Sumber : http://abiubaidah.com/tahukah-anda-di-mana-allah.html/
Perjuangan gigih para ulama’ salaf dalam membela aqidah dari qoncangan faham-faham hitam Jahmiyyah sangatlah kuat, sehingga begitu banyak kitab para ulama yang berjudul “Ar-Radd ‘ala Jahmiyyah” (Bantahan Terhadap Jahmiyyah) seperti yang ditulis oleh Imam Ahmad bin Hanbal, Utsman bin Sa’id Ad-Darimi, Ibnu Mandah, Ibnu Baththah dan lain sebagainya.
Sungguh benar Imam Ibnu Qayyim rahimahullah yang telah berkata:
“Pertempuran antara ahli hadits dengan kelompok Jahmiyyah lebih dahsyat daripada pertempuran antara pasukan kafir dengan pasukan Islam”.[1]
Munculnya ide pembahasan ini karena merebaknya para pengibar bendera Jahmiyyah di negeri ini. Sebagai contoh, Dr. M. Quraish Shihab yang mengatakan dalam bukunya “Membumikan Al-Qur’an” hal. 371-372 cet. Al-Mizan[2], Bandung pada judul “Selamat Natal[3] Menurut Al-Qur’an!!!”:
“Nabi SAW[4] sering menguji pemahaman umat tentang Tuhan. Beliau tidak sekalipun bertanya “Di mana Tuhan?”. Tertolak riwayat yang menggunakan redaksi itu karena ia menimbulkan kesan keberadaan tuhan pada satu tempat, hal yang mustahil bagi-Nya dan mustahil pula diucapkan oleh Nabi SAW…”.
Pada pembahasan kali ini, sebagai pembelaan terhadap hadits Nabi صلى الله عليه و سلم dan penjagaan umat dari goncangan kerancuan aqidah, penulis melakukan penelitian terhadap salah satu hadits tentang masalah penting ini secara riwayah dan dirayah. Semoga Allah menjadikannya bermanfaat bagi kita semua. Amin.
.
A. TEKS HADITS
عَنْ مُعَاوِيَةَ بْنِ الْحَكَمِ السُّلَمِيِّ رضي الله عنه قَالَ: …وَكَانَتْ لِيْ جَارِيَةٌ تَرْعَى غَنَمًا لِيْ قِبَلَ أُحُدٍ وَالْجَوَّانِيَةِ فَاطَّلَعْتُ ذَاتَ يَوْمٍ, فَإِذَا بِالذِّئْبِ قَدْ ذَهَبَ بِشَاةٍ مِنْ غَنَمِهَا, وَأَنَا رَجُلٌ مِنْ بَنِيْ آدَمَ, آسَفُ كَمَا يَأْسَفُوْنَ, لَكِنِّيْ صَكَكْتُهَا صَكَّةً, فَأَتَيْتُ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه و سلم عليه و سلم فَعَظَّمَ ذَلِكَ عَلَيَّ, قُلْتُ: يَا رَسُوْلَ اللهِ, أَفَلاَ أُعْتِقُهَا؟ قَالَ: ائْتِنِيْ بِهَا, فَقَالَ لَهَا: أَيْنَ اللهُ؟ قَالَتْ: فِيْ السَّمَاءِ, قَالَ: مَنْ أَنَا؟ قَالَتْ: أَنْتَ رَسُوْلُ اللهِ, قَالَ: فَأَعْتِقْهَا فَإِنَّهَا مُؤْمِنَةٌ.
Dari Muawiyah bin Hakam As-Sulami -radhiyallahu ‘anhu- berkata: “…Saya memiliki seorang budak wanita yang bekerja sebagai pengembala kambing di gunung Uhud dan Al-Jawwaniyyah (tempat dekat gunung Uhud). Suatu saat saya pernah memergoki seekor serigala telah memakan seekor dombanya. Saya termasuk dari bani Adam, saya juga marah sebagaimana mereka juga marah, sehingga saya menamparnya, kemudian saya datang pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, ternyata beliau menganggap besar masalah itu. Saya berkata: “Wahai Rasulullah, apakah saya merdekakan budak itu?” Jawab beliau: “Bawalah budak itu padaku”. Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya: “Dimana Allah?” Jawab budak tersebut: “Di atas langit”. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya lagi: “Siapa saya?”. Jawab budak tersebut: “Engkau adalah Rasulullah”. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Merdekakanlah budak ini karena dia seorang wanita mukminah”.
a. Takhrij Hadits
Seluruh jalan hadits ini melewati dua jalur berikut:
Jalur Imam Malik bin Anas – Hilal bin Ali bin Abu Maimunah – Atha’ bin Yasar – Muawiyah bin Hakam As-Sulami.
Jalur Yahya bin Abi Katsir – Hilal bin Ali bin Abi Maimunah – Atha’ bin Yasar – Muawiyah bin Hakam As-Sulami.
Adapun perinciaan takhrij hadits ini sebagai berikut:
1. Jalur Imam Malik
Hal ini sebagaimana riwayat beliau sendiri dalam Al-Muwatha (2/772/no.8), Imam Syafi’i dalam Ar-Risalah (no. 242 -Tahqiq Syaikh Ahmad Syakir-), Nasa’i dalam Sunan Kubra sebagaimana dalam Tuhfatul Asyraf (8/427) oleh Al-Mizzi, Utsman bin Said Ad-Darimi dalam Ar-Radd ‘ala Jahmiyyah (no. 62), Ibnu Huzaimah dalam Kitab Tauhid (hal. 132 -Tahqiq Syaikh Khalil Haras-), Al-Baihaqi dalam Sunan Kubra (10/98/no. 19984), Al-Baghawi dalam Syarh Sunnah (9/246/no. 2365), Ibnu Abdil Barr dalam At-Tamhid (9/69-70) dan Al-Ashbahani dalam Al-Hujjah fi Bayanil Mahajjah (2/102/no. 57).
(Faedah)
Dalam sanad imam Malik tertulis “Umar bin Hakam” sebagai ganti dari “Mu’awiyah bin Hakam”. Para ulama’ menilai bahwa hal ini merupakan kesalahan imam Malik. Imam pembela sunnah, As-Syafi’i berkata -setelah meriwayatkan hadits ini dari imam Malik- : “Yang benar adalah Mua’wiyah bin Hakam sebagaimana diriwayatkan selain Malik dan saya menduga bahwa Malik tidak hafal namanya”.[5]
Imam Ibnu Abdil Barr berkata: “Demikianlah perkataan Malik dalam hadits ini dari Hilal dari Atha’ dari Umar bin Hakam. Para perawi darinya (Malik) tidak berselisih dalam hal itu. Tetapi hal ini termasuk kesalahan beliau (Malik) menurut seluruh ahli hadits karena tidak ada sahabat yang bernama Umar bin Hakam, yang ada adalah Mu’awiyah (bin Hakam). Demikianlah riwayat seluruh orang yang meriwayatkan hadits ini dari Hilal. Mua’wiyah bin Hakam termasuk dari kalangan sahabat yang terkenal dan hadits ini juga masyhur darinya. Diantara ulama’ yang menegaskan bahwa Malik keliru dalam hal itu adalah Al-Bazzar, At-Thahawi dan selainnya”.[6]
2. Jalur Yahya bin Abi Katsir
Sepanjang penelitian saya, ada empat orang yang meriwayatkan dari Yahya bin Abi Katsir. Berikut perinciannya:
Hajjaj bin Abu Utsman Ash-Shawwaf
Diriwayatkan imam Ahmad dalam Musnadnya (5/448), Al-Bukhari dalam Juz’ul Qira’ah (hal. 70), Abu Daud (no. 931 dan 3282), Nasa’i dalam Sunan Kubra sebagaimana dalam Tuhfatul Asyraf (8/427), Ibnu Khuzaimah dalam Kitab Tauhid (hal. 132), Al-Baghawi dalam Syarh Sunnah (3/237-239/no. 726) dan At-Thabrani dalam Al-Mu’jamul Kabir (19/398/no. 938) dari Yahya bin Sa’id Al-Qhoththon dari Hajjaj dengannya. Dan diriwayatkan Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Mushannaf (6/162/no.30333) dan al-Iman (84), Muslim dalam Shahihnya (no. 537), Ahmad (5/447), Abu Daud (no. 931), Ibnu Hibban (165), Utsman bin Sa’id Ad-Darimi dalam Ar-Radd ‘ala Jahmiyyah (no.61), Ibnu Abi Ashim dalam As-Sunnah (490) dan Ibnu Jarud dalam Al-Muntaqo (no.212 -Ghautsul Makdud oleh Al-Huwaini-) dari Ismail bin Ibrahim (bin ‘Ulayyah) dari Hajjaj dengannya. (Faedah)
Dalam kitab “Juz’ul Qira’ah” hal. 20 oleh imam Bukhari cet. Darul Kutub ‘Ilmiyyah tertulis begini Yahya bin Hilal ( حَدَّثَنَا يَحْيَ بْنُ هِلاَلٍ). Ini adalah keliru yang benar adalah Yahya ‘an (dari) Hilal (حَدَّثَنَا يَحْيَ عَنْ هِلاَلٍ). Yahya namanya adalah Yahya bin Abi Katsir dan Hilal namanya adalah Hilal bin Ali bin Abi Maimunah. Wallahu A’lam.
.
Al-Auza’i
Diriwayatkan Imam Muslim dalam Shahihnya (537), Abu Awanah dalam al-Mustkhraj (2/141), Nasa’i dalam Sunan Sughra (3/14-18/no.1216), Ibnu Khuzaimah dalam Kitab Tauhid (hal.121), At-Thabrani dalam Al-Mu’jamul Kabir (19/398/no.937), Al-Baihaqi dalam As-Sunan Kubra (10/98/19984) dan Al-Asma’ wa Sifat (2/326/890-891), ath-Thahawi dalam Syarh Musykil Atsar (13/367), Ibnu Abdil Barr dalam At-Tamhid (9/71) dan Al-Ashbahani dalam Al-Hujjah fi Bayanil Mahajjah (2/100/no. 69). .
Aban bin Yazid Al-Aththar
Diriwayatkan Abu Awanah dalam Al-Mustakhraj ‘ala Shahih Muslim (2/1141), At-Thoyyalisi dalam Musnadnya (1105), Ahmad dalam Musnadnya (5/448), Ibnu Abi Ashim dalam As-Sunnah (489), Utsman bin Sa’id Ad-Darimi dalam Ar-Radd ‘ala Jahmiyyah (no. 60) dan Naqdh Alal Marisy (122), At-Thabrani dalam Al-Mu’jamul Kabir (939), Al-Baihaqi dalam Al-Asma’ wa Sifat (2/326/890-891) dan Al-Lalikai dalam Syarh Ushul I’tiqad Ahli Sunnah (3/434-435/no. 652). .
Hammam bin Yahya
Diriwayatkan Ahmad bin Hanbal dalam Musnadnya (5/448). Hadits ini juga memiliki syawahid (penguat) dari sahabat Abu Hurairah, Abu Juhaifah, Ibnu Abbas, Ukkasyah Al-Ghanawi dan Abdur Rahman bin Hathib secara mursal.[7]
.
b. Komentar Para Ulama’ Ahli Hadits
Hadits ini disepakati keabsahannya oleh seluruh ulama’ kaum muslimin. Berikut sebagian komentar mereka:
1. Syaikh Muhammad Nasiruddin Al-Albani berkata: “Hadits ini disepakati keabsahannya oleh para ulama muslimin semenjak dahulu hingga sekarang dan dijadikan hujjah oleh imam-imam besar seperti Malik, Syafi’i, Ahmad dan lainnya. Dan dishahihkan oleh Muslim, Abu Awanah, Ibnu Jarud, Ibnu Huzaimah, Ibnu Hibban dan orang-orang yang mengikuti mereka dari para pakar dan sebagian mereka adalah para pentakwil seperti Al-Baihaqi, Al-Baghawi, Ibnul Jauzi, adz-Dzahabi, (Ibnu Hajar) Al-Asqalani dan lainnya. Lantas bagaimana pendapat seorang muslim yang berakal terhadap orang jahil dan sombong yang menyelishi para imam dan pakar tersebut, bahkan mencela lafadz Nabi n yang telah dishahihkan oleh para ulama tersebut?!!..”.[8]
2. Imam Al-Baihaqi berkata: “Hadits ini shahih, dikeluarkan Muslim”.[9]
3. Imam Al-Baghawi berkata: “Hadits ini shahih, dikeluarkan Muslim dari Abu Bakar bin Abi Syaibah dari Ismail bin Ibrahim dari Hajjaj”.[10]
4. Imam Al-Ashbahani berkata: “Dan sungguh telah shahih dari Nabi n bahwasanya beliau bertanya kepada seorang budak wanita yang akan dibebaskan oleh tuannya: Dimana Allah? Jawab budak tersebut: Di atas langit….”.[11]
5. Imam Ibnu Qudamah berkata: “Hadits ini shahih”.[12]
6. Imam Adh-Dzahabi berkata: “Hadits ini shahih, dikeluarkan Muslim, Abu Daud, Nasa’i dan imam-imam lainnya dalam kitab-kitab mereka dengan memperlakukannya sebagaimana datangnya tanpa ta’wil dan tahrif”.[13]
7. Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata: “Hadits shahih, diriwayatkan Muslim”.[14]
8. Al-Wazir al-Yamani berkata: “Hadits ini tsabit (shahih), diriwayatkan oleh Muslim dalam Shahihnya”.[15]
9. Imam Muhammad Nasiruddin Al-Albani berkata
وَهَذَا الْحَدِيْثُ صَحِيْحٌ بِلاَ رَيْبٍ لاَ يَشُكُّ فِيْ ذَلِكَ إِلاَّ جَاهِلٌ أَوْ مُغْرِضٌ مِنْ ذَوِيْ الأَهْوَاءِ الَّذِيْنَ كُلَّمَا جَاءَهُمْ نَصٌّ عَنْ رَسُوْلِ اللهِ يُخَالِفُ مَاهُمْ عَلَيْهِ مِنَ الضَّلاَلِ حَاوَلُوا الْخَلاَصَ مِنْهُ بِتَأْوِيْلِهِ بَلْ تَعْطِيْلِهِ, فَإِنْ لَمْ يُمْكِنْهُمْ ذَلِكَ حَاوَلُوْا الطَّعْنَ فِيْ ثُبُوْتِهِ كَهَذَا الْحَدِيْثِ فَإِنَّهُ مَعَ صِحَّةِ إِسْنَادِهِ وَتَصْحِيْحِ أَئِمَّةِ الْحَدِيْثِ إِيَّاهُ دُوْنَ خِلاَفٍ بَيْنَهُمْ فِيْمَا أَعْلَمُهُ
“Hadits ini shahih dengan tiada keraguan. Tidak ada yang meragukan hal itu kecuali orang jahil atau pengekor hawa nafsu yang setiapkali datang pada mereka dalil dari Rasulullah n yang menyelisihi keyakinan sesat mereka, maka mereka langsung berusaha membebaskan diri darinya dengan mentakwil, bahkan meniadakannya. Dan apabila mereka tidak mampu, maka mereka berupaya untuk mementahkan keabsahannya seperti hadits ini yang shahih sanadnya serta dishahihkan oleh seluruh ulama’ ahli hadits tanpa ada perselisihan pendapat di kalangan mereka sepanjang pengetahuan saya”.[16]
Setelah takhrij dan komentar para ulama ahli hadits diatas[17], kita dapat mengetahui bagaimana kadar ilmu DR. Quraish Syihab!! -semoga Allah memberinya hidayah- tentang ilmu hadits. Ataukah memang dia sengaja berusaha untuk menyebarkan racun pemikirannya kepada orang-orang awam?!. Tidak..Tidak …Demi Allah, pasti akan ada pejuang kebenaran yang akan menepis kerancuan fahamnya. لاَ تَزَالُ طاَئِفَةٌ مِنْ أُمَّتِيْ ظَاهِرِيْنَ عَلَى الْحَقِّ لاَ يَضُرُّهُمْ مَنْ خَذَلَهُمْ حَتَّى يَأْتِيَ أَمْرُاللهِ
Akan senantiasa ada segolongan dari umatku yang tegak diatas Al-Haq, orang yang melecehkan mereka tidak akan membahayakan mereka sehingga datang hari kiamat[18].
(Faedah)
Lafadz fi (فِيْ) dalam hadits bermakna ‘ala (عَلَى) yakni diatas, bukan bermakna zharaf (di dalam) sebagaimana dijelaskan oleh para ulama seperti Ibnu Abdil Barr[19] dan Al-Baihaqi[20]. Hal ini semakna dengan firman Allah:
ءَأَمِنتُم مَّن فِي السَّمَآءِ أَن يَخْسِفَ بِكُمُ اْلأَرْضَ فَإِذَا هِيَ تَمُورُ
Apakah kamu merasa aman terhadap Yang di langit bahwa Dia akan menjungkir balikkan bumi bersama kamu, sehingga dengan tiba-tiba bumi itu bergoncang?. (QS. Al-Mulk: 16).
قُلْ سِيرُوا فِي اْلأَرْضِ ثُمَّ انْظُرُوا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُكَذِّبِينَ
Katakanlah: “Berjalanlah di atas muka bumi, kemudian perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan itu”. (QS. Al-An’aam: 11).
Demikian juga semakna dengan hadits:
الرَّاحِمُوْنَ يَرْحَمُهُمُ الرَّحْمَنُ تَبَارَكَ وَتعَالَى, ارْحَمُوْا مَنْ فِيْ الأَرْضِ يَرْحَمْكُمْ مَنْ فِيْ السَّمَاءِ
Orang-orang yang pengasih akan dikasihi oleh Yang Maha Pengasih. Kasihilah (makhluk) yang di atas bumi, niscaya Yang di atas langit akan mengasihi kalian[21].
Demikianlah penafsiran Ahlu Sunnah wal Jama’ah yang beriman dengan dalil-dalil Al-Qur’an dan hadits mutawatir yang menetapkan Allah di atas langit. Tidak ada penafsiran yang benar selain ini.[22]
.
B. FIKIH HADITS
Hadits ini memiliki beberapa faedah yang sangat banyak sekali, namun agar tidak terlalu panjang, maka kita cukupkan dua faedah saja yaitu:
b.1. Disyariatkannya pertanyaan: Di mana Allah?
Imam Ad-Dzahabi berkata: فَفِيْ الْخَبَرِ مَسْأَلَتَانِ:
إِحْدَاهُمَا: مَشْرُوْعِيَّةُ قَوْلِ الْمُسْلِمِ أَيْنَ اللهُ؟
وَثَانِيْهَا: قَوْلُ الْمَسْؤُوْلِ: فِيْ السَّمَاءِ. فَمَنْ أَنْكَرَ هَاتَيْنِ الْمَسْأَلَتَيْنِ فَإِنَّمَا يُنْكِرُ عَلَى الْمُصْطَفَى n
Dalam hadits ini terdapat dua masalah:
Pertama: Disyari’atkannya pertanyaan seorang muslim; Dimana Allah?
