Tuesday, March 20, 2012

Apakah Al Asy'ariyyah Termasuk Ahlu Sunnah?

Muka depan majalah as-Sunnah Edisi 06/VIII/1425H/2004M


Mukasurat 37 dari majalah As-Sunnah Edisi 06/VIII/1425H/2004M



Disusun Oleh : Abu Ihsan Al Atsary


PENDAHULUAN

Ini adalah sebuah polemik yang sempat mencuat di kalangan kaum muslimin, khususnya para penuntut ilmu. Ada sebagian orang mengira Al Asy'ariyyah termasuk Ahlu Sunnah Wal Jama'ah.

Seperti yang sudah dimaklumi, sebenarnya madzhab Al Asy'ariyyah yang berkembang sekarang ini, hakikatnya adalah madzhab Al Kullabiyyah. Abul Hasan Al Asy'ari sendiri telah bertaubat dari pemikiran lamanya, yaitu pemikiran Mu'tazilah. Tujuh sifat yang ditetapkan dalam madzhab Al Asy'ariyyah inipun bukan berdasarkan nash dan dalil syar'i, tetapi berdasarkan kecocokannya dengan akal dan logika. Jadi, sangat bertentangan dengan prinsip Ahlu Sunnah Wal Jama'ah.


SEJARAH SINGKAT ABUL HASAN AL ASY'ARI

Nama lengkapnya adalah Ali bin Ismail bin Ishaq bin Salim bin Ismail bin Abdullah bin Musa bin Abi Burdah bin Abu Musa Al Asy'ari. Lebih akrab disebut Abul Hasan Al Asy'ari. Lahir di Bashrah pada tahun 260 H atau 270 H. Masa kecil dan mudanya dihabiskan di kota Bashrah. Kota yang kala itu sebagai pusat kaum Mu'tazilah. Dan tidak dapat dielakkan, pada masa pertumbuhannya, beliau terpengaruh dengan lingkungannya Beliau mendalami ilmu kalam dan pemikiran Mu'tazilah dari ayah tirinya yang bernama Abu Ali Al Juba'i. Namun kemudian, beliau bertaubat dari pemikiran Mu’tazilah ini. Allah menghendaki keselamatan bagi beliau, dan memperoleh petunjuk kepada madzhab Salaf dalam penetapan sifat-sifat Allah, dengan tanpa ta'wil, tanpa ta'thil, tanpa takyif dan tanpa tamtsil*

* Ta’thil (menolak atau meniadakan sifat Allah, takyif (membayangkan atau menanyakan hakikat dan bentuk sifat Allah), tamtsil (menyerupakan sifat Allah dengan sifat makhluk), ta’wil (maksudnya tahrif yaitu menyimpangkan makna dari zhahirnya tanpa dalil)

Kisah taubatnya dari pemikiran Mu'tazilah ini sangat populer. Beliau melepas pakaiannya seraya berkata: "Aku melepaskan keyakinan Mu'tazilah dari pemikiranku, seperti halnya aku melepaskan jubah ini dari tubuhku," kemudian beliau melepas jubah yang dikenakannya. Secara simbolis, itu merupakan pernyataan bahwa beliau berlepas diri dari pemikiran Mu'tazilah dan dari kaum Mu'tazilah.

Ahli sejarah negeri Syam, Al Hafizh Abul Qasim Ali bin Hasan bin Hibatillah bin Asakir Ad Dimasyq (wafat tahun 571) dalam kitab At Tabyin menceritakan peristiwa tersebut:

Abu Ismail bin Abu Muhammad bin Ishaq Al Azdi Al Qairuwani, yang dikenal dengan sebutan Ibnu 'Uzrah bercerita, Abul Hasan Al Asy'ari adalah seorang yang bermadzhab Mu'tazilah. Dan memegang madzhab ini selama 40 tahun. Dalam pandangan mereka, beliau adalah seorang imam. Kemudian beliau menghilang selama lima belas hari. Secara tiba-tiba, beliau muncul di masjid Jami' kota Bashrah. Dan setelah shalat Jum'at, beliau naik ke atas mimbar seraya berkata,”Hadirin sekalian. Aku menghilang dari kalian selama beberapa hari, karena ada dalil-dalil yang bertentangan dan sama kuatnya, namun aku tidak mampu menetapkan mana yang hak dan mana yang batil. Dan aku tidak mampu membedakan mana yang batil dan mana yang hak. Kemudian aku memohon petunjuk kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. Maka Dia memberiku petunjuk, dan aku tuangkan ke dalam bukuku ini. Dan aku melepaskan semua aqidah (keyakinan) yang dulu aku pegang, sebagaimana aku membuka bajuku ini." Kemudian beliau membuka bajunya dan membuangnya, lalu memberikan bukunya tersebut kepada para hadirin.

Sebagai bukti kesungguhan Abul Hasan Al Asy'ari melepaskan diri dari pemikiran Mu'tazilah, yaitu beliau mulai bangkit membantah pemikiran Mu'tazilah dan mendebat mereka. Bahkan beliau menulis sampai tiga ratus buku untuk membantah Mu'tazilah. Namun dalam membantahnya, beliau menggunakan rasio dan prinsip-prinsip logika. Beliau mengikuti pemikiran-pemikiran Kullabiyyah. (1)

(1) Al Kullabiyah, adalah penisbatan kepada Abu Muhammad Abdullah bin Sa'id bin Muhammad bin Kullab Al Bashri, wafat pada tahun 240 H.


ABUL HASAN AL ASY'ARI SECARA TOTAL MENJADI PENGIKUT MANHAJ SALAF

Kemudian Allah menyempurnakan nikmatNya untuk beliau. Setelah pindah ke Baghdad dan bergabung bersama para tokoh murid-murid Imam Ahmad, akhirnya beliau secara total menjadi seorang Salafi (pengikut manhaj Salaf). Pada fase yang ketiga dalam kehidupannya ini, beliau menulis beberapa risalah berisi pernyataan taubatnya dari seluruh pemikiran Mu'tazilah dan syubhat-syubhat Kullabiyyah.

Diantara beberapa buku yang ditulisnya, yaitu: Al Luma', Kasyful Asrar Wa Hatkul Asrar, Tafsir Al Mukhtazin, Al Fushul Fi Raddi 'Alal Mulhidiin Wa Kharijin 'Alal Millah Ka Al Falasifah Wa Thabai'in Wad Dahriyin Wa Ahli Tasybih, Al Maqalaat Al Islamiyyin dan Al Ibanah. Semoga Allah merahmati beliau.


PERNYATAAN ABUL HASAN AL ASY'ARI DALAM KITABNYA: AL IBANAH FI USHULID DIYANAH (2)

(2) Buku ini telah saya terjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, diterbitkan oleh Pustaka At Tibyan. Dalam buku aslinya disertakan taqdim (kata pengantar dari para ulama terkini, seperti Syaikh Hammad bin Muhammad Al Anshari, Syaikh Abdul Aziz bin Abdillah bin Baz dan Syaikh Ismail Al Anshari). Buku ini sangat penting dibaca oleh kaum muslimin, khususnya di Indonesia dan Malaysia yang mayoritas penduduknya menisbatkan diri kepada Al Asy'ariyyah.

Beliau berkata dalam kitab Al Ibanah: "Pendapat yang kami nyatakan, dan agama yang kami anut adalah berpegang teguh dengan Kitabullah k dan Sunnah NabiNya Shallallahu 'alaihi wa sallam , atsar-atsar (riwayat-riwayat) yang diriwayatkan dari para sahabat, tabi'in dan para imam ahli hadits. Kami berpegang teguh dengan prinsip tersebut. Kami berpendapat dengan pendapat yang telah dinyatakan oleh Abu Abdillah Ahmad bin Muhammad bin Hambal, semoga Allah mengelokkan wajah beliau, mengangkat derajat beliau dan melimpahkan pahala bagi beliau. Dan kami menyelisihi perkataan yang menyelisihi perkataan beliau. Karena beliau adalah imam yang fadhil (utama), pemimpin yang kamil (sempurna). Melalui dirinya, Allah menerangkan kebenaran dan mengangkat kesesatan, menegaskan manhaj dan memberantas bid'ah yang dilakukan kaum mubtadi'in, dan (memberantras) penyimpangan yang dilakukan orang-orang sesat, serta (memberantas) keraguan yang ditebarkan orang yang ragu-ragu." (3)

(3) Al Ibanah, halaman 17.

Demikian pernyataan Abul Hasan, bahwa ia kembali ke pangkuan manhaj Salaf.


ULAMA-ULAMA SYAFI'IYYAH MENOLAK DINISBATKAN KEPADA ASY'ARIYYAH
Kebanyakan orang mengira bahwa madzhab Al Asy'ariyyah itu identik dengan madzhab Ahlu Sunnah Wal Jama'ah. Ini sebuah kekeliruan fatal.

Abul Hasan sendiri telah kembali ke pangkuan manhaj Salaf, dan mengikuti aqidah Imam Ahmad bin Hambal. Yaitu menetapkan seluruh sifat-sifat yang telah Allah tetapkan untuk diriNya, dan yang telah ditetapkan oleh Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam di dalam hadits-hadits shahih, dengan tanpa takwil, tanpa ta'thil, tanpa takyif dan tanpa tamtsil. Jelas, Abul Hasan pada akhir hidupnya adalah seorang salafi, pengikut manhaj salaf dan madzhab imam ahli hadits. Sampai-sampai ulama-ulama Asy Syafi'iyyah menolak dinisbatkan kepada madzhab Asy'ariyyah.

Berikut ini, mari kita simak penuturan Syaikh Abu Usamah Salim bin 'Id Al Hilali dalam kitabnya yang sangat bagus, dalam edisi Indonesia berjudul Jama'ah-jama'ah Islam Ditimbang Menurut Al Qur'an dan As Sunnah (halaman 329-330). Dalam bukunya tersebut, beliau membantah Hizbut Tahrir yang mencampur-adukkan istilah Ahlu Sunnah Wal Jama'ah dengan istilah Al Asy'ariyyah, sekaligus menyatakan bila Al Asy'ariyyah bukan termasuk Ahlu Sunnah Wal Jama'ah, atau bukan termasuk pengikut manhaj Salaf. Beliau berkata:

Jika dikatakan: Yang dimaksud Ahlus Sunnah di sini adalah madzhab Asy'ariyah.
Kami jawab: Tidak boleh menamakan Asy'ariyah dengan sebutan Ahlus Sunnah. Berdasarkan persaksian ulama Ahlus Sunnah Wal Jama'ah (pengikut Salafush Shalih), mereka bukan termasuk Ahlus Sunnah

1. Imam Ahmad, Ali bin Al Madini dan lainnya menyatakan, barangsiapa menyelami ilmu kalam, (maka ia) tidak termasuk Ahlus Sunnah, meskipun perkataannya bersesuaian dengan As Sunnah, hingga ia meninggalkan jidal (perdebatan) dan menerima nash-nash syar'iyyah. (4)

(4) Silakan lihat Syarah Ushul I'tiqad Ahlus Sunnah Wal Jama'ah, karangan Al Laalikaai (I/157-165).

Tidak syak lagi, sumber pengambilan dalil yang sangat utama dalam madzhab Asy'ariyah adalah akal. Tokoh-tokoh Asya'riyah telah menegaskan hal itu. Mereka mendahulukan dalil aqli (logika) daripada dalil naqli (wahyu), apabila terjadi pertentangan antara keduanya. Ketika Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah membantah mereka melalui bukunya yang berjudul Dar'u Ta'arudh Aql Wan Naql, beliau membukanya dengan menyebutkan kaidah umum yang mereka pakai bilamana terjadi pertentangan antara dalil-dalil. (5)

(5) Bagi yang ingin penjelasan lebih rinci, silakan lihat kitab Asasut Taqdis, karangan Ar Razi, hlm. 168-173 dan Asy Syamil, karangan Al Juwaiini, hlm. 561 dan Al Mawaqif, karangan Al Iji, hlm. 39-40.

2. Ibnu Abdil Bar, dalam mensyarah (menjelaskan) perkataan Imam Malik, dia menukil perkataan ahli fiqh madzhab Maliki bernama Ibnu Khuwaiz Mandad: "Tidak diterima persaksian Ahli Ahwa' (Ahli Bid'ah)." Ia menjelaskan: "Yang dimaksud Ahli Ahwa' oleh Imam Malik dan seluruh rekan-rekan kami, adalah Ahli Kalam. Siapa saja yang termasuk Ahli Kalam, maka ia tergolong ahli ahwa' wal bida'; baik ia seorang pengikut madzhab Asy'ariyyah atau yang lainnya. Persaksiannya dalam Islam tidak diterima selama-lamanya, wajib diboikot dan diberi peringatan atas bid'ahnya. Jika ia masih mempertahankannya, maka harus diminta bertaubat." (6)

(6) Jami' Bayanil Ilmi wa Fadhlihi (II/96).

