تَرَاقِيُهُمْ يَمْرُقُوْنَ مِنَ الْلاِسْلاَمِ كَمَا يَمْرُقُ السَّهَمُ مِنَ الرَّمِيَّةِ.
Dari Abi Sa’id Al-Khudri, dia berkata : Ketika kami bersama Rasulillah sollAllahu ‘alaihi wa sallam di suatu ketika beliau sedang membahagi-bahagikan beberapa pembahagian, datanglah kepada baginda Zul-Khuwaisiroh dari Bani Tamim dan berkata :
“Wahai Rasulalloh berlaku 'adillah”
Berkata rasululloh sollAllohu ‘alaihi wa sallam :
“CELAKA ENGKAU! Siapakah yang akan berlaku 'adil jika aku tidak 'adil, dosalah aku dan merugilah jika aku tidak berlaku 'adil”.
Maka Umar Bin Al-Khottob rodiyallohu ‘anhu berkata :
“Wahai Rasulalloh! Izinkan aku untuk memenggal lehernya.
Rasululloh sollAllohu ‘alaihi wa sallam berkata :
“Biarkan dia, kerana dia mempunyai teman-teman yang salah seorang antara kamu akan diremehkan solatnya jika dibandingkan dengan solat mereka dan puasanya jika dibandingkan dengan puasa mereka. Mereka membaca Al-Quran tetapi tidak melebihi kerongkong mereka, mereka terlepas dari Islam sebagaimana terlepasnya anak panah dari busurnya”.
Hadis Riwayat Al-Bukhori 3610, Muslim 1064 dan Ahmad 224.
DALIL KELIMA
Imam Ad-Darimi dalam Sunannya telah membawakan riwayat sebagai berikut :
أخبرنا الحكم بن المبارك، أنبأنا عمرو بن يحيى قال : سمعت أبي يحدث، عن أبيه قال : كُنَّا نَجْلِسُ عَلَى بَابِ عَبْدِ اللهِ بْنِ مَسْعُودٍ – رَضِيَ اللهُ عَنْهُ – قَبْلَ صَلَاةِ الغَدَاةِ، فَإِذَا خَرَجَ، مَشَيْنَا مَعَهُ إِلَى الْمَسْجِدِ، فَجَاءَنَا أَبُوْ مُوْسَى الْأَشْعَرِيُّ – رَضِيَ اللهُ عَنْهُ – فَقَالَ : أَخَرَجَ إِلَيْكُمْ أَبُو عَبْدِ الرَّحْمَنِ قُلْنَا : لَا، بَعْدُ. فَجَلَسَ مَعَنَا حَتَّى خَرَجَ، فَلَمَّا خَرَجَ، قُمْنَا إِلَيْهِ جَمِيْعًا، فَقَالَ لَهُ أَبُو مُوسَى : يَا أَبَا عَبْدِ الرَّحْمَنِ، إِنَّي رَأَيْتُ فِي الْمَسْجِدِ آنِفًا أَمْرًا أَنْكَرْتُهُ وَلَمْ أَرَ – وَالْحَمْدُ للهِ – إِلَّا خَيْرًا. قَالَ : فَمَا هُوَ ؟ فَقَالَ : إِنْ عِشْتَ فَسَتَرَاهُ. قَالَ : رَأَيْتُ فِي الْمَسْجِدِ قَوْمًا حِلَقًا جُلُوْسًا يَنْتَظِرُوْنَ الصَّلَاةَ فِي كُلِّ حَلَقَةٍ رَجُلٌ، وَفِيْ أَيْدِيْهِمْ حَصًا، فَيَقُوْلُ : كَبِّرُوا مِئَةً، فَيُكَبِّرُوْنَ مِئَةً، فَيَقُوْلُ : هَلِّلُوا مِئَةً، فَيُهَلِّلُونَ مِئَةً، فَيَقُولُ : سَبِّحُوا مِئَةً، فَيُسَبِّحُونَ مِئَةً. قَالَ : فَمَاذَا قُلْتَ لَهُمْ ؟ قَالَ : مَا قُلْتُ لَهُمْ شَيْئًا انْتِظَارَ رَأْيِكَ أَوِ انْتِظَارَ أَمْرِكَ. قَالَ : أَفَلَا أَمَرْتَهُمْ أَنْ يَعُدُّوا سَيِّئَاتِهِمْ، وَضَمِنْتَ لَهُمْ أَنْ لَا يَضِيْعَ مِنْ حَسَنَاتِهِم، ثَمَّ مَضَى وَمَضَيْنَا مَعَهُ حَتَّى أَتَى حَلَقَةً مِنْ تِلْكَ الْحِلَقِ، فَوَقَفَ عَلَيْهِمْ، فَقَالَ : مَا هَذا الَّذِيْ أَرَاكُمْ تَصْنَعُوْنَ ؟ قَالُوا : يَا أَبَا عَبْدِ الرَّحْمَنِ حَصًا نَعُدَّ بِهِ التَّكْبِيْرَ والتَّهْلِيلَ وَالتَّسْبِيْحَ. قَالَ : فَعُدُّوا سَيِّئَاتِكُمْ، فَأَنَا ضَامِنٌ أَنْ لَا يَضِيْعَ مِنْ حَسَنَاتِكُمْ شَيْءٌ وَيْحَكُمْ يَا أُمَّةَ مُحَمَّدٍ، مَا أَسْرَعَ هَلَكَتكُمْ ! هَؤُلَاءِ صَحَابَةُ نَبِيِّكُمْ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مُتَوَافِرُوْنَ، وَهَذِهِ ثِيَابُهُ لَمْ تَبْلَ، وَآنِيَتُهُ لَمْ تُكْسَرْ، وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ، إِنَّكُمْ لَعَلَى مِلَّةٍ هِيَ أَهْدَى مِنْ مِلَّةِ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَوْ مُفْتَتِحُو بَابِ ضَلَالَةٍ. قَالُوا : وَاللهِ يَا أَبَا عَبْدِ الرَّحْمَنِ، مَا أَرَدْنَا إِلَّا الْخَيْرَ. قَالَ : وَكَمْ مِنْ مُرِيْدٍ لِلْخَيْرِ لَنْ تُصِيْبَهُ، إِنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَدَّثَنَا أَنَّ قَوْمًا يَقْرَؤُونَ الْقُرْآنَ لَا يُجَاوِزُ تَرَاقِيَهُمْ، وَايْمُ اللهِ مَا أَدْرِيْ لَعَلَّ أَكْتَرَهُمْ مِنْكُمْ، ثُمَّ تَوَلَّى عَنْهُمْ. فَقَالَ عَمْرُو بْنُ سَلَمَةَ : رَأَيْنَا عَامَّةَ أُولَئِكَ الْحِلَقِ يُطَاعِنُونَا يَوْمَ النَّهْرَوَانِ مَعَ الْخَوَارِجِ.
Telah mengkhobarkan kepada kami Al-Hakam Bin Al-Mubarok : Telah memberitakan kepada kami ‘Amru bin Yahya, dia berkata : Aku mendengar bapaku meriwayatkan hadis dari bapanya, dia berkata :
“Sebelum solat Subuh, kami biasa duduk di depan pintu ‘Abdulloh bin Mas’ud rodiyallohu ‘anhu. Jika dia sudah keluar rumah, maka kami pun berjalan bersamanya menuju masjid. kemudian kami didatangi oleh Abu Musa Al-Asy’ari rodiyallohu ‘anhu, dan bertanya : “Apakah Abu ‘Abdir-Rohman (‘Abdulloh bin Mas’ud) sudah keluar menemui kamu?”. Kami menjawab : “Belum”. Lalu dia pun duduk bersama kami hingga dia (‘Abdulloh bin Mas’ud) keluar rumah.
Setelah dia keluar, kami pun bangkit menemuinya. Abu Musa berkata : “Wahai Aba ‘Abdir-Rohman, tadi aku melihat kejadian yang aku ingkari di masjid, namun aku menganggap, segala puji bagi Alloh, hal itu adalah baik”. Kata Ibnu Mas’ud : “Apakah itu?”. Abu Musa menjawab : “Jika engkau berumur panjang, engkau akan mengetahui. Ada sekelompok orang di masjid, mereka duduk berhalaqoh sedang menunggu solat. Setiap kelompok dipimpin oleh seseorang, sedangkan di tangan mereka terdapat kerikil. Lalu pimpinan halaqoh tadi berkata : “Bertakbirlah seratus kali”, maka mereka pun bertakbir seratus kali; “Bertahlillah seratus kali”, maka mereka pun bertahlil seratus kali; “Bertasbihlah seratus kali”, maka mereka pun bertasbih seratus kali”. Ibnu Mas’ud bertanya : “Lalu apa yang engkau katakan kepada mereka ?”. Abu Musa menjawab : “Aku tidak berkata apa-apa hingga aku menunggu apa yang akan engkau katakan atau perintahkan”. Ibnu Mas’ud berkata : “Tidakkah engkau katakan kepada mereka agar mereka menghitung kesalahan mereka dan kamu jamin bahwa kebaikan mereka tidak akan disia-siakan”.
Lalu Ibnu Mas’ud berlalu menuju masjid tersebut dan kami pun mengikuti di belakangnya hingga sampai di tempat itu. Ibnu Mas’ud bertanya kepada mereka : “Benda apa yang aku lihat kamu pergunakan ini ?”. Mereka menjawab : “Kerikil wahai Aba ‘Abdir-Rohman. Kami bertakbir, bertahlil, dan bertasbih dengan mengunakannya”. Ibnu Mas’ud berkata : “Hitunglah kesalahan-kesalahan kamu, aku jamin kebaikan-kebaikan kamu tidak akan disia-siakan sedikitpun. CELAKALAH KAMU wahai umat Muhammad! Betapa cepat kebinasaan / penyimpangan yang kamu lakukan. Para sohabah Nabi kamu masih ramai yang hidup. Sementara baju baginda sollAllohu ‘alaihi wa sallam juga belum lagi usang, bejana baginda belum juga retak. Demi Zat yang diriku berada di tanganNya! Apakah kamu merasa berada di atas millah yang lebih benar daripada millah Muhammad sollAllohu ‘alaihi wa sallam ataukah kamu akan menjadi pembuka pintu kesesatan?”. Mereka menjawab : “Wahai Aba ‘Abdir-Rohman, kami tidaklah menghendaki kecuali kebaikan”. Ibnu Mas’ud menjawab : “Betapa banyak orang yang menghendaki kebaikan namun dia tidak mendapatkannya. Sesungguhnya Rosulalloh sollAllohu ‘alaihi wa sallam pernah berkata kepada kami :
“Akan ada segolongan orang yang membaca Al-Quran, namun apa yang dibacanya itu tidak melewati kerongkongnya”.
Demi Alloh, aku tidak tahu, boleh jadi kebanyakan dari mereka adalah sebagian di antara kamu”.