Kedua: Jawaban orang yang ditanya: Di atas langit. Barangsiapa yang mengingkari dua masalah ini, maka berarti dia mengingkari Nabi”[23].
Syariat pertanyaan “Dimana Allah?” ini dikuatkan oleh hadits dan atsar sebagai berikut:
a. Hadits عَنْ أَبِيْ رَزِيْنٍ قَالَ : قُلْتُ : يَا رَسُوْلَ اللهِ ! أَيْنَ كَانَ رَبُّنَا قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ خَلْقَهُ؟ قَالَ :كَانَ فِيْ عَمَاءٍ مَا تَحْتَهُ هَوَاءٌ وَمَا فَوْقَهُ هَوَاءٌ وَمَا ثَمَّ خَلْقٌ, عَرْشُهُ عَلَى الْمَاءِ
Dari Abu Razin berkata: Saya pernah bertanya: Ya Rasulullah, dimana Allah sebelum menciptakan makhlukNya? Nabi menjawab: Dia berada di atas awan, tidak ada udara di bawahnya maupun di atasnya, tidak makhluk di sana, dan ArsNya di atas air”. [24]
b. Atsar Dari Zaid bin Aslam bercerita: “Ibnu Umar pernah melewati seorang pengembala kambing lalu berkata: Hai pengembala kambing, adakah kambing yang layak untuk disembelih? Jawab si pengembala tersebut: “Tuan saya tidak ada di sini”. Ibnu Umar mengatakan: “Bilang saja sama tuanmu bahwa kambingnya dimakan oleh serigala! Pengembala itu lalu mengangkat kepalanya ke langit seraya mengatakan: “Lalu dimana Allah?”! Ibnu Umar berkata: Demi Allah, sebenarnya saya yang lebih berhak mengatakan: Dimana Allah? Kemudian beliau membeli pengembala serta kambingnya, membebaskannya dan memberinya kambing[25].
Abdul Ghoni al-Maqdisi berkata mengomentari hadits ini: “Siapakah yang lebih jahil dan rusak akalnya serta tersesat jalannya melebihi seorang yang mengatakan bahwa tidak boleh bertanya di mana Allah setalah ketegasan pembuat syari’at dengan perkataannya dimana Allah?!”.[26] Imam Ibnu Qoyyim juga berkata: “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bertanya: “Di mana Allah?” Lalu dijawab oleh yang ditanya bahwa Allah berada di atas langit. Nabi n pun kemudian ridha akan jawabannya dan mengetahui bahwa itulah hakekat iman kepada Allah dan beliau juga tidak mengingkari pertanyaan ini atasnya. Adapun kelompok Jahmiyyah, mereka menganggap bahwa pertanyaan “Dimana Allah?” seperti halnya pertanyaan: Apa warnanya, apa rasanya, apa jenisnya dan apa asalnya dan lain sebagainnya dari pertanyaan yang mustahil dan batil!”.[27] Syaikh Al-Allamah Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz mengatakan: “Pendapat yang benar menurut ahli sunnah adalah mensifati Allah dengan sifat uluw (tinggi) yaitu diatas arsy berdasarkan dalil-dalil Al-Qur’an dan hadits dan boleh juga menurut ahlu sunnah bertanya: “Dimana Allah” sebagaimana dalam Shahih Muslim Nabi shallallahu a’laihi wa sallam bertanya kepada budak perempuan: “Dimana Allah?” Jawabnya: “Di atas langit”.[28] Syaikh Al-Muhaddits Muhammad Nasiruddin Al-Albani juga berkata: “Hadits ini merupakan cemeti dahsyat bagi orang-orang yang meniadakan sifat-sifat Allah, karena hampir saja engkau tidak bertanya kepada seorang diantara mereka dengan pertanyaan di mana Allah? Kecuali mereka langsung mengingkarimu! Si miskin (jahil) ini tidak tahu bahwa sebenarnya dia telah mengingkari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Semoga Allah melindungi kita semua dari ilmu kalam (filsafat)”.[29] Abu Ubaidah -semoga Allah menambahkan ilmu baginya- berkata: “Perhatikanlah perkataan para ulama’ di atas lalu bandingkan dengan ucapan mayoritas para tokoh agama zaman sekarang yang jauh lebih jahil daripada budak wanita diatas, dimana mereka mengatakan: “Allah ada dimana-dimana” bahkan mengatakan: Pertanyaan “Dimana Allah” itu adalah bid’ah. Ironisnya, aqidah sesat bin menyesatkan ini ditanamkan kepada anak-anak dan murid-murid yang lugu, tak mengerti apa-apa. Saya masih teringat pada bulan Ramadhan 1423H, saya pernah diundang untuk sebagai pemateri di sebuah sekolah Islam. Ketika saya lontarkan sebuah pertanyaan sederhana “Dimana Allah?” ini kepada mereka, ternyata tak seorang siswa maupun siswi-pun yang dapat menjawab secara benar bahkan seorang diantara mereka mengatakan: “Kata pak guru, bertanya seperti itu enggak boleh!!!”. Wallahul Musta’an. b.2. Allah berada di atas langit
Imam Utsman ad-Darimi berkata: “Dalam hadits ini terdapat dalil bahwa seorang apabila tidak mengetahui kalau Allah itu di atas langit bukan di bumi maka dia bukan seorang mukmin. Apakah anda tidak tahu bahwa Nabi menjadikan tanda keimanannya adalah pengetahuannya bahwa Allah di atas langit?!! Dan dalam pertanyaan Nabi “Di mana Allah “ terdapat bantahan ucapan sebagian kalangan yang mengatakan bahwa Allah berada di setiap tempat, tidak disifati dengan “di mana”, sebab sesuatu yang ada di mana-mana tidak mungkin disifati “dimana”. Seandainya Allah ada dimana-mana sebagaimana anggapan para penyimpang, tentu Nabi akan mengingkari jawabannya…”.[30] Memang sederhana soalnya, tapi sungguh aneh bin ajaib jawabannya. Bagaimana tidak? Seandainya Anda mau berkeliling Indonesia mengajukan satu pertanyaan sederhana ini, niscaya Anda akan mendengarkan berbagai macam jawaban yang beraneka ragam; Alloh ada di mana-mana… Alloh tidak di atas tidak di bawah… Alloh tidak di kanan tidak di kiri… Alloh ada di hatiku… dan sederet jawaban lainnya. Ironisnya, mayoritas dari para penjawab yang konyol itu adalah orang-orang yang notabene intelektual, ulama, kyai, atau kaum terpelajar. Bagaimanakah sebenarnya masalah ini? Mari kita ikuti ulasan berikut ini. .
C. Dalil-Dalil Bahwa Allah di Atas Arsy
Sungguh tidak syak (ragu) lagi terutama bagi orang yang mau membaca ayat-ayat al-Qur’an dan hadits-hadits Nabi n/ serta kitab-kitab ulama kita bahwa Alloh berada di atas ‘arsy (singgasana)-Nya di atas langit. Berikut ini dalil-dalilnya.
c.1. Dalil dari al-Qur’an
Banyak sekali dalil-dalil al-Qur’an yang menunjukkan ketinggian Alloh dengan beberapa versi:
a. Kadang dengan lafazh ‘ali (tinggi) dan istiwa’ (bersemayam) di atas ‘arsy. Seperti firman Alloh:
وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيْمُ
Dan Alloh Maha Tinggi lagi Maha Besar. (QS. al-Baqarah: 255)
الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى
Ar-Rahman (Yang Maha Pemurah) bersemayam di atas ‘arsy. (QS. Thaha: 5)
b. Kadang juga dengan naiknya sesuatu kepada-Nya. Seperti firman Alloh:
إِلَيْهِ يَصْعَدُ الْكَلِمُ الطَّيِّبُ وَالْعَمَلُ الصَّالِحُ يَرْفَعُهُ
Kepada-Nyalah naik perkataan yang baik, dan amal shalih dinaikkan-Nya. (QS. Fathir: 10)
تَعْرُجُ الْمَلاَئِكَةُ وَالرُّوْحُ إِلَيْهِ
Malaikat-malaikat dan Jibril naik kepada-Nya. (QS. al-Ma’arij: 4)
c. Kadang lagi dengan turunnya sesuatu dari-Nya. Seperti firman Alloh:
قُلْ نَزَّلَهُ رُوحُ الْقُدُسِ مِن رَّبِّكَ بِالْحَقِّ
Katakanlah Ruh Qudus (Jibril) menurunkan al-Qur’an dari Rabbmu dengan benar. (QS. an-Nahl: 102)
.
c.2. Dalil dari as-Sunnah
Ketinggian Alloh di atas langit juga ditegaskan dalam banyak sekali hadits Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan beberapa versi, baik berupa perkataan, perbuatan, dan taqrir (persetujuan). Seperti sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:
إِنَّ اللهَ لَمَّا قَضَى الْخَلْقَ كَتَبَ عِنْدَهُ فَوْقَ عَرْشِهِ إِنَّ رَحْمَتِيْ سَبَقَتْ غَضَبِيْ
Sesungguhnya Alloh tatkala menetapkan penciptaan, Dia menulis di sisi-Nya di atas ‘arsy: “Rahmat-Ku mengalahkan kemarahan-Ku.” [31]
Dan juga sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:
أَلاَ تَأْمَنُوْنِيْ وَأَنَا أَمِيْنُ مَنْ فيِ السَّمَاءِ
Tidakkah kalian mempercayaiku padahal aku dipercaya oleh Dzat yang di atas langit. [32]
Dan telah tetap pula bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengangkat tangannya ke atas langit pada saat khutbah di Arafah ketika mereka mengatakan, “Kami bersaksi bahwa engkau telah menyampaikan dan menunaikan serta menasehati.” Di saat itu beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Ya Alloh saksikanlah.”[33]
.
c.3. Ijma’ (Kesepakatan) Para Ulama
Para sahabat, para tabi’in, serta para imam-imam kaum muslimin telah bersepakat akan ketinggian Alloh di atas langit-Nya, bersemayam di atas ‘arsy-Nya. Perkataan mereka sangatlah banyak dan masyhur, Di antaranya:
1. Imam al-Auza’i berkata, “Kami dan seluruh tabi’in bersepakat mengatakan, Alloh berada di atas ‘arsy-Nya. Dan kami semua mengimani sifat-sifat yang dijelaskan dalam as-Sunnah.”[34]
2. Imam Abdullah Ibnu Mubarak berkata, “Kami mengetahui Rabb kami, Dia bersemayam di atas ‘arsy berpisah dari makhluk-Nya. Dan kami tidak mengatakan sebagaimana kaum Jahmiyah yang mengatakan bahwa Alloh ada di sini (beliau menunjuk ke bumi).” [35]
3. I’tiqad salafiyah ini merupakan syi’ar salafiyun, ahlus sunnah wal jama’ah sejak dahulu hingga sekarang, bahkan di antaranya adalah Imam Syafi’i, Abul Hasan al-Asy’ari, Syaikh Abdul Qadir al-Jailani, dan lain-lain. Tidak ada seorang pun dari ulama terdahulu yang mengatakan bahwa Alloh ada di mana-mana, tidak di atas tidak di bawah, dan tidak seorang pun menganggap tabu pertanyaan “Di mana Alloh”!!
1. Imam Syafi’i berkata:
الْقَوْلُ فِيْ السُّنَّةِ الَّتِيْ أَنَا عَلَيْهَا وَرَأَيْتُ عَلَيْهَا الَّذِيْنَ رَأَيْتُهُمْ مِثْلُ سُفْيَانَ وَمَالِكٍ وَغَيْرِهِمَا الإِقْرَارُ بِشَهَادَةِ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ وَأَنَّ اللهَ عَلَى عَرْشِهِ فِيْ سَمَائِهِ …
Aqidah yang saya yakini dan diyaikini oleh orang-orang yang pernah aku temui seperti Sufyan, Malik dan selainnya adalah menetapkan syahadat bahwa tidaka ada sesembahan yang berhak kecuali Allah dan Muhammad adalah Rasulullah dan bahwasanya Allah di atas arsy-Nya yakni di atas langitnya. (Adab Syafi’I wa Manaqibuhu Ibnu Abi Hatim hal. 93)
2. Imam Abul Hasan Al-Asy’ari berkata dalam Al-Ibanah fi Ushul Diyanah hal. 17 menceritakan aqidahnya:
وَأَنَّ اللهَ عَلَى عَرْشِهِ كَمَا قَالَ ( الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى )
Dan bahwasanya Allah di atas arsy-Nya sebagaimana firman-Nya: “Ar-Rahman tinggi di atas arsy”.
Pada hal. 69-76, beliau memaparkan dalil-dalil yang banyak sekali tentang keberadaan Allah di atas arsy. Di antara perkataan beliau:
وَرَأَيْنَا الْمُسْلِمِيْنَ جَمِيْعًا يَرْفَعُوْنَ أَيْدِيَهُمْ -إِذَا دَعَوْا- نَحْوَ السَّمَاءِ لِأَنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ مُسْتَوٍ عَلَى الْعَرْشِ الَّذِيْ هُوَ فَوْقَ السَّمَاوَاتِ, فَلَوْلاَ أَنَّ اللهَ عَلَى الْعَرْشِ لَمْ يَرْفَعُوْا أَيْدِيَهُمْ نَحْوَ الْعَرْشِ
Dan kita melihat seluruh kaum muslimin apabila mereka berdo’a, mereka mengangkat tangannya ke arah langit, karena memang Allah tinggi di atas arsy dan arsy di atas langit. Seandainya Allah tidak berada di atas arsy, tentu mereka tidak akan mengangkat tangannya ke arah arsy.
وَزَعَمَتِ الْمُعْتَزِلَةُ وَالْحَرُوْرِيَّةُ وَالْجَهْمِيَّةُ أَنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ فِيْ كُلِّ مَكَانٍ, فَلَزِمَهُمْ أَنَّهُ فِيْ بَطْنِ مَرْيَمَ وَفِيْ الْحُشُوْشِ وَالأَخْلِيَةِ, وَهَذَا خِلاَفُ الدِّيْنِ, تَعَالَى اللهُ عَنْ قَوْلِهِمْ
Dan kaum Mu’tazilah, Haruriyyah dan Jahmiyyah beranggapan bahwa Allah berada di setiap tempat. Hal ini melazimkan mereka bahwa Allah berada di perut Maryam, tempat sampah dan WC. Faham ini menyelisihi agama. Maha suci Allah dari ucapan mereka.
Oleh karenanya, saya tidak mengerti, sebenarnya saudara-saudara kita yang berfaham Allah dimana-dimana, siapa sebenarnya yang mereka ikuti?! Nabi, para ulama salaf, ataukah…?!! Fikirkanlah!
.
c.4. Dalil Akal
Setiap akal manusia yang masih sehat, tentu akan mengakui ketinggian Alloh di atas makhluk-Nya. Hal tersebut dapat ditinjau dari dua segi:
Pertama: Ketinggian Alloh merupakan sifat yang mulia bagi Alloh.
Kedua: Kebalikan tinggi adalah rendah, sedang rendah merupakan sifat yang kurang bagi Alloh, Maha Suci Alloh dari sifat-sifat yang rendah.
.
c.5. Dalil Fithrah
Sesungguhnya Alloh telah memfithrahkan kepada seluruh makhluk-Nya, baik Arab maupun non-Arab dengan ketinggian Alloh. Marilah kita berpikir bersama di saat kita memanjatkan do’a kepada Alloh, ke manakah hati kita berjalan? Ke bawah atau ke atas? Manusia yang belum rusak fithrahnya tentu akan menjawab ke atas. Pernah dikisahkan bahwa suatu hari Imam Abdul Malik al-Juwaini mengatakan dalam majelisnya, “Alloh tidak di mana-mana, sekarang ia berada di mana pun Dia berada.” Lantas bangkitlah seorang yang bernama Abu Ja’far al-Hamdani seraya berkata, “Wahai ustadz! Kabarkanlah kepada kami tentang ketinggian Alloh yang sudah mengakar di hati kami, bagaimana kami menghilangkannya?” Abdul Malik al-Juwaini berteriak dan menampar kepalanya seraya mengatakan, “Al-Hamdani telah membuat diriku bingung, al-Hamdani telah membuat diriku bingung.”[36] Akhirnya Imam Juwaini pun mendapat hidayah Alloh dan kembali ke jalan yang benar. Semoga saudara-saudara kita yang tersesat bisa mengikuti jejak beliau. Sebenarnya masih sangat banyak lagi dalil-dalil dalam masalah ini, semua ini telah dijelaskan oleh para ulama kita dalam kitab-kitab mereka. Bahkan di antara mereka ada yang membahas masalah ini dalam kitab tersendiri seperi Imam Dzahabi dalam bukunya al-‘Uluw lil Aliyyil Azhim. Semoga Alloh merahmati Imam Ibnu Abil Izzi al-Hanafi yang telah mengatakan –setelah menyebutkan 18 segi dalil–, “Dan jenis-jenis dalil-dalil ini, seandainya dibukukan tersendiri, maka akan tertulis kurang lebih seribu dalil[37]. Oleh karena itu, kepada para penentang masalah ini, hendaknya menjawab dalil-dalil ini. Tapi sungguh sangatlah mustahil mereka mampu menjawabnya.” [38] .
D. SYUBHAT DAN BANTAHANNYA
Adapun syubhat yang dilontarkan oleh Dr. Quraish Syihab: “Karena ia menimbulkan kesan keberadaan tuhan pada satu tempat, hal yang mustahil bagi-Nya dan mustahil pula diucapkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam …”.
Jawaban:
Apabila yang maksud “tempat” adalah yang tersirat dalam benak fikiran kita yaitu setiap yang meliputi dan membatasi seperti langit, bumi, kursi, arsy dan sebagainya maka benar hal itu mustahil bagi Allah karena Allah tidak mungkin dibatasi dan diliputi oleh makhluk, bahkan Dia lebih besar dan agung, bahkan kursi-Nya saja meliputi langit dan bumi. Allah f berfirman:
وَمَاقَدَرُوا اللهَ حَقَّ قَدْرِهِ وَاْلأَرْضُ جَمِيعًا قَبْضَتُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَالسَّمَاوَاتُ مَطْوِيَّاتٌ بِيَمِينِهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى عَمَّا يُشْرِكُونَ
Dan mereka tidak mengagungkan Allah dengan pengagungan yang semestinya padahal bumi seluruhnya dalam genggaman-Nya pada hari kiamat dan langit digulung dengan tangan kanan-Nya. Maha Suci Tuhan dan Maha Tinggi Dia dari apa yang mereka persekutukan. (QS. Az-Zumar: 67).