3. Abul Abbas Suraij yang dijuluki Asy Syafi'i kedua berkata,”Kami tidak mengikuti takwil Mu'tazilah, Asy'ariyah, Jahmiyah, Mulhid, Mujassimah, Musyabbihah, Karramiyah dan Mukayyifah. (7)

(7) Ini semua adalah nama-nama aliran

Namun kami menerima nash-nash sifat tanpa takwil, dan kami mengimaninya tanpa tamtsil." (8)

(8) Ijtima' Juyusy Islamiyah, hlm. 62.

4. Abul Hasan Al Karji, salah seorang tokoh ulama Asy Syafi'iyyah berkata: "Para imam dan alim ulama Syafi'iyyah, dari dulu sampai sekarang menolak dinisbatkan kepada Asy'ariyah. Mereka justeru berlepas diri dari madzhab yang dibangun oleh Abul Hasan Al Asy'ari. Menurut yang aku dengar dari beberapa syaikh dan imam, bahkan mereka melarang teman-teman mereka dan orang-orang dekat mereka dari menghadiri majelis-majelisnya. Sudah dimaklumi bersama kerasnya sikap syaikh (9)

(9) Yakni Syaikh Abu Hamid Al Isfaraini.

terhadap Ahli Kalam, sampai-sampai memisahkan fiqh Asy Syafi'i dari prinsip-prinsip Al Asy'ari, dan diberi komentar oleh Abu Bakar Ar Radziqani. Dan buku itu ada padaku. Sikap inilah yang diikuti oleh Abu Ishaq Asy Syirazi dalam dua kitabnya, yakni Al Luma' dan At Tabshirah. Sampai-sampai kalaulah sekiranya perkataan Al Asy'ari bersesuaian dengan perkataan rekan-rekan kami (ulama madzhab Asy Syafi'i), beliau membedakannya. Beliau berkata: "Ini adalah pendapat sebagian rekan kami. Dan pendapat ini juga dipilih oleh Al Asy'ariyah." Beliau tidak memasukkan mereka ke dalam golongan rekan-rekan Asy Syafi'i. Mereka menolak disamakan dengan Al Asy'ariyah. Dan dalam masalah fiqh, mereka menolak dinisbatkan kepada madzhab Al Asy'ariyah; terlebih lagi dalam masalah ushuluddin." (10)

(10) At Tis'iniyyah, hlm. 238-239.

Pendapat yang benar adalah, Al Asy'ariyah termasuk Ahli Kiblat (kaum muslimin), tetapi mereka bukan termasuk Ahlus Sunnah Wal Jama'ah. Ketika para tokoh dan pembesar Al Asy'ariyyah jatuh dalam kebingungan, mereka keluar dari pemikiran Al Asy'ariyah. Diantaranya adalah Al Juwaini, Ar Razi, Al Ghazzali dan lainnya. Jika mereka benar-benar berada di atas As Sunnah dan mengikuti Salaf, lalu dari manhaj apakah mereka keluar? Dan kenapa mereka keluar? Hendaklah orang yang bhttp://www.blogger.com/img/blank.gifijak memahaminya, karena ini adalah kesimpulan akhir.

Dalam daurah Syar'iyyah Fi Masail Aqa'idiyyah http://www.blogger.com/img/blank.gifWal Manhajiyyah di Surabaya, dua tahun yang lalu, Syaikh Salim ditanya: Apakah Al Asy'ariyyah termasuk Ahlu Sunnah Wal Jama'ah? Beliau menjawab dengan tegas: "Al Asy'ariyyah tidak termasuk Ahlu Sunnah Wal Jama'ah.


[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 06/Tahun VIII/1425H/2004M Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km. 8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 08121533647, 08157579296]
http://almanhaj.or.id/content/3011/slash/0

Sunday, February 26, 2012

Senarai Ulamak As-Salafiyyah Yang Membela Asy-Syeikh Muhammad bin ‘Abdul Wahhab Serta Dakwah As-Salafiyyahnya (Bahagian Pertama)




Artikel di bawah terdapat dalam buku berjudul "Membersihkan Salah Faham Terhadap Dakwah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab (Buku 1) seperti gambar di atas dengan sikit edit.

Pendirian Para Ulama’ al-Salafiyyah rahimahumullah Terhadap Penentangan Yang Dilakukan Terhadap al-Syeikh al-Imam Muhammad bin ‘Abd. al-Wahhab rahimahullah Serta Dakwah al-Salafiyyahnya

Dalam usaha melawan segala bentuk penentangan, pembohongan serta kekeliruan terhadap seruan dakwah al-Salafiyyah yang diperjuangkan al-Syeikh al-Imam, para ulama’ al-Salafiyyah rahimahumullah di pelbagai negara dan tempat bersama-sama berpadu tenaga berjihad pada jalan Allah menerusi pendidikan (ta‘lim) dan juga mengeluarkan fatwa kepada umat Islam. Di antara mereka yang terlibat menjalankan usaha tersebut adalah:

(1) al-Syeikh al-Imam Muhammad bin ‘Abd. al-Wahhab (m.1206H).

Tokoh tersohor ini merupakan kalangan ulama’ yang pertama menulis bagi menjawab penentangan terhadap diri serta seruan dakwahnya. Ini terbukti dimana al-Syeikh al-Imam menulis sebuah risalah mengandungi jawapan serta huraian yang amat jelas serta kukuh bagi menjawab risalah saudaranya Sulayman bin ‘Abd. al-Wahhab. [245] Selain itu, menerusi kumpulan hasil karyanya yang dikenali sebagai al-Rasa’il al-Syaksiyyah terkandung kepelbagaian jawapan al-Syeikh al-Imam terhadap dakwaan para penentang yang disalurkan menerusi hasil karya mereka.

[245] Risalah jawapan al-Syeikh al-Imam bertajuk Mufid al-Mustafid fi Hukm Tariki al-Tauhid. Ibn Ghannam menyebutkan risalah ini dengan tajuk lain. Begitu juga dengan al-Syeikh ‘Abd. Rahman bin Hassan dimana walaupun beliau menyebutkan risalah ini tetapi tidak menyatakan nama risalah tersebut sebagaimana yang termaktub dalam kitab al-Durar al-Saniyyah, Jil. 9, hlm. 201.

(2) al-Syeikh Ahmad bin Mani’ (m.1186H). [246]

Beliau merupakan murid kepada al-Syeikh al-Imam. al-Syeikh ini mengarang sebuah risalah bagi menjawab ‘Abd. Allah

bin Muwais, salah seorang penentang dakwah al-Salafiyyah. Berdasarkan kajian, al-Muwais didapati mengambil sikap menghalang serta meringan-ringankan urusan solat berjemaah di kalangan umat Islam. Oleh sebab itu, al-Syeikh Ahmad bin Mani’ menulis risalahnya bagi memperjelaskan kewajipan menunaikan solat berjemaah dengan disertakan dalil-dalil kukuh. Selain itu, beliau juga merupakan pembela yang begitu gigih mempertahankan seruan dakwah al-Syeikh al-Imam

dengan mengemukakan bukti-bukti yang jelas lagi meyakinkan. [247]

[246] Beliau ialah Ahmad bin Mani‘ bin Ibrahim al-Tamimi. Berasal dari Buldah Ashiqar namun meninggal dunia di daerah al-Dar‘iyyah pada tahun 1186H. Sila lihat kitab ‘Ulama’ Najd, Jil. 1, hlm. 182.

[247] Sila lihat kitab ‘Ulama’ Najd, Jil. 1, hlm. 182-183.

(3) Muhammad bin Ghaihab serta Muhammad bin ‘Aidan. [248]

Kedua-duanya merupakan murid kepada al-Syeikh al-Imam. Bagi menghadapi seruan penentangan, mereka berdua menulis sebuah risalah, khas ditujukan kepada ‘Abd. Allah bin Muwais menasihati serta menyampaikan dakwah kepada beliau supaya berpegang kepada akidah al-Salafiyyah. [249]

[248] Penulis tidak berkesempatan mengulas akan kedua tokoh ini.

[249] Sila lihat kitab ‘Ulama’ Najd, Jil. 2, hlm. 605-606.

(4) Gabungan antara al-Syeikh Muhammad bin ‘Ali bin Gharib (m.1209H), [250] al-Syeikh Hammad bin Mu‘ammar (m.1225H) [251] dan al-Syeikh ‘Abd. Allah bin Muhammad bin ‘Abd. al-Wahhab (m.1242H) [252]

menghasilkan sebuah kitab yang amat bernilai bertajuk al-Tawdih ‘an Tauhid al-Khallaq fi Jawab Ahl al-‘Iraq. [253] Kitab yang telah dicetak ini [254] bertujuan menjawab ‘Ali bin ‘Abd. Allah al-Rawi [255] yang berasal dari negara Iraq. Ketika Sulaiman bin Basha menerima hasil karya al-Syeikh al-Imam (pada akhir kurun ke 12H), ‘Abd. Allah al-Rawi menulis kitab bagi menjawab kitab-kitab tersebut, [256] sementara kitab al-Tawdih berperanan menjawab kembali tulisan al-Rawi.

[250] Beliau adalah salah seorang dari murid al-Syeikh al-Imam dan juga menantunya. Anak-anak muridnya terdiri dari tokoh-tokoh ulama’ negeri Najd. Beliau meninggal dunia akibat di bunuh pada tahun 1209H. Sila lihat kitab ‘Ulama’ Najd, Jil. 3, hlm. 910.

[251] Beliau ialah salah seorang dari tokoh ulama’ negeri Najd. Menuntut ilmu di al-Dar‘iyyah kemudian mengajar juga di sana. al-Imam ‘Abd. al-‘Aziz I mengutus beliau ke Mekah pada tahun 1211H bagi mengadakan perbincangan dengan para ulama’ di sana. Maka terserlah di sisi para ulama’ Mekah akan ketokohan al-Syeikh Hammad bin Mu‘ammar dari sudut penghujahan yang beliau kemukakan sehingga akhirnya dilantik sebagai Qadi di Mekah. Beliau meninggal dunia di Mekah. Sila lihat kitab ‘Ulama’ Najd, Jil. 1, hlm. 239; Mashahir ‘Ulama Najd, hlm. 202.

[252] Beliau lahir di daerah Dar‘iyyah pada tahun 1165H. Terkenal kerana pakar dalam beberapa ilmu serta pengarang kepada beberapa risalah yang amat berguna. Dikenali dengan keberaniannya. Dari keturunannya lahir beberapa orang ulama’. Beliau meninggal dunia di Mesir. Sila lihat Mashahir ‘Ulama Najd, hlm. 48; ‘Ulama’ Najd, Jil. 1, hlm. 48.

[253] Penulis mempertahankan menyandarkan kitab ini kepada ketiga-tiga tokoh ulama’ ini berdasarkan kenyataan yang dibuat oleh al-Syeikh Sulaiman al-Soni‘ rahimahullah. Kenyataan ini diperkuatkan lagi menerusi kata-kata al-Syeikh Muhammad bin ‘Abd. al-Latif serta Ibn Mani‘. Menurut al-Syeikh Sulaiman al-Soni‘, kitab ini bukanlah karangan al-Syeikh Sulaiman bin.‘Abd. Allah bin Muhammad bin ‘Abd. al-Wahhab. Beliau menyatakannya seperti berikut:

1. al-Bassam dalam kitabnya ‘Ulama’ Najd, Jil. 3, hlm. 916 menafikan sandaran kitab ini kepada al-Syeikh Sulaiman dengan menetapkannya kepada Ibn Gharib yang namanya disebutkan terdahulu.

2. Berdasarkan ulasan al-Syeikh ‘Abd. Allah bin Muhammad bin ‘Abd. al-Wahhab dalam kitabnya al-Durar al-Saniyyah, Jil. 12, hlm. 44, di dapati bahawa beliau merupakan salah seorang pengarang kitab al-Tawdih tersebut. al-Qadi dalam kitabnya Raudhah al-Sinin, Jil. 1, hlm. 323 menyebutkan bahawa antara pengarang kitab al-Tawdih ialah al-Syeikh ‘Abd. Allah bin Muhammad bin ‘Abd. al-Wahhab.

3. Menurut al-Syeikh Fauzan dalam kitabnya al-Bayan wa al-Ishhar, hlm. 54, antara pengarang kitab Tauhid al-Khallaq fi Ajwibah al-‘Iraq ialah al-Syeikh Hammad bin Nasir bin Mu‘ammar.