‘Amr bin Salamah berkata : “Kami melihat kebanyakan diantara orang-orang yang ikut dalam halaqoh itu adalah orang yang menyerang kami dalam Perang Nahrowan yang bergabung bersama orang-orang Khowarij””
DALIL KEENAM
Ibnu Abi ‘Asim meriwayatkan dengan isnad yang sohih, bahwa ‘Ali bin Abi Tolib rodiyallohu 'anhu pernah melihat seorang lelaki yang menuturkan cerita, lalu dia berkata :
"Aku mengetahui yang nasikh dan yang mansukh".
Tapi kemudian dia (lelaki itu) berkata :
"Tidak".
Maka 'Ali berkata :
“ENGKAU CELAKA dan membuatkan orang lain celaka”.
Dinukilkan dari kitab Al-Muzakkir Wa At-Tazkir karya Ibnu Abi ‘Asim halaman 82.
DALIL KEENAM ini aku nukil dari buku Nasyid Bid’ah? karya Isham Abdul-Munim Al-Murry, edisi terjemahan Indonesia dengan edit.
@@@@@@@
Wallohu a'lam
Saturday, April 28, 2012
AL-MASIH AD-DAJJAL
Sumber :
http://almanhaj.or.id/content/3253/slash/0
AL-MASIH AD-DAJJAL
Oleh
Dr. Yusuf bin Abdillah bin Yusuf al-Wabil
1. Makna al-Masiih
Abu ‘Abdillah al-Qurthubi rahimahullah menyebutkan dua puluh tiga pendapat tentang asal kata tersebut [1]. Sementara penulis kitab al-Qaamuus melanjutkan-nya menjadi lima puluh pendapat.”[2]
Lafazh ini dimutlakkan untuk orang yang benar, juga dimutlakkan untuk orang yang sesat lagi pendusta.
Al-Masih ‘Isa bin Maryam Alaihissallam adalah orang yang benar, sementara al-Masih ad-Dajjal adalah yang sesat lagi pendusta.
Allah menciptakan dua al-Masih, salah satu dari keduanya adalah lawan untuk yang lain.
Nabi ‘Isa Alaihissallam adalah al-Masih yang membawa petunjuk, dia menyembuhkan orang buta sejak lahir, yang berpenyakit kusta, juga menghidupkan yang mati dengan seizin Allah.
Sementara Dajjal -semoga Allah melaknatnya- adalah al-Masih yang membawa kesesatan. Dia menguji manusia dengan sesuatu yang diberikan kepadanya berupa kemampuan-kemampuan yang luar biasa, seperti menurunkan hujan, menghidupkan bumi dengan tumbuhan, dan hal-hal lain yang diluar kebiasaan.
Dajjal dinamakan juga dengan al-Masih karena salah satu matanya buta, atau karena dia mengelilingi dunia hanya dalam waktu empat puluh hari.[3]
Pendapat pertamalah yang paling kuat, karena adanya hadits:
إِنَّ الدَّجَّالَ مَمْسُوْحُ الْعَيْنِ.
“Sesungguhnya Dajjal itu terhapus (buta) sebelah matanya.” [4]
2. Makna ad-Dajjal
Lafazh ad-Dajjal diambil dari perkataan orang Arab (دَجَلَ الْبَعِيْرَ), makna-
nya adalah dicat dengan ter dan menutupi dengannya.[5]
Makna asal dari kata (الدَّجَلُ) ad-Dajalu adalah mencampuradukkan, dikatakan “دَجَلَ إِذَا لَبِسَ وَمَوَّهَ” maknanya adalah merancukan dan mengaduk-aduk.
Jadi, Dajjal adalah orang yang merancukan, pendusta dan yang diberikan sesuatu yang luar biasa. Kata tersebut termasuk bentuk mubaalaghah (melebihkan) dengan wazan (فَعَّالٌ), jadi maknanya adalah banyaknya kebohongan juga kerancuan darinya [6]. Bentuk jamaknya (دَجَّالُوْنَ), sementara Imam Malik menjamakkannya dengan kata (دَجَاجَلَةُ), dan termasuk jama’ taksir.[7]
Al-Qurthubi menuturkan bahwa Dajjal secara bahasa memiliki sepuluh makna.[8]
Dan lafazh Dajjal menjadi sebutan nama untuk al-Masih yang buta lagi pendusta. Jika dikatakan “Dajjal”, orang langsung ingat hanya kepadanya.
Dajjal dinamakan Dajjal karena dia telah menutupi kebenaran dengan kebathilan, atau karena dia telah menutupi kekufurannya di hadapan manusia dengan kebohongan, juga perancuannya kepada mereka. Ada juga yang me-ngatakan bahwa dia menutupi perkara yang benar dengan jumlah pengikutnya yang banyak [9], wallaahu a’lam.
3. Sifat Dajjal dan Hadits-Hadits yang Menjelaskannya
Dajjal adalah seorang laki-laki dari keturunan Adam. Dia memiliki banyak sifat yang dijelaskan dalam berbagai hadits agar manusia mengenalnya dan memberikan peringatan kepada mereka atas kejelekannya, sehingga ketika dia keluar maka orang-orang yang beriman akan mengenali dan tidak terkena fitnahnya. bahkan mereka akan tetap mengetahui sifat-sifatnya yang dikabar-kan oleh Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. Sifat-sifat ini dapat membedakannya dari manusia yang lain. Maka tidak akan ada yang tertipu kecuali orang bodoh yang telah ditetapkan kesengsaraan baginya. Hanya kepada Allah-lah kita memohon keselamatan.
Di antara sifat-sifat tersebut bahwa dia seorang laki-laki, masih muda, berkulit merah, pendek, jarak antara kedua betisnya berjauhan (leter o), berambut keriting, keningnya lebar, dadanya bidang, mata yang kanannya buta, mata tersebut tidak muncul tidak pula tertancap dalam seakan-akan buah anggur yang menonjol, sementara di atas matanya yang kiri ada daging keras yang tumbuh, di antara kedua matanya tertulis huruf ك، ف، ر dengan huruf yang terputus-putus, atau (كافـر) dengan bersambung, setiap muslim dapat membacanya, baik dia orang yang buta huruf maupun tidak. Dan di antara sifatnya bahwa dia orang yang mandul, tidak memiliki anak.
Berikut ini sebagian hadits shahih yang menjelaskan berbagai sifatnya di atas, dan hadits-hadits tersebut merupakan sebagian dalil yang menunjukkan kemunculan Dajjal.
a. Diriwayatkan dari ‘Umar Radhyallahu anhu, bahwasanya Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
بَيْنَا أَنَا نَائِمٌ أَطُوْفُ بِالْبَيْتِ... (فَذَكَرَ أَنَّهُ رَأَى عِيْسَى بْنَ مَرْيَمَ ، ثُمَّ رَأَى الدَّجَّالَ، فَوَصَفَهُ، فَقَالَ:) فَإِذَا رَجُلٌ جَسِيْـمٌ، أَحْمَرُ، جَعْدُ الرَّأْسِ، أَعْوَرُ الْعَيٍنِ، كَأَنَّ عَيْنَهُ عِنَبَةٌ طَافِئَةٌ؛ قَالُوْا: هَذَا الدَّجَّالُ أَقْرَبُ النَّاسِ بِهِ شَبَهًا اِبْنُ قَطَنٍ، رَجُلٌ مِنْ خُزَاعَةَ.
“Ketika aku sedang tidur, aku (bermimpi) melakukan thawaf di sekeliling Ka’bah….” (Kemudian beliau menuturkan bahwa beliau melihat Nabi ‘Isa q, lalu melihat Dajjal dan mensifatinya, beliau berkata), “Tiba-tiba saja ada seorang laki-laki dengan badan yang besar, merah (kulitnya), rambutnya keriting, matanya buta sebelah, seolah-olah matanya adalah buah anggur yang menonjol.” Mereka (para Sahabat) berkata, “Orang yang paling mirip dengan Dajjal ini adalah Ibnu Quthn [10], seorang laki-laki dari Khuza’ah.” [11]
b. Diriwayatkan dari ‘Umar Radhiyallahu anhu, bahwasanya Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam menceritakan Dajjal di tengah-tengah manusia, lalu beliau bersabda:
إِنَّ اللهَ تَعَالَى لَيْسَ بِأَعْوَرَ، أَلاَ وَإِنَّ الْمَسِيْحَ الدَّجَّالَ أَعْوَرُ الْعَيْنِ الْيُمْنَى؛ كَأَنَّ عَيْنَهُ عِنَبَةٌ طَافِيَةٌ.
“Sesungguhnya Allah Ta’ala tidak picek (buta sebelah), dan ketahuilah sesungguhnya al-Masih Dajjal adalah picek mata sebelah kanannya. Matanya bagaikan anggur yang menonjol.” [12]
c. Dijelaskan dalam hadits an-Nawwas bin Sam’an Radhiyallahu anhu, beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda ketika mensifati Dajjal:
إِنَّهُ شَابٌّ، قَطَطٌ، عَيْنُهُ طَافِيَةٌ، كَأَنِّي أُشَبِّهُهُ بِعَبْدِ الْعُزَّى بْنِ قَطَنٍ.
“Sesungguhnya dia adalah seorang pemuda, rambutnya sangat keriting, matanya menonjol, seolah-olah aku sedang menyerupakannya dengan ‘Abdul ‘Uzza bin Quthn.” [13]
d. Dalam hadits ‘Ubadah bin ash-Shamit Radhiyallahu anhu, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
إِنَّ مَسِيْحَ الدَّجَّالِ رَجُلٌ، قَصِيْرٌ، أَفْجَعُ، جَعْدُ، أَعْوَرٌ، مَطْمُوْسُ الْعَيْنِ، لَيْسَ بِنَاتِئَةٍ وَلاَ جَحْـرَاءَ، فَإِنْ أَلْبَسَ عَلَيْكُمْ؛ فَاعْلَمُوْا أَنَّ رَبَّكُمْ لَيْسَ بِأَعْوَرَ.
“Sesungguhnya Dajjal adalah seorang laki-laki, pendek, jarak antara kedua betisnya berjauhan, keriting, buta sebelah, mata yang terhapus tidak terlalu menonjol, tidak pula terlalu ke dalam, maka jika dia melakukan kerancuan (mengaku sebagai Rabb) kepadamu, maka ketahuilah sesungguhnya Rabb kalian tidak buta sebelah.”[14]
e. Dalam hadits Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
وَأَمَّا مَسِيْحُ الضَّلاَلَةِ؛ فَإِنَّهُ أَعْوَرُ الْعَيْنِ، أَجْلَى الْجَبْهَةِ، عَرِيْضُ النَّحْرِ، فِيْهِ دَفَأٌ.
“Adapun Masihud Dhalalah (Dajjal), maka sesungguhnya dia buta sebelah matanya, keningnya lebar, atas dadanya bidang dan badannya agak bongkok.”[15]
f. Dalam hadits Hudzaifah Radhiyallahu anhu, beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam berkata:
اَلدَّجَّالُ أَعْوَرُ الْعَيْنِ الْيُسْرَى، جُفَالُ الشَّعَرِ.