Dan telah shahih dalam Bukhari (6519) dan Muslim (7050) dari Nabi bahwa beliau bersabda:
يَقْبِضُ اللهُ بِالأَرْضِ وَيَطْوِيْ السَّمَاوَاتِ بِيَمِيْنِهِ ثُمَّ يَقُوْلُ : أَنَا الْمَلِكُ أَيْنَ مُلُوْكُ الأَرْضِ؟
Allah menggenggam bumi dan melipat langit dengan tangan kanan-Nya kemudian berfirman: “Saya adalah Raja, manakah raja-raja bumi?”
Adapun apabila maksud “tempat” adalah sesuatu yang tidak meliputi yakni diluar alam semesta, maka Allah di luar alam semesta sebagaimana keberadaan-Nya sebelum menciptakan makhluk.
Jadi, Allah di tempat yang bermakna kedua ini bukan makna pertama[39].
Kemudian, khabarkanlah padaku: Apabila tuan mengingkari ketinggian Allah, lantas saya bertanya kepada tuan tentang keyakinan tuan: “Dimanakah Allah?”. Saya sangat yakin bahwa jawaban tuan tidak keluar dari dua hal:
Pertama: Allah ada dimana-mana
Faham yang satu ini banyak dianut oleh mayoritas kaum muslimin sekarang ini. Padahal tahukah mereka pemahaman siapakah ini sebenarnya?! Faham ini dicetuskan oleh kaum Jahmiyyah dan Mu’tazilah. Imam Ahmad bin Hanbal telah menepis dan membongkar kerusakan faham ini dalam kitabnya “Ar-Rad ‘ala Al-Jahmiyyah” hal. 53, beliau mengatakan: “Apabila engkau ingin mengetahui kedustaan kaum Jahmiyyah tatkala mengatakan bahwa Allah dimana-mana dan tidak berada di satu tempat, maka katakanlah padanya: “Bukankah dahulu hanya Allah saja dan tidak ada sesuatu lainnya?” Dia akan menjawab: “Benar” Lalu katakanlah padanya lagi: “Tatkala Allah menciptakan sesuatu, apakah Dia menciptakannya pada diri-Nya ataukah diluar dari diri-Nya?” Jawaban dia tidak akan keluar dari tiga hal:
1. Apabila dia menyangka bahwa Allah menciptakan makhluk pada diri-Nya, maka ini merupakan kekufuran karena dia telah menganggap bahwa Jin, manusia, syetan dan iblis pada diri Allah!
2. Apabila dia mengatakan: Allah menciptakan mereka di luar diri-Nya kemudian Allah masuk pada mereka, maka ini juga kekufuran karena dia menganggap bahwa Allah berada di setiap tempat yang menjijikkan dan kotor!
3. Apabila dia mengatakan: Allah menciptakan mereka di luar dari diri-Nya kemudian Allah tidak masuk pada mereka, maka ini adalah pendapat Ahlus Sunnah wal Jama’ah”. [40]
Konsekuansi faham sesat “Allah dimana-mana” ini sangatlah batil sekali yaitu Allah berada di tempat-tempat yang kotor dan membatasi Allah pada makhluk sebagaimana diceritakan dari Bisyr Al-Mirrisyi tatkala dia mengatakan: “Allah berada di segala sesuatu”, lalu ditanyakan padanya: Apakah Allah berada di kopyahmu ini?! Jawabnya: Ya, ditanyakan lagi padanya: Apakah Allah ada dalam keledai?! Jawabnya: Ya!!!
Perkataan ini sangatlah hina dan keji sekali terhadap Allah!!! Oleh karena itulah sebagian ulama’ salaf mengatakan: “Kita masih mampu menceritakan perkataan Yahudi dan Nasrhani tetapi kita tak mampu menceritakan perkataan Jahmiyyah!
Kedua: Allah tidak di atas, tidak di bawah, tidak di kanan, tidak dikiri, tidak di depan, tidak di belakang, tidak di dalam, tidak di luar, tidak bersambung, tidak berpisah sebagaimana keyakinan ahli kalam (filsafat).
Ucapan di atas jelas-jelas menunjukkan bahwa Allah tidak ada. Inilah ta’thil (peniadaan) yang amat nyata. Maha suci Allah dari apa yang mereka ucapkan. Alangkah indahnya perkataan Mahmud bin Subaktukin terhadap orang yang mensifati Allah dengan seperti itu: “Bedakanlah antara Allah yang engkau tetapkan dengan sesuatu yang tidak ada![41]. Oleh karena itulah, sebagian ulama’ salaf juga mengatakan:
الْمُجَسِّمُ يَعْبُدُ صَنَمًا وَالْمُعَطِّلُ يَعْبُدُ عَدَمًا
Al-Mujassim itu menyembah patung dan Al-Mua’tthil menyembah sesuatu yang tidak ada
Walhasil, kedua jawaban diatas merupakan kebatilan yang tidak samar lagi bagi orang yang beri hidayah oleh Allah. Semoga Allah merahmati Al-Allamah Ibnu Qayyim tatkala mengatakan dalam qasidahnya “An-Nuniyyah” (2/446-447 -Taudhihul Maqasid cet. Mkt Islami):
Allah Maha besar, tidak ada satu makhlukpun di atas-Nya
Allah Maha besar, arsy-Nya meliputi langit dan bumi demikian pula kursi-Nya
Allah di atas arsy dan kursi, tak bisa dijangkau oleh fikiran manusia
Janganlah engkau membatasinya pada satu tempat dengan ucapan kalian: “Allah ada di setiap tempat”
Dengan modal kejahilan, kalian mensucikan Allah dari arsy-Nya padahal kalian membatasinya pada satu tempat
Janganlah kalian tiadakan Allah dengan ucapan kalian: “Allah tidak di dalam dan tidak pula di luar alam”
Allah Maha besar, Dia telah membongkar tirai kalian dan nampak bagi orang yang punya dua mata
Allah Maha besar, Dia suci dari penyerupaan dan peniadaan, kedua sumber kekufuran.
.
E. KONTRADIKSI ARGUMEN Dr. M. QURAISH SHIHAB
Setelah anda mengetahui bahwa Dr. M. Quraish Shihab mengingkari ketinggian Allah dalam bukunya “Membumikan Al-Qur’an”. Anehnya, kalau kita cermati bersama dan kalau saja DR. M. Quraish Shihab juga mau mencermati, maka akan kita jumpai dalil-dalil yang menolak fahamnya. Diantaranya:
1. Dalam “Membumikan Al-Qur’an” hal. 338-345, Dr. Quraish Syihab mengulas makna Isra’ Mi’raj. Dia menetapkan adanya peristiwa Isra dan Mi’raj serta membantah gugatan kaum empirisis dan rasiaonalis yang memustahilkannya seraya mengatakan: “Memang, pendekatan yang paling tepat untuk memahaminya adalah pendekatan imaniy. Inilah yang ditempuh oleh Abu Bakar ash-Shiddiq, seperti tergambar dalam ucapannya: Apabila Muhammad memberitakannya, pastilah benar”.
Alangkah indahnya ucapan ini!! Namun sayangnya, mengapa beliau tidak menerapkan hal yang sama dalam masalah ketinggian Allah ini?! Bukankah dalam peristiwa Isra Mi’raj terdapat pelajaran berharga tentang ketinggian Allah?!! Al-Hafizh Ibnu Abil Izzi al-Hanafi mengatakan: “Dalam hadits Mi’raj ini terdapat dalil tentag ketinggian Allah ditinjau dari beberapa segi bagi orang yang menceramatinya”.[42] Semoga saya dan anda termasuk orang-orang yang bisa mencermatinya.
2. Dalam “Membumikan Al-Qur’an” hal. 314 pada judul Lailatul Qadr, Dr. Quraish Shihab membawakan dalil:
تَنَزَّلُ الْمَلاَئِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِم مِّن كُلِّ أَمْرٍ
Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. (QS. Al-Qadr: 4).
Ayat mulia ini juga kalau kita mencermatinya dengan baik merupakan salah satu dalil tentang ketinggian Allah, karena para Malaikat dan Jibril yang berada di dekat Allah turun pada malam Lailatul Qadr, sedang kita faham semua bahwa makna kata turun berarti dari sesuatu yang tinggi ke tempah yang lebih rendah. Semoga Allah menjadikan kita manusia yang berakal.
.
F. TUDUHAN DAN JAWABANNYA
Satu pembahasan lagi yang perlu diselesaikan yaitu tuduhan keji yang keluar dari mulut kotor ahli bid’ah terhadap ahli haq yang menyatakan bahwa Allah berada di atas langit disebut dengan kaum “Musyabbihah” atau “Mujassimah”. Dalam buku “Aqidah Ahli Sunnah wal Jama’ah” oleh KH. Sirajuddin Abbas dan dicopi oleh KH. Ach. Masduqi dalam “Konsep Dasar Pengertian Ahlus Sunnah Wal Jama’ah” hal. 83 dikatakan demikian: “Golongan Musyabbihah ini juga dinamakan golongan Mujassimah. Golongan ini mempunyai I’tiqad yang bertentangan dengan golongan ASWAJA, antara lain:
Tuhan itu berada di atas langit.
Menurut golongan ASWAJA, Tuhan itu tidak berada di atas langit”.
Dan pada hal. 84, penulis ini mengatakan: “Pada mulanya Ibnu Taimiyyah adalah pengikut madzhab Hanbali dan banyak pengetahuannya dalam bidang fiqih dan ushuluddin. Akan tetapi sayang sekali beliau terpengaruh oleh faham golongan Musyabbihah/Mujassimah yang menyerupakan Tuhan dengan makhluk…”.
Jawaban:
Tuduhan seperti sudah tidak aneh lagi bagi kami karena memang demikianlah kebiasaan ahli bid’ah semenjak dahulu hingga sekarang. Semoga Allah merahmati imam Abu Hatim Ar-Razi yang telah mengatakan:
وَعَلاَمَةُ أَهْلِ الْبِدَعِ : الْوَقِيْعَةُ فِيْ أَهْلِ الأَثَرِ وَعَلاَمَةُ الْجَهْمِيَّةِ أَنْ يَسُمُّوْا أَهْلَ السُّنَّةِ مُشَبِّهَةً
Tanda ahli bid’ah adalah mencela ahli atsar. Dan tanda Jahmiyyah adalah menggelari ahli sunnah dengan Musyabbihah. [43]
Ishaq bin Rahawaih mengatakan:
عَلاَمَةُ جَهْمٍ وَأَصْحَابِهِ دَعْوَاهُمْ عَلَى أَهْلِ السُّنَّةِ وَالْجَمَاعَةِ مَا أُوْلِعُوْا مِنَ الْكَذِبِ أَنَّهُمْ مُشَبِّهَةٌ بَلْ هُمُ الْمُعَطِّلَةُ
Tanda Jahm dan pengikutnya adalah menuduh ahli sunnah dengan penuh kebohongan dengan gelar Musyabbihah padahal merekalah sebenarnya Mu’atthilah (meniadakan/mengingkari sifat bagi Allah). [44]
Adapun tuduhan terhadap Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah bahwa beliau termasuk golongan Mujassimah atau Musyabbihah, dengarkanlah perkataan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah sendiri:
“Kelompok Mu’tazilah dan Jahmiyyah dan sejenisnya dari kalangan pengingkar sifat, mereka menuduh orang-orang yang menetapkannya dengan gelar Mujassimah/Musyabbihah, bahkan diantara mereka ada yang menuduh para imam populer seperti Malik, Syafi’I, Ahmad dan para sahabatnya dengan gelar Mujassimah dan Musyabbihah sebagaimana diceritakan oleh Abu Hatim, penulis kitab “Az-Zinah” dan sebagainya”.[45]
Padahal, kalau mau dicermati, ternyata tuduhan “Mujassimah” itu sebenarnya mereka sendiri yang pantas menerimanya (senjata makan tuan). Mengapa demikian? Karena orang yang berfaham bahwa Allah berada di setiap tempat, dia telah membatasi Allah pada tempat yang terbatas. Maha suci Allah dari apa yang mereka ucapkan.
Adapun pendapat yang menyatakan bahwa Allah di atas langit, tidaklah melazimkan tajsim (membentuk). Mengapa demikian? Karena perkataan kita: “Allah tinggi di atas arsy dan berpisah dari makhluknya” tidaklah berkonotasi membatasi Allah pada satu tempat, sebab tempat itu sesuatu yang terbatas di langit dan bumi serta antara keduanya, sedangkan di atas arsy tidak ada tempat.[46]
--------------------------------------------------------------------------------
[1] Ijtima’ Al-Juyusy Al-Islamiyyah hal. 96
[2] Penerbit Mizan, Bandung ini banyak menerbitkan buku-buku berbahaya, sesat dan menyesatkan kaum muslimin. Waspadalah!!
[3] Al-Hafizh Ibnu Qayyim al-Jauziyyah berkata dalam Ahkam Ahli Dzimmah 1/205: “Mengucapkan selamat kepada orang kafir hukumnya haram menurut kesepakatan ulama seperti ucapan selamat hari raya dan sebagainya. Kalau bukan kekufuran, maka minimal adalah haram, sebab hal tersebut sama halnya dengan memberi selamat atas sujud mereka terhadap salib”. (Lihat pula Syarh Mumti’ Ibnu Utsaimin 8/75)
[4] Ringkasan shalawat seperti ini tidak dibenarkan, hendaknya ditulis secara sempurna.
[5] Ar-Risalah (hal. 76),
[6] At-Tamhid (9/67-68) Lihat pula Syarh Az-Zurqani (4/84) dan Tanwir Hawalik (3/5) oleh as-Suyuthi.
[7] Lihat As-Sunnah Ibnu Abi Ashim (hal. 226-227 -Dhilalul Jannah Al-Albani-) atau (1/344 -Tahqiq Dr. Basim Al-Jawabirah-) dan Silsilah Ahadits As-Shahihah no. 3161 oleh Syaikh Al-Albani.
[8] Silsilah Ahadits As-Shahihah (1/11)
[9] Al-Asma’ wa Sifat (hal. 532-533 cet. Dar Kutub ‘ilmiyyah)
[10] Syarh Sunnah (3/239) dan (9/247
[11] Al-Hujjah fi Bayanil Mahajjah (2/118)
[12] Itsbat Sifatil Uluw hal. 47
[13] Al-Uluw lil ‘Aliyyin Adzim 1/249, tahqiq Abdullah bin Shalih al-Barrok
[14] Fathul Bari (13/359)
[15] Al-Qowashim wal ‘Awashim 1/379-380
[16] Mukhtashar Al-Uluw hal. 82
[17] Setelah itu, penulis mendapatkan dua kitab khusus tentang pembelaan hadits ini, yaitu buku Aina Allah? Difa’ ‘an Hadits Jariyah Riwayah wa Dirayah oleh Syaikh Salim al-Hilali dan risalah Takhilul Ain bi Jawaz Sual ‘anillah bi Ain oleh DR. Shadiq bin Salim bin Shadiq. Bagi yang ingin memperluas lagi pembhasan hadits ini, kami persilahkan membaca dua risalah ini. Dan sebagai amanat juga, kita harus mengingatkan pembaca dari para ahli bid’ah yang berusaha untuk mementehkan hadits ini seperti al-Kautsari, al Ghumari, as-Saqqof dan lain sebagainya, bahkan as-Saqqof memiiki buku berjudul “Menyuntik Pe-mahaman Dangkal Tentang Peniadaan Lafazh Dimana Allah dalam Hadits Jariyah (budak wanita)” sebagaimana dalam Kutub Hadzdzara minha Ulama I/300, Syaikh Masyhur Hasan Salman.
[18] Mutawatir. Sebagaimana ditegaskan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dalam Iqtidha’ Shirath Mustaqim 1/34, as-Suyuthi dalam al-Azhar al-Mutanatsirah hal. 216, al-Kattani dalam Nadhmul Mutanatsir hal. 93, az-Zabidi dalam Samtul Aali hal. 68-71, al-Albani dalam Shalatul I’dain hal. 39-40. (Lihat Bashair Dzawi Syaraf hal. 87-98 oleh Salim al-Hilali).
[19] At-Tamhid (7/129, 130, 134)
[20] Al-Asma’ wa Sifat (377)
[21] Shahih. HR. Abu Daud (4941), Tirmidzi (1/350), Ahmad (2/160), Al-Humaidi (591), Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Mushannaf (8/526), Al-Hakim dalam Al-Mustadrak (4/159). Dan dishahihkan Al-Hakim, Ad-Dzahabi, Al-‘Iraqi, Ibnu Hajar dan lain sebagainya. Lihat As-Shahihah 3/594-595/922 oleh Al-Albani).
[22] Lihat Silsilah Ahadits As-Shahihah 6/474-475 oleh Al-Albani.
[23] Al-‘Uluw lil ‘Aliyyil Adzim (hal. 81 -Mukhtasar Al-Albani-)
[24] HR. Tirmidzi (2108), Ibnu Majah (182), Ibnu Hibban (39 -Al-Mawarid), Ibnu Abi Ashim (1/271/612), Ahmad (4/11,12) dan Ibnu Abdil Barr dalam At-Tamhid (7/137). Lihat As-Shahihah 6/469).
[25] Shahih. Riwayat At-Thabrani dalam Al-Mu’jamul Kabir (12/263/13054) dan sanadnya shahih sebagaimana dikatakan Al-Albani dalam As-Shahihah 6/470 dan Muhktasar Al-Uluw hal. 127.
[26] al-Iqtishod fil I’tiqod hal. 89
[27] I’lamul Muwaqqi’in (3/521)
[28] Ta’liq Fathul Bari (1/188)
[29] dalam Irwaul Ghalil (1/113)
[30] Ar-Radd ala Jahmiyyah hal. 46-47
[31] HR. Bukhari 7422 dan Muslim 2751
[32] HR.Bukhari 4351 dan Muslim 1064
[33] HR. Muslim 1218
[34] Shahih. Diriwayatkan Baihaqi dalam Asma’ wa Sifat 408, adz-Dzahabi dalam al-‘Uluw hal. 102 dan dishahihkan Ibnu Taimiyah, Ibnul Qayyim, dan al-Albani.
[35] Shahih. Dikeluarkan ash-Shabuni dalam Aqidah Salaf 28 dan ad-Darimi dalam ar-Radd ala Jahmiyyah hal. 47.
[36] Lihat kisah lengkapnya dalam Siyar A’lam Nubala 18/475, al-‘Uluw hal. 276-277 oleh adz-Dzahabi
[37] Sebagian pembesar sahabat Syafi’I berkata: “Dalam Al-Qur’an terlebih seribu dalil atau lebih yang menunjukkan bahwa Allah tinggi di atas para hambaNya”. (Majmu Fatawa Ibnu Taimiyyah 5/121)
[38] Syarh Aqidah Thahawiyah hal. 386.