Berdasarkan bukti-bukti ini maka jelas bahawa kitab al-Tawdih ini dikarang oleh ketiga-tiga ulama’ yang tersebut namanya di atas. Suatu peringatan di mana al-Syeikh al-Soni‘ menyebutkan nama Muhammad bin ‘Ali bin Gharib sebagai Ahmad bin Muhammad bin Gharib. Dalam hal ini, penulis tidak berkesempatan untuk mengulas nama yang dinyatakan oleh al-Syeikh al-Soni‘, di mana kemungkinan ianya suatu kesilapan ataupun berlaku pertukaran huruf dari al-Syeikh al-Soni‘ sendiri.

Dalam pada itu, al-Syeikh ‘Abd. Rahman bin ‘Abd. al-Latif Ali al-Syeikh rahimahullah menyebutkan dalam ulasannya terhadap kitab ‘Unwan al-Majd bahawa al-Syeikh Muhammad bin ‘Ali bin Gharib termasuk kalangan yang menentang dakwah al-Salafiyyah. Sila lihat ‘Unwan al-Majd, Jil. 1, hlm. 133. Kenyataan beliau ini berkemungkinan terpengaruh dengan manuskrip kitab al-Sahhab al-Wabilah karangan penentang dakwah bernama Ibn Humayd. Dalam kitabnya itu, Ibn Humayd mendakwa bahawa Ibn Gharib hanya menyatakan persetujuannya terhadap dakwah al-Syeikh al-Imam secara zahir sahaja manakala secara batin beliau menentangnya. Pendustaan Ibn Humayd ini bukanlah suatu keganjilan kerana dalam kitabnya yang bernama al-Sahhab al-Wabilah beliau juga telah berdusta dengan mengatakan bahawa al-Syeikh ‘Abd. ‘Aziz bin Muhammad, cucu kepada al-Syeikh al-Imam secara batinnya menentang dakwah al-Syeikh al-Imam. Sikap Ibn Humayd ini tidak lain kerana beliau mempunyai perasaan yang amat buruk serta cercaan yang mendalam terhadap al-Syeikh al-Imam. Wallahu a’lam.

Sehubungan dengan nama al-Syeikh Muhammad bin ‘Ali bin Gharib, Ibn Humayd menyebutkan namanya sebagai ‘Abd. Allah bin Gharib. Namun berdasarkan kitab ‘Unwan al-Majd, Jil. 1, hlm. 133, nama sebenarnya ialah ‘Muhammad bin Gharib yang disahkan pengarang kitab Mashahir ‘Ulama’ Najd, hlm. 212 serta Ibn Bassam dalam kitabnya ‘Ulama’ Najd, Jil. 3, hlm. 915. Wallahu a‘lam.

[254] Dicetak menerusi percetakan Matba‘ah al-Syarqiyyah, Mesir pada tahun 1319H serta dicetak kali terakhirnya di kota Riyadh pada tahun 1404H.

[255] Penulis tidak berkesempatan mengulas berkenaan al-Syeikh ini.

[256] Sila lihat kitab Zikra Abi al-Sana’i karangan Imam al-Alusi, hlm. 34-35.

(5) al-Syeikh Husain bin Ghannam al-Ihsa’ie (m.1225H).

Beliau merupakan ahli sejarawan terkenal Najd yang menulis riwayat hidup serta perjuangan gurunya al-Syeikh al-Imam Muhammad bin ‘Abd. al-Wahhab. Selain itu beliau juga menyusun beberapa kasidah (puisi Arab) sebagai jawapan terhadap penentang dakwah bernama Muhammad bin Fairuz. [257]

[257] Mengandungi 76 buah bait. Sila lihat Tarikh Ibn Ghannam, cetakan Abu Buthain, Jil. 2, hlm. 190-196.

(6) al-Syeikh Hammad bin Nasir bin Mu‘ammar (Telah disebutkan namanya terdahulu secara gabungan dengan nama para ulama’ lainnya – penterjemah).

Beliau menghasilkan banyak jawapan bermutu bagi menolak para penentang serta hasil penulisan mereka. Di antaranya adalah al-Nabzah al-Syarifah al-Nafisah fi al-Radd ’ala al-Quburiyyin, [258] al-Fawakih al-‘Azab fi al-Radd ‘ala Man Lam Yahkum al-Sunnah wa al-Kitab [259] serta selain keduanya.

[258] Dicetak serta disisipkan dalam kitab Majmu‘ah al-Rasa’il wa al-Masa’il, Jil. 4, hlm. 592, al-Durar al-Saniyyah, Jil. 9, hlm. 3. Ianya ditulis sebagai jawapan terhadap soalan yang dikemukakan Muhammad bin Ahmad al-Yamani.

[259] Dicetak beberapa kali. Secara realiti kitab ini merupakan jawapan terhadap soalan-soalan para ulama’ Mekah yang dikemukakan kepadanya pada tahun 1211H.

(7) al-Syeikh ‘Abd. al-‘Aziz bin Hammad [260] (m.1240H).

Beliau merupakan cucu kepada al-Syeikh al-Imam dan pengarang kepada risalah bertajuk al-Masail al-Syar‘iyyah ila ‘Ulama’ al-Dar‘iyyah. [261]

[260] Beliau merupakan cucu kepada al-Syeikh al-Imam. Dilantik menjadi Qadi daerah Dar‘iyyah dan setelah ia berjaya ditawan dilantik pula sebagai Qadi daerah ‘Unayzah. Beliau kemudiannya berpindah ke negara Iraq dan meninggal dunia di sana.

[261] Dicetak di sisi kitab Majmu‘ah al-Rasa’il wa al-Masa’il, Jil. 4, hlm. 564. Dikenali juga sebagai al-Ajwibah al-Saniyyah ‘ala al-as’ilah al-Hifziyyah. Sila lihat Majmu‘ah al-Rasa’il, Jil. 4, hlm. 584.

(8) al-Syeikh ‘Abd. Allah bin Muhammad bin ‘Abd. al-Wahhab.

Beliau mengarang sebuah kitab bagi menjawab dakwaan serta bantahan golongan Syi‘ah terhadap Tauhid al-Salafiyyah bertajuk Jawab Ahl al-Sunnah al-Nabawiyyah fi Naqd Kalam al-Syi‘ah wa al-Zaidiyyah. [262]

[262] Pada peringkat permulaan, risalah ini dicetak di sisi kitab Majmu‘ah al-Rasa’il wa al-Masa’il, Jil. 4, hlm. 47 namun kemudian dicetak secara berasingan.

(9) Ahmad bin Muhammad al-Katalani.

Beliau mengarang sebuah kitab mempertahankan akidah al-Syeikh al-Imam serta menolak dakwaan serta pendustaan para penentang bertajuk al-Sayyib al-Hattal fi Kasyf Syibh Ibn Kamal. [263]

[263] Penulis telah menyatakan tokoh ini serta kitab karangannya di bahagian yang lalu.

(10) al-Syeikh ‘Abd. Allah bin ‘Abd. al-Rahman Abu Buthain (m.1282H).

Beliau merangkap mufti daerah Najd ketika itu. Pengarang kepada kitab yang amat bernilai serta mendalam huraiannya bagi menolak dakwaan Dawud al-I‘raqi bertajuk Ta’sis al-Taqdis fi al-Radd ‘ala Dawud bin Jurjis. Nama lain bagi kitab ini sebagaimana dinyatakan sebahagian muridnya ialah al-Intisor. [264]

[264] Sila lihat kitab Ta’sis al-Taqdis, hlm. 3 dan 63.

************************************************************

Sekian Bahagian Pertama Note ini. Akan diterbitkan Bahagian Kedua, insyaAllah.

Saturday, January 28, 2012

Perkataan Ulama Salaf Dalam Mencela Bid’ah

Sumber :

http://al-atsariyyah.com/perkataan-ulama-salaf-dalam-mencela-bid%E2%80%99ah.html


1. Abdullah bin Mas’ud radhiallahu ‘anhu berkata:

الإقْتِصَادُ فِي السُّنَّةِ خَيرٌ مِنَ الإلْجْتِهَادِ في الْبِدْعَةِ

“Sederhana dalam melakukan sunnah lebih baik daripada bersungguh-ungguh dalam melaksanakan bid’ah”. (Riwayat Ad-Darimi)

dan beliau juga berkata:

اِتَّبِعُوْا وَلاَ تَبْتَدِعُوْا فَقَدْ كُفِيْتُمْ وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ

“Ittiba’lah kalian dan jangan kalian berbuat bid’ah karena sesungguhnya kalian telah dicukupi, dan setiap bid’ah adalah kesesatan”. (Riwayat Ad-Darimi no. 211 dan dishohihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam ta’liq beliau terhadap Kitabul Ilmi karya Ibnul Qoyyim)


2. ‘Abdullah bin ‘Umar radhiallahu ‘anhuma berkata:

كُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَإِنْ رَآهَا النَّاسُ حَسَنَةً

“Setiap bid’ah adalah sesat walaupun manusia menganggapnya baik”. (Riwayat Al-Lalika`i dalam Syarh Ushul I’tiqod Ahlissunnah)


3. Mu’adz bin Jabal radhiallahu ‘anhu berkata:

فَإِيَّاكُمْ وَمَا يُبْتَدَعُ, فَإِنَّ مَا ابْتُدِعَ ضَلاَلَةٌ

“Maka waspadalah kalian dari sesuatu yang diada-adakan, karena sesungguhnya apa-apa yang diada-adakan adalah kesesatan”. (Riwayat Abu Daud no. 4611)


4. Abdullah bin Abbas radhiallahu ‘anhuma pernah berkata kepada Utsman bin Hadhir:

عَلَيْكَ بِتَقْوَى اللهِ وَالإسْتِقَامَةِ, وَاتَّبِعْ وَلاَ تَبْتَدِعْ

“Wajib atasmu untuk bertaqwa kepada Allah dan beristiqomah, ittiba’lah dan jangan berbuat bid’ah”. (Riwayat Ad-Darimi no. 141)


5.Imam Asy-Syafi’i rahimahullah berkata:

مَنِ اسْتَحْسَنَ فَقَدْ شَرَعَ

“Barang siapa yang menganggap baik (suatu bid’ah) maka berarti dia telah membuat syari’at”.


6. Imam Ahmad rahimahullah berkata dalam kitab beliau Ushulus Sunnah:

أُصُوْلُ السُّنَّةِ عِنْدَنَا اَلتَّمَسُّكُ بِمَا كَانَ عَلَيْهِ أَصْحَابُ رَسُوْلِ اللهِ صلى الله عليه وعلى آله وسلم وَالإقْتِدَاءُ بِهِمْ وَتَرْكُ الْبِدَعَ وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ

“Pokok sunnah di sisi kami adalah berpegang teguh dengan apa-apa yang para shahabat Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam berada di atasnya, meneladani mereka serta meninggalkan bid’ah dan setiap bid’ah adalah kesesatan”.