“Dajjal itu buta mata sebelah kirinya, dan berambut gembal.” [16]
g. Dalam hadits Anas Radhiyallahu anhu, beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
وَإِنَّ بَيْنَ عَيْنَيْهِ مَكْتُوْبٌ كَافِرٌ.
“Dan sesungguhnya di antara dua matanya tertulis Kaafir.” [17]
Dalam satu riwayat:
ثُمَّ تَهَجَّاهَا (ك، ف، ر)؛ يَقْرَؤُهُ كُلُّ مُسْلِمٍ.
“Kemudian beliau mengejanya kaaf faa’ raa’, setiap muslim dapat membacanya.”[18]
Sementara dalam riwayat lain:
يَقْرَؤُهُ كُلُّ مُؤْمِنٍ كَاتِبٌ وَغَيْرُ كَاتِبٍ.
“Setiap mukmin dapat membacanya, baik yang bisa menulis atau tidak.” [19]
Tulisan tersebut nampak secara hakiki [20]. Semua manusia tidak memiliki masalah dalam tulisan ini, yang pintar maupun yang bodoh. Demikian pula orang yang ummi (buta huruf), “Hal itu karena sesungguhnya kemampuan mata diciptakan oleh Allah untuk para hamba sesuai dengan kehendak-Nya dan kapan Dia menghendakinya. Seorang mukmin akan dapat melihatnya dengan mata penglihatannya walaupun dia tidak bisa menulis; sementara orang kafir tidak melihatnya walaupun dia bisa menulis, sebagaimana orang-orang yang beriman bisa melihat berbagai macam dalil dengan pandangannya sementara orang kafir tidak bisa melihatnya. Maka Allah menciptakan kemam-puan untuk melihat (lagi membaca) tanpa harus belajar terlebih dahulu, karena pada zaman tersebut banyak hal yang terjadi diluar kebiasaan.” [21]
Imam an-Nawawi rahimahullah berkata, “Yang benar berdasarkan pendapat para ulama bahwa tulisan tersebut nampak secara nyata. Ia adalah tulisan secara hakiki, Allah menjadikannya sebagai tanda dari berbagai tanda yang pasti atas kekufuran, kebohongan dan kebathilannya. Allah Ta’ala menampakkannya kepada setiap muslim yang bisa menulis atau tidak, dan menyembunyikannya dari setiap orang yang Allah kehendaki kesengsaraan baginya dan terfitnah olehnya, hal itu sama sekali tidak mustahil.”[22]
h. Dan di antara sifatnya adalah apa yang dijelaskan dalam hadits Fathimah binti Qais Radhiyallahu anhuma tentang kisah al-Jassasah. Di dalam hadits tersebut, Tamim ad-Dari Radhiyallahu anhu berkata, “Akhirnya kami pergi dengan cepat hingga kami masuk ke sebuah kuil, ternyata di dalamnya ada seorang yang sangat besar yang tidak pernah kami lihat sama sekali sebelumnya, dan dia diikat dengan sangat kuat.” [23]
i. Dan di dalam hadits ‘Imran bin Hushain Radhiyallahu anhu, dia berkata, “Aku mendengar Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
مَا بَيْنَ خَلْقِ آدَمَ إِلَى قِيَامِ السَّاعَةِ خَلْقٌ أَكْبَرُ مِنَ الدَّجَّالِ.
“Sejak penciptaan Adam sampai hari Kiamat tidak ada satu makhluk yang lebih besar fitnahnya daripada Dajjal.” [24]
j. Adapun (sifat) Dajjal bahwa dia tidak memiliki keturunan, dijelaskan dalam hadits Abu Sa’id al-Khudri Radhiyallahu anhu tentang kisahnya bersama Ibnu Shayyad, dia berkata kepada Abu Sa’id, “Bukankah engkau pernah mendengar Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
إِنَّهُ لاَ يُوْلَدُ لَهُ.
‘Sesungguhnya dia (Dajjal) tidak bisa memiliki keturunan?’
Dia (Abu Sa’id) berkata, ‘Benar,’ jawabku.” [25]
Yang perlu diperhatikan dari berbagai riwayat terdahulu bahwa pada sebagian riwayat dijelaskan mata yang kanannya buta, sementara pada riwayat lainnya mata kirilah yang buta, padahal semua riwayat tersebut adalah shahih, maka ada sesuatu yang musykil di dalamnya.
Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah berpendapat bahwa hadits Ibnu ‘Umar yang diriwayatkan dalam ash-Shahiihain dan hadits yang menjelaskan bahwa mata kanannya yang buta adalah lebih kuat daripada riwayat Muslim yang menjelaskan bahwa mata kirinya yang buta, karena hadits yang disepakati atas keshahihannya lebih kuat daripada yang lain. [26]
Al-Qadhi ‘Iyadh rahimahullah berpendapat bahwa kedua mata Dajjal adalah cacat, karena semua riwayat adalah shahih. Mata yang dihapus adalah mata yang padam, maksudnya yang hilang cahayanya, yaitu mata yang sebelah kanan sebagaimana dijelaskan dalam riwayat Ibnu ‘Umar. Adapun mata yang kiri adalah mata yang di depannya ada daging tebal, maksudnya mata yang tertutupi tetapi masih ada cahayanya, ini pun cacat. Jadi dia adalah orang yang cacat kedua matanya, karena kata al-a’war untuk semua anggota badan arti-nya buruk/cacat, terutama jika berhubungan dengan mata. Maka kedua mata Dajjal adalah cacat, salah satunya hilang penglihatannya dan yang lain dengan kecacatannya.
An-Nawawi rahimahullah mengomentari penggabungan dalil ini dengan perkata-annya, “Penggabungan inilah yang paling tepat.”[27]
Pendapat ini dianggap yang paling kuat oleh Abu ‘Abdillah al-Qurthubi rahimahullah.[28]
[Disalin dari kitab Asyraathus Saa'ah, Penulis Yusuf bin Abdillah bin Yusuf al-Wabil, Daar Ibnil Jauzi, Cetakan Kelima 1415H-1995M, Edisi Indonesia Hari Kiamat Sudah Dekat, Penerjemah Beni Sarbeni, Penerbit Pustaka Ibnu Katsir]
_______
Footnote
[1]. Lihat at-Tadzkirah (hal. 679).
[2]. Lihat Tartiibul Qaamuus (IV/239), penulis al-Qaamuus menuturkan bahwa beliau memaparkan berbagai pendapat ini dalam kitab Syarhu Masyaariqil Anwaar dan yang lainnya.
[3]. Lihat an-Nihaayah fii Ghariibil Hadiits (IV/326-327), Lisaanul ‘Arab (II/594-595).
[4]. Shahiih Muslim, kitab al-Fitan wa Asyraathus Saa’ah, bab Dzikrud Dajjaal (XVIII/61, Syarh an-Nawawi).
[5]. Lihat Lisaanul ‘Arab (XI/236), Tartiibul Qaamuus (II/152).
[6]. Lihat an-Nihaayah fii Ghariibil Hadiits (II/102).
[7]. Lisaanul ‘Arab (XI/236).
[8]. At-Tadzkirah (hal. 658).
[9]. Lisaanul ‘Arab (XI/236-237), dan Tartiibul Qaamuus (II/152).
[10]. Ibnu Quthn. Namanya adalah ‘Abdul Uzza bin Quthn bin ‘Amr al-Khuza’i, ada yang mengatakan bahwa dia adalah keturunan Bani Musthaliq dari Khuza’ah. Ibunya adalah Halah binti Khuwailid, dia bukan seorang Sahabat. Meninggal pada zaman Jahiliyyah. Adapun riwayat yang menjelaskan bahwa dia berkata kepada Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam, “Apakah berdampak negatif penyerupaannya?” beliau men-jawab, “Tidak, engkau seorang muslim sementara dia adalah kafir.” Ini adalah tambahan yang lemah dari al-Mas’udi dalam riwayat Ahmad, dan hadits ini telah bercampur-baur dengan hadits lain.
Lihat komentar Ahmad Syakir terhadap kitab Musnad Ahmad (XV/30-31), lihat al-Ishaabah fii Tamyiizish Shahaabah (IV/239), dan Fat-hul Baari (VI/488, XIII/101).
[11]. Shahiihul al-Bukhari, kitab al-Fitan bab Dzikrud Dajjal (XIII/90, al-Fat-h), dan Shahiih Muslim, kitab al-Iimaan, bab Dzikrul Masiih Ibni Maryam q wal Masiihid Dajjal (II/237, Syarh an-Nawawi).
[12]. Shahiih al-Bukhari, kitab al-Fitan, bab Dzikrud Dajjal (XIII/90, al-Fat-h), dan Shahiih Muslim, kitab al-Fitan wa Asyraathus Saa’ah, bab Dzikrud Dajjal (XVIII/59, Syarh an-Nawawi).
[13]. Shahiih Muslim, kitab al-Fitan wa Asyraathus Saa’ah, bab Dzikrud Dajjal (XVIII/65, Syarh an-Nawawi).
[14]. Sunan Abi Dawud (XI/443-‘Aunul Ma’buud). Hadits ini shahih, lihat Shahiih al-Jaami’ish Shaghiir (II/317-318, no. 2455).
[15]. Musnad Imam Ahmad (XV/28-30) tahqiq dan syarah Ahmad Syakir, beliau berkata, “Sanadnya shahih,” dan dihasankan oleh Ibnu Katsir.
Lihat an-Nihaayah/al-Fitan wal Malaahim (I/130) tahqiq Dr. Thaha Zaini.
[16]. Shahiih Muslim, kitab al-Fitan wa Asyraathus Saa’ah bab Dzikrud Dajjal (XVIII/60-61, Syarh an-Nawawi).
[17]. Shahiih al-Bukhari, kitab al-Fitan, bab Dzikrud Dajjal (XIII/91, al-Fat-h), dan Shahiih Muslim, kitab al-Fitan wa Asyraathus Saa’ah bab Dzikrud Dajjal (XVIII/59, Syarh an-Nawawi).
[18]. Shahiih Muslim, kitab al-Fitan bab Dzikrud Dajjal (XVIII/59, Syarh an-Nawawi).
[19]. Shahiih Muslim (XVIII/61, Syarh an-Nawawi).
[20]. Berbeda dengan orang yang berkata, “Tulisan tersebut adalah kiasan dari tanda sesuatu yang terjadi,” sesungguhnya ini adalah pendapat yang lemah. Lihat Syarh an-Nawawi li Shahiih Muslim (XVIII/ 60-61), dan Fat-hul Baari (XIII/100).
[21]. Fat-hul Baari (XIII/100).
[22]. Syarh an-Nawawi li Shahiih Muslim (XVIII/60).
[23]. Shahiih Muslim, kitab al-Fitan wa Asyraathus Saa’ah, bab Qishshatul Jassasah (XVIII/82, Syarh an-Nawawi).