[39] Muqaddimah Mukhtasar Al-‘Uluw hal. 70-71 oleh Al-Albani.
[40] Lihat pula Ijtima’ Al-Juyusy Al-Islamiyyah hal. 76-80 oleh Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah.
[41] Lihat At-Tadmuriyyah hal. 41 oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah.
[42] Syarh Aqidah ath-Thahawiyyah 1/277
[43] Syarh Ushul I’tiqad Ahli Sunnah wal Jama’ah Al-Lalikai 1/204, Dzammul Kalam al-Harawi 4/390.
[44] Syarh Ushul I’tiqad al-Lalikai (937), Syarh Aqidah At-Thahawiyyah 1/85 oleh Ibnu Abi Izzi Al-Hanafi.
[45] Minhajus Sunnah (2/75)
[46] Lihat “Al-Jama’at Al-Islamiyyah” hal. 230 oleh Salim Al-Hilali.
Wednesday, July 14, 2010
Dimana Allåh?
Sumber : http://abulfudhail.com/?p=58
Penulis : Abul Fudhåil
Pada kesempatan kali ini, kami angkat sebuah topik permasalahan yang klasik dan kontemporer, yaitu mengenal “Dimana Allah?”, Karena di sana banyak kita dapati di antara masyarakat yang menyimpang dalam aqidah (keyakinan) yang agung, prinsip Nabi -Shallallahu ‘alaihi wasallam-, dan para shahabat -Ridhwanullah ‘alaihim ‘ajmain-, serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik.
Kita mendapati di antara kaum muslimin di zaman ini, bermacam-macam keyakinannya atas pertanyaan “Dimana Allah?”. Di antaranya ada yang berkeyakinan bahwa:
1. Allah -Subhanahu wa Ta’ala- berada di hati,
2. bahwa Allah itu berada dimana-mana,
3. bahwa Allah itu lebih dekat dari urat leher,
4. bahwa Allah -Subhanahu wa Ta’ala- bersatu dengan hamba-Nya,
5. Lebih parah lagi, ada juga yang berkeyakinan bahwa, Allah itu tidak di kanan, tidak di kiri, tidak diatas, tidak di bawah, tidak di depan, dan tidak pula di belakang.
Sungguh ini adalah pernyataan yang sangat lucu. Lantas dimana Allah?! Padahal kalau kita mau mengikuti fitrah kita yang suci, sebagaimana fitrahnya anak yang masih kecil, pemikiran mereka yang masih polos, seperti putihnya kertas yang belum ternodai dengan tinta. Kita akan dapati jawaban dari lisan-lisan kecil mereka, jikalau mereka ditanya, “Dimana Allah?” Mereka akan menjawab, “Allah -Subhanahu wa Ta’ala- berada di atas langit.”
Allåh Berada diatas langit dan Bersemayam diatas ‘Arsy
Hadits yang diriwayatkan oleh Mu’awiyah bin Al-Hakam As-Salami menceritakan ketika beliau hendak membebaskan (Jariah) hamba perempuannya, maka beliau bertanya kepada Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam. kemudian beliau (Nabi Shalallahu ‘alaihi wassalam) menyuruh agar hamba tersebut dipanggil lalu beliau bersabda:
Di manakah Allah? dia menjawab: Di Langit beliau bertanya lagi : Siapa aku? Jawab Jariah: Kamu Rasulullah. Lalu beliau berkata: merdekakan dia karena dia adalah Mukminah.
Takhrij hadits
- Muslim bin Hajjaj dalam Sahih Muslim, no: 537.
- Malik bin Anas dalam al-Muwattha’, no: 1468.
- Abu Daud al-Tayalisi dalam al-Musnad, no: 1105.
- Muhammad bin Idris as-Syafi’i dalam al-Umm, no: 242.
- ‘Abd al-Razzaq dalam al-Musannaf, no: 16851.
- Ibn Abi Syaibah dalam al-Musannaf, no 30333.
- Ahmad bin Hanbal dalam al-Musannaf, no: 7906, 23762, 23765 & 23767.
- Abu Daud al-Sajastani dalam Sunan Abu Daud, no: 930 & 3282.
- Ibn Qutaibah dalam Ta’wil Mukhtalaf al-hadits, no: 272.
- ‘Utsman bin Sa’id al-Darimi dalam al-Rad ‘ala al-Jahmiyyah, no: 62.
- al-Harith bin Abi Usamah dalam al-Musnad, no: 015.
-’Amr bin Abi ‘Ashim al-Shaibani dalam al-Sunnah Li Ibn Abi ‘Ashim, no: 489.
- an-Nasai dalam Sunan al-Nasai, no: 1142, 7708, 8535 & 11401.
- Ibn Jarud dalam al-Muntaqa, no: 212.
- Ibn Khuzaimah dalam Kitab al-Tauhid wa Itsbat Sifat al-Rabb ‘Azza wa Jalla, no: 178, 179, 180, 181 & 182.
- Abi ‘Uwanah dalam al-Musnad, no: 1727 & 1728.
- Abu al-Husain ‘Abd al-Baqi’ dalam al-Mu’jam al-Sahabah, 735.
- Ibn Hibban dalam Sahih Ibn Hibban, no: 165 & 2247.
- al-Thabrani dalam Mu’jam al-Kabir, no: 937 & 938.
- Muhammad bin Ishaq bin Manduh dalam al-Iman, no: 091.
- al-Lalaka’I dalam Syarah Usul I’tiqad Ahl al-Sunnah, no: 652.
- Abu Nu’aim al-Asbahani dalam al-Musnad al-Mustakhraj ‘ala Sahih Imam Muslim, no: 1183.
- Ibn Hazm dalam al-Muhalla, no: 1664.
- al-Baihaqi dalam al-Sunan al-Kubra, no: 15266, 15268, 19984 & 19985.
- ‘Abd Allah bin Muhammad bin ‘Ali al-Harawi dalam al-’Arba’in fi Dalail al-Tauhid, no: 011.
Derajat Hadits
Hadits di atas adalah SAHIH. Imam Muslim telah memasukkan hadits ini kedalam kitab Sahihnya.
Bahkan sangat masyhur karena banyaknya yang meriwayatkan hadits ini, seperti yang kita lihat pada takhrij di atas. Ada sebahagian golongan yang sangat anti kepada dakwah ahlus-sunnah as-salafiyyah, yang bahkan mengatas namakan diri mereka ahlus sunnah, dan memang ‘kelihatannya’ berhujah berlandaskan al-Quran dan Sunnah, tapi jika kita hadapkan dengan kasus ini, terbuktilah apa-apa yang mereka bawa (dalil-dalil) itu hanyalah untuk mereka sesuaikan menurut akal dan hawa nafsu mereka semata, karena mereka ingkar aqidah para salaf bahwa Allah di atas ‘Arasy.
Orang-orang yang mempertahankan aqidah “Allåh wujud bi la makan” (yang artinya “Allåh ada, tidak bertempat”; tidak di atas, tidak dibawah, tidak di depan, tidak di belakang, tidak di dalam dan tidak di luar”), telah ingkar dengan hadits di atas, bahkan sampai menjatuhkan derajatnya kepada dha’if semata-mata ingin membenarkan hujjah mereka. Kemudian mereka mencerca ulama hadits yang tidak bersalah dengan tuduhan yang tidak berasas.
Adapun para Salafush Sholeh, mereka tidak pernah pun mentakwil ataupun menukar (tahrif) makna hadits ini. hadits ini juga menunjukkan, bahwa tidak salah jika kita berkata “Allah itu di atas langit” karena memang Allah itu di atas langit, karena Allåh berada diatas ‘Arasy dan ‘Arasy itu sendiri berada di atas langit.
Aqidah ini telah dijelaskan dalam Kitabullah, As-Sunnah, ijma’, dan komentar para ulama Ahlus Sunnah wal Jama’ah dalam kitab-kitab mereka. Mereka sudah patenkan (tetapkan) bahwa barangsiapa yang menyelisihinya, maka ia adalah ahli bid’ah, dan menyimpang.
Dalil-dalil lain dari Al-qur’an dan As-sunnah ash-shåhihah
Dalil-dalil masalah ini sangatlah banyak dari Al-Qur’an, dan As-Sunnah. Berikut ini kami akan sebutkan -insya’ Allah- beberapa di antaranya saja, dan sebenarnya tidak terbatas.
Dalil-dalil dari al-qur’an
Allah -Subhanahu wa Ta’ala- berfirman,
Tuhan yang Maha Pemurah beristiwa di atas ‘Arasy. [QS. Taha: 5]
“Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas `Arsy.” (QS. Al A’raf: 54)
Allah -Subhanahu wa Ta’ala- berfirman,
“Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah Yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas `Arsy untuk mengatur segala urusan.” (QS. Yunus: 3)
Allah -Subhanahu wa Ta’ala- berfirman,
“Allah-lah Yang meninggikan langit tanpa tiang (sebagaimana) yang kamu lihat, kemudian Dia bersemayam di atas `Arsy.” (QS. Ar Ra’d: 2)
Allah -Subhanahu wa Ta’ala- berfirman,
“Yang menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas Arsy.” (QS. Al-Furqon: 59)
Allah -Subhanahu wa Ta’ala- berfirman,
“Allah-lah yang menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas `arsy.” (QS. As-Sajadah: 4)
Allah -Subhanahu wa Ta’ala- berfirman,
“Barangsiapa yang menghendaki kemuliaan, maka bagi Allah-lah kemuliaan itu semuanya. Kepada-Nyalah naik perkataan-perkataan yang baik dan amal yang saleh dinaikkan-Nya.” (QS. Fathir: 10)
Allah -Subhanahu wa Ta’ala- berfirman,
Kemudian Dia beristiwa ke arah langit dan langit itu masih merupakan asap. [QS. Fushsilat: 11]
Allah -Subhanahu wa Ta’ala- berfirman,
Allah, Dialah yang menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya dalam enam masa, kemudian Dia beristiwa di atas ‘Arasy. [QS al-Sajdah: 4]
Berkata Ibn Kathir Rahimahullah:
“Dan adapun FirmanNya Ta’ala: “Kemudian Dia Bersemayam diatas ‘Arsy”, maka bagi manusia pada masalah ini pendapat yang banyak dan bukanlah di sini tempat membahasnya dan sesungguhnya hendaklah diikuti dalam masalah ini madzhab As-Salaf Ash-Shålih: Malik, Auza’i, As-Tsaury, Al-Laith bin Saad, Asy-Syafi’i, Ahmad bin Hanbal, Ishaq bin Rahuwaih, dan selainnya daripada imam-imam muslimin dahulu dan sekarang yaitu menjalankan dan memahaminya sebagaimana datangnya tanpa takyif (memberi rupa), dan tidak pula tsaybih (penyerupaan), dan tidak pula ta’thil (membatalkan sifat)….” –Tafsir al-’Adzhim.
Ibn ‘Abd al-Barr menjelaskan tentang hadits ini:
“Dan adapun hadits jariah: Di manakah Allah? Maka menjadi pegangan atasnya oleh jama’ah ahli sunnah dan mereka-mereka juga adalah ahli hadits dan seluruh perawi yang memahaminya, mereka semua berkata sebagaimana firman Allah dalam kitabnya: “al-Rahman Bersemayam di atas ‘Arsy.” Dan bahwa sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla di langit dan Ilmu-Nya pada setiap tempat. [Al-Istizkar: al-Jamii' li mazhab Fuqaha al-Ansor wa 'Ulama al-Aqtar]
Al-Hafizh Al-Baihaqy-rahimahullah- berkata dalam Al-I’tiqod (1/114), “Ayat-ayat itu merupakan dalil yang membatalkan pendapat orang Jahmiyyah yang menyatakan bahwa Dzat Allah -Subhanahu wa Ta’ala- berada dimana-mana.”
Dalil-dalil dalam permasalahan ini banyak sekali, jika kita ingin memeriksa Al-Qur’an, As-Sunnah, dan atsar para salaf. Oleh karena itu, Ibnu Abil Izz Al-Hanafiy -rahimahullah- berkata dalam Syarh Al-Aqidah Ath-Thohawiyyah (288), “Dalil-dalil yang semisal dengannya,kalau seandainnya dihitung satu-persatu, maka akan mencapai ribuan dalil”
Dalil-dalil lain dari as-sunnah
Sabda Nabi -Shallallahu ‘alaihi wasallam-:
“Ketika Allah -Subhanahu wa Ta’ala- menciptakan makhluk-Nya, Allah -Subhanahu wa Ta’ala- menuliskan di dalam kitab-NYa (Lauh Mahfudz) yang ada di sisi-Nya diatas Arsy (singgasana) ‘Sesungguhnya rahmat Allah mendahului kemurkaan-Nya.” [HR. Al-Bukhary dalam Shohih-nya (3022, 6969, dan 6986), dan Muslim dalam Shohih-nya (2751)]
Dari Abu Sa’id Al-Khudri Nabi -Shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda:
“Tidakkah kalian percaya kepadaku? Sementara aku dalam keadaan beriman kepada Yang dilangit. Datang kepadaku berita dari langit di waktu pagi hari dan petang….” [HR. Al-Bukhary dalam Shohih-nya (4094), Muslim dalam Shohih-nya (1064)]
Al-Qurthuby -rahimahullah- dalam Al-Jami’ li Ahkam Al-Qur’an (7/219) berkata, “Tidak ada seorang salaf pun yang mengingkari bahwa Allah bersemayam di atas Arsy-Nya secara hakiki. Arsy dikhususkan karena ia merupakan makhluk Allah yang terbesar. Para salaf tidak (berusaha) mengetahui cara (kaifiyyah) Allah bersemayam, karena sifat bersemayam itu tidak bisa diketahui hakekatnya. Imam Malik -rahimahullah- berkata : [‘Sifat bersemayam itu diketahui maknanya secara bahasa, tidak boleh ditanyakan cara Allah bersemayam, dan pertanyaan tentang cara Allah bersemayam merupakan bid’ah dan ajaran baru.”
Jadi, madzhab Ahlis Sunnah menyatakan bahwa Allah bersemayam di atas Arsy, namun ilmu-Nya meliputi segala sesuatu. Adapun aqidah yang menyatakan bahwa Allah berada dimana-mana, bukanlah merupakan aqidah Ahlis Sunnah, akan tetapi merupakan aqidah ahli bid’ah yang batil berdasarkan ayat-ayat yang menyebutkan bahwa Allah di atas Arsy beserta keterangan Ulama Ahlis Sunnah yang telah kami sebutkan, dan berikut tambahan keterangan dalam masalah ini:
Al-Hafizh Abu Umar Ibnu Abdil Barr -rahimahullah- berkata dalam At-Tamhid (7/129), “Di dalamnya terdapat dalil yang menunjukkan bahwa Allah Azza wa Jalla berada di atas Arsy, di atas langit ketujuh sebagaimana yang ditegaskan oleh Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Itu juga merupakan hujjah mereka terhadap orang-orang Mu’tazilah yang berkata: “[Allah berada di mana-mana, bukan di atas Arsy]”.Dalil yang mendukung kebenaran madzhab Ahlul Haq/Ahlis Sunnah dalam hal ini adalah firman Allah Azza wa Jalla: “Ar-Rahman bersemayam di atas Arsy” dan firman-Nya Azza wa Jalla: “ Kemudian Dia bersemayam di atas Arsy…”.
Imam Al-Qurthuby-rahimahullah- berkata dalam Al-Jami’ li Ahkam Al-Qur’an (4/162): “Jahmiyyah terbagi menjadi 12 kelompok … (di antaranya) Al-Multaziqoh, mereka menganggap bahwa Allah berada di mana-mana …”.
Shodaqoh-rahimahullah- berkata, “Saya mendengar At-Taimy berkata, “Andaikan aku ditanya: Dimana Allah Tabaraka wa Ta’ala?, niscaya aku akan jawab: Dia di langit.” [Lihat Syarah I’tiqod Ahlis Sunnah (3/401/671)]
Pernyataan Imam yang Empat Mengenai Sifat-sifat Allåh
1. IMAM ABU HANIFAH
Imam Abu Hanifah berkata: “Tidak patut bagi seseorang untuk mengatakan sesuatu tentang Dzat Allah kecuali kepada diriNya, dan tidak boleh seseorang mengatakan sesuatu tentang Allah dengan pendapat (ra’yu)nya. Maha Suci serta Maha Tinggi Allah Ta’ala, Rabb semesta Alam.” (Syarhul Aqidah at-Tahawiyah (2/472), tahqiq Dr. At-Turky, Jalaulm’Ainain, hal. 368)
Ketika Imam Abu Hanifah ditanya tentang nuzulul Ilah (turunnya Allah), ia menjawab: “Ia turun dengan tidak kita menanyakan bagaimana (kaifiatnya) caranya.” (Aqidatus salaf Ashabil hadits, hal. 42, al-Asma’ Was Sifat oleh al-Baihaqi, hal. 456)
Imam Abu Hanifah berkata lagi: Barangsiapa yang berkata: “Aku tidak tahu Rabbku, di langit atau di bumi?” berarti ia kafir. Begitu juga seseorang menjadi kafir apabila mengatakan bahwa Allah itu di atas ‘Arasy, tetapi aku tidak tahu adakah ‘Arasy itu di langit atau di bumi. (al-Fiqhul Absath, hal. 46)
Imam Abu Hanifah berkata kepada seseorang wanita yang bertanya: “Dimanakah Ilahmu yang engkau sembah itu?” Ia menjawab: “Sesungguhnya Allah itu ada di langit bukan di bumi.”
Lalu datanglah seorang pemuda mengajukan pertanyaan: “Bagaimana dengan ayat: ??? ???? ??? ?? ????? “Dia bersama kamu dimana kamu berada.” (QS. al-Hadid: 4).
Imam Abu Hanifah menjawab: “Dia seperti engkau menulis surat kepada seorang lelaki dengan mengatakan, sesungguhnya aku selalu bersamamu, padahal engkau tidak ada di sampingnya.” –al-Asma’ was Sifat, hal. 4292.