7. Sahl bin ‘Abdillah At-Tasturi rahimahullah berkata:

مَا أَحْدَثَ أًحَدٌ فِي الْعِلْمِ شَيْئًا إِلاَّ سُئِلَ عَنْهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ, فَإِنْ وَافَقَ السُّنَّةَ سَلِمَ وَإِلاَّ فَلاَ

“Tidaklah seseorang memunculkan suatu ilmu (yang baru) sedikitpun kecuali dia akan ditanya tentangnya pada hari Kiamat ; bila ilmunya sesuai dengan sunnah maka dia akan selamat dan bila tidak maka tidak”. (Lihat Fathul Bari: 13/290)


8. Umar bin Abdil Aziz rahimahullah berkata:

أَمَّا بَعْدُ, أُوْصِيْكَ بِتَقْوَى اللهِ وَاللإقْتِصَادْ فِي أَمْرِهِ, وَاتِّبَاعِ سُنَّةَ نَبِيِّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَسَلَّمَ, وَتَرْكِ مَا أَحْدَثَ الْمُحْدِثُوْنَ بَعْدَ مَا جَرَتْ بِهِ سُنَّتُهُ

“Amma ba’du, saya wasiatkan kepada kalian untuk bertaqwa kepada Allah dan bersikap sederhana dalam setiap perkaraNya, ikutilah sunnah NabiNya Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam dan tinggalkanlah apa-apa yang dimunculkan oleh orang-orang yang mengada-adakan setelah tetapnya sunnah beliau Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam”. (Riwayat Abu Daud)


9. Abu Utsman An-Naisaburi rahimahullah berkata:

مَنْ أَمَّرَ السُّنَّةَ عَلَى نَفْسِهِ قَوْلاً وَفِعْلاً نَطَقَ بِالْحِكْمَةِ, وَمَنْ أَمَّرَ الْهَوَى عَلَى نَفْسِهِ قَوْلاً وَفِعْلاً نَطَقَ بِالْبِدْعَةِ
http://www.blogger.com/img/blank.gif
“Barang siapa yang menguasakan sunnah atas dirinya baik dalam perkataan maupun perbuatan maka dia akan berbicara dengan hikmah, dan barang siapa yang menguasakan hawa nafsu atas dirinya baik dalam perkataan maupun perbuatan maka dia akan berbicara dengan bid’ah”. (Riwayat Abu Nu’aim dalam Al-Hilyah : 10/244)

Saturday, January 7, 2012

Shahih Hadits Ayahku Dan Ayahmu Di Neraka

Sumber :

http://abul-jauzaa.blogspot.com/2011/05/shahih-hadits-ayahku-dan-ayahmu-di.html



Al-Imaam Muslim rahimahullah berkata :

وحَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ، حَدَّثَنَا عَفَّانُ، حَدَّثَنَا حَمَّادُ بْنُ سَلَمَةَ، عَنْ ثَابِتٍ، عَنْ أَنَسٍ، أَنَّ رَجُلًا، قَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَيْنَ أَبِي؟ قَالَ: فِي النَّارِ، فَلَمَّا قَفَّى، دَعَاهُ، فَقَالَ: " إِنَّ أَبِي وَأَبَاكَ فِي النَّارِ "

Dan telah menceritakan kepada kami Abu Bakr bin Abi Syaibah : Telah menceritakan kepada kami ‘Affaan : Telah menceritakan kepada kami Hammaad bin Salamah, dari Tsaabit, dari Anas : Bahwasannya ada seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam : “Wahai Rasulullah, dimanakah tempat ayahku (yang telah meninggal) sekarang berada ?”. Beliau menjawab : “Di neraka”. Ketika orang tersebut menyingkir, maka beliau memanggilnya lalu berkata : “Sesungguhnya ayahku dan ayahmu di neraka”. [Diriwayatkan oleh Muslim no. 203].

Hadits di atas juga diriwayatkan oleh Ahmad 3/268, Abu Ya’laa no. 3516, Abu ‘Awaanah no. 289, Ibnu Hibbaan no. 578, Abu Nu’aim dalam Al-Musnad Al-Mustakhraj no. 503, Ibnu Mandah dalam Al-Iimaan 2/871 no. 926, Al-Baihaqiy dalam Al-Kubraa 7/190 dan dalam Dalaailun-Nubuwwah 1/191, Ibnu Masykuwaal dalam Ghawaamidlul-Asmaa’ Al-Mubhamah 1/400; semuanya dari jalan ‘Affaan, dari Hammaad bin Salamah dan selanjutnya seperti riwayat di atas.

‘Affaan dalam periwayatan dari Hammaad bin Salamah mempunyai mutaba’ah dari :

1. Muusaa bin Ismaa’iil At-Tabuudzakiy Al-Bashriy; seorang yang tsiqah lagi tsabat.
Diriwayatkan oleh Abu Daawud no. 4718, Abu ‘Awaanah no. 289, Al-Baihaqiy dalam Al-Kubraa 7/190 dan dalam Dalaailun-Nubuwwah 1/191, serta Al-Jurqaaniy dalam Al-Abaathiil wal-Manaakiir no. 212.

2. Wakii’ bin Al-Jarraah; seorang yang tsiqah, haafidh, lagi imam.
Diriwayatkan oleh Ahmad 3/119 dan Abu Nu’aim dalam Al-Musnad Al-Mustakhraj no. 502.

3. Rauh bin ‘Ubaadah Al-Qaisiy; seorang yang tsiqah.
Diriwayatkan oleh Al-Bazzaar dalam Al-Bahr no. 6806.

Hadits ini telah dilemahkan sebagian orang, yang kebanyakan di antara mereka mengikuti pelemahan Al-Imaam As-Suyuuthiy rahimahullah, dan beliau telah keliru dalam hal ini. Pelemahan ini ada dua segi, dari segi sanad dan segi matan.

1. Segi sanad.

Hammaad bin Salamah, meskipun tsiqah, tapi ia berubah hapalannya di akhir hayatnya.

Dijawab :

Benar, bahwasannya Hammaad disifati dengan apa yang dikatakan dalam kritik tersebut.

Haammaad ini selengkapnya bernama Hammaad bin Salamah bin Diinaar Al-Bashriy, Abu Salamah bin Abi Sakhrah maulaa Rabii’ah bin Maalik bin Handhalah bin Bani Tamiim. Ia perawi yang dipakai Al-Bukhaariy dalam Shahih-nya (muallaq), Muslim, Abu Daawud, Ar-Tirmidziy, An-Nasaa’iy, dan Ibnu Maajah. Termasuk generasi pertengahan atbaa’ut-taabi’iin (thabaqah 8), wafat tahun 167 H. Ibnu Hajar berkata tentangnya : “Tsiqah, lagi ‘aabid, orang yang paling tsabt dalam periwayatan hadits Tsaabit (Al-Bunaaniy). Berubah hapalannya di akhir usianya” [Taqriibut-Tahdziib, hal. 268-269 no. 1507].

Al-Baihaqiy rahimahullah berkata :

هو أحد أئمة المسلمين إلا أنه لما كبر ساء حفظه فلذا تركه البخاري وأما مسلم فاجتهد وأخرج من حديثه عن ثابت ما سمع منه قبل تغيره وما سوى حديثه عن ثابت لا يبلغ اثني عشر

“Ia adalah salah seorang imam di antara para imam kaum muslimin. Akan tetapi ketika lanjut usia, hapalannya menjadi buruk. Oleh karena itu Al-Bukhaariy meninggalkannya. Adapun Muslim, maka ia berijtihad dan meriwayatkan haditsnya dari Tsaabit yang didengarnya sebelum berubah hapalannya. Adapun selain haditsnya dari Tsaabit, tidak sampai berjumlah 12 buah yang ia riwayatkan dalam syawaahid” [Tahdziibut-Tahdziib, 3/14].

Lebih penting dari pernyataan ini, ada empat orang yang meriwayatkan darinya, yaitu ‘Affaan, Muusaa bin Ismaa’iil, Wakii’ bin Al-Jarrah, dan Rauh bin ‘Ubaadah yang kesemuanya merupakan para perawi tsiqaat. Khusus tentang riwayat Hammaad yang berasal dari ‘Affaan, Ibnu Rajab rahimahumullah berkata :

قال عبد الله بن أحمد : سمعتُ يحيى بن معين يقول : من أراد أن يكتب حديث حماد بن سلمة، فعليه بعفان بن مسلم

“Telah berkata ‘Abdullah bin Ahmad : Aku mendengar Yahyaa bin Ma’iin berkata : ‘Barangsiapa yang ingin menulis hadits Hammaad, maka wajib baginya berpegang pada ‘Affaan bin Muslim” [Syarh ‘Ilal At-Tirmidziy, 2/707].

Artinya, menurut Ibnu Ma’iin, ‘Affaan bin Muslim termasuk orang yang kokoh dan diterima periwayatannya dari Hammaad. Faedahnya, ‘Affaan mendengarkan hadits Hammaad bin Salamah sebelum berubah hapalannya. ‘Affaan bin Muslim sendiri adalah seorang yang tsiqah lagi tsabat, hanya kadang ia keliru/ragu [Taqriibut-Tahdziib, hal. 681-682 no. 4659].

Akurasi hadits ‘Affaan dari Hammaad ini dipersaksikan oleh tiga perawi tsiqaat lainnya. Tidak ada ruang (atau sangat kecil kemungkinannya) untuk mengatakan bahwa hadits Hammaad ini keliru karena faktor berubah hapalannya.

Hammaad bin Salamah, meskpiun ia tsiqah, namun beberapa imam mengatakan bahwa ia banyak kelirunya. Ahmad bin Hanbal berkata : “Hammad bin Salamah sering keliru (yukhthi’)” [Bahrud-Damm, no. 227]. Begitu juga dengan Ibnu Hibbaan.

As-Suyuthiy menambahkan bahwa Hammaad ini menyelisihi Ma’mar dalam periwayatan dari Tsaabit, dimana Ma’mar tidak menyertakan lafadh : ‘ayahku dan ayahmu di neraka’, namun dengan lafadh : ‘jika engkau melewati kubur orang kafir, berikanlah khabar gembira tentang neraka’. Ma’mar lebih tsabt daripada Hammaad [lihat : Al-Haawiy, 2/273].

Dijawab :

Perkataan ini jika ditujukan untuk melemahkan hadits dalam bahasan, maka sangat jauh dari kebenaran.

Hammaad, sebagaimana telah lalu penjelasannya, dicela sebagian ulama karena berubahnya hapalannya di akhir usianya sehingga ia keliru meriwayatkan beberapa hadits. Ahmad bin Hanbal memang benar diriwayatkan mengatakan demikian.
Akan tetapi Ahmad sendiri menetapkan Hammaad adalah seorang yang tsiqah [Al-Kaamil fidl-Dlu’afaa’ oleh Ibnu ‘Adiy, 3/39 no. 431]. Dan Ahmad pun menetapkan Hammaad bin Salamah adalah orang yang paling tsabt dalam hadits Tsaabit Al-Bunaaniy.

وقال عبد الله : سمعتُ أَبي يقول : حماد بن سلمة , أثبت الناس في ثابت البناني.

‘Abdullah berkata : Aku mendengar ayahku berkata : “Hammaad bin Salamah, orang yang paling tsabt periwayatannya dalam hadits Tsaabit Al-Bunaaniy” [Al-‘Ilal, no. 1783 & 5189].

وقال ابن هانىء : وسَمِعتُهُ يقول : كان حماد بن سلمة من أثبت أصحاب ثابت .

Ibnu Haani’ berkata : Aku mendengarnya (Ahmad bin Hanbal) berkata : “Hammaad bin Salamah termasuk orang yang paling tsabt di antara ashhaab Tsaabit” [Suaalaat Ibni Haani’, 2/197 no. 2063].

Banyak riwayat lain dari Ahmad yang menunjukkan penegasan serupa. Apa yang dikatakan oleh Ahmad itu juga dikatakan oleh ulama lain.

Ibnu Ma’iin berkata :

من خالف حماد بن سلمة في ثابت فالقول قول حماد، قيل : فسليمان بن المغيرة عن ثابت ؟. قال : سليمان ثبت، وحماد أعلم الناس بثابت

“Barangsiapa menyelisihi Hammaad dalam periwayatan dari Tsaabit, maka perkataan yang dipegang adalah perkataan Hammaad”. Dikatakan : “Riwayat Sulaimaan bin Al-Mughiirah dari Tsaabit ?”. Ibnu Ma’iin berkata : “Sulaimaan itu tsabt (kokoh), namun Hammaad orang yang paling mengetahui tentang riwayat Tsaabit” [Tahdziibul-Kamaal, 7/262].

Abu Haatim berkata :

حماد بن سلمة في ثابت، وعلي بن زيد أحب إليَّ من همام، وهو أضبط الناس وأعلمهم بحديثهما

“Hammaad bin Salamah dalam riwayat Tsaabit dan ‘Aliy bin Zaid, lebih aku sukai daripada Hammaam. Dan ia (Hammaad) adalah orang yang paling dlabth (akurat) dan yang paling mengetahui tentang hadits keduanya” [idem, 7/264].
Dan, Ahmad bin Hanbal menegaskan riwayat Hammaad dari Tsaabit ini lebih kuat daripada Ma’mar :

حماد بن سلمة أثبت في ثابت من معمر

“Hammaad bin Salamah lebih tsabt (kokoh) dalam hadits Tsaabit daripada Ma’mar” [Al-Jarh wat-Ta’diil, 3/141; dan Tahdziibul-Kamaal, 7/259].

Adapun perkataan Ibnu Hibbaan, maka itu sama sekali tidak menjatuhkan kedudukan riwayat Hammaad dari Tsaabit.

Maka, di sini nampak ketidakakuratan jarh yang dialamatkan As-Suyuthiy rahimahullah dan orang yang sepakat dengannya.

Tsaabit (bin Aslam) Al-Bunaaniy sendiri adalah seorang yang tsiqah lagi ‘aabid [Taqriibut-Tahdziib, hal. 185 no. 818].

Kesimpulannya, sanad riwayat ini sangat shahih.