[24]. Shahiih Muslim, kitab al-Fitan, bab Baqiyatu min Ahaadiitsid Dajjal (XVIII/86-87, Syarh an-Nawawi).
[25]. Shahiih Muslim, kitab al-Fitan, bab Dzikri Ibni Shayyad (XVIII/50, Syarh an-Nawawi).
[26]. Fat-hul Baari (XIII/97).
[27]. Lihat Syarh an-Nawawi li Shahiih Muslim (II/235).
[28]. At-Tadzkirah (hal. 663).
http://almanhaj.or.id/content/3253/slash/0
AL-MASIH AD-DAJJAL
Oleh
Dr. Yusuf bin Abdillah bin Yusuf al-Wabil
1. Makna al-Masiih
Abu ‘Abdillah al-Qurthubi rahimahullah menyebutkan dua puluh tiga pendapat tentang asal kata tersebut [1]. Sementara penulis kitab al-Qaamuus melanjutkan-nya menjadi lima puluh pendapat.”[2]
Lafazh ini dimutlakkan untuk orang yang benar, juga dimutlakkan untuk orang yang sesat lagi pendusta.
Al-Masih ‘Isa bin Maryam Alaihissallam adalah orang yang benar, sementara al-Masih ad-Dajjal adalah yang sesat lagi pendusta.
Allah menciptakan dua al-Masih, salah satu dari keduanya adalah lawan untuk yang lain.
Nabi ‘Isa Alaihissallam adalah al-Masih yang membawa petunjuk, dia menyembuhkan orang buta sejak lahir, yang berpenyakit kusta, juga menghidupkan yang mati dengan seizin Allah.
Sementara Dajjal -semoga Allah melaknatnya- adalah al-Masih yang membawa kesesatan. Dia menguji manusia dengan sesuatu yang diberikan kepadanya berupa kemampuan-kemampuan yang luar biasa, seperti menurunkan hujan, menghidupkan bumi dengan tumbuhan, dan hal-hal lain yang diluar kebiasaan.
Dajjal dinamakan juga dengan al-Masih karena salah satu matanya buta, atau karena dia mengelilingi dunia hanya dalam waktu empat puluh hari.[3]
Pendapat pertamalah yang paling kuat, karena adanya hadits:
إِنَّ الدَّجَّالَ مَمْسُوْحُ الْعَيْنِ.
“Sesungguhnya Dajjal itu terhapus (buta) sebelah matanya.” [4]
2. Makna ad-Dajjal
Lafazh ad-Dajjal diambil dari perkataan orang Arab (دَجَلَ الْبَعِيْرَ), makna-
nya adalah dicat dengan ter dan menutupi dengannya.[5]
Makna asal dari kata (الدَّجَلُ) ad-Dajalu adalah mencampuradukkan, dikatakan “دَجَلَ إِذَا لَبِسَ وَمَوَّهَ” maknanya adalah merancukan dan mengaduk-aduk.
Jadi, Dajjal adalah orang yang merancukan, pendusta dan yang diberikan sesuatu yang luar biasa. Kata tersebut termasuk bentuk mubaalaghah (melebihkan) dengan wazan (فَعَّالٌ), jadi maknanya adalah banyaknya kebohongan juga kerancuan darinya [6]. Bentuk jamaknya (دَجَّالُوْنَ), sementara Imam Malik menjamakkannya dengan kata (دَجَاجَلَةُ), dan termasuk jama’ taksir.[7]
Al-Qurthubi menuturkan bahwa Dajjal secara bahasa memiliki sepuluh makna.[8]
Dan lafazh Dajjal menjadi sebutan nama untuk al-Masih yang buta lagi pendusta. Jika dikatakan “Dajjal”, orang langsung ingat hanya kepadanya.
Dajjal dinamakan Dajjal karena dia telah menutupi kebenaran dengan kebathilan, atau karena dia telah menutupi kekufurannya di hadapan manusia dengan kebohongan, juga perancuannya kepada mereka. Ada juga yang me-ngatakan bahwa dia menutupi perkara yang benar dengan jumlah pengikutnya yang banyak [9], wallaahu a’lam.
3. Sifat Dajjal dan Hadits-Hadits yang Menjelaskannya
Dajjal adalah seorang laki-laki dari keturunan Adam. Dia memiliki banyak sifat yang dijelaskan dalam berbagai hadits agar manusia mengenalnya dan memberikan peringatan kepada mereka atas kejelekannya, sehingga ketika dia keluar maka orang-orang yang beriman akan mengenali dan tidak terkena fitnahnya. bahkan mereka akan tetap mengetahui sifat-sifatnya yang dikabar-kan oleh Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. Sifat-sifat ini dapat membedakannya dari manusia yang lain. Maka tidak akan ada yang tertipu kecuali orang bodoh yang telah ditetapkan kesengsaraan baginya. Hanya kepada Allah-lah kita memohon keselamatan.
Di antara sifat-sifat tersebut bahwa dia seorang laki-laki, masih muda, berkulit merah, pendek, jarak antara kedua betisnya berjauhan (leter o), berambut keriting, keningnya lebar, dadanya bidang, mata yang kanannya buta, mata tersebut tidak muncul tidak pula tertancap dalam seakan-akan buah anggur yang menonjol, sementara di atas matanya yang kiri ada daging keras yang tumbuh, di antara kedua matanya tertulis huruf ك، ف، ر dengan huruf yang terputus-putus, atau (كافـر) dengan bersambung, setiap muslim dapat membacanya, baik dia orang yang buta huruf maupun tidak. Dan di antara sifatnya bahwa dia orang yang mandul, tidak memiliki anak.
Berikut ini sebagian hadits shahih yang menjelaskan berbagai sifatnya di atas, dan hadits-hadits tersebut merupakan sebagian dalil yang menunjukkan kemunculan Dajjal.
a. Diriwayatkan dari ‘Umar Radhyallahu anhu, bahwasanya Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
بَيْنَا أَنَا نَائِمٌ أَطُوْفُ بِالْبَيْتِ... (فَذَكَرَ أَنَّهُ رَأَى عِيْسَى بْنَ مَرْيَمَ ، ثُمَّ رَأَى الدَّجَّالَ، فَوَصَفَهُ، فَقَالَ:) فَإِذَا رَجُلٌ جَسِيْـمٌ، أَحْمَرُ، جَعْدُ الرَّأْسِ، أَعْوَرُ الْعَيٍنِ، كَأَنَّ عَيْنَهُ عِنَبَةٌ طَافِئَةٌ؛ قَالُوْا: هَذَا الدَّجَّالُ أَقْرَبُ النَّاسِ بِهِ شَبَهًا اِبْنُ قَطَنٍ، رَجُلٌ مِنْ خُزَاعَةَ.
“Ketika aku sedang tidur, aku (bermimpi) melakukan thawaf di sekeliling Ka’bah….” (Kemudian beliau menuturkan bahwa beliau melihat Nabi ‘Isa q, lalu melihat Dajjal dan mensifatinya, beliau berkata), “Tiba-tiba saja ada seorang laki-laki dengan badan yang besar, merah (kulitnya), rambutnya keriting, matanya buta sebelah, seolah-olah matanya adalah buah anggur yang menonjol.” Mereka (para Sahabat) berkata, “Orang yang paling mirip dengan Dajjal ini adalah Ibnu Quthn [10], seorang laki-laki dari Khuza’ah.” [11]
b. Diriwayatkan dari ‘Umar Radhiyallahu anhu, bahwasanya Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam menceritakan Dajjal di tengah-tengah manusia, lalu beliau bersabda:
إِنَّ اللهَ تَعَالَى لَيْسَ بِأَعْوَرَ، أَلاَ وَإِنَّ الْمَسِيْحَ الدَّجَّالَ أَعْوَرُ الْعَيْنِ الْيُمْنَى؛ كَأَنَّ عَيْنَهُ عِنَبَةٌ طَافِيَةٌ.
“Sesungguhnya Allah Ta’ala tidak picek (buta sebelah), dan ketahuilah sesungguhnya al-Masih Dajjal adalah picek mata sebelah kanannya. Matanya bagaikan anggur yang menonjol.” [12]
c. Dijelaskan dalam hadits an-Nawwas bin Sam’an Radhiyallahu anhu, beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda ketika mensifati Dajjal:
إِنَّهُ شَابٌّ، قَطَطٌ، عَيْنُهُ طَافِيَةٌ، كَأَنِّي أُشَبِّهُهُ بِعَبْدِ الْعُزَّى بْنِ قَطَنٍ.
“Sesungguhnya dia adalah seorang pemuda, rambutnya sangat keriting, matanya menonjol, seolah-olah aku sedang menyerupakannya dengan ‘Abdul ‘Uzza bin Quthn.” [13]
d. Dalam hadits ‘Ubadah bin ash-Shamit Radhiyallahu anhu, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
إِنَّ مَسِيْحَ الدَّجَّالِ رَجُلٌ، قَصِيْرٌ، أَفْجَعُ، جَعْدُ، أَعْوَرٌ، مَطْمُوْسُ الْعَيْنِ، لَيْسَ بِنَاتِئَةٍ وَلاَ جَحْـرَاءَ، فَإِنْ أَلْبَسَ عَلَيْكُمْ؛ فَاعْلَمُوْا أَنَّ رَبَّكُمْ لَيْسَ بِأَعْوَرَ.
“Sesungguhnya Dajjal adalah seorang laki-laki, pendek, jarak antara kedua betisnya berjauhan, keriting, buta sebelah, mata yang terhapus tidak terlalu menonjol, tidak pula terlalu ke dalam, maka jika dia melakukan kerancuan (mengaku sebagai Rabb) kepadamu, maka ketahuilah sesungguhnya Rabb kalian tidak buta sebelah.”[14]
e. Dalam hadits Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
وَأَمَّا مَسِيْحُ الضَّلاَلَةِ؛ فَإِنَّهُ أَعْوَرُ الْعَيْنِ، أَجْلَى الْجَبْهَةِ، عَرِيْضُ النَّحْرِ، فِيْهِ دَفَأٌ.
“Adapun Masihud Dhalalah (Dajjal), maka sesungguhnya dia buta sebelah matanya, keningnya lebar, atas dadanya bidang dan badannya agak bongkok.”[15]
f. Dalam hadits Hudzaifah Radhiyallahu anhu, beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam berkata:
اَلدَّجَّالُ أَعْوَرُ الْعَيْنِ الْيُسْرَى، جُفَالُ الشَّعَرِ.
“Dajjal itu buta mata sebelah kirinya, dan berambut gembal.” [16]
g. Dalam hadits Anas Radhiyallahu anhu, beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
وَإِنَّ بَيْنَ عَيْنَيْهِ مَكْتُوْبٌ كَافِرٌ.
“Dan sesungguhnya di antara dua matanya tertulis Kaafir.” [17]
Dalam satu riwayat:
ثُمَّ تَهَجَّاهَا (ك، ف، ر)؛ يَقْرَؤُهُ كُلُّ مُسْلِمٍ.