IMAM MALIK BIN ANAS
Abu Nu’aim mentakhrijkan dari Ja’far bin Abdillah berkata: “Ketika kami sedang berada di samping Malik bin Anas, datanglah seorang pemuda lalu bertanya: “Wahai Abu Abdillah, Ar-Rahman (Allah yang Maha Pengasih) bersemayam di atas ‘Arasy bagaimana bersemayamNya?” Mendengar pertanyaan ini, Imam Malik menjadi berang dan marah. Lalu ia menundukkan muka ke bumi seraya menyandarkannya ke tongkat yang dipegangnya hingga tubuhnya bersimbah keringat. Setelah ia mengangkat kepalanya, ia lantas berkata:
“Cara bersemayam-Nya tidak diketahui (tidak dapat digambarkan), sedang istiwa-Nya (bersemayamnya) telah jelas dan diketahui (maknanya), beriman kepadanya adalah wajib, dan bertanya tentang (bagaimana)nya adalah bid’ah. (Dan) Aku menyangka engkau adalah pelaku bid’ah.” Lalu beliau menyuruh orang itu keluar.
(Hilyatul Aulia’ (VI/325-326), Ibn Abdil Barr dalam at-Tauhid (VI/151), Al-Baihaqi dalam al-Asma’ Was Sifat, hal. 498, Ibn Hajar dalam Fathul Bari (XIII/406-407), Az-Zahabi dalam al-Uluw, hal. 103)
3. IMAM MUHAMMAD BIN IDRIS AS-SYAFI’I
Imam Syafi’i Rahimahullah berkata: “Allah Tabaraka wa Taala memiliki asma’ (nama-nama) dan sifat-sifat yang telah disebutkan oleh KitabNya dan diberitakan oleh NabiNya Shalallahu ‘alaihi wassalam. kepada umatnya, yang tidak boleh diingkari oleh sesiapa pun dari makhluk Allah Subhanallahu wa Ta’ala. yang telah sampai kepadanya dalil bahwa al-Quran turun membawa keterangan tentang hal tersebut, juga sabda Nabi Shalallahu ‘alaihi wassalam. yang diriwayatkan oleh perawi yang adil dan tsiqah telah jelas-jelas sahih yang menerangkan masalah itu.
Maka barangsiapa mengingkari atau berbeda dengan semuanya itu padahal hujah (dalil/ keterangan) tersebut telah jelas baginya, berarti ia telah kafir kepada Allah Subhanallahu wa Ta’ala. Adapun jika ia menentang karena belum mendapat hujah/ keterangan tersebut, maka ia diampuni karena kebodohannya, karena pengetahuan tentang semuanya itu (sifat-sifat Allah dan asma’Nya) tidak dapat dijangkau oleh akal dan pemikiran.Yang termasuk ke dalam keterangan-keterangan seperti itu adalah juga keterangan-keterangan Allah Subhanallahu wa Ta’ala:
(1) bahwa Dia Maha Mendengar dan bahwa Allah itu memiliki tangan sesuai dengan firmanNya: “Bahkan Tangan Allah itu terbuka.” (QS. al-Maidah: 64). Dan bahwa Allah memiliki tangan kanan, sebagaimana dinyatakan: “…Dan langit digulung dengan tangan kananNya.” (QS. az-Zumar: 67)
(2) dan bahwa Allah itu memiliki Wajah, berdasarkan firmanNya yang menetapkan: “Dan tiap-tiap sesuatu itu pasti binasa, kecuali Wajah Allah…” (QS. Al-Qasas: 88), “Dan kekallah wajah Rabbmu yang mempunyai keagungan dan kemulian.” (QS. Ar-Rahman: 27).
(3) Juga bahwa Allah mempunyai Telapak Kaki (Qådamur Råhman), sesuai dengan pernyataan Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam: Nabi bersabda, “Setiap kali Jahannam dilempari (dengan penghuninya) ia (Jahannam) senantiasa mengatakan, “Masih adakah tambahan?” Sehingga Rabbul ‘Izzah (Allah) meletakkan telapak kaki-Nya didalamnya -dalam riwayat lain, meletakkan telapak kaki-Nya di atasnya-. Maka sebagiannya mengisutkan kepada sebagian lainnya, lalu ia (Jahannam) berkata, “Cukup… cukup…!” (Riwayat Bukhari, no: 4848 dan Muslim, no: 2848)
(4) dan Allah tertawa berdasarkan sabda Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam, tentang orang yang mati fi sabilillah: “Ia akan bertemu dengan Allah Azza wa Jalla sedang Allah tertawa kepadanya….” (Riwayat Bukhari, no: 2826 dan Muslim, no:1890).
(5) Dan bahwa Allah turun ke langit dunia pada setiap malam berdasarkan hadits Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam.
(6) Begitu juga keterangan bahwa Allah Subhanallahu wa Ta’ala itu tidak buta sebelah mataNya berdasarkan pernyataan Nabi Shalallahu ‘alaihi wassalam. ketika beliau menyebut dajjal, beliau bersabda: “Dajjal itu buta sebelah matanya, dan sesungguhnya Rabbmu tidaklah buta (sebelah mataNya).” (Riwayat Bukhari, no: 7231 dan Muslim, no: 2933)
(7) Dan bahwa orang-orang mukmin pasti akan melihat Rabb mereka pada hari kiamat dengan pandangan mata mereka seperti halnya mereka melihat bulan di malam purnama.
(8) juga bahwa Allah Subhanallahu wa Ta’ala. mempunyai jari-jemari seperti ditetapkan oleh sabda Nabi Shalallahu ‘alaihi wassalam: “Tidaklah ada satu jari pun melainkan ia berada di antara dua jari dari jari-jari ar-Rahman Azza wa Jalla.” (Riwayat Ahmad IV/182, Ibnu Majah I/72, Hakim I/525 dan Ibn Mandah hal.87. Imam Hakim mensahihkannya dipersetujui oleh az-Zahabi dalam at-Talkhis)
Semua sifat-sifat ini yang telah ditetapkan oleh Allah Subhanallahu wa Ta’ala. sendiri bagi diriNya dan oleh Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam untukNya, (dan) hakikatnya tidaklah dapat dijangkau oleh akal atau pikiran dan orang yang mengingkarinya karena bodoh (tidak mengetahui keterangan-keterangan tentangnya) tidaklah kafir kecuali jika ia mengetahuinya tetapi ia mengingkarinya, barulah ia kafir.
Dan bilamana yang datang tersebut merupakan berita yang kedudukannya dalam pemahaman seperti sesuatu yang disaksikan dalam apa yang didengar, maka wajib baginya sebagai orang yang mendengar berita tersebut untuk mengimani dan tunduk kepada hakikat hal tersebut dan mempersaksikan atasnya seperti halnya ia melihat dan mendengar dari Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam.
Namun kita tetapkan sifat-sifat ini dengan menafikan (meniadakan) tasybih sebagaimana Allah telah menafikannya dari diriNya dalam firmanNya: “Tidak ada sesuatu pun yang menyerupai Dia, dan Dialah yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. As-Syura: 11).
(Dinukil dari I’tiqadul Aimmatil Arba’ah oleh Dr. Muhammad bin Abdurrahman al-Khumais)
4. IMAM AHMAD BIN HANBAL
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah Rahimahullah menyebut kata-kata Imam Hanbal: “Kita beriman kepada Allah itu di atas ‘Arasy sesuai dengan kehendaknya tanpa dibatasi dan tanpa disifati dengan sifat yang kepadanya seseorang yang berusaha mensifatinya telah sampai atau dengan batas yang kepadanya seseorang yang membatasinya telah sampai. Sifat-sifat Allah itu (datang) dariNya dan milikNya. Ia mempunyai sifat seperti yang Ia sifatkan untuk diriNya, yang tidak dapat dijangkau oleh pandangan.” [Ta’arudh al-‘Aqli wa al-Naqli (II/30)]
Ibnul Jauzi dalam al-Manaqib menyebutkan tulisan (surat) Imam Ahmad bin Hanbal kepada Musaddad yang di antara isinya ialah: “Sifatilah Allah dengan sifat yang denganNya Ia telah mensifati diriNya dan nafikanlah dari Allah apa-apa yang Ia nafikan dari diriNya. (Manaqib Imam Ahmad, hal. 221)
Di dalam kitab ar-Raddu ‘ala al-jahmiah tulisan Imam Ahmad, ia mengucapkan: “Jahm bin Safwan telah menyangka bahwa orang yang mensifati Allah dengan sifat yang dengannya Ia mensifati diriNya dalam kitabNya, atau dengan yang disebutkan Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam dalam haditsnya adalah seorang kafir atau termasuk Musyabbihah (orang yang menyerupakan Allah dengan makhluk).” [Ar-Raddu ‘ala al-Jahmiah, hal. 104]
Penutup
Demikian di atas kami nukilkan dalil-dalil dari al-qur’an dan as=sunnah sesuai pemahaman para shåhabat, beserta pernyataan-pernyataan para Imam empat untuk membuktikan bahwa aqidah mereka adalah sama, yakni sesuai dengan pemahaman salafush shåleh, yang tidak melakukan penambahan maupun pengurangan. Tidak ada takwil dengan makna tahrif, terlebih dengan menta’tilkan, yaitu menafikan sifat. Maka, jelas aqidah yang benar dan selamat adalah mengatakan Allah bersemayam di atas ‘Arasy sebagaimana hujah-hujah telah diberikan di atas tadi.
Inilah pandangan Salafus Shålih, inilah aqidah yang benar yang dijadikan rujukan seluruh ulama ahlus-sunnah, terkecuali ulama-ulama muta-akhirin yang telah mengubah atau mentakwil Istawa dengan ‘istaula’ yang bermakna ‘menguasai’ yang berasal dari golongan asya’irah dan maturidiyyah.
Adapun aqidahnya golongan asya’irah dan maturidiyyah yang sangat mati-matian hendak menyelewengkan fakta yang ada, malah sebaliknya, dalil-dalil yang mereka bawakan itulah yang menguburkan hujjah mereka karena ketidakjujuran mereka dalam menukilkan tulisan ulama-ulama terdahulu.
Kita memohon kepada Allah Ta’ala agar diberikan taufiq dan pemahaman yang lurus serta agar kita termasuk dari golongan yang selamat yang berjalan diatas jalan yang lurus dan dijauhkan dari pemahaman-pemahaman yang menyimpang. aamiin.
Washolallahu ‘Ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘Ala Ahlihi wa Ashhaabihi Ajmain.
Sumber: Buletin Jum’at Al-Atsariyyah (dengan beberapa penambahan)
Penulis : Abul Fudhåil
Pada kesempatan kali ini, kami angkat sebuah topik permasalahan yang klasik dan kontemporer, yaitu mengenal “Dimana Allah?”, Karena di sana banyak kita dapati di antara masyarakat yang menyimpang dalam aqidah (keyakinan) yang agung, prinsip Nabi -Shallallahu ‘alaihi wasallam-, dan para shahabat -Ridhwanullah ‘alaihim ‘ajmain-, serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik.
Kita mendapati di antara kaum muslimin di zaman ini, bermacam-macam keyakinannya atas pertanyaan “Dimana Allah?”. Di antaranya ada yang berkeyakinan bahwa:
1. Allah -Subhanahu wa Ta’ala- berada di hati,
2. bahwa Allah itu berada dimana-mana,
3. bahwa Allah itu lebih dekat dari urat leher,
4. bahwa Allah -Subhanahu wa Ta’ala- bersatu dengan hamba-Nya,
5. Lebih parah lagi, ada juga yang berkeyakinan bahwa, Allah itu tidak di kanan, tidak di kiri, tidak diatas, tidak di bawah, tidak di depan, dan tidak pula di belakang.
Sungguh ini adalah pernyataan yang sangat lucu. Lantas dimana Allah?! Padahal kalau kita mau mengikuti fitrah kita yang suci, sebagaimana fitrahnya anak yang masih kecil, pemikiran mereka yang masih polos, seperti putihnya kertas yang belum ternodai dengan tinta. Kita akan dapati jawaban dari lisan-lisan kecil mereka, jikalau mereka ditanya, “Dimana Allah?” Mereka akan menjawab, “Allah -Subhanahu wa Ta’ala- berada di atas langit.”
Allåh Berada diatas langit dan Bersemayam diatas ‘Arsy
Hadits yang diriwayatkan oleh Mu’awiyah bin Al-Hakam As-Salami menceritakan ketika beliau hendak membebaskan (Jariah) hamba perempuannya, maka beliau bertanya kepada Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam. kemudian beliau (Nabi Shalallahu ‘alaihi wassalam) menyuruh agar hamba tersebut dipanggil lalu beliau bersabda:
Di manakah Allah? dia menjawab: Di Langit beliau bertanya lagi : Siapa aku? Jawab Jariah: Kamu Rasulullah. Lalu beliau berkata: merdekakan dia karena dia adalah Mukminah.
Takhrij hadits
- Muslim bin Hajjaj dalam Sahih Muslim, no: 537.
- Malik bin Anas dalam al-Muwattha’, no: 1468.
- Abu Daud al-Tayalisi dalam al-Musnad, no: 1105.
- Muhammad bin Idris as-Syafi’i dalam al-Umm, no: 242.
- ‘Abd al-Razzaq dalam al-Musannaf, no: 16851.
- Ibn Abi Syaibah dalam al-Musannaf, no 30333.
- Ahmad bin Hanbal dalam al-Musannaf, no: 7906, 23762, 23765 & 23767.
- Abu Daud al-Sajastani dalam Sunan Abu Daud, no: 930 & 3282.
- Ibn Qutaibah dalam Ta’wil Mukhtalaf al-hadits, no: 272.
- ‘Utsman bin Sa’id al-Darimi dalam al-Rad ‘ala al-Jahmiyyah, no: 62.
- al-Harith bin Abi Usamah dalam al-Musnad, no: 015.
-’Amr bin Abi ‘Ashim al-Shaibani dalam al-Sunnah Li Ibn Abi ‘Ashim, no: 489.
- an-Nasai dalam Sunan al-Nasai, no: 1142, 7708, 8535 & 11401.
- Ibn Jarud dalam al-Muntaqa, no: 212.
- Ibn Khuzaimah dalam Kitab al-Tauhid wa Itsbat Sifat al-Rabb ‘Azza wa Jalla, no: 178, 179, 180, 181 & 182.
- Abi ‘Uwanah dalam al-Musnad, no: 1727 & 1728.
- Abu al-Husain ‘Abd al-Baqi’ dalam al-Mu’jam al-Sahabah, 735.
- Ibn Hibban dalam Sahih Ibn Hibban, no: 165 & 2247.
- al-Thabrani dalam Mu’jam al-Kabir, no: 937 & 938.
- Muhammad bin Ishaq bin Manduh dalam al-Iman, no: 091.
- al-Lalaka’I dalam Syarah Usul I’tiqad Ahl al-Sunnah, no: 652.
- Abu Nu’aim al-Asbahani dalam al-Musnad al-Mustakhraj ‘ala Sahih Imam Muslim, no: 1183.
- Ibn Hazm dalam al-Muhalla, no: 1664.
- al-Baihaqi dalam al-Sunan al-Kubra, no: 15266, 15268, 19984 & 19985.
- ‘Abd Allah bin Muhammad bin ‘Ali al-Harawi dalam al-’Arba’in fi Dalail al-Tauhid, no: 011.
Derajat Hadits
Hadits di atas adalah SAHIH. Imam Muslim telah memasukkan hadits ini kedalam kitab Sahihnya.
Bahkan sangat masyhur karena banyaknya yang meriwayatkan hadits ini, seperti yang kita lihat pada takhrij di atas. Ada sebahagian golongan yang sangat anti kepada dakwah ahlus-sunnah as-salafiyyah, yang bahkan mengatas namakan diri mereka ahlus sunnah, dan memang ‘kelihatannya’ berhujah berlandaskan al-Quran dan Sunnah, tapi jika kita hadapkan dengan kasus ini, terbuktilah apa-apa yang mereka bawa (dalil-dalil) itu hanyalah untuk mereka sesuaikan menurut akal dan hawa nafsu mereka semata, karena mereka ingkar aqidah para salaf bahwa Allah di atas ‘Arasy.
Orang-orang yang mempertahankan aqidah “Allåh wujud bi la makan” (yang artinya “Allåh ada, tidak bertempat”; tidak di atas, tidak dibawah, tidak di depan, tidak di belakang, tidak di dalam dan tidak di luar”), telah ingkar dengan hadits di atas, bahkan sampai menjatuhkan derajatnya kepada dha’if semata-mata ingin membenarkan hujjah mereka. Kemudian mereka mencerca ulama hadits yang tidak bersalah dengan tuduhan yang tidak berasas.
Adapun para Salafush Sholeh, mereka tidak pernah pun mentakwil ataupun menukar (tahrif) makna hadits ini. hadits ini juga menunjukkan, bahwa tidak salah jika kita berkata “Allah itu di atas langit” karena memang Allah itu di atas langit, karena Allåh berada diatas ‘Arasy dan ‘Arasy itu sendiri berada di atas langit.
Aqidah ini telah dijelaskan dalam Kitabullah, As-Sunnah, ijma’, dan komentar para ulama Ahlus Sunnah wal Jama’ah dalam kitab-kitab mereka. Mereka sudah patenkan (tetapkan) bahwa barangsiapa yang menyelisihinya, maka ia adalah ahli bid’ah, dan menyimpang.
Dalil-dalil lain dari Al-qur’an dan As-sunnah ash-shåhihah
Dalil-dalil masalah ini sangatlah banyak dari Al-Qur’an, dan As-Sunnah. Berikut ini kami akan sebutkan -insya’ Allah- beberapa di antaranya saja, dan sebenarnya tidak terbatas.
Dalil-dalil dari al-qur’an
Allah -Subhanahu wa Ta’ala- berfirman,
Tuhan yang Maha Pemurah beristiwa di atas ‘Arasy. [QS. Taha: 5]
“Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas `Arsy.” (QS. Al A’raf: 54)
Allah -Subhanahu wa Ta’ala- berfirman,
“Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah Yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas `Arsy untuk mengatur segala urusan.” (QS. Yunus: 3)
Allah -Subhanahu wa Ta’ala- berfirman,
“Allah-lah Yang meninggikan langit tanpa tiang (sebagaimana) yang kamu lihat, kemudian Dia bersemayam di atas `Arsy.” (QS. Ar Ra’d: 2)
Allah -Subhanahu wa Ta’ala- berfirman,
“Yang menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas Arsy.” (QS. Al-Furqon: 59)
Allah -Subhanahu wa Ta’ala- berfirman,
“Allah-lah yang menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas `arsy.” (QS. As-Sajadah: 4)
Allah -Subhanahu wa Ta’ala- berfirman,
“Barangsiapa yang menghendaki kemuliaan, maka bagi Allah-lah kemuliaan itu semuanya. Kepada-Nyalah naik perkataan-perkataan yang baik dan amal yang saleh dinaikkan-Nya.” (QS. Fathir: 10)
Allah -Subhanahu wa Ta’ala- berfirman,
Kemudian Dia beristiwa ke arah langit dan langit itu masih merupakan asap. [QS. Fushsilat: 11]
Allah -Subhanahu wa Ta’ala- berfirman,
Allah, Dialah yang menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya dalam enam masa, kemudian Dia beristiwa di atas ‘Arasy. [QS al-Sajdah: 4]
Berkata Ibn Kathir Rahimahullah:
“Dan adapun FirmanNya Ta’ala: “Kemudian Dia Bersemayam diatas ‘Arsy”, maka bagi manusia pada masalah ini pendapat yang banyak dan bukanlah di sini tempat membahasnya dan sesungguhnya hendaklah diikuti dalam masalah ini madzhab As-Salaf Ash-Shålih: Malik, Auza’i, As-Tsaury, Al-Laith bin Saad, Asy-Syafi’i, Ahmad bin Hanbal, Ishaq bin Rahuwaih, dan selainnya daripada imam-imam muslimin dahulu dan sekarang yaitu menjalankan dan memahaminya sebagaimana datangnya tanpa takyif (memberi rupa), dan tidak pula tsaybih (penyerupaan), dan tidak pula ta’thil (membatalkan sifat)….” –Tafsir al-’Adzhim.