2. Segi Matan.

Sebagian ulama menganggap bahwa matan hadits ini ma’lul karena bertentangan dengan ayat :

وَمَا كُنَّا مُعَذِّبِينَ حَتَّى نَبْعَثَ رَسُولا

“Dan Kami tidak akan mengazab sebelum Kami mengutus seorang rasul” [QS. Al-Israa’ : 15].

Dijawab :

Tidak akan pernah satupun hadits shahih bertentangan dengan hadits shahih lain ataupun ayat, karena apa yang dikatakan Rasul shallallaahu ‘alaihi wa sallam juga merupakan wahyu dari Allah ta’ala :

وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوَى * إِنْ هُوَ إِلا وَحْيٌ يُوحَى

“Dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al Qur'an) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya)” [QS. An-Najm : 3-4].

Termasuk hadits di atas.

Ta’lil terhadap matan hadits ini berangkat dari pemahaman bahwa kedua orang tua Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam termasuk ahlul-fatrah yang akan dimaafkan, karena belum sampai kepada mereka berdua risaalah (Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam).

Pernyataan ini tidak sepenuhnya benar, sebab ada beberapa yang disebutkan para ulama sebagai ahlul-fatrah, namun masuk neraka. Seperti misal : ‘Amru bin ‘Aamir bin Luhay Al-Khuzaa’iy :

حَدَّثَنَا أَبُو الْيَمَانِ، أَخْبَرَنَا شُعَيْبٌ، عَنْ الزُّهْرِيِّ، قَالَ: سَمِعْتُ سَعِيدَ بْنَ الْمُسَيِّبِ، قَالَ الْبَحِيرَةُ: الَّتِي يُمْنَعُ دَرُّهَا لِلطَّوَاغِيتِ وَلَا يَحْلُبُهَا أَحَدٌ مِنَ النَّاسِ، وَالسَّائِبَةُ: الَّتِي كَانُوا يُسَيِّبُونَهَا لِآلِهَتِهِمْ فَلَا يُحْمَلُ عَلَيْهَا شَيْءٌ، قَالَ: وَقَالَ أَبُو هُرَيْرَةَ، قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: " رَأَيْتُ عَمْرَو بْنَ عَامِرِ بْنِ لُحَيٍّ الْخُزَاعِيَّ يَجُرُّ قُصْبَهُ فِي النَّارِ وَكَانَ أَوَّلَ مَنْ سَيَّبَ السَّوَائِبَ "

Telah menceritakan kepada kami Abul-Yamaan : Telah mengkhabarkan kepada kami Az-Zuhriy, ia berkata : Aku mendengar Sa’iid bin Al-Musayyib, ia berkata : “Al-Bahiirah adalah onta yang tidak boleh ditunggangi dan diambil susunya oleh seorang pun, yang dipersembahkan kepada berhala. Adapun As-Saaibah adalah onta yang tidak bunting lagi yang akan mereka persembahkan kepada tuhan-tuhan mereka”. Ibnul-Musayyib berkata : Telah berkata Abu Hurairah : “Telah bersabda Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam : “Aku melihat ‘Amru bin ‘Aamir bin Luhay Al-Khuzaa’i menarik-narik ususnya di neraka. Dia adalah orang pertama yang melepaskan onta-onta (untuk dipersembahkan kepada berhala)” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhaariy no. 3521].

‘Amru bin ‘Aamir bin Luhay Al-Khuzaa’iy adalah orang yang hidup di masa fatrah, namun ia mengubah ajaran Nabi Ibraahiim bagi bangsa ‘Arab sehingga mereka menyembah berhala. ‘Amru bin Luhay tidak diberikan ‘udzur karena masa fatrah, karena telah sampai kepadanya ajaran Nabi Ibraahiim ‘alaihis-salaam.

Begitu pula dengan shaahibul-mihjan (si pemilik tongkat) :

حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ، حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ نُمَيْرٍ. ح وحَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ نُمَيْرٍ، وَتَقَارَبَا فِي اللَّفْظِ، قَالَ: حَدَّثَنَا أَبِي، حَدَّثَنَا عَبْدُ الْمَلِكِ، عَنْ عَطَاءٍ، عَنْ جَابِرٍ، قَالَ: رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ...... لَقَدْ جِيءَ بِالنَّارِ وَذَلِكُمْ حِينَ رَأَيْتُمُونِي تَأَخَّرْتُ مَخَافَةَ أَنْ يُصِيبَنِي مِنْ لَفْحِهَا، وَحَتَّى رَأَيْتُ فِيهَا صَاحِبَ الْمِحْجَنِ يَجُرُّ قُصْبَهُ فِي النَّارِ، كَانَ يَسْرِقُ الْحَاجَّ بِمِحْجَنِهِ، فَإِنْ فُطِنَ لَهُ، قَالَ: إِنَّمَا تَعَلَّقَ بِمِحْجَنِي، وَإِنْ غُفِلَ عَنْهُ ذَهَبَ بِهِ....."

Telah menceritakan kepada kami Abu Bakr bin Abi Syaibah : Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin Numair (ح). Dan telah menceritakan kepada kami Muhammad bin ‘Abdillah bin Numair – dan lafadh keduanya mirip - , ia berkata : Telah menceritakan kepada kami ayahku : Telah menceritakan kepada kami ‘Abdul-Malik, dari ‘Athaa’, dari Jaabir, ia berkata : Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam : “……….Dan sungguh telah diperlihatkan neraka kepadaku, yaitu ketika kalian melihat aku mundur, karena aku takut hangus (oleh jilatannya). Hingga aku melihat di dalamnya shaahibul-mihjan (pemilik tongkat yang bengkok kepalanya.) menyeret ususnya dalam neraka. Dahulunya, ia mencuri (barang milik) orang yang haji. Jika ketahuan, ia berkilah : ‘Barang itu tersangkut di mihjanku”. Tetapi jika orang itu lengah dari barangnya, maka si pencuri membawanya (pergi)….” [Diriwayatkan oleh Muslim no. 903].

Jika kita bisa menghukumi bahwa dua orang di atas masuk neraka berdasarkan sabda Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam, lantas apa halangannya kita mengatakan bahwa orang tua Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam juga masuk neraka berdasarkan sabda beliau pula ?.

Bisa juga hal itu dijamak dengan riwayat :

أَخْبَرَنَا مُعَاذُ بْنُ هِشَامٍ صَاحِبُ الدَّسْتُوَائِيِّ، حَدَّثَنِي أَبِي، عَنْ قَتَادَةَ، عَنِ الأحْنَفِ بْنِ قَيْسٍ، عَنِ الأَسْوَدِ بْنِ سَرِيعٍ، عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: " أَرْبَعَةٌ يَحْتَجُّونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ: رَجُلٌ أَصَمُّ، وَرَجُلٌ أَحْمَقُ، وَرَجُلٌ هَرِمٌ، وَرَجُلٌ مَاتَ فِي الْفَتْرَةِ، فَأَمَّا الأَصَمُّ فَيَقُولُ: رَبِّ لَقَدْ جَاءَ الإِسْلامُ وَلَمْ أَسْمَعْ شَيْئًا، وَأَمَّا الأَحْمَقُ، فَيَقُولُ: رَبِّ لَقَدْ جَاءَ الإِسْلامُ وَالصِّبْيَانُ يَحْذِفُونِي بِالْبَعْرِ، وَأَمَّا الْهَرِمُ، فَيَقُولُ: رَبِّ لَقَدْ جَاءَ الإِسْلامُ وَمَا أَعْقِلُ، وَأَمَّا الَّذِي مَاتَ فِي الْفَتْرَةِ، فَيَقُولُ: رَبِّ مَا أَتَانِي لَكَ رَسُولٌ، فَيَأْخُذُ مَوَاثِيقَهُمْ لَيُطِيعَنَّهُ، فَيُرْسِلُ إِلَيْهِمْ رَسُولا أَنِ ادْخُلُوا النَّارَ، قَالَ: فَوَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَوْ دَخَلُوهَا كَانَتْ عَلَيْهِمْ بَرْدًا وَسَلامًا ".

Telah mengkhabarkan kepada kami Mu’aadz bin Hisyaam shaahibu Ad-Dastuwaaiy : Telah menceritakan kepadaku ayahku, dari Qataadah, dari Al-Ahnaf bin Qais, dari Al-Aswad bin Sarii’, dari Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa salam, beliau bersabda : “Ada empat orang yang akan berhujjah (beralasan) kelak di hari kiamat : (1) orang tuli, (2) orang idiot, (3) orang pikun, dan (4) orang yang mati dalam masa fatrah. Orang yang tuli akan berkata : ‘Wahai Rabbku, sungguh Islam telah datang, namun aku tidak mendengarnya sama sekali’. Orang yang idiot akan berkata : ‘Wahai Rabbku, sungguh Islam telah datang, namun anak-anak melempariku dengan kotoran hewan’. Orang yang pikun akan berkata : ‘Wahai Rabb, sungguh Islam telah datang, namun aku tidak dapat memahaminya’. Adapun orang yang mati dalam masa fatrah akan berkata : ‘Wahai Rabb, tidak ada satu pun utusan-Mu yang datang kepadaku’. Maka diambillah perjanjian mereka untuk mentaati-Nya. Diutuslah kepada mereka seorang Rasul yang memerintahkan mereka agar masuk ke dalam api/neraka”. Beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam kembali bersabda : “Demi Dzat yang jiwaku ada di tangan-Nya. Seandainya mereka masuk ke dalamnya, niscaya mereka akan merasakan dingin dan selamat” [Diriwayatkan oleh Ishaaq bin Rahawaih dalam Al-Musnad no. 41; shahih].

Yaitu, orang tua Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam masuk neraka setelah diuji oleh Allah ta’ala di hari kiamat, sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Katsiir rahimahullah [Al-Aayaatu wal-Ahaadiitsu wal-Aatsaar Al-Waaridah fii Ahlil-Fatrah oleh Marwaan bin Ahmad Al-Hamdaan, hal. 251; thesis Univ. Ummul-Qurraa’, tahun 1411].

Oleh karena itu, hadits Anas tetap dapat dijamak dengan ayat yang dipertentangkan bersamaan dengan hadits Al-Aswad bin Sarii’ radliyallaahu ‘anhumaa ini.
Tidak ada satu hal pun yang menyebabkan hadits Anas ini cacat lagi dla’iif sebagaimana Pembaca dapat lihat.

Kesimpulannya : Riwayat ini shahih, para perawinya tsiqaat, sanadnya bersambung, dan tidak ada syudzuudz ataupun ‘ilat.

Wallaahu a’lam.

[abul-jauzaa’ – ngaglik, sele-man, yogyakarta, 1432, malam hari nan sunyi].

Sunday, January 1, 2012

Hadits, Atsar dan Kisah Dhaif dan Palsu Seputar Tawassul

1) : Hadits-Hadits Lemah dan Palsu


Sumber :

http://acehprov.go.id/images/stories/file/Agama/Hadits,%20Atsar%20dan%20Kisah%20Dhaif.pdf

Dengan sikit edit dari Ibnu Hasan Al-Amin Ar-Rembawi. Ada beberapa teks arab hadis tidak dapat aku letakkan di sini kerana masalah teknikal, oleh itu silalah ke link sumber artikel ini untuk melihatnya.


Hadits Pertama


توسلوا بجاهي, فإن جاهي عند الله عظيم". أو :"إذا سألتم الله, فاسألوه بجاهي, فإن جاهي عند الله"
."عظيم

"Bertawassullah kalian dengan kedudukanku, sesungguhnya kedudukanku di sisi Allah sangat besar." Atau : "Apabila kalian meminta kepada Allah, maka mintalah kepada-Nya dengan kedudukanku, sesungguhnya kedudukanku di sisi Allah sangat besar."

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata, "Hadits ini dusta dan tidak terdapat dalam kitab-kitab kaum muslimin yang dijadikan pegangan oleh ahlul hadits, dan tidak satu pun ulama menyebutkan hadits tersebut, padahal kedudukan beliau di sisi Allah ta'ala lebih besar dari kemuliaan seluruh nabi dan rasul."
Qo'idah Jalilah fit Tawassul wal Wasilah hal 168. Dan lihat Iqtidlo' Shiratil Mustaqim (2/783)).

Al' Allamah Al Muhaddits Al Albani berkata, "Hadits ini batil, tidak terdapat dalam kitab-kitab hadits. Hadits ini hanya diriwayatkan oleh sebagian orang yang bodoh terhadap As Sunnah."
(At Tawassul Anwa'uhu wa Ahkamuhu hal 127).