“Kemudian beliau mengejanya kaaf faa’ raa’, setiap muslim dapat membacanya.”[18]
Sementara dalam riwayat lain:
يَقْرَؤُهُ كُلُّ مُؤْمِنٍ كَاتِبٌ وَغَيْرُ كَاتِبٍ.
“Setiap mukmin dapat membacanya, baik yang bisa menulis atau tidak.” [19]
Tulisan tersebut nampak secara hakiki [20]. Semua manusia tidak memiliki masalah dalam tulisan ini, yang pintar maupun yang bodoh. Demikian pula orang yang ummi (buta huruf), “Hal itu karena sesungguhnya kemampuan mata diciptakan oleh Allah untuk para hamba sesuai dengan kehendak-Nya dan kapan Dia menghendakinya. Seorang mukmin akan dapat melihatnya dengan mata penglihatannya walaupun dia tidak bisa menulis; sementara orang kafir tidak melihatnya walaupun dia bisa menulis, sebagaimana orang-orang yang beriman bisa melihat berbagai macam dalil dengan pandangannya sementara orang kafir tidak bisa melihatnya. Maka Allah menciptakan kemam-puan untuk melihat (lagi membaca) tanpa harus belajar terlebih dahulu, karena pada zaman tersebut banyak hal yang terjadi diluar kebiasaan.” [21]
Imam an-Nawawi rahimahullah berkata, “Yang benar berdasarkan pendapat para ulama bahwa tulisan tersebut nampak secara nyata. Ia adalah tulisan secara hakiki, Allah menjadikannya sebagai tanda dari berbagai tanda yang pasti atas kekufuran, kebohongan dan kebathilannya. Allah Ta’ala menampakkannya kepada setiap muslim yang bisa menulis atau tidak, dan menyembunyikannya dari setiap orang yang Allah kehendaki kesengsaraan baginya dan terfitnah olehnya, hal itu sama sekali tidak mustahil.”[22]
h. Dan di antara sifatnya adalah apa yang dijelaskan dalam hadits Fathimah binti Qais Radhiyallahu anhuma tentang kisah al-Jassasah. Di dalam hadits tersebut, Tamim ad-Dari Radhiyallahu anhu berkata, “Akhirnya kami pergi dengan cepat hingga kami masuk ke sebuah kuil, ternyata di dalamnya ada seorang yang sangat besar yang tidak pernah kami lihat sama sekali sebelumnya, dan dia diikat dengan sangat kuat.” [23]
i. Dan di dalam hadits ‘Imran bin Hushain Radhiyallahu anhu, dia berkata, “Aku mendengar Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
مَا بَيْنَ خَلْقِ آدَمَ إِلَى قِيَامِ السَّاعَةِ خَلْقٌ أَكْبَرُ مِنَ الدَّجَّالِ.
“Sejak penciptaan Adam sampai hari Kiamat tidak ada satu makhluk yang lebih besar fitnahnya daripada Dajjal.” [24]
j. Adapun (sifat) Dajjal bahwa dia tidak memiliki keturunan, dijelaskan dalam hadits Abu Sa’id al-Khudri Radhiyallahu anhu tentang kisahnya bersama Ibnu Shayyad, dia berkata kepada Abu Sa’id, “Bukankah engkau pernah mendengar Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
إِنَّهُ لاَ يُوْلَدُ لَهُ.
‘Sesungguhnya dia (Dajjal) tidak bisa memiliki keturunan?’
Dia (Abu Sa’id) berkata, ‘Benar,’ jawabku.” [25]
Yang perlu diperhatikan dari berbagai riwayat terdahulu bahwa pada sebagian riwayat dijelaskan mata yang kanannya buta, sementara pada riwayat lainnya mata kirilah yang buta, padahal semua riwayat tersebut adalah shahih, maka ada sesuatu yang musykil di dalamnya.
Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah berpendapat bahwa hadits Ibnu ‘Umar yang diriwayatkan dalam ash-Shahiihain dan hadits yang menjelaskan bahwa mata kanannya yang buta adalah lebih kuat daripada riwayat Muslim yang menjelaskan bahwa mata kirinya yang buta, karena hadits yang disepakati atas keshahihannya lebih kuat daripada yang lain. [26]
Al-Qadhi ‘Iyadh rahimahullah berpendapat bahwa kedua mata Dajjal adalah cacat, karena semua riwayat adalah shahih. Mata yang dihapus adalah mata yang padam, maksudnya yang hilang cahayanya, yaitu mata yang sebelah kanan sebagaimana dijelaskan dalam riwayat Ibnu ‘Umar. Adapun mata yang kiri adalah mata yang di depannya ada daging tebal, maksudnya mata yang tertutupi tetapi masih ada cahayanya, ini pun cacat. Jadi dia adalah orang yang cacat kedua matanya, karena kata al-a’war untuk semua anggota badan arti-nya buruk/cacat, terutama jika berhubungan dengan mata. Maka kedua mata Dajjal adalah cacat, salah satunya hilang penglihatannya dan yang lain dengan kecacatannya.
An-Nawawi rahimahullah mengomentari penggabungan dalil ini dengan perkata-annya, “Penggabungan inilah yang paling tepat.”[27]
Pendapat ini dianggap yang paling kuat oleh Abu ‘Abdillah al-Qurthubi rahimahullah.[28]
[Disalin dari kitab Asyraathus Saa'ah, Penulis Yusuf bin Abdillah bin Yusuf al-Wabil, Daar Ibnil Jauzi, Cetakan Kelima 1415H-1995M, Edisi Indonesia Hari Kiamat Sudah Dekat, Penerjemah Beni Sarbeni, Penerbit Pustaka Ibnu Katsir]
_______
Footnote
[1]. Lihat at-Tadzkirah (hal. 679).
[2]. Lihat Tartiibul Qaamuus (IV/239), penulis al-Qaamuus menuturkan bahwa beliau memaparkan berbagai pendapat ini dalam kitab Syarhu Masyaariqil Anwaar dan yang lainnya.
[3]. Lihat an-Nihaayah fii Ghariibil Hadiits (IV/326-327), Lisaanul ‘Arab (II/594-595).
[4]. Shahiih Muslim, kitab al-Fitan wa Asyraathus Saa’ah, bab Dzikrud Dajjaal (XVIII/61, Syarh an-Nawawi).
[5]. Lihat Lisaanul ‘Arab (XI/236), Tartiibul Qaamuus (II/152).
[6]. Lihat an-Nihaayah fii Ghariibil Hadiits (II/102).
[7]. Lisaanul ‘Arab (XI/236).
[8]. At-Tadzkirah (hal. 658).
[9]. Lisaanul ‘Arab (XI/236-237), dan Tartiibul Qaamuus (II/152).
[10]. Ibnu Quthn. Namanya adalah ‘Abdul Uzza bin Quthn bin ‘Amr al-Khuza’i, ada yang mengatakan bahwa dia adalah keturunan Bani Musthaliq dari Khuza’ah. Ibunya adalah Halah binti Khuwailid, dia bukan seorang Sahabat. Meninggal pada zaman Jahiliyyah. Adapun riwayat yang menjelaskan bahwa dia berkata kepada Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam, “Apakah berdampak negatif penyerupaannya?” beliau men-jawab, “Tidak, engkau seorang muslim sementara dia adalah kafir.” Ini adalah tambahan yang lemah dari al-Mas’udi dalam riwayat Ahmad, dan hadits ini telah bercampur-baur dengan hadits lain.
Lihat komentar Ahmad Syakir terhadap kitab Musnad Ahmad (XV/30-31), lihat al-Ishaabah fii Tamyiizish Shahaabah (IV/239), dan Fat-hul Baari (VI/488, XIII/101).
[11]. Shahiihul al-Bukhari, kitab al-Fitan bab Dzikrud Dajjal (XIII/90, al-Fat-h), dan Shahiih Muslim, kitab al-Iimaan, bab Dzikrul Masiih Ibni Maryam q wal Masiihid Dajjal (II/237, Syarh an-Nawawi).
[12]. Shahiih al-Bukhari, kitab al-Fitan, bab Dzikrud Dajjal (XIII/90, al-Fat-h), dan Shahiih Muslim, kitab al-Fitan wa Asyraathus Saa’ah, bab Dzikrud Dajjal (XVIII/59, Syarh an-Nawawi).
[13]. Shahiih Muslim, kitab al-Fitan wa Asyraathus Saa’ah, bab Dzikrud Dajjal (XVIII/65, Syarh an-Nawawi).
[14]. Sunan Abi Dawud (XI/443-‘Aunul Ma’buud). Hadits ini shahih, lihat Shahiih al-Jaami’ish Shaghiir (II/317-318, no. 2455).
[15]. Musnad Imam Ahmad (XV/28-30) tahqiq dan syarah Ahmad Syakir, beliau berkata, “Sanadnya shahih,” dan dihasankan oleh Ibnu Katsir.
Lihat an-Nihaayah/al-Fitan wal Malaahim (I/130) tahqiq Dr. Thaha Zaini.
[16]. Shahiih Muslim, kitab al-Fitan wa Asyraathus Saa’ah bab Dzikrud Dajjal (XVIII/60-61, Syarh an-Nawawi).
[17]. Shahiih al-Bukhari, kitab al-Fitan, bab Dzikrud Dajjal (XIII/91, al-Fat-h), dan Shahiih Muslim, kitab al-Fitan wa Asyraathus Saa’ah bab Dzikrud Dajjal (XVIII/59, Syarh an-Nawawi).
[18]. Shahiih Muslim, kitab al-Fitan bab Dzikrud Dajjal (XVIII/59, Syarh an-Nawawi).
[19]. Shahiih Muslim (XVIII/61, Syarh an-Nawawi).
[20]. Berbeda dengan orang yang berkata, “Tulisan tersebut adalah kiasan dari tanda sesuatu yang terjadi,” sesungguhnya ini adalah pendapat yang lemah. Lihat Syarh an-Nawawi li Shahiih Muslim (XVIII/ 60-61), dan Fat-hul Baari (XIII/100).
[21]. Fat-hul Baari (XIII/100).
[22]. Syarh an-Nawawi li Shahiih Muslim (XVIII/60).
[23]. Shahiih Muslim, kitab al-Fitan wa Asyraathus Saa’ah, bab Qishshatul Jassasah (XVIII/82, Syarh an-Nawawi).
[24]. Shahiih Muslim, kitab al-Fitan, bab Baqiyatu min Ahaadiitsid Dajjal (XVIII/86-87, Syarh an-Nawawi).
[25]. Shahiih Muslim, kitab al-Fitan, bab Dzikri Ibni Shayyad (XVIII/50, Syarh an-Nawawi).
[26]. Fat-hul Baari (XIII/97).
[27]. Lihat Syarh an-Nawawi li Shahiih Muslim (II/235).
[28]. At-Tadzkirah (hal. 663).
Tuesday, March 20, 2012
Apakah Al Asy'ariyyah Termasuk Ahlu Sunnah?