Ibn ‘Abd al-Barr menjelaskan tentang hadits ini:
“Dan adapun hadits jariah: Di manakah Allah? Maka menjadi pegangan atasnya oleh jama’ah ahli sunnah dan mereka-mereka juga adalah ahli hadits dan seluruh perawi yang memahaminya, mereka semua berkata sebagaimana firman Allah dalam kitabnya: “al-Rahman Bersemayam di atas ‘Arsy.” Dan bahwa sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla di langit dan Ilmu-Nya pada setiap tempat. [Al-Istizkar: al-Jamii' li mazhab Fuqaha al-Ansor wa 'Ulama al-Aqtar]
Al-Hafizh Al-Baihaqy-rahimahullah- berkata dalam Al-I’tiqod (1/114), “Ayat-ayat itu merupakan dalil yang membatalkan pendapat orang Jahmiyyah yang menyatakan bahwa Dzat Allah -Subhanahu wa Ta’ala- berada dimana-mana.”
Dalil-dalil dalam permasalahan ini banyak sekali, jika kita ingin memeriksa Al-Qur’an, As-Sunnah, dan atsar para salaf. Oleh karena itu, Ibnu Abil Izz Al-Hanafiy -rahimahullah- berkata dalam Syarh Al-Aqidah Ath-Thohawiyyah (288), “Dalil-dalil yang semisal dengannya,kalau seandainnya dihitung satu-persatu, maka akan mencapai ribuan dalil”
Dalil-dalil lain dari as-sunnah
Sabda Nabi -Shallallahu ‘alaihi wasallam-:
“Ketika Allah -Subhanahu wa Ta’ala- menciptakan makhluk-Nya, Allah -Subhanahu wa Ta’ala- menuliskan di dalam kitab-NYa (Lauh Mahfudz) yang ada di sisi-Nya diatas Arsy (singgasana) ‘Sesungguhnya rahmat Allah mendahului kemurkaan-Nya.” [HR. Al-Bukhary dalam Shohih-nya (3022, 6969, dan 6986), dan Muslim dalam Shohih-nya (2751)]
Dari Abu Sa’id Al-Khudri Nabi -Shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda:
“Tidakkah kalian percaya kepadaku? Sementara aku dalam keadaan beriman kepada Yang dilangit. Datang kepadaku berita dari langit di waktu pagi hari dan petang….” [HR. Al-Bukhary dalam Shohih-nya (4094), Muslim dalam Shohih-nya (1064)]
Al-Qurthuby -rahimahullah- dalam Al-Jami’ li Ahkam Al-Qur’an (7/219) berkata, “Tidak ada seorang salaf pun yang mengingkari bahwa Allah bersemayam di atas Arsy-Nya secara hakiki. Arsy dikhususkan karena ia merupakan makhluk Allah yang terbesar. Para salaf tidak (berusaha) mengetahui cara (kaifiyyah) Allah bersemayam, karena sifat bersemayam itu tidak bisa diketahui hakekatnya. Imam Malik -rahimahullah- berkata : [‘Sifat bersemayam itu diketahui maknanya secara bahasa, tidak boleh ditanyakan cara Allah bersemayam, dan pertanyaan tentang cara Allah bersemayam merupakan bid’ah dan ajaran baru.”
Jadi, madzhab Ahlis Sunnah menyatakan bahwa Allah bersemayam di atas Arsy, namun ilmu-Nya meliputi segala sesuatu. Adapun aqidah yang menyatakan bahwa Allah berada dimana-mana, bukanlah merupakan aqidah Ahlis Sunnah, akan tetapi merupakan aqidah ahli bid’ah yang batil berdasarkan ayat-ayat yang menyebutkan bahwa Allah di atas Arsy beserta keterangan Ulama Ahlis Sunnah yang telah kami sebutkan, dan berikut tambahan keterangan dalam masalah ini:
Al-Hafizh Abu Umar Ibnu Abdil Barr -rahimahullah- berkata dalam At-Tamhid (7/129), “Di dalamnya terdapat dalil yang menunjukkan bahwa Allah Azza wa Jalla berada di atas Arsy, di atas langit ketujuh sebagaimana yang ditegaskan oleh Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Itu juga merupakan hujjah mereka terhadap orang-orang Mu’tazilah yang berkata: “[Allah berada di mana-mana, bukan di atas Arsy]”.Dalil yang mendukung kebenaran madzhab Ahlul Haq/Ahlis Sunnah dalam hal ini adalah firman Allah Azza wa Jalla: “Ar-Rahman bersemayam di atas Arsy” dan firman-Nya Azza wa Jalla: “ Kemudian Dia bersemayam di atas Arsy…”.
Imam Al-Qurthuby-rahimahullah- berkata dalam Al-Jami’ li Ahkam Al-Qur’an (4/162): “Jahmiyyah terbagi menjadi 12 kelompok … (di antaranya) Al-Multaziqoh, mereka menganggap bahwa Allah berada di mana-mana …”.
Shodaqoh-rahimahullah- berkata, “Saya mendengar At-Taimy berkata, “Andaikan aku ditanya: Dimana Allah Tabaraka wa Ta’ala?, niscaya aku akan jawab: Dia di langit.” [Lihat Syarah I’tiqod Ahlis Sunnah (3/401/671)]
Pernyataan Imam yang Empat Mengenai Sifat-sifat Allåh
1. IMAM ABU HANIFAH
Imam Abu Hanifah berkata: “Tidak patut bagi seseorang untuk mengatakan sesuatu tentang Dzat Allah kecuali kepada diriNya, dan tidak boleh seseorang mengatakan sesuatu tentang Allah dengan pendapat (ra’yu)nya. Maha Suci serta Maha Tinggi Allah Ta’ala, Rabb semesta Alam.” (Syarhul Aqidah at-Tahawiyah (2/472), tahqiq Dr. At-Turky, Jalaulm’Ainain, hal. 368)
Ketika Imam Abu Hanifah ditanya tentang nuzulul Ilah (turunnya Allah), ia menjawab: “Ia turun dengan tidak kita menanyakan bagaimana (kaifiatnya) caranya.” (Aqidatus salaf Ashabil hadits, hal. 42, al-Asma’ Was Sifat oleh al-Baihaqi, hal. 456)
Imam Abu Hanifah berkata lagi: Barangsiapa yang berkata: “Aku tidak tahu Rabbku, di langit atau di bumi?” berarti ia kafir. Begitu juga seseorang menjadi kafir apabila mengatakan bahwa Allah itu di atas ‘Arasy, tetapi aku tidak tahu adakah ‘Arasy itu di langit atau di bumi. (al-Fiqhul Absath, hal. 46)
Imam Abu Hanifah berkata kepada seseorang wanita yang bertanya: “Dimanakah Ilahmu yang engkau sembah itu?” Ia menjawab: “Sesungguhnya Allah itu ada di langit bukan di bumi.”
Lalu datanglah seorang pemuda mengajukan pertanyaan: “Bagaimana dengan ayat: ??? ???? ??? ?? ????? “Dia bersama kamu dimana kamu berada.” (QS. al-Hadid: 4).
Imam Abu Hanifah menjawab: “Dia seperti engkau menulis surat kepada seorang lelaki dengan mengatakan, sesungguhnya aku selalu bersamamu, padahal engkau tidak ada di sampingnya.” –al-Asma’ was Sifat, hal. 4292.
IMAM MALIK BIN ANAS
Abu Nu’aim mentakhrijkan dari Ja’far bin Abdillah berkata: “Ketika kami sedang berada di samping Malik bin Anas, datanglah seorang pemuda lalu bertanya: “Wahai Abu Abdillah, Ar-Rahman (Allah yang Maha Pengasih) bersemayam di atas ‘Arasy bagaimana bersemayamNya?” Mendengar pertanyaan ini, Imam Malik menjadi berang dan marah. Lalu ia menundukkan muka ke bumi seraya menyandarkannya ke tongkat yang dipegangnya hingga tubuhnya bersimbah keringat. Setelah ia mengangkat kepalanya, ia lantas berkata:
“Cara bersemayam-Nya tidak diketahui (tidak dapat digambarkan), sedang istiwa-Nya (bersemayamnya) telah jelas dan diketahui (maknanya), beriman kepadanya adalah wajib, dan bertanya tentang (bagaimana)nya adalah bid’ah. (Dan) Aku menyangka engkau adalah pelaku bid’ah.” Lalu beliau menyuruh orang itu keluar.
(Hilyatul Aulia’ (VI/325-326), Ibn Abdil Barr dalam at-Tauhid (VI/151), Al-Baihaqi dalam al-Asma’ Was Sifat, hal. 498, Ibn Hajar dalam Fathul Bari (XIII/406-407), Az-Zahabi dalam al-Uluw, hal. 103)
3. IMAM MUHAMMAD BIN IDRIS AS-SYAFI’I
Imam Syafi’i Rahimahullah berkata: “Allah Tabaraka wa Taala memiliki asma’ (nama-nama) dan sifat-sifat yang telah disebutkan oleh KitabNya dan diberitakan oleh NabiNya Shalallahu ‘alaihi wassalam. kepada umatnya, yang tidak boleh diingkari oleh sesiapa pun dari makhluk Allah Subhanallahu wa Ta’ala. yang telah sampai kepadanya dalil bahwa al-Quran turun membawa keterangan tentang hal tersebut, juga sabda Nabi Shalallahu ‘alaihi wassalam. yang diriwayatkan oleh perawi yang adil dan tsiqah telah jelas-jelas sahih yang menerangkan masalah itu.
Maka barangsiapa mengingkari atau berbeda dengan semuanya itu padahal hujah (dalil/ keterangan) tersebut telah jelas baginya, berarti ia telah kafir kepada Allah Subhanallahu wa Ta’ala. Adapun jika ia menentang karena belum mendapat hujah/ keterangan tersebut, maka ia diampuni karena kebodohannya, karena pengetahuan tentang semuanya itu (sifat-sifat Allah dan asma’Nya) tidak dapat dijangkau oleh akal dan pemikiran.Yang termasuk ke dalam keterangan-keterangan seperti itu adalah juga keterangan-keterangan Allah Subhanallahu wa Ta’ala:
(1) bahwa Dia Maha Mendengar dan bahwa Allah itu memiliki tangan sesuai dengan firmanNya: “Bahkan Tangan Allah itu terbuka.” (QS. al-Maidah: 64). Dan bahwa Allah memiliki tangan kanan, sebagaimana dinyatakan: “…Dan langit digulung dengan tangan kananNya.” (QS. az-Zumar: 67)
(2) dan bahwa Allah itu memiliki Wajah, berdasarkan firmanNya yang menetapkan: “Dan tiap-tiap sesuatu itu pasti binasa, kecuali Wajah Allah…” (QS. Al-Qasas: 88), “Dan kekallah wajah Rabbmu yang mempunyai keagungan dan kemulian.” (QS. Ar-Rahman: 27).
(3) Juga bahwa Allah mempunyai Telapak Kaki (Qådamur Råhman), sesuai dengan pernyataan Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam: Nabi bersabda, “Setiap kali Jahannam dilempari (dengan penghuninya) ia (Jahannam) senantiasa mengatakan, “Masih adakah tambahan?” Sehingga Rabbul ‘Izzah (Allah) meletakkan telapak kaki-Nya didalamnya -dalam riwayat lain, meletakkan telapak kaki-Nya di atasnya-. Maka sebagiannya mengisutkan kepada sebagian lainnya, lalu ia (Jahannam) berkata, “Cukup… cukup…!” (Riwayat Bukhari, no: 4848 dan Muslim, no: 2848)
(4) dan Allah tertawa berdasarkan sabda Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam, tentang orang yang mati fi sabilillah: “Ia akan bertemu dengan Allah Azza wa Jalla sedang Allah tertawa kepadanya….” (Riwayat Bukhari, no: 2826 dan Muslim, no:1890).
(5) Dan bahwa Allah turun ke langit dunia pada setiap malam berdasarkan hadits Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam.
(6) Begitu juga keterangan bahwa Allah Subhanallahu wa Ta’ala itu tidak buta sebelah mataNya berdasarkan pernyataan Nabi Shalallahu ‘alaihi wassalam. ketika beliau menyebut dajjal, beliau bersabda: “Dajjal itu buta sebelah matanya, dan sesungguhnya Rabbmu tidaklah buta (sebelah mataNya).” (Riwayat Bukhari, no: 7231 dan Muslim, no: 2933)
(7) Dan bahwa orang-orang mukmin pasti akan melihat Rabb mereka pada hari kiamat dengan pandangan mata mereka seperti halnya mereka melihat bulan di malam purnama.
(8) juga bahwa Allah Subhanallahu wa Ta’ala. mempunyai jari-jemari seperti ditetapkan oleh sabda Nabi Shalallahu ‘alaihi wassalam: “Tidaklah ada satu jari pun melainkan ia berada di antara dua jari dari jari-jari ar-Rahman Azza wa Jalla.” (Riwayat Ahmad IV/182, Ibnu Majah I/72, Hakim I/525 dan Ibn Mandah hal.87. Imam Hakim mensahihkannya dipersetujui oleh az-Zahabi dalam at-Talkhis)
Semua sifat-sifat ini yang telah ditetapkan oleh Allah Subhanallahu wa Ta’ala. sendiri bagi diriNya dan oleh Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam untukNya, (dan) hakikatnya tidaklah dapat dijangkau oleh akal atau pikiran dan orang yang mengingkarinya karena bodoh (tidak mengetahui keterangan-keterangan tentangnya) tidaklah kafir kecuali jika ia mengetahuinya tetapi ia mengingkarinya, barulah ia kafir.
Dan bilamana yang datang tersebut merupakan berita yang kedudukannya dalam pemahaman seperti sesuatu yang disaksikan dalam apa yang didengar, maka wajib baginya sebagai orang yang mendengar berita tersebut untuk mengimani dan tunduk kepada hakikat hal tersebut dan mempersaksikan atasnya seperti halnya ia melihat dan mendengar dari Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam.
Namun kita tetapkan sifat-sifat ini dengan menafikan (meniadakan) tasybih sebagaimana Allah telah menafikannya dari diriNya dalam firmanNya: “Tidak ada sesuatu pun yang menyerupai Dia, dan Dialah yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. As-Syura: 11).
(Dinukil dari I’tiqadul Aimmatil Arba’ah oleh Dr. Muhammad bin Abdurrahman al-Khumais)
4. IMAM AHMAD BIN HANBAL
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah Rahimahullah menyebut kata-kata Imam Hanbal: “Kita beriman kepada Allah itu di atas ‘Arasy sesuai dengan kehendaknya tanpa dibatasi dan tanpa disifati dengan sifat yang kepadanya seseorang yang berusaha mensifatinya telah sampai atau dengan batas yang kepadanya seseorang yang membatasinya telah sampai. Sifat-sifat Allah itu (datang) dariNya dan milikNya. Ia mempunyai sifat seperti yang Ia sifatkan untuk diriNya, yang tidak dapat dijangkau oleh pandangan.” [Ta’arudh al-‘Aqli wa al-Naqli (II/30)]
Ibnul Jauzi dalam al-Manaqib menyebutkan tulisan (surat) Imam Ahmad bin Hanbal kepada Musaddad yang di antara isinya ialah: “Sifatilah Allah dengan sifat yang denganNya Ia telah mensifati diriNya dan nafikanlah dari Allah apa-apa yang Ia nafikan dari diriNya. (Manaqib Imam Ahmad, hal. 221)
Di dalam kitab ar-Raddu ‘ala al-jahmiah tulisan Imam Ahmad, ia mengucapkan: “Jahm bin Safwan telah menyangka bahwa orang yang mensifati Allah dengan sifat yang dengannya Ia mensifati diriNya dalam kitabNya, atau dengan yang disebutkan Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam dalam haditsnya adalah seorang kafir atau termasuk Musyabbihah (orang yang menyerupakan Allah dengan makhluk).” [Ar-Raddu ‘ala al-Jahmiah, hal. 104]
Penutup
Demikian di atas kami nukilkan dalil-dalil dari al-qur’an dan as=sunnah sesuai pemahaman para shåhabat, beserta pernyataan-pernyataan para Imam empat untuk membuktikan bahwa aqidah mereka adalah sama, yakni sesuai dengan pemahaman salafush shåleh, yang tidak melakukan penambahan maupun pengurangan. Tidak ada takwil dengan makna tahrif, terlebih dengan menta’tilkan, yaitu menafikan sifat. Maka, jelas aqidah yang benar dan selamat adalah mengatakan Allah bersemayam di atas ‘Arasy sebagaimana hujah-hujah telah diberikan di atas tadi.
Inilah pandangan Salafus Shålih, inilah aqidah yang benar yang dijadikan rujukan seluruh ulama ahlus-sunnah, terkecuali ulama-ulama muta-akhirin yang telah mengubah atau mentakwil Istawa dengan ‘istaula’ yang bermakna ‘menguasai’ yang berasal dari golongan asya’irah dan maturidiyyah.
Adapun aqidahnya golongan asya’irah dan maturidiyyah yang sangat mati-matian hendak menyelewengkan fakta yang ada, malah sebaliknya, dalil-dalil yang mereka bawakan itulah yang menguburkan hujjah mereka karena ketidakjujuran mereka dalam menukilkan tulisan ulama-ulama terdahulu.
Kita memohon kepada Allah Ta’ala agar diberikan taufiq dan pemahaman yang lurus serta agar kita termasuk dari golongan yang selamat yang berjalan diatas jalan yang lurus dan dijauhkan dari pemahaman-pemahaman yang menyimpang. aamiin.
Washolallahu ‘Ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘Ala Ahlihi wa Ashhaabihi Ajmain.