Hadits Kedua


"إذا أعيتكم الأمور فعليكم بأهل القيور" أو : "فاستغيثوا بأهل القبور"

"Apabila kamu terbelit suatu urusan, maka hendaknya (engkau meminta bantuan dengan
berdo'a) kepada ahli kubur" Atau "Minta tolonglah dengan (perantaraan) ahli kubur."

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata, "Hadits ini adalah dusta dan diada-adakan atas Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam berdasar kesepakatan ahli hadits. Hadits ini tidak diriwayatkan oleh seorang pun dari para ulama dan tidak ditemukan sama sekali dalam kitab-kitab hadits yang terpercaya."
(Majmu' Fatawaa (11/293)).

Ketika Imam Ibnul Qoyyim menyebutkan beberapa faktor penyebab para penyembah kubur
terjerumus ke dalam kesyirikan, beliau berkata, "Dan di antaranya adalah hadits-hadits dusta dan bertentangan (dengan ajaran Islam), yang dipalsukan atas Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam oleh para penyembah berhala dan pengagung kubur yang bertentangan dengan agama dan ajaran Beliau shallallahu 'alaihi wa sallam, seperti hadits:

"إذا أعيتكم الأمور فعليكم بأهل القيور"

"Apabila kamu terbelit suatu urusan, maka hendaknya (engkau meminta bantuan) kepada ahli kubur."

Dan hadits,

"لو أحسن أحدكم ظنه بحجر نفعه"

"Seandainya kalian berharap dan optimis walaupun terhadap sebuah batu, maka pasti batu itu akan mampu mendatangkan manfaat kepada kalian."
(Ighatsatul Lahfaan 1/243)).


Hadits Ketiga


Dari Anas bin Malik, Ketika Fatimah bintu Asad bin Hasyim ibunda Ali radhiallahu 'anhu wafat, maka dia mengajak Usamah bin Zaid, Abu Musa Al Anshari, Umar bin Khattab dan seorang budak hitam untuk menggali liang kubur. Setelah selesai, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam masuk dan berbaring di dalamnya, kemudian beliau berkata:

(Sila pergi ke link untuk lihat teks arab)

"Allah adalah Zat yang menghidupkan dan mematikan. Dia Maha Hidup dan tidak mati, ampunilah bibiku Fatimah binti Asad. Ajarkanlah padanya hujjahnya dan luaskanlah tempat tinggalnya yang baru dengan hak nabi-Mu dan hak para nabi sebelumku, karena sesungguhnya Engkau adalah Zat Yang Maha Penyayang."

Al 'Allamah Al Muhaddits Al Albani berkata, "Hadits ini tidak mengandung targhib (anjuran untuk melakukan suatu amalan yang ditetapkan syariat) dan tidak pula menjelaskan keutamaan amalan yang telah ditetapkan dalam syariat. Sesungguhnya hadits ini hanya memberitahukan permasalahan seputar boleh atau tidak boleh, dan seandainya hadits ini shahih, maka isinya menetapkan suatu hukum syar'i. Sedangkan kalian (para penyanggah -pent) menjadikannya sebagai salah satu dalil bolehnya tawassul yang diperselisihkan ini. Maka apabila kalian telah menerima kedha'ifan hadits ini, maka kalian tidak boleh berdalil dengannya. Aku tidak bisa membayangkan ada seorang berakal yang akan mendukung kalian untuk memasukkan hadits ini ke dalam bab targhib dan tarhib, karena hal ini adalah sikap tidak mau tunduk kepada kebenaran, mengatakan sesuatu yang tidak pernah dikemukakan oleh seluruh orang yang berakal sehat."
(Lihat At Tawassul Anwa'uhu wa Ahkamuhu hal. 110 dan Silsilah Ahadits Addha'ifah wal Maudlu'at (1/32) hadits nomor 23. Beliau telah menjelaskan kelemahan hadits ini dan menjelaskan alasannya dengan rici, maka merujuklah ke buku tersebut).


Hadits Keempat



Dari Abu Sa'id Al Khudry secara marfu':

(Sila ke link untuk lihat teks arab)

Barang siapa keluar dari rumahnya untuk shalat, kemudian mengucapkan: "Ya Allah
sesungguhnya aku meminta kepada-Mu dengan hak orang-orang yang berdo'a kepada-Mu, dan
aku meminta kepada-Mu dengan hak perjalananku ini. Sesungguhnya aku tidaklah keluar dengan sombong dan angkuh, tidak pula dengan riya' dan sum'ah. Aku keluar agar terbebas dari murka-Mu dan untuk mencari ridlo-Mu, maka aku meminta kepada-Mu untuk membebaskanku dari api neraka dan mengampuni dosa-dosaku, karena sesungguhnya tidak ada yang dapat mengampuni dosa kecuali Engkau." Maka Allah akan menyambutnya dengan wajah-Nya dan 70000 malaikat akan memohonkan ampun baginya.
(Diriwayatkan oleh Ibnu Majah (778), Ahmad (3/21) dan hadits ini telah didha'ifkan Al Allamah Al Albani dalam Silsilah Ahadits Adhdho'ifah (1/34) dan dalam At Tawassul hal. 99).

Syaikh Fuad Abdul Baqi berkata dalam Az Zawaaid, "Sanad hadits ini berisi rentetan para perawi yang lemah, yaitu Athiyyah adalah Al Aufi, Fadlil ibn Mirzaq dan Al Fadl ibnul Muwaffiq. Mereka semua adalah rawi yang dha'if."

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata, "Adapun perkataan, 'Aku meminta kepada-Mu dengan hak orang-orang yang meminta kepada-Mu', diriwayatkan oleh Ibnu Majah akan tetapi sanad hadits tersebut tidak dapat dijadikan hujjah. Sekiranya hadits ini berasal dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, maka makna hadits ini adalah sesungguhnya hak orang-orang yang berdo'a kepada Allah adalah Allah kabulkan do'a mereka. Sedangkan hak orang yang beribadah kepada Allah adalah Allah memberikan pahala padanya. Hak ini Dia tetapkan atas diri-Nya sebagaimana firman-Nya,

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ ۖ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ ۖ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ

"Dan apabila hamba-hambaKu bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya
Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon
kepada-Ku."
(QS. Al Baqarah: 186)

Maka ini adalah permintaan kepada Allah dengan hak yang telah Dia wajibkan atas diri-Nya, sehingga persis do'a berikut ini:

رَبَّنَا وَآتِنَا مَا وَعَدتَّنَا عَلَىٰ رُسُلِكَ

"Ya Tuhan kami, berilah kami apa yang telah Engkau janjikan kepada kami dengan perantaraan rasul-rasul Engkau."
(QS. Ali Imran: 194)

Dan seperti do'a ketiga orang yang berlindung ke goa, ketika mereka meminta kepada Allah dengan perantara amalan shalih mereka yang Allah telah berjanji untuk memberi pahala atas amalan tersebut."
(Majmu' Fatawaa (1/369)).

Al 'Allamah Al Albani berkata, "Kesimpulannya, sesungguhnya hadits ini dha'if dari dua jalur periwatannya dan salah satunya lebih berat kedha'ifannya daripada yang lain. Hadits ini telah didha'ifkan oleh Al Bushiriy, Al Mundziri dan para pakar hadits. Barangsiapa yang menghasankan hadits ini, maka sesungguhnya dia salah sangka atau bertasaahul (terlalu gampang dalam menilai hadits)."
(Silsilah Ahadits Adhdha'ifah (1/38) nomor 24).


Hadits Kelima


Dari Umar ibn Al Khattab secara marfu':

(Sila ke link untuk lihat teks arab)

Ketika Adam melakukan kesalahan, dia berkata: "Wahai Tuhanku, aku memohon kepada-Mu
dengan hak Muhammad agar Engkau mengampuniku. Maka Allah berfirman, "Wahai Adam,
bagaimana engkau mengenal Muhammad, padahal Aku belum menciptakannya?" Adam berkata,
"Wahai Tuhanku, ketika Engkau menciptakanku dengan tangan-Mu dan Engkau tiupkan ruh ke
dalam diriku, aku mengangkat kepalaku, maka aku melihat tiang-tiang 'arsy tertuliskan "Laa
ilaaha illallah Muhammadun rasulullah", maka aku tahu bahwa Engkau tidak menghubungkan
sesuatu kepada nama-Mu, kecuali makhluk yang paling Engkau cintai", kemudian Allah berfirman, "Aku telah mengampunimu, dan sekiranya bukan karena Muhammad tidaklah aku
menciptakanmu."
(Diriwayatkan oleh Al Hakim (2/615) (2/3, 32/2) dan Al Hakim berkata: "Shahihul Isnad akan tetapi Adz Dzahabi menyalahkan beliau dengan perkataannya: Aku berkata, bahkan hadits ini maudhu', Abdurrahman sangat lemah, dan Abdullah ibn Muslim Al Fahri tidak diketahui jati dirinya.")

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata, "Periwayatan Al Hakim terhadap hadits ini termasuk yang diingkari oleh para ulama, karena sesungguhnya diri beliau sendiri telah berkata dalam kitab Al Madkhal ilaa Ma'rifatish Shahih Minas Saqim, "Abdurrahman bin Zaid bin Aslam meriwayatkan dari ayahnya beberapa hadits palsu yang dapat diketahui secara jelas oleh pakar hadits yang menelitinya bahwa dialah yang membuat hadits-hadits tersebut." Aku (Ibnu Taimiyah) katakan, "Dan Abdurrahman bin Zaid bin Aslam adalah perawi dha'if (lemah) dan banyak melakukan kesalahan sebagaimana kesepakatan mereka (ahli hadits)."
(Qo'idah Jalilah fit Tawassul hal 69).

Al Allamah Al Albani berkata, "Kesimpulannya sesungguhnya hadits ini Laa Ashla Lahu (tidak
berasal) dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, dan tidak salah menghukuminya dengan batil sebagaimana penilaian dua orang Al Hafizh, Adz Dzahabi dan Al Asqalani sebagaimana telah dinukil dari keduanya." (Silsilah Ahadits Addha'ifah 1/40).


Hadits Keenam


Dari Umayyah ibn Abdillah ibn Khalid ibn Usaid, ia berkata:

كان رسول ال يستفتح بصعاليك المهاجرين

"Rasulullah pernah meminta kemenangan dengan (bantuan) orang-orang melarat dari kaum
Muhajirin."
(Diriwayatkan Ath Thabrani dalam Al Kabir 1/269 dan disebutkan oleh At Tabrizi dalam
Misykatul Mashabih 5247 dan Al Qurthubi dalam Tafsir-nya 2/26; Dalam Al Isti'ab 1/38, Ibnu Abdil Barr berkata, "Menurutku tidaklah benar kalau Umayyah ibn Abdillah adalah seorang sahabat Nabi, sehingga hadits di atas adalah hadits yang mursal." Al Hafizh dalam Al Ishobah 1/133 berkata, "Umayyah bukanlah sahabat Nabi dan tidak memiliki riwayat yang kuat." Al Albani dalam At Tawassul hal. 111 mengatakan, "Pokok permasalahan dalam hadits tersebut adalah status Umayyah. Tidak terbukti bahwa beliau adalah salah seorang sahabat, sehingga status hadits tersebut adalah hadits mursal dha'if.")

Al Allamah Al Albani berkata, "Hadits ini dha'if sehingga tidak dapat digunakan sebagai hujjah." Kemudian beliau berkata, "Seandainya hadits ini shahih, maka hadits ini semakna dengan hadits Umar, yaitu Umar meminta hujan dengan perantaraan doa Al Abbas, paman Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dan hadits orang buta (seorang lelaki buta yang meminta kepada Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam untuk mendoakannya kepada Allah agar penglihatannya dikembalikan), yaitu bertawassul dengan doa orang shalih (yang masih hidup-pent)."
(At Tawassul Anwa'uhu wa Ahkamuhu hal 112).

Al Munawi berkata dalam Faidlul Qadir (5/219), "(Rasulullah) pernah meminta kemenangan
maksudnya meminta kemenangan dalam peperangan sebagaimana firman Allah ta'ala:

إِن تَسْتَفْتِحُوا فَقَدْ جَاءَكُمُ الْفَتْحُ ۖ

"Jika kalian (orang-orang musyrikin) meminta kemenangan, maka telah datang kemenangan
kepadamu."
(QS. Al Anfaal: 19)

Az Zamakhsyari mengatakan yang dimaksud dengan "meminta bantuan", yakni meminta
kemenangan dengan orang-orang melarat dari kaum Muhajirin, yaitu dengan doa kaum fakir yang
tidak memiliki harta dari kalangan Muhajirin.