Disusun Oleh : Abu Ihsan Al Atsary
PENDAHULUAN
Ini adalah sebuah polemik yang sempat mencuat di kalangan kaum muslimin, khususnya para penuntut ilmu. Ada sebagian orang mengira Al Asy'ariyyah termasuk Ahlu Sunnah Wal Jama'ah.
Seperti yang sudah dimaklumi, sebenarnya madzhab Al Asy'ariyyah yang berkembang sekarang ini, hakikatnya adalah madzhab Al Kullabiyyah. Abul Hasan Al Asy'ari sendiri telah bertaubat dari pemikiran lamanya, yaitu pemikiran Mu'tazilah. Tujuh sifat yang ditetapkan dalam madzhab Al Asy'ariyyah inipun bukan berdasarkan nash dan dalil syar'i, tetapi berdasarkan kecocokannya dengan akal dan logika. Jadi, sangat bertentangan dengan prinsip Ahlu Sunnah Wal Jama'ah.
SEJARAH SINGKAT ABUL HASAN AL ASY'ARI
Nama lengkapnya adalah Ali bin Ismail bin Ishaq bin Salim bin Ismail bin Abdullah bin Musa bin Abi Burdah bin Abu Musa Al Asy'ari. Lebih akrab disebut Abul Hasan Al Asy'ari. Lahir di Bashrah pada tahun 260 H atau 270 H. Masa kecil dan mudanya dihabiskan di kota Bashrah. Kota yang kala itu sebagai pusat kaum Mu'tazilah. Dan tidak dapat dielakkan, pada masa pertumbuhannya, beliau terpengaruh dengan lingkungannya Beliau mendalami ilmu kalam dan pemikiran Mu'tazilah dari ayah tirinya yang bernama Abu Ali Al Juba'i. Namun kemudian, beliau bertaubat dari pemikiran Mu’tazilah ini. Allah menghendaki keselamatan bagi beliau, dan memperoleh petunjuk kepada madzhab Salaf dalam penetapan sifat-sifat Allah, dengan tanpa ta'wil, tanpa ta'thil, tanpa takyif dan tanpa tamtsil*
* Ta’thil (menolak atau meniadakan sifat Allah, takyif (membayangkan atau menanyakan hakikat dan bentuk sifat Allah), tamtsil (menyerupakan sifat Allah dengan sifat makhluk), ta’wil (maksudnya tahrif yaitu menyimpangkan makna dari zhahirnya tanpa dalil)
Kisah taubatnya dari pemikiran Mu'tazilah ini sangat populer. Beliau melepas pakaiannya seraya berkata: "Aku melepaskan keyakinan Mu'tazilah dari pemikiranku, seperti halnya aku melepaskan jubah ini dari tubuhku," kemudian beliau melepas jubah yang dikenakannya. Secara simbolis, itu merupakan pernyataan bahwa beliau berlepas diri dari pemikiran Mu'tazilah dan dari kaum Mu'tazilah.
Ahli sejarah negeri Syam, Al Hafizh Abul Qasim Ali bin Hasan bin Hibatillah bin Asakir Ad Dimasyq (wafat tahun 571) dalam kitab At Tabyin menceritakan peristiwa tersebut:
Abu Ismail bin Abu Muhammad bin Ishaq Al Azdi Al Qairuwani, yang dikenal dengan sebutan Ibnu 'Uzrah bercerita, Abul Hasan Al Asy'ari adalah seorang yang bermadzhab Mu'tazilah. Dan memegang madzhab ini selama 40 tahun. Dalam pandangan mereka, beliau adalah seorang imam. Kemudian beliau menghilang selama lima belas hari. Secara tiba-tiba, beliau muncul di masjid Jami' kota Bashrah. Dan setelah shalat Jum'at, beliau naik ke atas mimbar seraya berkata,”Hadirin sekalian. Aku menghilang dari kalian selama beberapa hari, karena ada dalil-dalil yang bertentangan dan sama kuatnya, namun aku tidak mampu menetapkan mana yang hak dan mana yang batil. Dan aku tidak mampu membedakan mana yang batil dan mana yang hak. Kemudian aku memohon petunjuk kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. Maka Dia memberiku petunjuk, dan aku tuangkan ke dalam bukuku ini. Dan aku melepaskan semua aqidah (keyakinan) yang dulu aku pegang, sebagaimana aku membuka bajuku ini." Kemudian beliau membuka bajunya dan membuangnya, lalu memberikan bukunya tersebut kepada para hadirin.
Sebagai bukti kesungguhan Abul Hasan Al Asy'ari melepaskan diri dari pemikiran Mu'tazilah, yaitu beliau mulai bangkit membantah pemikiran Mu'tazilah dan mendebat mereka. Bahkan beliau menulis sampai tiga ratus buku untuk membantah Mu'tazilah. Namun dalam membantahnya, beliau menggunakan rasio dan prinsip-prinsip logika. Beliau mengikuti pemikiran-pemikiran Kullabiyyah. (1)
(1) Al Kullabiyah, adalah penisbatan kepada Abu Muhammad Abdullah bin Sa'id bin Muhammad bin Kullab Al Bashri, wafat pada tahun 240 H.
ABUL HASAN AL ASY'ARI SECARA TOTAL MENJADI PENGIKUT MANHAJ SALAF
Kemudian Allah menyempurnakan nikmatNya untuk beliau. Setelah pindah ke Baghdad dan bergabung bersama para tokoh murid-murid Imam Ahmad, akhirnya beliau secara total menjadi seorang Salafi (pengikut manhaj Salaf). Pada fase yang ketiga dalam kehidupannya ini, beliau menulis beberapa risalah berisi pernyataan taubatnya dari seluruh pemikiran Mu'tazilah dan syubhat-syubhat Kullabiyyah.
Diantara beberapa buku yang ditulisnya, yaitu: Al Luma', Kasyful Asrar Wa Hatkul Asrar, Tafsir Al Mukhtazin, Al Fushul Fi Raddi 'Alal Mulhidiin Wa Kharijin 'Alal Millah Ka Al Falasifah Wa Thabai'in Wad Dahriyin Wa Ahli Tasybih, Al Maqalaat Al Islamiyyin dan Al Ibanah. Semoga Allah merahmati beliau.
PERNYATAAN ABUL HASAN AL ASY'ARI DALAM KITABNYA: AL IBANAH FI USHULID DIYANAH (2)
(2) Buku ini telah saya terjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, diterbitkan oleh Pustaka At Tibyan. Dalam buku aslinya disertakan taqdim (kata pengantar dari para ulama terkini, seperti Syaikh Hammad bin Muhammad Al Anshari, Syaikh Abdul Aziz bin Abdillah bin Baz dan Syaikh Ismail Al Anshari). Buku ini sangat penting dibaca oleh kaum muslimin, khususnya di Indonesia dan Malaysia yang mayoritas penduduknya menisbatkan diri kepada Al Asy'ariyyah.
Beliau berkata dalam kitab Al Ibanah: "Pendapat yang kami nyatakan, dan agama yang kami anut adalah berpegang teguh dengan Kitabullah k dan Sunnah NabiNya Shallallahu 'alaihi wa sallam , atsar-atsar (riwayat-riwayat) yang diriwayatkan dari para sahabat, tabi'in dan para imam ahli hadits. Kami berpegang teguh dengan prinsip tersebut. Kami berpendapat dengan pendapat yang telah dinyatakan oleh Abu Abdillah Ahmad bin Muhammad bin Hambal, semoga Allah mengelokkan wajah beliau, mengangkat derajat beliau dan melimpahkan pahala bagi beliau. Dan kami menyelisihi perkataan yang menyelisihi perkataan beliau. Karena beliau adalah imam yang fadhil (utama), pemimpin yang kamil (sempurna). Melalui dirinya, Allah menerangkan kebenaran dan mengangkat kesesatan, menegaskan manhaj dan memberantas bid'ah yang dilakukan kaum mubtadi'in, dan (memberantras) penyimpangan yang dilakukan orang-orang sesat, serta (memberantas) keraguan yang ditebarkan orang yang ragu-ragu." (3)
(3) Al Ibanah, halaman 17.
Demikian pernyataan Abul Hasan, bahwa ia kembali ke pangkuan manhaj Salaf.
ULAMA-ULAMA SYAFI'IYYAH MENOLAK DINISBATKAN KEPADA ASY'ARIYYAH
Kebanyakan orang mengira bahwa madzhab Al Asy'ariyyah itu identik dengan madzhab Ahlu Sunnah Wal Jama'ah. Ini sebuah kekeliruan fatal.
Abul Hasan sendiri telah kembali ke pangkuan manhaj Salaf, dan mengikuti aqidah Imam Ahmad bin Hambal. Yaitu menetapkan seluruh sifat-sifat yang telah Allah tetapkan untuk diriNya, dan yang telah ditetapkan oleh Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam di dalam hadits-hadits shahih, dengan tanpa takwil, tanpa ta'thil, tanpa takyif dan tanpa tamtsil. Jelas, Abul Hasan pada akhir hidupnya adalah seorang salafi, pengikut manhaj salaf dan madzhab imam ahli hadits. Sampai-sampai ulama-ulama Asy Syafi'iyyah menolak dinisbatkan kepada madzhab Asy'ariyyah.
Berikut ini, mari kita simak penuturan Syaikh Abu Usamah Salim bin 'Id Al Hilali dalam kitabnya yang sangat bagus, dalam edisi Indonesia berjudul Jama'ah-jama'ah Islam Ditimbang Menurut Al Qur'an dan As Sunnah (halaman 329-330). Dalam bukunya tersebut, beliau membantah Hizbut Tahrir yang mencampur-adukkan istilah Ahlu Sunnah Wal Jama'ah dengan istilah Al Asy'ariyyah, sekaligus menyatakan bila Al Asy'ariyyah bukan termasuk Ahlu Sunnah Wal Jama'ah, atau bukan termasuk pengikut manhaj Salaf. Beliau berkata:
Jika dikatakan: Yang dimaksud Ahlus Sunnah di sini adalah madzhab Asy'ariyah.
Kami jawab: Tidak boleh menamakan Asy'ariyah dengan sebutan Ahlus Sunnah. Berdasarkan persaksian ulama Ahlus Sunnah Wal Jama'ah (pengikut Salafush Shalih), mereka bukan termasuk Ahlus Sunnah
1. Imam Ahmad, Ali bin Al Madini dan lainnya menyatakan, barangsiapa menyelami ilmu kalam, (maka ia) tidak termasuk Ahlus Sunnah, meskipun perkataannya bersesuaian dengan As Sunnah, hingga ia meninggalkan jidal (perdebatan) dan menerima nash-nash syar'iyyah. (4)
(4) Silakan lihat Syarah Ushul I'tiqad Ahlus Sunnah Wal Jama'ah, karangan Al Laalikaai (I/157-165).