Sumber: Buletin Jum’at Al-Atsariyyah (dengan beberapa penambahan)
Monday, May 17, 2010
Celaan Imam Syafi’i terhadap kelompok Sufi (tasawuf)
Celaan Imam Asy-Syafi’i terhadap kelompok Sufi (tasawuf)
Perkataan Ulama Tentang Sufi
Penulis: Al-Ustaz Abu Abdillah Abdu Ar-Rahman Mubarak
Celaan Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullahu terhadap sufiyah
Sufiyah bukanlah pengikut Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullahu. Di antara buktinya adalah banyaknya celaan dari Al-Imam Asy-Syafi’i dan lainnya terhadap mereka.
Al-Imam Al-Baihaqi rahimahullahu meriwayatkan dengan sanadnya sampai Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullahu, “Jika seorang belajar tasawuf di pagi hari, sebelum datang waktu zuhur engkau akan dapati dia menjadi orang dungu”.
Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullahu juga mengatakan, “Aku tidak pernah melihat seorang sufi yang berakal. Seorang yang telah bersama kaum sufiyah selama 40 hari, tidak mungkin kembali akalnya”.
Beliau juga berkata, “Asas (dasar sufiyah) adalah malas”. (Lihat Mukhalafatus Sufiyah lil Imam Asy-Syafi’i rahimahullahu hal. 13-15)
Beliau menamai sufiyah dengan kaum zindiq. Kata beliau rahimahullahu, “Kami tinggalkan Baghdad dalam keadaan orang-orang zindiq telah membuat-buat bid’ah yang mereka namakan sama’ (nyanyian sufi, red.)”.
Asy-Syaikh Jamil Zainu berkata, “Orang-orang zindiq yang dimaksud Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullahu adalah kaum sufiyah”. (Lihat Sufiyah fi Mizan Al-Kitabi wa As- Sunnah)
Celaan Al-Imam Malik rahimahullahu terhadap sufiyah
At-Tunisi mengatakan: Kami berada di sisi Al-Imam Malik, sedangkan murid-murid beliau di sekelilingnya. Seorang dari Nasibiyin berkata, “Di tempat kami ada satu kelompok disebut sufiyah. Mereka banyak makan, kemudian membaca qasidah dan berjoget”.
Al-Imam Malik berkata, “Apakah mereka anak-anak?”
Orang tadi menjawab, “Bukan”.
Beliau berkata, “Apakah mereka adalah orang-orang gila?”
Orang tadi berkata, “Bukan, mereka adalah orang-orang tua yang berakal”.
Al-Imam Malik berkata, “Aku tidak pernah mendengar seorang pemeluk Islam melakukan demikian”.
Celaan Al-Imam Ahmad rahimahullahu terhadap sufiyah
Beliau ditanya tentang apa yang dilakukan sufiyah berupa nasyid-nasyid dan qasidah yang mereka namakan sama’. Beliau berkata, “Itu adalah muhdas (perkara baru yang diada-adakan dalam Islam)”. Ditanyakan kepada beliau, “Apakah boleh kami duduk bersama mereka?” Beliau menjawab, “Janganlah kalian duduk bersama mereka”.
Beliau berkata tentang Haris Al-Muhasibi –dia adalah tokoh sufiyah–, “Aku tidak pernah mendengar pembicaraan tentang masalah hakikat sesuatu seperti yang diucapkannya. Namun aku tidak membolehkan engkau berteman dengannya”.
Celaan Al-Imam Abu Zur’ah rahimahullahu terhadap sufiyah
Al-Hafiz berkata dalam Tahzib: Al-Barza’i berkata, “Abu Zur’ah ditanya tentang Haris Al-Muhasibi dan kitab-kitabnya. Beliau berkata kepada penanya, ‘Hati-hati kamu dari kitab-kitab ini, karena isinya kebid’ahan dan kesesatan. Engkau wajib berpegang dengan atsar, akan engkau dapati yang membuatmu tidak memmerlukan apapun dari kitab-kitabnya’”.
Celaan Al-Imam Ibnul Jauzi rahimahullahu terhadap sufiyah
Beliau berkata, “Aku telah menelaah keadaan sufiyah dan aku dapati kebanyakannya menyimpang dari syariat. Antara bodoh tentang syariat atau kebid’ahan dengan akal pikiran”.
Marwan bin Muhammad rahimahullahu berkata :
“Tiga golongan manusia yang tidak bisa dipercaya dalam masalah agama: sufi, qasas (tukang kisah), dan ahlul bid’ah yang membantah ahlul bid’ah lainnya”.
(Lihat Mukhalafatush Shufiyah, hal.16-18)
Sumber : http://www.asysyariah.com
Perkataan Ulama Tentang Sufi
Penulis: Al-Ustaz Abu Abdillah Abdu Ar-Rahman Mubarak
Celaan Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullahu terhadap sufiyah
Sufiyah bukanlah pengikut Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullahu. Di antara buktinya adalah banyaknya celaan dari Al-Imam Asy-Syafi’i dan lainnya terhadap mereka.
Al-Imam Al-Baihaqi rahimahullahu meriwayatkan dengan sanadnya sampai Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullahu, “Jika seorang belajar tasawuf di pagi hari, sebelum datang waktu zuhur engkau akan dapati dia menjadi orang dungu”.
Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullahu juga mengatakan, “Aku tidak pernah melihat seorang sufi yang berakal. Seorang yang telah bersama kaum sufiyah selama 40 hari, tidak mungkin kembali akalnya”.
Beliau juga berkata, “Asas (dasar sufiyah) adalah malas”. (Lihat Mukhalafatus Sufiyah lil Imam Asy-Syafi’i rahimahullahu hal. 13-15)
Beliau menamai sufiyah dengan kaum zindiq. Kata beliau rahimahullahu, “Kami tinggalkan Baghdad dalam keadaan orang-orang zindiq telah membuat-buat bid’ah yang mereka namakan sama’ (nyanyian sufi, red.)”.
Asy-Syaikh Jamil Zainu berkata, “Orang-orang zindiq yang dimaksud Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullahu adalah kaum sufiyah”. (Lihat Sufiyah fi Mizan Al-Kitabi wa As- Sunnah)
Celaan Al-Imam Malik rahimahullahu terhadap sufiyah
At-Tunisi mengatakan: Kami berada di sisi Al-Imam Malik, sedangkan murid-murid beliau di sekelilingnya. Seorang dari Nasibiyin berkata, “Di tempat kami ada satu kelompok disebut sufiyah. Mereka banyak makan, kemudian membaca qasidah dan berjoget”.
Al-Imam Malik berkata, “Apakah mereka anak-anak?”
Orang tadi menjawab, “Bukan”.
Beliau berkata, “Apakah mereka adalah orang-orang gila?”
Orang tadi berkata, “Bukan, mereka adalah orang-orang tua yang berakal”.
Al-Imam Malik berkata, “Aku tidak pernah mendengar seorang pemeluk Islam melakukan demikian”.
Celaan Al-Imam Ahmad rahimahullahu terhadap sufiyah
Beliau ditanya tentang apa yang dilakukan sufiyah berupa nasyid-nasyid dan qasidah yang mereka namakan sama’. Beliau berkata, “Itu adalah muhdas (perkara baru yang diada-adakan dalam Islam)”. Ditanyakan kepada beliau, “Apakah boleh kami duduk bersama mereka?” Beliau menjawab, “Janganlah kalian duduk bersama mereka”.
Beliau berkata tentang Haris Al-Muhasibi –dia adalah tokoh sufiyah–, “Aku tidak pernah mendengar pembicaraan tentang masalah hakikat sesuatu seperti yang diucapkannya. Namun aku tidak membolehkan engkau berteman dengannya”.
Celaan Al-Imam Abu Zur’ah rahimahullahu terhadap sufiyah
Al-Hafiz berkata dalam Tahzib: Al-Barza’i berkata, “Abu Zur’ah ditanya tentang Haris Al-Muhasibi dan kitab-kitabnya. Beliau berkata kepada penanya, ‘Hati-hati kamu dari kitab-kitab ini, karena isinya kebid’ahan dan kesesatan. Engkau wajib berpegang dengan atsar, akan engkau dapati yang membuatmu tidak memmerlukan apapun dari kitab-kitabnya’”.
Celaan Al-Imam Ibnul Jauzi rahimahullahu terhadap sufiyah
Beliau berkata, “Aku telah menelaah keadaan sufiyah dan aku dapati kebanyakannya menyimpang dari syariat. Antara bodoh tentang syariat atau kebid’ahan dengan akal pikiran”.
Marwan bin Muhammad rahimahullahu berkata :
“Tiga golongan manusia yang tidak bisa dipercaya dalam masalah agama: sufi, qasas (tukang kisah), dan ahlul bid’ah yang membantah ahlul bid’ah lainnya”.
(Lihat Mukhalafatush Shufiyah, hal.16-18)
Sumber : http://www.asysyariah.com
Wednesday, January 6, 2010
Hadith Fadhilat Yasin Tidak Sah
Membaca Al-Quran adalah dituntut oleh syara'. Maknanya kita disuruh supaya membaca keseluruhan ayat-ayat Al-Quran itu bermula dari Al-Fatihah hingga ke An-Nas. Selain itu disunnahkan juga membaca beberapa surah-surah dari Al-Quran atau beberapa ayat-ayat dari Al-Quran dengan mengharapkan fadhilat seperti yang dinyatakan dalam hadith-hadith yang sahih. Dalam posting ini aku tidak bercadang untuk memperincikan ayat-ayat Al-Quran yang disunnahkan membacanya dengan membawa bukti hadith-hadith yang sahih.
Untuk posting ini aku ingin mengutarakan mengenai amalan dan kepercayaan ramai orang mengenai membaca surah Yasin. Mereka itu percaya bahawa sekiranya membaca surah yasin itu pada masa atau hari yang tertentu maka mereka akan dapat fadhilat-fadhilat yang tertentu. Untuk menyokong kepercayaan dan amalan mereka itu, mereka telah kemukakan beberapa buah hadith.
Perlu aku ingatkan bahawa membaca Al-Quran adalah suatu ibadah. Suatu ibadah itu tidak sah melainkan ada dalilnya dari Al-Quran dan hadith yang sahih dan hadith yang hasan. Begitu juga dengan fadhilat membaca Al-Quran itu samada fadhilat itu didapati di dunia atau pun dijanjikan untuk dapati di akhirat nanti, ini semua memerlukan dalil dari Al-Quran dan hadith yang sahih.
Yasin adalah sebahagian dari Al-Quran. Membaca surah Yasin bila mana masa pun adalah berpahala dengan izin Allah, ini adalah kaidah umum.
Tetapi membaca surah Yasin pada masa atau hari tertentu dengan harapan untuk mendapat fadhilat tertentu seperti yang diamalkan oleh sebahagian ummat Islam hari ini apakah dibenarkan oleh syara'. Ulamak ahli hadith telah membuat pemeriksaan terhadap hadith-hadith yang mereka gunakan itu dan mereka telah dapati semuanya adalah tidak sah.
Aku sudah tahu mengenai hal tidak sahnya hadith-hadith mengenai fadhilat surah Yasin sejak tahun 90an lagi dari bacaanku pada kitab karangan Al-Muhaddith Muhammad Nasiruddin Al-Albani bernama SilsalatulAhadith Ad-Dha'ifah WalMaudhu'ah. Dalam kitab ini juga diterangkan mengenai tidak sahnya hadith fadhilat surah Al-Waqi'ah.
Untuk tujuan posting ini aku tidak bertujuan untuk ambil terus dari kitab Al-Albani itu. Sebagai ganti aku akan copy and paste dari sebuah blog dengan edit tanpa mengubah teks asal. Semoga Allah membalas jasa penulis blog itu yang bersusah payah menulis posting tersebut.
Blog itu ialah
http://ibnuismailbinibrahim.blogspot.com/2009/06/takhrij-hadits-fadhilah-yasin-bag-1.html
http://ibnuismailbinibrahim.blogspot.com/2009/06/takhrij-hadits-fadhilah-yasin-bag-2.html
Sila baca isi blog tersebut >>>>>>>
Al-Qur’an adalah kitab yang paling wajib dibaca dan ditadabburi oleh kaum muslimin, sesuai dengan firman Allah ‘Azza wa Jalla dalam surat al-‘Alaq ayat 1 :
إِقْرَا
“Bacalah.”
Al-Qur’an memiliki 30 juz dan terdiri dari 114 surat, mulai dari surat al-Fatihah hingga surat an-Naas. Dan kesemuanya itu memiliki keutamaan untuk diamalkan oleh kaum muslimin. Namun, kita melihat banyak orang yang lebih senang membaca surat-surat tertentu dari al-Qur’an karena (niatnya) berbagai fadhilah yang sebetulnya perlu diteliti keshahihannya. Salah satu surat yang sangat masyhur di kalangan masyarakat kita ini adalah surat Yasin. Mereka berdalih dengan berbagai riwayat yang menyebutkan tentang fadhilah surat Yasin ini.
Berikut ini akan kita lihat takhrij singkat dari beberapa riwayat yang menyebutkan tentang fadhilah-fadhilah surat Yasin.
Hadits pertama :
مَنْ قَرَأ يَسٍ فِيْ لَيْلَةٍ أَصْبَحَ مَغْفُوْرًا لَهُ
“Barang siapa yang membaca surat Yaasiin dalam satu malam, maka ketika ia bangun pagi hari diampuni dosanya.”
Riwayat Ibnul Jauzi dalam al-Maudhu’at (I/247)
Hadits ini adalah hadits Maudhu’.
Takhrij singkat:
Diriwayatkan dari Abu Hurairah, Ibnul Jauzi berkata : “Hadits ini dari semua thuruq-nya adalah bathil, tidak ada asalnya.” Imam ad-Daruquthni berkata : “Muhammad bin Zakaria yang ada dalam sanad hadits ini adalah tukang memalsukan hadits.”
Rujukan :
Al-Maudhu’at oleh Ibnul Jauzi (I/246-247), Mizaanul I’tidal (III/549), Lisaanul Mizaan (V/168), al-Fawaa-idul Majmu’ah fii Ahaaditsil Maudhu’ah (hal. 286 no. 944)
Hadits kedua :
مَنْ قَرَأَ يَسٍ فِيْ لَيْلَةٍ ابْتِغَاءَ وَجْهَ اللهِ غُفِرَ لَهُ
“Barang siapa membaca surat Yaasiin pada malam hari karena mengharap keridhaan Allah, niscaya Allah ampuni dosanya.”
Diriwayatkan oleh ath-Thabrani dalam al-Mu’jamul Ausaath dan al-Mu’jamush Shaaghir.
Hadits ini adalah hadits Dha’if.
Takhrij singkat :
Diriwayatkan dari Abu Hurairah, tetapi di dalam sanadnya ada Aghlab bin Tamiim. Imam Bukhari berkata: “Ia adalah munkarul hadits.” Ibnu Ma’in berkata: “Ia tidak ada apa-apanya (tidak kuat).”
Rujukan :
Mizaanul I’tidal (I/273-274) dan Lisaanul Mizaan (I/464-465)
Hadits ketiga :
مَنْ قَرَأَيَسٍ فِيْ لَيْلَةٍ ابْتِغَاءَ وَجْهِ اللهِ غُفِرَ لَهُ فِيْ تِلْكَ اللَّيْلَةِ
“Barang siapa membaca surat Yaasiin pada malam hari karena mengharap keridhaan Allah, maka ia akan diampuni dosanya pada malam itu.”
Hadits ini adalah hadits Dha’if.
Takhrij singkat :
Diriwayatkan oleh Imam ad-Darimi dari jalan Walid bin Syuja’, ayahku (Syuja’) telah menceritakan kepadaku, Ziyad bin Khaitsamah telah menceritakan kepadaku, dari Muhammad bin Juhadah dari al-Hasan, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu. [Sunan ad-Darimi (II/457)]
Hadits ini diriwayatkan juga oleh al-Baihaqi, Abu Nu’aim dan al-Khatib, dari jalan al-hasan, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu.
Hadits ini Munqathi’, karena dalam semua sanadnya terdapat al-Hasan bin Yasar al-Bashriy, ia tidak mendengar riwayat ini dari Abu Hurairah.
Imam adz-Dzahabi berkata : “Al-Hasan tidak mendengar dari Abu Hurairah, maka semua hadits-hadits yang ia riwayatkan dari Abu Hurairah termasuk daru jumlah hadits-hadits munqathi’.
Rujukan :
Mizaanul I’tidal (I/527 no. 1968), al-Fawaa-idul Majmu’ah (hal. 269 no. 945) tahqiq oleh Syaikh ‘Abdurrahman al-Mu’allimy.
Hadits keempat :
مَنْ دَاوَمَ عَلَى قِرَاءَةِ يَسٍ فِيْ كُلِّ لَيْلَةٍ ثُمَّ مَاتَ، مَاتَ شَهِيْدًا
“Barang siapa terus-menerus membaca surat Yaasiin pada setiap malam kemudian dia mati, maka ia mati syahid.”
Hadits ini adalah hadits Maudhu’.
Takhrij singkat :
Hadits ini diriwayatkan oleh ath-Thabrani dalam al-Mu’jamush Shaghir, dari Shahabat Anas radhiyallahu ‘anhu, tetapi di dalam sanadnya ada Sa’id bin Musa al-Azdiy, ia seorang tukang dusta dan ia dituduh oleh Ibnu Hibban sering memalsukan hadits.
Rujukan :
Tuhfatul Dzakirin (hal. 340), Mizaanul I’tidal (II/159-160), Lisaanul Mizaan (III/44-45)
Hadits kelima :
مَنْ قَرَأَيَسٍ فِيْ صَدْرِ النَّهَارِ قُضِيَتْ حَوَا ئِجُهُ
“Barang siapa membaca surat Yaasiin pada permulaan siang (pagi hari), maka terpenuhi semua hajatnya.”
Hadits ini adalah hadits Dha’if.
Takhrij singkat :
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam ad-Darimi dari jalan Walid bin Syuja’, telah menceritakan kepadaku Ziyad bin Khaitsamah, dari Muhammad bin Juhadah, dari ‘Atha’ bin Abi Rabah, ia berkata : “Telah sampai kepadaku bahwasanya Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallaam bersabda…”
Hadits ini mursal, karena ‘Atha’ bin Abi Rabah tidak bertemu dengan Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallaam, ia lahir kurang lebih tahun 24 Hijriyah dan wafat tahun 114 Hijriyah.
Rujukan :
Sunan ad-Darimi (II/457), Misykaatul Mashaabih (takhrij no. 2177), Mizaanul I’tidal (III/70) dan Taqribut Tahdzib (II/22)
Hadits keenam :
مَنْ قَرَأَيَسٍ مَرَّةً فَـكَـأَنَّمَـا قَرَأَ الْقُرْاَنَ مَرَّتَيْنِ
“Barang siapa membaca surat Yaasiin satu kali seolah-olah ia telah membaca al-Qur’an dua kali.”