Hadits Ketujuh


Dari Abdullah ibn Mas'ud dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, beliau berkata,


حياتي خير لكم, تحدثون و يحدث لكم, ووفاتي خير لكم, تعرض علي أعمالكم, فإن رأيت خيرا أحمدت
الله عليه, وإن رأيت شرا استغفرت الله لكم

"Hidupku baik bagi kalian, kalian bisa menyampaikan hadits dan akan ada hadits yang
disampaikan dari kalian. Dan kematianku adalah kebaikan bagi kalian, amal-amal kalian akan
dihadapkan kepadaku, jika aku melihat kebaikan aku memuji Allah karenanya dan jika aku
melihat keburukan, aku akan memohon ampun kepada Allah bagi kalian."
(Diriwayatkan oleh An
Nasa'i 1/189, Ath Thabrani dalam Mu'jamul Kabir 3/81/2, Abu Nu'aim dalam Akhbaru Ashbahan
2/205 dan Ibnu Asakir 9/189/2 dan Al Albani telah melemahkan hadits ini dalam Silsilah Ahadits Adhdha'ifah wal Maudhu'at 2/404).

Al Allamah Al Albani berkata, sesudah menyebutkan beberapa perkataan ulama tentang hadits ini, "Kesimpulannya, bahwa hadits ini dha'if dengan seluruh jalur periwayatannya, dan yang paling baik dari semua jalur tersebut adalah hadits mursal dari Bakr bin Abdil Muththallib Al Muzani, dan hadits mursal termasuk kategori hadits dha'if menurut para muhaddits. Adapun hadits dari Ibnu Mas'ud maka hadits itu khotho' (salah), dan yang terburuk dari beberapa jalan jalur periwayatan hadits ini adalah hadits Anas dengan dua jalur periwatannya."
(Silsilah Ahadits Adhdha'ifah wal Maudlu'at 2/404-406).


-bersambung insya Allah-
***

Tingkat pembahasan: Dasar
Oleh: Abu Humaid Abdullah ibnu Humaid Al Fallasi
Diterjemahkan secara bebas oleh: Abu Umair Muhammad Al Makasari (Alumni Ma'had Ilmi)
Murajaah: Ust. Aris Munandar




2): Atsar-Atsar Lemah dan Palsu



Atsar Pertama


عن ملك الدار- و كان خازن عمر- قال: أصاب الناس قحط في زمن عمر, فجاء رجل إلى قبر النبي
صلى الله عليه و سلم فقال: با رسول الله استسق لمتك فإنهم قد هلكوا, فأتى الرجل في المنام, فقيل له :
ائت عمر ….الثر

Dari Malik Ad Dar -beliau adalah bendahara Umar- dia berkata, "Pada zaman pemerintahan Umar
manusia ditimpa kemarau, maka seorang lelaki mendatangi kuburan Nabi shallallahu 'alaihi wa
sallam, dan berkata, "Wahai Rasulullah, mohonlah kepada Allah untuk menurunkan hujan pada
umatmu, karena sesungguhnya mereka telah binasa", kemudian orang tersebut bermimpi dan
dikatakan kepadanya: "Pergilah ke Umar......"
(Disebutkan oleh Al Hafizh Ibnu Hajar dalam Fathul Baari 2/397. Al Allamah Al Albani berkata dalam At Tawassul hal. 131, Atsar ini dha'if dikarenakan Malik Ad Daar itu majhul).

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata (Qo'idah Jalilah fit Tawassul wal Wasilah hal. 19-20), "Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dan para nabi sebelum beliau tidak pernah mensyariatkan untuk berdoa kepada malaikat, para nabi, dan orang shalih serta meminta syafaat dengan perantaraan mereka, baik setelah kematian mereka dan juga tatkala mereka gaib (yakni mereka tidak berada di hadapan kita walaupun masih hidup -pent). Maka seseorang tidak boleh mengatakan, "Wahai malaikat Allah syafa'atilah aku di sisi Allah, mintalah kepada Allah agar menolong kami dan memberi rezeki kepada kami atau menunjuki kami." Dan demikian pula tidak boleh dia mengatakan kepada para nabi dan orang shalih yang telah mati, "Wahai nabi Allah, wahai wali Allah, berdoalah kepada Allah untukku, mintalah kepada Allah agar memaafkanku." Juga seseorang tidak boleh mengucapkan, "Aku adukan kepadamu dosa-dosaku atau kekurangan rezekiku atau penguasaan musuh atasku atau aku adukan kepadamu si Fulan yang telah menzhalimiku." Tidak boleh pula dia mengatakan, "Aku adalah tamumu, aku adalah tetanggamu, atau engkau melindungi setiap orang yang meminta perlindungan padamu."

Seseorang tidak boleh menulis (hajatnya -pent) pada lembaran kertas kemudian
menggantungkannya di sisi kuburan, tidak boleh bagi seseorang menulis di selembar kertas
bahwa dia meminta perlindungan kepada si Fulan, kemudian membawa tulisan tersebut ke orang
yang melakukannya dan begitu pula amalan-amalan semisal itu yang dilakukan ahli bid'ah dari
kalangan ahlil kitab dan kaum muslimin, seperti yang dilakukan orang Nasrani di dalam gereja mereka dan seperti yang dilakukan ahlu bid'ah di sisi kuburan para nabi dan orang salih.

Inilah perkara-perkara yang diketahui secara pasti merupakan bagian dari agama Islam, dan dengan penukilan yang mutawatir dan ijma' kaum muslimin bahwa nabi shallallahu 'alaihi wa
sallam tidak pernah mensyariatkan hal ini kepada umatnya, dan demikian pula para nabi sebelum beliau tidak pernah mensyariatkan sedikit pun dari hal tersebut. Tidak seorang pun dari sahabat nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik melakukan hal itu, dan tidak seorang pun dari para imam kaum muslimin yang menganjurkan hal tersebut, baik keempat imam mazhab dan (para imam) selain mereka. Tidak seorang pun dari mereka yang menyebutkan bahwa dianjurkan bagi seseorang dalam manasik hajinya untuk meminta kepada nabi shallallahu 'alaihi wa sallam di sisi kuburan beliau agar mensyafa'atinya atau mendoakan umatnya atau mengadu kepada beliau tentang musibah dunia dan agama yang menimpa umatnya.

Para sahabat nabi shallallahu 'alaihi wa sallam pernah ditimpa berbagai macam musibah setelah beliau wafat, terkadang dengan kemarau yang panjang, terkadang dengan kekurangan rezeki, ketakutan dan kuatnya musuh dan terkadang dengan dosa dan kemaksiatan. Tidak seorang pun dari mereka mendatangi kuburan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, tidak juga kuburan Al Khalil dan para nabi kemudian berkata, "Kami mengadu kepadamu (atas) kemarau pada saat ini, atau kuatnya musuh." agar beliau menolong mereka atau mengampuni mereka. Bahkan hal ini dan yang serupa dengannya merupakan perkara bid'ah yang diada-adakan yang tidak pernah dianjurkan oleh para imam kaum muslimin. Dan hal tersebut bukanlah suatu kewajiban dan bukan pula suatu perkara yang dianjurkan menurut ijma' kaum muslimin.


Atsar Kedua


عن أبي الجوزاء أوس بن عبد ال, قال: فحط أهل المدينة قحطا شديدا, فشكو إلى عائشة, فقالت:
انظروا إلى قبر النبي صلى الله عليه و سلم فاجعلوا منه كوا إلى السماء, حتى ل يكون بينه و بين
السماء سقف. قالوا : فافعلوا, فمطرنا مطرا حتى نبت العشب, و سمنت البل, حتى تفتقت من الشحم,
فسمى عام الفتق

Dari Abul Jauza' Aus bin Abdillah, dia berkata, "Penduduk Madinah pernah mengalami kemarau
yang sangat dahsyat, kemudian mereka mengadu kepada Aisyah, maka dia berkata: "Pergilah ke
kubur nabi shallallahu 'alaihi wa sallam kemudian buatlah lubang yang menghadap ke langit
sehingga antara kubur dan langit tidak terhalang oleh atap." Mereka berkata, "Mari kita
melakukannya." Maka hujan lebat mengguyur kami, sehingga rumput tumbuh lebat dan untaunta
menjadi gemuk dan menghasilkan lemak. Maka saat itu disebut Tahun Limpahan."
(Dikeluarkan oleh Ad Darimi (1/56) nomor 92. Al Allamah Al Albani berkata dalam At Tawassul hal 139: "Dan (atsar) ini sanad(nya) dha'if tidak dapat digunakan sebagai hujjah dikarenakan tiga alasan..." kemudian beliau menyebutkan alasan tersebut, maka merujuklah kesana).

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata (Lihat Ar Radd alal Bakri hal 68-74), "Dan riwayat dari Aisyah radhiallahu anha tentang membuka lubang kuburan Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam ke arah langit agar hujan turun tidak shahih dan tidak sah sanadnya. Di antara yang menjelaskan kedustaan atsar ini adalah bahwa selama Aisyah hidup rumah tersebut tidak memiliki lubang, bahkan keadaannya tetap seperti pada masa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, yakni sebagiannya diberi atap dan sebagian yang lain terbuka, sehingga sinar matahari masuk ke dalam rumah, sebagaimana riwayat yang ada dalam Shahihain dari Aisyah bahwasanya Nabi shallallahu alaihi wa sallam sedang melakukan shalat Ashar dan sinar matahari masuk ke kamar beliau, sehingga tidak nampak bayangan
(Dikeluarkan oleh Bukhari nomor 521 dan Muslim nomor 611).

Kamar tersebut tidak berubah hingga Walid bin Abdil Malik menambahkan kamar-kamar itu di
masjid Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, sejak saat itu kamar Nabi masuk ke dalam masjid. Kemudian di sekitar kamar Aisyah -yang di dalamnya terletak kuburan Nabi shallallahu alaihi wa sallam- dibangun tembok yang tinggi, dan sesudah itu dibuatlah lubang sebagai jalan bagi orang yang turun apabila ingin membersihkan."

Adapun adanya lubang saat Aisyah hidup, maka itu adalah kedustaan yang nyata. Seandainya
benar, maka hal itu akan menjadi hujjah dan dalil bahwa orang-orang tersebut tidaklah berdoa kepada Allah dengan perantaraan makhluk, tidak bertawassul dengan mayat di dalam doa
mereka, serta mereka tidak pula memohon kepada Allah dengan (perantaraan) orang yang sudah
mati. Mereka hanyalah membukanya agar rahmat diturunkan kepadanya, dan di sana tidak
terdapat doa memohon kepada Allah dengan perantaraannya (kubur atau mayat yang ada di
kubur tersebut, yakni Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam -pent).

Bandingkan betapa beda 2 hal tersebut? Sesungguhnya makhluk hanya bisa memberikan manfaat
kepada orang lain melalui doa dan amal shalihnya, oleh karenanya Allah senang jika seseorang bertawasul kepada-Nya dengan iman, amal shalih, shalawat dan salam kepada Nabi-Nya shallallahu alaihi wa sallam, serta mencintai, menaati dan setia kepada beliau. Maka inilah perkara-perkara yang dicintai Allah agar kita bertawasul kepada-Nya dengan perkara-perkara tersebut.


Atsar Ketiga


عن علي بن ميمون, قال: سمعت الشفعي يقول: إني لتبرك بأبي حنيفة, و أجيء إلى قبره في كل يوم-
يعني زائرا- فإذا عرضت لي حاجة صليت ركعتين, و جئت إلى قبره, وسألت ال تعالى الحاجة عنده,
فما تبعده عني حتى تقضى

Dari Ali bin Maimun, dia berkata, Aku mendengar Asy Syafi'i (Imam Syafi'i -pent) berkata,
"Sungguh aku akan bertabarruk dengan Abu Hanifah, dan aku mendatangi kuburnya di setiap hari -yakni beliau berziarah ke kuburnya-. Maka jika aku memiliki hajat, aku melakukan shalat dua raka'at dan aku mendatangi kuburannya kemudian aku memohon kepada Allah ta'ala agar mengabulkan hajatku di samping kuburannya, dan tak lama berselang hajatku pun terkabul."
Hikayat ini diriwayatkan oleh Al Khatib Al Baghdadi dalam Tarikh Baghdad (1/123) dari jalur Umar bin Ishaq bin Ibrahim, dia berkata: "Ali bin Maimun memberitakan kepada kami, dia berkata, 'Aku mendengar Asy Syafi'i mengatakan hal itu.'" (yakni riwayat di atas -pent).

Al 'Allamah Al Albani berkata dalam Silsilah Ahadits Adhdha'ifah wa Al Maudhu'at 1/31: "Riwayat ini dha'if bahkan (riwayat yang) bathil."