Tidak syak lagi, sumber pengambilan dalil yang sangat utama dalam madzhab Asy'ariyah adalah akal. Tokoh-tokoh Asya'riyah telah menegaskan hal itu. Mereka mendahulukan dalil aqli (logika) daripada dalil naqli (wahyu), apabila terjadi pertentangan antara keduanya. Ketika Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah membantah mereka melalui bukunya yang berjudul Dar'u Ta'arudh Aql Wan Naql, beliau membukanya dengan menyebutkan kaidah umum yang mereka pakai bilamana terjadi pertentangan antara dalil-dalil. (5)
(5) Bagi yang ingin penjelasan lebih rinci, silakan lihat kitab Asasut Taqdis, karangan Ar Razi, hlm. 168-173 dan Asy Syamil, karangan Al Juwaiini, hlm. 561 dan Al Mawaqif, karangan Al Iji, hlm. 39-40.
2. Ibnu Abdil Bar, dalam mensyarah (menjelaskan) perkataan Imam Malik, dia menukil perkataan ahli fiqh madzhab Maliki bernama Ibnu Khuwaiz Mandad: "Tidak diterima persaksian Ahli Ahwa' (Ahli Bid'ah)." Ia menjelaskan: "Yang dimaksud Ahli Ahwa' oleh Imam Malik dan seluruh rekan-rekan kami, adalah Ahli Kalam. Siapa saja yang termasuk Ahli Kalam, maka ia tergolong ahli ahwa' wal bida'; baik ia seorang pengikut madzhab Asy'ariyyah atau yang lainnya. Persaksiannya dalam Islam tidak diterima selama-lamanya, wajib diboikot dan diberi peringatan atas bid'ahnya. Jika ia masih mempertahankannya, maka harus diminta bertaubat." (6)
(6) Jami' Bayanil Ilmi wa Fadhlihi (II/96).
3. Abul Abbas Suraij yang dijuluki Asy Syafi'i kedua berkata,”Kami tidak mengikuti takwil Mu'tazilah, Asy'ariyah, Jahmiyah, Mulhid, Mujassimah, Musyabbihah, Karramiyah dan Mukayyifah. (7)
(7) Ini semua adalah nama-nama aliran
Namun kami menerima nash-nash sifat tanpa takwil, dan kami mengimaninya tanpa tamtsil." (8)
(8) Ijtima' Juyusy Islamiyah, hlm. 62.
4. Abul Hasan Al Karji, salah seorang tokoh ulama Asy Syafi'iyyah berkata: "Para imam dan alim ulama Syafi'iyyah, dari dulu sampai sekarang menolak dinisbatkan kepada Asy'ariyah. Mereka justeru berlepas diri dari madzhab yang dibangun oleh Abul Hasan Al Asy'ari. Menurut yang aku dengar dari beberapa syaikh dan imam, bahkan mereka melarang teman-teman mereka dan orang-orang dekat mereka dari menghadiri majelis-majelisnya. Sudah dimaklumi bersama kerasnya sikap syaikh (9)
(9) Yakni Syaikh Abu Hamid Al Isfaraini.
terhadap Ahli Kalam, sampai-sampai memisahkan fiqh Asy Syafi'i dari prinsip-prinsip Al Asy'ari, dan diberi komentar oleh Abu Bakar Ar Radziqani. Dan buku itu ada padaku. Sikap inilah yang diikuti oleh Abu Ishaq Asy Syirazi dalam dua kitabnya, yakni Al Luma' dan At Tabshirah. Sampai-sampai kalaulah sekiranya perkataan Al Asy'ari bersesuaian dengan perkataan rekan-rekan kami (ulama madzhab Asy Syafi'i), beliau membedakannya. Beliau berkata: "Ini adalah pendapat sebagian rekan kami. Dan pendapat ini juga dipilih oleh Al Asy'ariyah." Beliau tidak memasukkan mereka ke dalam golongan rekan-rekan Asy Syafi'i. Mereka menolak disamakan dengan Al Asy'ariyah. Dan dalam masalah fiqh, mereka menolak dinisbatkan kepada madzhab Al Asy'ariyah; terlebih lagi dalam masalah ushuluddin." (10)
(10) At Tis'iniyyah, hlm. 238-239.
Pendapat yang benar adalah, Al Asy'ariyah termasuk Ahli Kiblat (kaum muslimin), tetapi mereka bukan termasuk Ahlus Sunnah Wal Jama'ah. Ketika para tokoh dan pembesar Al Asy'ariyyah jatuh dalam kebingungan, mereka keluar dari pemikiran Al Asy'ariyah. Diantaranya adalah Al Juwaini, Ar Razi, Al Ghazzali dan lainnya. Jika mereka benar-benar berada di atas As Sunnah dan mengikuti Salaf, lalu dari manhaj apakah mereka keluar? Dan kenapa mereka keluar? Hendaklah orang yang bhttp://www.blogger.com/img/blank.gifijak memahaminya, karena ini adalah kesimpulan akhir.
Dalam daurah Syar'iyyah Fi Masail Aqa'idiyyah http://www.blogger.com/img/blank.gifWal Manhajiyyah di Surabaya, dua tahun yang lalu, Syaikh Salim ditanya: Apakah Al Asy'ariyyah termasuk Ahlu Sunnah Wal Jama'ah? Beliau menjawab dengan tegas: "Al Asy'ariyyah tidak termasuk Ahlu Sunnah Wal Jama'ah.
[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 06/Tahun VIII/1425H/2004M Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km. 8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 08121533647, 08157579296]
http://almanhaj.or.id/content/3011/slash/0
Sunday, February 26, 2012
Senarai Ulamak As-Salafiyyah Yang Membela Asy-Syeikh Muhammad bin ‘Abdul Wahhab Serta Dakwah As-Salafiyyahnya (Bahagian Pertama)
Artikel di bawah terdapat dalam buku berjudul "Membersihkan Salah Faham Terhadap Dakwah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab (Buku 1) seperti gambar di atas dengan sikit edit.
Pendirian Para Ulama’ al-Salafiyyah rahimahumullah Terhadap Penentangan Yang Dilakukan Terhadap al-Syeikh al-Imam Muhammad bin ‘Abd. al-Wahhab rahimahullah Serta Dakwah al-Salafiyyahnya
Dalam usaha melawan segala bentuk penentangan, pembohongan serta kekeliruan terhadap seruan dakwah al-Salafiyyah yang diperjuangkan al-Syeikh al-Imam, para ulama’ al-Salafiyyah rahimahumullah di pelbagai negara dan tempat bersama-sama berpadu tenaga berjihad pada jalan Allah menerusi pendidikan (ta‘lim) dan juga mengeluarkan fatwa kepada umat Islam. Di antara mereka yang terlibat menjalankan usaha tersebut adalah:
(1) al-Syeikh al-Imam Muhammad bin ‘Abd. al-Wahhab (m.1206H).
Tokoh tersohor ini merupakan kalangan ulama’ yang pertama menulis bagi menjawab penentangan terhadap diri serta seruan dakwahnya. Ini terbukti dimana al-Syeikh al-Imam menulis sebuah risalah mengandungi jawapan serta huraian yang amat jelas serta kukuh bagi menjawab risalah saudaranya Sulayman bin ‘Abd. al-Wahhab. [245] Selain itu, menerusi kumpulan hasil karyanya yang dikenali sebagai al-Rasa’il al-Syaksiyyah terkandung kepelbagaian jawapan al-Syeikh al-Imam terhadap dakwaan para penentang yang disalurkan menerusi hasil karya mereka.
[245] Risalah jawapan al-Syeikh al-Imam bertajuk Mufid al-Mustafid fi Hukm Tariki al-Tauhid. Ibn Ghannam menyebutkan risalah ini dengan tajuk lain. Begitu juga dengan al-Syeikh ‘Abd. Rahman bin Hassan dimana walaupun beliau menyebutkan risalah ini tetapi tidak menyatakan nama risalah tersebut sebagaimana yang termaktub dalam kitab al-Durar al-Saniyyah, Jil. 9, hlm. 201.
(2) al-Syeikh Ahmad bin Mani’ (m.1186H). [246]
Beliau merupakan murid kepada al-Syeikh al-Imam. al-Syeikh ini mengarang sebuah risalah bagi menjawab ‘Abd. Allah
bin Muwais, salah seorang penentang dakwah al-Salafiyyah. Berdasarkan kajian, al-Muwais didapati mengambil sikap menghalang serta meringan-ringankan urusan solat berjemaah di kalangan umat Islam. Oleh sebab itu, al-Syeikh Ahmad bin Mani’ menulis risalahnya bagi memperjelaskan kewajipan menunaikan solat berjemaah dengan disertakan dalil-dalil kukuh. Selain itu, beliau juga merupakan pembela yang begitu gigih mempertahankan seruan dakwah al-Syeikh al-Imam
dengan mengemukakan bukti-bukti yang jelas lagi meyakinkan. [247]
[246] Beliau ialah Ahmad bin Mani‘ bin Ibrahim al-Tamimi. Berasal dari Buldah Ashiqar namun meninggal dunia di daerah al-Dar‘iyyah pada tahun 1186H. Sila lihat kitab ‘Ulama’ Najd, Jil. 1, hlm. 182.
[247] Sila lihat kitab ‘Ulama’ Najd, Jil. 1, hlm. 182-183.
(3) Muhammad bin Ghaihab serta Muhammad bin ‘Aidan. [248]
Kedua-duanya merupakan murid kepada al-Syeikh al-Imam. Bagi menghadapi seruan penentangan, mereka berdua menulis sebuah risalah, khas ditujukan kepada ‘Abd. Allah bin Muwais menasihati serta menyampaikan dakwah kepada beliau supaya berpegang kepada akidah al-Salafiyyah. [249]
[248] Penulis tidak berkesempatan mengulas akan kedua tokoh ini.
[249] Sila lihat kitab ‘Ulama’ Najd, Jil. 2, hlm. 605-606.
(4) Gabungan antara al-Syeikh Muhammad bin ‘Ali bin Gharib (m.1209H), [250] al-Syeikh Hammad bin Mu‘ammar (m.1225H) [251] dan al-Syeikh ‘Abd. Allah bin Muhammad bin ‘Abd. al-Wahhab (m.1242H) [252]
menghasilkan sebuah kitab yang amat bernilai bertajuk al-Tawdih ‘an Tauhid al-Khallaq fi Jawab Ahl al-‘Iraq. [253] Kitab yang telah dicetak ini [254] bertujuan menjawab ‘Ali bin ‘Abd. Allah al-Rawi [255] yang berasal dari negara Iraq. Ketika Sulaiman bin Basha menerima hasil karya al-Syeikh al-Imam (pada akhir kurun ke 12H), ‘Abd. Allah al-Rawi menulis kitab bagi menjawab kitab-kitab tersebut, [256] sementara kitab al-Tawdih berperanan menjawab kembali tulisan al-Rawi.