Ibnul Qoyyim berkata dalam Ighatsatul Lahfan 1/246, "Hikayat yang dinukil dari Imam Syafi'i
-bahwa beliau berdoa di samping kuburan Abu Hanifah- merupakan suatu kedustaan yang nyata."

Al 'Allamah Al Muhaddits Al Albani berkata dalam Silsilah Ahadits Adhdha'ifah wa Al Maudhu'at (1/31) hadits nomor 22, "Riwayat ini dha'if (lemah), bahkan bathil. Karena sesungguhnya Umar bin Ishaq bin Ibrahim tidak dikenal, dan tidak pernah disebut dalam kitab-kitab yang membahas tentang perawi hadits sedikit pun. Jika yang dimaksud Umar bin Ishaq adalah Amru bin Ishaq bin Ibrahim bin Hamid As Sakan Abu Muhammad At Tunisi, maka Al Khatib telah menyebutkan biografinya dan menyebutkan bahwasanya dia adalah penduduk Bukhara yang mendatangi Baghdad tahun 341 Hijriah dalam rangka hendak berhaji, dan beliau (Al Khatib) tidak menyebutkan jarh (celaan) dan ta'dil (rekomendasi) atas orang ini dalam kitabnya, maka orang ini statusnya majhul hal. Mustahil jika yang dimaksudkan adalah orang ini, karena Syaikhnya yakni Ali bin Maimun wafat pada tahun 247 Hijriah -berdasarkan pendapat yang paling jauh-, sehingga kematian keduanya berjarak sekitar 100 tahun, maka mustahil dia menjumpai Syaikhnya tersebut. Kesimpulannya, riwayat ini dha'if dan tidak ada bukti yang menunjukkan keshahihannya."


Penutup


Setelah engkau mengetahui sejumlah hadits, atsar dan kisah yang dha'if, palsu dan dusta tentang tawassul bid'ah yang dilakukan oleh ahlul bid'ah dan orang sesat. Maka waspadalah wahai kaum muslimin dan jangan terperdaya oleh kebohongan-kebohongan semacam ini! Bertawakallah kepada Zat Yang Maha Hidup dan tidak mati, sesungguhnya Dia berfirman,

وَمَن يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ

"Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya."
(QS. Ath Thalaq: 3)

Janganlah engkau menyeru dan berlindung melainkan kepada Allah semata.
Janganlah engkau meminta bantuan dan pertolongan melainkan kepada Allah semata.
Janganlah engkau beribadah (berdoa) kepada sesuatu pun di samping beribadah (berdoa) kepada
Allah.

Saudaraku, jika engkau meminta, mintalah kepada Allah. Jika engkau meminta pertolongan,
minta tolonglah kepada Allah. Ketahuilah, sekiranya seluruh umat berkumpul untuk memberi
manfaat atau mudharat kepadamu, maka mereka tidak dapat memberi manfaat dan mudharat
kepadamu, melainkan yang telah Allah tetapkan untuk dirimu.

Mohonlah kepada Allah untuk memberikan taufik kepadamu dan menjaga hatimu agar engkau
termasuk orang-orang yang bertawassul kepada-Nya dengan tawassul yang syar'i bukan dengan
tawassul yang bid'ah. Dan mohonlah kepada Allah ta'ala untuk mengampuni dosa-dosamu dan
menyelamatkanmu dari azab api neraka yang merupakan seburuk-buruk tempat kembali. Hanya
Allah-lah Pemberi Taufik dan Penunjuk kepada jalan yang lurus.

Dikumpulkan dan disusun:
Abu Humaid Abdullah ibn Humaid Al Falasi
Semoga Allah memaafkan dan mengampuninya, orang tuanya dan seluruh kaum muslimin dan
muslimat.


Maraji':


1. At Tawassul Anwa'uhu wa Ahkamuhu karya Syaikh Al Muhaddits Muhammad Nashiruddin Al
Albani rahimahullah-dengan diringkas.

2. At Tawassul Hukmuhu wa Aqsamuhu-dikumpulkan dan disusun oleh Abu Anas Ali ibn
Husain Abu Luz-dengan diringkas.

3. Muqaddimah diambil dari tulisan yang disebarluaskan di situs internet.

***

Tingkat pembahasan: Dasar
Oleh: Abu Humaid Abdullah ibnu Humaid Al Fallasi
Diterjemahkan secara bebas oleh: Abu Umair Muhammad Al Makasari (Alumni Ma'had Ilmi)
Murajaah: Ust. Aris Munandar

Tuesday, December 13, 2011

MENGGANGGU ORANG YANG SEDANG SOLAT Dengan Sejadah Bergambar Dan Gambar-Gambar Yang Seumpamanya



عَنْ عَائِشَةَ أَنَّ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَّى فِيْ حَمِيْصَةٍ لَهَا أَعْلَامٌ فَقَالَ : شَغَلَتْنِيْ أَعْلَامُ هَذِهِ . إِذْهَبُوْا بِهَا إِلَى أَبِيْ جَهْمٍ وَأْتُوْنِيْ بِأَنْبِجَانِيَّتِهِ

Dari ‘A-isyah, bahawa Nabi sollAllohu 'alaihi wa sallam bersolat dengan mengenakan hamisoh (1) (حَمِيْصَة), kemudian sabdanya :

“Gambar-gambar ini mengganggu perhatianku, kembalikanlah pakaian ini kepada kepada Abu Jahmin dan tukarkanlah dengan anbijaniah (2) (أَنْبِجَانِيَّة) nya”.

Hadis Riwayat Al-Bukhori Dan Muslim.

Kitab Rujukan* : Fiqhus-Sunnah Jilid 1, Bab Melihat Sesuatu Yang Melalaikan.

(1) hamisoh (حَمِيْصَة) : pakaian dari bulu yang bergambar

(2) anbijaniyyah (أَنْبِجَانِيَّة) : pakaian bulu kasar yang tidak bergambar




عَنْ أَنَسٍ قَالَ كَانَ قِرَامٌ لِعَائِشَةَ قَدْ سَتَرَتْ بِهِ جَانِبَ بَيْتِهَا فَقَالَ لَهَا النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ : أَمِيْطِيْ عَنِّيْ قِرَامَكِ هَذَا. فَإِنَّهُ لَا تَزَالُ تَصَاوِيْرُهُ تَعْرِضُ لِيْ فِيْ صَلَاتِيْ

Dari Anas katanya : Adalah tabir milik 'A-isyah yang ia gunakan buat menutup tepi rumahnya, maka Nabi sollAllohu 'alaihi wa sallam bersabda kepadanya ('A-isyah) :

“Singkirkanlah tabirmu ini, kerana gambar-gambarnya sentiasa menggangguku dalam solatku”.

Hadis Riwayat Ahmad Dan Al-Bukhori.

Kitab Rujukan* : Bustanul Ahbar Mukhtashar Nailul-Author, Juz 2, Bab Makruh Pada Kiblat Masjid Apa Yang Melalaikan Orang Yang Sedang Solat.




وَ عَنْ عُثْمَانَ بْنِ طَلْحَةَ أَنَّ ألنَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ دَعَا بَعْدَ دُخُوْلِهِ الْكَعْبَةَ فَقَالَ : إِنِّيْ كُنْتُ رَأَيْتُ قَرْنَيِ الْكَبْشِ حِيْنَ دَخَلْتُ الْبَيْتَ فَنَسِيْتُ أَنْ آمُرَكَ أَنْ تُخَمِّرَ هُمَا فَإِنَّهُ لَا يَنْبَغِيْ أَنْ يَكُوْنَ فِيْ قِبْلَةِ الْبَيْتِ شَيْءٌ يُلْهِيْ الْمُصَلِّيَ

Dan dari “Usman Bin Tolhah, sesungguhnya Nabi solloAllohu 'alaihi wa aalihi wa sallam pernah memanggil sesudah dia masuk Ka’bah, lalu dia bersabda :

“Sesungguhnya aku melihat dua tanduk domba ketika aku masuk Ka’bah, tetapi aku lupa untuk menyuruhmu supaya menutupinya, kerana itu (sekarang) tutupilah kedua tanduk tersebut, sebab tidak patut pada qiblat / arah Ka’bah itu ada sesuatu yang dapat melalaikan orang yang sedang solat”.

Hadith Riwawat Ahmad Dan Abu Dawud.

Kitab Rujukan* : Bustanul Ahbar Mukhtashar Nailul-Author, Juz 2, Bab Makruh Pada Kiblat Masjid Apa Yang Melalaikan Orang Yang Sedang Solat.



HURAIAN ULAMAK


[1] Bisri Mustafa

KITAB RUJUKAN* : Sullamul-Afham Syarah Li Bulughul-Maram (بلوغ المرام) Juz 1

[1.1] Lukisan-lukisan dan sebagainya yang dapat mengganggu solat hukumnya makruh dipakai atau dipasang berhampiran tempat solat.

[1.2] Bahawa solat dengan menggunakan tikar atau sejadah yang berlukis atau bergambar itu makruh hukumnya.

[1.3] Bahawa melukis masjid dengan lukisan apa pun hukumnya makruh.

[1.4] Bahawa segala sesuatu yang dapat mengganggu kekhusyukan, sayugia dihilangkan.


[2] Faishal Bin Abdul Aziz Aal Mubarak

KITAB RUJUKAN* : Bustanul Ahbar Mukhtashar Nailul-Author Bab Makruh menghias mihrab dan lain-lain lagi yang biasa di hadapan orang yang sedang solat baik dengan cara diukir, dilukis atau lain-lain yang dapat mengganggu.


[3] Tuan Guru Nik Abdul Aziz Bin Nik Mat

AKHBAR RUJUKAN* : Harakah Bil. 276, Juma’at 28 Jun 1991

Hamparan warna-warni atau kain sejadah yang mempunyai ukiran berbunga serta gambar-gambar seperti yang terdapat pada kebanyakan sejadah yang digunakan di masjid-masjid atau surau-surau sekarang ini juga merupakan hal-hal sampingan yang boleh mendatangkan gangguan. Kebanyakan para pengusaha hamparan atau sejadah itu bukan dari golongan orang Islam, mereka membentuk ukiran atau gambar-gambar itu atas muslihat melariskan perniagaan.

Usahawan bukan Islam itu, sudah tentu jahil tentang perkara ibadah orang Islam, tetapi ada kalanya mereka menyelitkan unsur-unsur tertentu dalam barangan dagangan mereka sama ada berbentuk salib dan sebagainya munkin dengan maksud tertentu.

Walaupun mereka mengukirkan gambar-gambar masjid al-Aqsa, masjid Istambul, masjid Nabawi dan sebagainya seolah-olah ia menggambarkan seni reka Islam, tetapi segala ukiran itu boleh melalaikan apabila mata seseorang yang sedang solat itu merenung ke arah corak dan warna-warni yang terdapat pada sejadah itu.

Selain ia mengganggu kekhusyukan solat malah ia hanya akan mendatangkan kerugian kepada orang Islam yang membelinya kerana biasanya hamparan-hamparan seperti itu harganya tinggi. Sudah pasti ia merugikan kerana hamparan untuk mendirikan solat itu mamadai sekadar dengan kain putih yang murah sahaja.

Oleh yang demikian menggunakan hamparan kain putih tanpa warna lebih sesuai kerana setiap warna-warni yang terdapat pada hamparan yang sedang digunakan dalam solat itu akan mengundang hati dan ingatan seseorang terhadap warna dan ukiran tersebut.

PENYUSUN : Ibnu Hasan Al-Amin.

* Kitab atau sumber rujukan penyusun.

Tuesday, August 30, 2011

PUASA ENAM HARI DIBULAN SHAWWAL

Diriwayatkan oleh Jama’ah ahli hadis kecuali Al-Bukhari dan An-Nasai, dari Abu Aiyub Al-Ansari bahawa Nabi sollollohu 'alaihi wa sallam bersabda :

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًا مِنْ شَوَّالٍ فَكَأَنَمَا صَامَ الدَّهْرَ

“Sesiapa berpuasa Ramadhan lalu diiringinya dengan enam hari dibulan Shawwal, maka seolah-olah ia telah berpuasa sepanjang masa”.

Menurut Imam Ahmad puasa enam hari dibulan Syawwal ini dapat dilakukan berturut-turut atau tidak berturut-turut, dan tidak ada kelebihan yang satu dari yang lainnya. Sedang menurut golongan Hanafi dan golongan Syafi’i lebih utama melakukannya secara berturut-turut yaitu sesudah hari raya.


Rujukan :
Fiqhus Sunnah, Sayyid Sabiq, Bab Puasa Sunat (Tathawwu’ )