[250] Beliau adalah salah seorang dari murid al-Syeikh al-Imam dan juga menantunya. Anak-anak muridnya terdiri dari tokoh-tokoh ulama’ negeri Najd. Beliau meninggal dunia akibat di bunuh pada tahun 1209H. Sila lihat kitab ‘Ulama’ Najd, Jil. 3, hlm. 910.
[251] Beliau ialah salah seorang dari tokoh ulama’ negeri Najd. Menuntut ilmu di al-Dar‘iyyah kemudian mengajar juga di sana. al-Imam ‘Abd. al-‘Aziz I mengutus beliau ke Mekah pada tahun 1211H bagi mengadakan perbincangan dengan para ulama’ di sana. Maka terserlah di sisi para ulama’ Mekah akan ketokohan al-Syeikh Hammad bin Mu‘ammar dari sudut penghujahan yang beliau kemukakan sehingga akhirnya dilantik sebagai Qadi di Mekah. Beliau meninggal dunia di Mekah. Sila lihat kitab ‘Ulama’ Najd, Jil. 1, hlm. 239; Mashahir ‘Ulama Najd, hlm. 202.
[252] Beliau lahir di daerah Dar‘iyyah pada tahun 1165H. Terkenal kerana pakar dalam beberapa ilmu serta pengarang kepada beberapa risalah yang amat berguna. Dikenali dengan keberaniannya. Dari keturunannya lahir beberapa orang ulama’. Beliau meninggal dunia di Mesir. Sila lihat Mashahir ‘Ulama Najd, hlm. 48; ‘Ulama’ Najd, Jil. 1, hlm. 48.
[253] Penulis mempertahankan menyandarkan kitab ini kepada ketiga-tiga tokoh ulama’ ini berdasarkan kenyataan yang dibuat oleh al-Syeikh Sulaiman al-Soni‘ rahimahullah. Kenyataan ini diperkuatkan lagi menerusi kata-kata al-Syeikh Muhammad bin ‘Abd. al-Latif serta Ibn Mani‘. Menurut al-Syeikh Sulaiman al-Soni‘, kitab ini bukanlah karangan al-Syeikh Sulaiman bin.‘Abd. Allah bin Muhammad bin ‘Abd. al-Wahhab. Beliau menyatakannya seperti berikut:
1. al-Bassam dalam kitabnya ‘Ulama’ Najd, Jil. 3, hlm. 916 menafikan sandaran kitab ini kepada al-Syeikh Sulaiman dengan menetapkannya kepada Ibn Gharib yang namanya disebutkan terdahulu.
2. Berdasarkan ulasan al-Syeikh ‘Abd. Allah bin Muhammad bin ‘Abd. al-Wahhab dalam kitabnya al-Durar al-Saniyyah, Jil. 12, hlm. 44, di dapati bahawa beliau merupakan salah seorang pengarang kitab al-Tawdih tersebut. al-Qadi dalam kitabnya Raudhah al-Sinin, Jil. 1, hlm. 323 menyebutkan bahawa antara pengarang kitab al-Tawdih ialah al-Syeikh ‘Abd. Allah bin Muhammad bin ‘Abd. al-Wahhab.
3. Menurut al-Syeikh Fauzan dalam kitabnya al-Bayan wa al-Ishhar, hlm. 54, antara pengarang kitab Tauhid al-Khallaq fi Ajwibah al-‘Iraq ialah al-Syeikh Hammad bin Nasir bin Mu‘ammar.
Berdasarkan bukti-bukti ini maka jelas bahawa kitab al-Tawdih ini dikarang oleh ketiga-tiga ulama’ yang tersebut namanya di atas. Suatu peringatan di mana al-Syeikh al-Soni‘ menyebutkan nama Muhammad bin ‘Ali bin Gharib sebagai Ahmad bin Muhammad bin Gharib. Dalam hal ini, penulis tidak berkesempatan untuk mengulas nama yang dinyatakan oleh al-Syeikh al-Soni‘, di mana kemungkinan ianya suatu kesilapan ataupun berlaku pertukaran huruf dari al-Syeikh al-Soni‘ sendiri.
Dalam pada itu, al-Syeikh ‘Abd. Rahman bin ‘Abd. al-Latif Ali al-Syeikh rahimahullah menyebutkan dalam ulasannya terhadap kitab ‘Unwan al-Majd bahawa al-Syeikh Muhammad bin ‘Ali bin Gharib termasuk kalangan yang menentang dakwah al-Salafiyyah. Sila lihat ‘Unwan al-Majd, Jil. 1, hlm. 133. Kenyataan beliau ini berkemungkinan terpengaruh dengan manuskrip kitab al-Sahhab al-Wabilah karangan penentang dakwah bernama Ibn Humayd. Dalam kitabnya itu, Ibn Humayd mendakwa bahawa Ibn Gharib hanya menyatakan persetujuannya terhadap dakwah al-Syeikh al-Imam secara zahir sahaja manakala secara batin beliau menentangnya. Pendustaan Ibn Humayd ini bukanlah suatu keganjilan kerana dalam kitabnya yang bernama al-Sahhab al-Wabilah beliau juga telah berdusta dengan mengatakan bahawa al-Syeikh ‘Abd. ‘Aziz bin Muhammad, cucu kepada al-Syeikh al-Imam secara batinnya menentang dakwah al-Syeikh al-Imam. Sikap Ibn Humayd ini tidak lain kerana beliau mempunyai perasaan yang amat buruk serta cercaan yang mendalam terhadap al-Syeikh al-Imam. Wallahu a’lam.
Sehubungan dengan nama al-Syeikh Muhammad bin ‘Ali bin Gharib, Ibn Humayd menyebutkan namanya sebagai ‘Abd. Allah bin Gharib. Namun berdasarkan kitab ‘Unwan al-Majd, Jil. 1, hlm. 133, nama sebenarnya ialah ‘Muhammad bin Gharib yang disahkan pengarang kitab Mashahir ‘Ulama’ Najd, hlm. 212 serta Ibn Bassam dalam kitabnya ‘Ulama’ Najd, Jil. 3, hlm. 915. Wallahu a‘lam.
[254] Dicetak menerusi percetakan Matba‘ah al-Syarqiyyah, Mesir pada tahun 1319H serta dicetak kali terakhirnya di kota Riyadh pada tahun 1404H.
[255] Penulis tidak berkesempatan mengulas berkenaan al-Syeikh ini.
[256] Sila lihat kitab Zikra Abi al-Sana’i karangan Imam al-Alusi, hlm. 34-35.
(5) al-Syeikh Husain bin Ghannam al-Ihsa’ie (m.1225H).
Beliau merupakan ahli sejarawan terkenal Najd yang menulis riwayat hidup serta perjuangan gurunya al-Syeikh al-Imam Muhammad bin ‘Abd. al-Wahhab. Selain itu beliau juga menyusun beberapa kasidah (puisi Arab) sebagai jawapan terhadap penentang dakwah bernama Muhammad bin Fairuz. [257]
[257] Mengandungi 76 buah bait. Sila lihat Tarikh Ibn Ghannam, cetakan Abu Buthain, Jil. 2, hlm. 190-196.
(6) al-Syeikh Hammad bin Nasir bin Mu‘ammar (Telah disebutkan namanya terdahulu secara gabungan dengan nama para ulama’ lainnya – penterjemah).
Beliau menghasilkan banyak jawapan bermutu bagi menolak para penentang serta hasil penulisan mereka. Di antaranya adalah al-Nabzah al-Syarifah al-Nafisah fi al-Radd ’ala al-Quburiyyin, [258] al-Fawakih al-‘Azab fi al-Radd ‘ala Man Lam Yahkum al-Sunnah wa al-Kitab [259] serta selain keduanya.
[258] Dicetak serta disisipkan dalam kitab Majmu‘ah al-Rasa’il wa al-Masa’il, Jil. 4, hlm. 592, al-Durar al-Saniyyah, Jil. 9, hlm. 3. Ianya ditulis sebagai jawapan terhadap soalan yang dikemukakan Muhammad bin Ahmad al-Yamani.
[259] Dicetak beberapa kali. Secara realiti kitab ini merupakan jawapan terhadap soalan-soalan para ulama’ Mekah yang dikemukakan kepadanya pada tahun 1211H.
(7) al-Syeikh ‘Abd. al-‘Aziz bin Hammad [260] (m.1240H).
Beliau merupakan cucu kepada al-Syeikh al-Imam dan pengarang kepada risalah bertajuk al-Masail al-Syar‘iyyah ila ‘Ulama’ al-Dar‘iyyah. [261]
[260] Beliau merupakan cucu kepada al-Syeikh al-Imam. Dilantik menjadi Qadi daerah Dar‘iyyah dan setelah ia berjaya ditawan dilantik pula sebagai Qadi daerah ‘Unayzah. Beliau kemudiannya berpindah ke negara Iraq dan meninggal dunia di sana.
[261] Dicetak di sisi kitab Majmu‘ah al-Rasa’il wa al-Masa’il, Jil. 4, hlm. 564. Dikenali juga sebagai al-Ajwibah al-Saniyyah ‘ala al-as’ilah al-Hifziyyah. Sila lihat Majmu‘ah al-Rasa’il, Jil. 4, hlm. 584.
(8) al-Syeikh ‘Abd. Allah bin Muhammad bin ‘Abd. al-Wahhab.
Beliau mengarang sebuah kitab bagi menjawab dakwaan serta bantahan golongan Syi‘ah terhadap Tauhid al-Salafiyyah bertajuk Jawab Ahl al-Sunnah al-Nabawiyyah fi Naqd Kalam al-Syi‘ah wa al-Zaidiyyah. [262]
[262] Pada peringkat permulaan, risalah ini dicetak di sisi kitab Majmu‘ah al-Rasa’il wa al-Masa’il, Jil. 4, hlm. 47 namun kemudian dicetak secara berasingan.
(9) Ahmad bin Muhammad al-Katalani.
Beliau mengarang sebuah kitab mempertahankan akidah al-Syeikh al-Imam serta menolak dakwaan serta pendustaan para penentang bertajuk al-Sayyib al-Hattal fi Kasyf Syibh Ibn Kamal. [263]
[263] Penulis telah menyatakan tokoh ini serta kitab karangannya di bahagian yang lalu.
(10) al-Syeikh ‘Abd. Allah bin ‘Abd. al-Rahman Abu Buthain (m.1282H).
Beliau merangkap mufti daerah Najd ketika itu. Pengarang kepada kitab yang amat bernilai serta mendalam huraiannya bagi menolak dakwaan Dawud al-I‘raqi bertajuk Ta’sis al-Taqdis fi al-Radd ‘ala Dawud bin Jurjis. Nama lain bagi kitab ini sebagaimana dinyatakan sebahagian muridnya ialah al-Intisor. [264]
[264] Sila lihat kitab Ta’sis al-Taqdis, hlm. 3 dan 63.
************************************************************
Sekian Bahagian Pertama Note ini. Akan diterbitkan Bahagian Kedua, insyaAllah.
Subscribe to:
Posts (Atom)