Riwayat al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman.
Hadits ini adalah hadits Maudhu’.
Rujukan :
Dha’if Jami’ush Shaghir (no. 5789) dan Silsilah Ahaadits adh-Dha’ifah wal Maudhu’ah (no. 4636) oleh al-Hafidz asy-Syaikh al-Albani.
Hadits ketujuh :
مَنْ قَرَأَ يَسٍ مَرَّةً فَـكَـأَ نَّمَا قَرَأَالْقُرَاَنَ عَشْرَ مَرَّابٍ
“Barang siapa membaca surat Yaasiin satu kali seolah-olah ia telah membaca al-Qur’an sepuluh kali.”
Riwayat al-Baihaqi dalam kitab Syu’abul Iman dari jalan Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu.
Hadits ini adalah hadits Maudhu’.
Rujukan :
Dha’if Jami’ush Shaghir (no. 5798) oleh al-Hafidz asy-Syaikh al-Albani.
Hadits kedelapan :
إِنَّ لِكُلِّ شَيْءٍ قَلْبًا وَقَلْبُ الْقُرْاَنِ يَسٍ، وَمَنْ قَرَأَيَسٍ كَتَبَ اللهُ لَهُ بِقِرَاءَتِهَا قِرَاءَةَ الْقُرْاَنِ عَشْرَ مَرَّاتٍ
“Sesungguhnya tiap-tiap sesuatu mempunyai hati dan hati (inti) al-Qur’an itu ialah surat Yaasiin. Barang siapa yang membacanya, maka Allah akan memberikan pahala bagi bacaannya itu seperti pahala membaca al-Qur’an sepuluh kali.”
Hadits ini diriwayatkan oleh at-Tirmidzi (no. 2887) dan ad-Darimi (II/456), dari jalan Humaid bin ‘Abdurrahman, dari al-Hasan bin Shalih, dari Harun Abu Muhammad dari Muqatil bin Hayyan (yang benar adalah Muqatil bin Sulaiman) dari Qatadah dari Anas secara marfu’.
Hadits ini hadits Maudhu'.
Takhrij singkat :
Di dalam isnad hadits ini terdapat dua rawi yang dha’if, yaitu Harun Abu Muhammad dan Muqatil bin Hayyan. Harun Abu Muhammad adalah seorang yang majhul (tidak dikenal riwayat hidupnya). Imam adz-Dzahabi berkata: “Aku menuduhnya majhul.” [Mizaanul I’tidal IV/288). Sedangkan Muqatil bin Hayyan adalah seorang yang dha’if. Ibnu Ma’in berkata : “Dha’if.” Dan Imam Ahmad bin Hanbal berkata : “Aku tidak peduli kepada Muqatil bin Hayyan dan Muqatil bin Sulaiman.” [Lihat Mizaanul I’tidal IV/171-172)
Imam Ibnu Abi Hatim berkata dalam kitabnya al-‘Ilal (II/55-56): “Aku pernah bertanya kepada ayahku tentang hadits ini. Jawabnya : ‘Muqatil yang ada dalam sanad hadits ini adalah Muqatil bin Sulaiman, aku mendapati hadits ini di awal kitab yang disusun oleh Muqatil bin Sulaiman. Dan ini adalah hadits bathil, tidak ada asalnya.’” [Lihat Silsilah Ahaadits adh-Dha’ifah wal Maudhu’ah hal. 312-313 no. 169]. Imam adz-Dzahabi juga membenarkan bahwa Muqatil dalam hadits ini adalah Muqatil bin Sulaiman. [Lihat Mizaanul I’tidal IV/172]. Asy-Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani berkata : “Apabila sudah jelas bahwa Muqatil yang dimaksud adalah Muqatil bin Sulaiman, sebagaimana yang sudah dinyatakan oleh Imam Abu Hatim dan diakui oleh Imam adz-Dzahabi, maka hadits ini Maudhu’. [Silsilah Ahaadits adh-Dha’ifah wal Maudhu’ah hal. 313-314 no. 169]. Kata Imam Waqi’: “Muqatil bin Sulaiman adalah kadzdzab/pendusta.” Kata Imam an-Nasa’i: “Muqatil bin Sulaiman sering dusta.” [Mizaanul I’tidal IV/173].
Hadits kesembilan :
مَنْ قَرَأَيَسٍ حِيْنَ يُصْبِحُ يُسِرَيَوْ مُهُ حَتَّى يُمْسِيَ، وَمَنْ قَرَأَهَا فِيْ صَدْرِ لَيْلَةٍ أُعْطِيَ يُسْرَ لَيْلَتِةِ حَتَّى يُصْبِحَ
“Barang siapa baca surat Yaasiin di pagi hari, maka akan dimudahkan urusan hari itu sampai sore. Dan barang siapa membacanya di awal malam (sore hari), maka akan diberi kemudahan urusan malam itu sampai pagi.”
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam ad-Darimi (II/457)
Hadits ini adalah hadits Dha’if.
Takhrij singkat :
Hadits ini diriwayatkan dari jalan Amr bin Zararah, telah menceritakan kepada kami ‘Abdul Wahhab, telah menceritakan kepada kami Rasyid Abu Muhammad al-Himani, dari Syahr bin Hausyab, ia berkata : “Ibnu ‘Abbas telah menceritakan…”
Dalam sanad hadits ini ada seorang rawi yang bernama Syahr bin Hausyab. Ibnu Hajar : “Ia banyak memursal-kan hadits dan banyak keliru.” [Taqriibut Tahdziib I/423 no. 2841, Mizaanul I’tidal II/283]. Al-Mujaddid asy-Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimahullahu Ta’ala berkata : “Syahr bin Hausyab lemah dan tidak boleh dipakai sebagai hujjah, karena banyak salahnya.” [Silsilah Ahaadits adh-Dha’ifah wal Maudhu’ah jilid I hal. 426]
Hadits ini juga merupakan hadits Mauquf.
Hadits kesepuluh :
مَنْ قَرَأَ يَسٍ كُلَّ لَيْلَةٍ غُفِرَلَهُ
“Barang siapa membaca surat Yaasiin setiap malam, niscaya diampuni (dosa)nya.”
Hadits ini diriwayatkan oleh al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman.
Hadits ini adalah hadits Dha’if.
Rujukan :
Dha’if Jami’ush Shaghir hadits no. 5788 dan Silsilah Ahaadits adh-Dha’ifah wal Maudhu’ah no. 4636.
Hadits kesebelas :
إِنَّ اللهَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى قَرَأَ طه وَيَسٍ قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ اَدَمَ بِأَلْفَيْ عَامٍ فَلَـمَّاسَمِعَتِ الْمَلاَئِكَةُ الْقُرْاَنَ قَالُوْا: طُوْبَى لِأُمَّةٍ يَنْزِلُ هَذَا عَلَيْهِمَ وَطُوْبَى لِأَلْسُنٍ تَتَكَلَّمُ بِهَذَاوَطُوْبَى لِأَجْوَافٍ تَحْمِلُ هَذَا.
“Sesungguhnya Allah Ta’ala membaca surat Thaaha dan Yaasiin 2000 tahun sebelum diciptakannya Nabi Adam. Tatkala para Malaikat mendengar al-Qur’an (yakni kedua surat itu) seraya berkata: ‘Berbahagialah bagi umat yang turun al-Qur’an atas mereka, alangkah baiknya lidah-lidah yang berkata dengan ini (membaca) dan baiklah rongga-rongga yang membawanya (yang menghafal kedua surat itu).”
Hadits ini diriwayatkan oleh ad-Darimi (II/456), Ibnu Khuzaimah dalam kitab at-Tauhid (no. 328), Ibnu Hibban dalam kitab adh-Dhu’afa (I/108), Ibnu Abi ‘Ashim dalam as-Sunnah (no. 607), al-Baihaqi dalam al-Asma’ wash Shifat (I/365) dan ath-Thabrani dalam al-Mu’jamul Ausaath (no. 4873).
Hadits ini adalah hadits Munkar.
Takhrij singkat :
Hadits ini diriwayatkan dari jalan Ibrahim bin Muhajir bin Mismar, ia berkata : “Telah menceritakan kepada kami ‘Umar bin Hafsh bin Dzakwan dari Maula al-Huraqah.” Kata Ibnu Khuzaimah : “Namanya ‘Abdur Rahman bin Ya’qub bin al-‘Ala’ bin ‘Abdur Rahman dari Abu Hurairah, ia berkata: Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallaam…”
Matan hadits ini maudhu’. Kata Ibnu Hibban : “Matan hadits ini palsu dan sanadnya sangat lemah, karena ada dua orang rawi yang lemah :
1.Ibrahim bin Muhajir bin Mismar
Kata Imam al-Bukhari : “Ia adalah munkarul hadits.”
Kata Imam an-Nasa’i : “Ia perawi yang lemah.”
Kata Ibnu Hibban : “Ia sangat munkar haditsnya.”
Kata Ibnu Hajar : “Ia perawi lemah.”
[Mizaanul I’tidal (I/67), Taqriibut Tahdziib (I/67 no. 255)]
2.‘Umar bin Hafsh bin Dzakwan
Kata Imam Ahmad : “Kami tinggalkan haditsnya dan kami bakar.”
Kata Imam ‘Ali Ibnul Madini : “Ia seorang rawi yang tidak tsiqah.”
Kata Imam an-Nasa’i : “Ia rawi matruk.”
[Mizaanul I’tidal (III/189). Lihat Silsilah Ahaadits adh-Dha’ifah wal Maudhu’ah no. 1248]. Al-Hafidz Ibnu Katsir rahimahullahu Ta’ala berkata : “Hadits ini gharib dan munkar, karena Ibrahim bin Muhajir dan Syaikhnya (yaitu, ‘Umar bin Hafsh) diperbincangkan (oleh para ulama hadits).” [Lihat Tafsiir Ibnu Katsir (III/156, cetakan Darus Salaam, th. 1413H].
Hadits kedua belas :
مَنْ سَمِعَ سُوْرَةَيَسٍ عَدَ لَتْ لَهُ عِشْرِيْنَ دِيْنَارًا فِيْ سَبِيْلِ اللهِ وَمَنْ قَرَأَهَاعَدَلَتْ لَهُ عِشْرِيْنَ حَجَّةً وَمَنْ كَتَبَهَا وَشَرِبَهَا أُدْخِلَتْ جَوْفَهُ أَلْفَ يَقِيْنٍ وَأَلْفَ نُوْرٍ وَأَلْفَ بَرَكَةٍ وَأَلْفَ رَحْمَةٍ وَأَلْفَ رِزْقٍ وَنُزِعَتْ مِنْهُ كُلُّ غِلٍّ وَدَاءٍ.
“Barang siapa mendengar bacaan surat Yaasiin, ia akan diberi ganjaran 20 Dinar di jalan Allah. Barang siapa yang membacanya diberi ganjaran kepadanya laksana ganjaran 20 kali melakukan ibadah Haji. Barang siapa yang menuliskannya kemudian ia meminum airnya maka akan dimasukkan ke dalam rongga dadanya seribu keyakinan, seribu cahaya, seribu berkah, seribu rahmat, seribu rizqi, dan dicabut (dihilangkan) segala macam kesulitan dan penyakit.”
Hadits ini diriwayatkan oleh al-Khatib dari ‘Ali, lalu dia berkata :
“Hadits ini Maudhu’.”
Takhrij singkat :
Ibnu ‘Adiy berkata: “Dalam sanadnya ada rawi yang tertuduh memalsukan hadits yaitu Ahmad bin Harun. [Mizaanul I’tidal I/162]. Dalam sanad hadits ini terdapat Isma’il bin Yahya al-Baghdadi. Shalih bin Muhammad Jazarah berkata : “Ia (Isma’il) sering memalsukan hadits.” Imam ad-Daruquthni berkata : “Ia seorang tukang dusta dan matruk.” Imam al-Azdiy berkata : “Ia salah seorang tukang dusta dan tidak halal meriwayatkan dari padanya.”
Rujukan :
Al-Maudhu’at oleh Ibnul Jauzi (I/246-247), al-Fawaa-idul Majmu’ah fil Ahaaditsil Maudhu’ah no. 942 dan Mizaanul I’tidal (I/253-254).
Hadits ketiga belas :
يَسٍ لِمَا قُرِأَتْ لَهُ
“Surat Yaasiin itu bisa member manfaat sesuai tujuan yang dibacakan untuknya.”
Hadits ini Tidak Ada Asalnya لا أصل له
Imam as-Sakhawi berkata : “Hadits ini tidak ada asalnya.”
Rujukan :
Al-Mashnu’ fii Ma’rifatil Haditsil Maudhu’ oleh ‘Ali al-Qari’ (no. 414 hal. 215-216), ta’liq Abdul Fattah Abu Ghuddah, al-Maqaashidul Hasanah (no. 1342).
Hadits keempat belas :
يَسٍ قَلْبُ الْقُرْاَنِ لاَيَقْرَأُهَا رَجُلٌ يُرِيْدُاللهَ وَالدَّارَ الْاَخِرَةَ إِلاَّغُفِرَ لَهُ وَاقْرَؤُوْهَاعَلَى مَوْتَاكُمْ
“Surat Yaasiin itu hatinya al-Qur’an, tidaklah seseorang membacanya karena mengharapkan keridhaan Allah dan negeri akhirat (Surga-Nya), melainkan akan diampuni dosanya. Oleh karena itu, bacakanlah surat Yaasiin itu untuk orang-orang yang akan mati di antara kalian.”
Hadits ini diriwayatkan oleh Ahmad (V/26) dan an-Nasa’i dalam kitab Amalil Yaum wal Lailah (no. 1083).
Hadits ini adalah hadits Dha’if.
Takhrij singkat :
Hadits ini diriwayatkan dari jalan Mu’tamir, dari ayahnya, dari seseorang, dari ayahnya, dari Ma’qil bin Yasar, ia berkata : “Bahwasanya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallaam bersabda…”
Dalam sanad hadits ini terdapat tiga orang rawi yang majhul (tidak diketahui namanya dan keadaannya). Jadi hadits ini Dha’if dan tidak boleh dipakai sebagai hujjah.
Rujukan :
Fat-hur Rabbani (VII/63)
Hadits kelima belas :
اِقْرَأُواْ يَسٍ عَلَى مَوْتَاكُمْ
“Bacakanlah surat Yaasiin kepada orang yang akan mati di antara kalian.”
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad (V/26-27), Abu Dawud (no. 3121), Ibnu Abi Syaibah, an-Nasa’i dalam Amalil Yaum wal Lailah (no. 1082), Ibnu Majah (no. 1448), al-Hakim (I/565), al-Baihaqi (III/383) dan ath-Thayalisiy (no. 973).
Hadits ini adalah hadits Dha’if.
Takhrij singkat :
Hadits ini diriwayatkan dari jalan Sulaiman at-Taimi, dari Abu ‘Utsman (bukan an-Nahdi), dari ayahnya, dari Ma’qil bin Yasar, ia berkata : “Telah bersabda Rasulullaah shallallaahu ‘alaihi wasallaam...”. Hadits ini lemah karena ada tiga sebab yang menjadikan hadits ini lemah :
1.Abu ‘Utsman seorang rawi majhul.
2.Ayahnya juga majhul.
3.Hadits ini mudthorib (goncang) sanadnya.
Penjelasan para imam ahli hadits tentang hadits ini :
1.Tentang Abu ‘Utsman
Kata Imam adz-Dzahabi : “Abu ‘Utsman rawi yang tidak dikenal (majhul).”
Kata ‘Ali Ibnul Madini : “Tidak ada yang meriwayatkan dari Abu ‘Utsman melainkan Sulaiman at-Taimi.” Maksud Ibnul Madini ialah: bahwa Abu ‘Utsman ini majhul. [Mizaanul I’tidal (IV/550), Tahdziibut Tahdziib (XII/182) dan Irwaa-ul Ghalil fii Takhriiji Ahaadits Manaaris Sabil (III/151 no. 688)]. Kata Ibnul Mundzir : “Abu ‘Utsman dan ayahnya bukan orang yang masyhur (tidak dikenal).” [Lihat ‘Aunul Ma’bud (VIII/390)]. Kata Imam Ibnul Qaththan : “Hadits ini ada ‘illat-nya, serta hadits ini mudthorib (goncang) dan Abu ‘Utsman majhul.”
Kata Abu Bakar Ibnul ‘Arabi dan ad-Daruquthni : “Hadits dha’if isnadnya dan majhul, dan tidak ada satu pun hadits yang shahih dalam bab ini (yakni dalam bab Membacakan Yaasiin untuk Orang yang Akan Mati).” [at-Talkhisul Habir ma’asy Syarhil Muhadzdzab (V/110), Fat-hur Rabbani (VII/63), Irwaa-ul Ghaliil (III/151)]. Kata Imam an-Nawawi : “Isnad hadits ini dha’if, di dalamnya ada dua orang yang majhul (Abu ‘Utsman dan ayahnya).” [al-Adzkaar hal. 122][1]
2.Tentang ayahnya Abu ‘Utsman
Ia ini rawi yang mubham (seorang rawi yang tidak diketahui namanya). Ia dikatakan majhul oleh para ulama Ahli Hadits, karena selain tidak diketahui namanya tetapi juga tidak diketahui biografinya.
3.Hadits ini Mudhthorib
Hal ini karena di sebagian riwayat yang disebutkan : Dari Abu ‘Utsman, dari ayahnya, dari Ma’qil bin Yasar. Sedangkan riwayat lain menyebutkan dari Abu ‘Utsman dari Ma’qil bin Yasar tanpa menyebut dari ayahnya.
Dengan demikian, hadits ini martabatnya adalah Dha’if dan tidak boleh dipakai sebagai hujjah.[2]
Hadits keenam belas :
Diriwayatkan dari Shafwan (ia berkata) :
حَدَّثَنِي الْمَشْيَخَةُ أَنَّهُمْ حَضَرُوْا غُضَيْفَ بْنَ الْحَارِثِ الثُّمَالِيَّ حِيْنَ اشْتَدَّ سَوْ قُهُ فَقَالَ هَلْ مِنْكُمْ أَحَدٌ يَقْرَأُ يَسٍ قَالَ فَقَرَأَهَا صَالَحُ بْنُ شُرَيْحٍ السَّكُونِيُّ فَلَمَّا بَلَغَ أَرْبَعِيْنَ مِنْهَا قُبِضَ قَالَ: فَكَانَ الْمَشْيَخَةُ يَقُولُونَ إِذَا قُرِئَتْ عِنْدَ الْمَيِّتِ خُفِّفَ عَنْهُ بِهَا، قَالَ صَفْوَانُ: وَقَرَأَهَا عِيْسَى بْنُ الْمُعْتَمِرِ عِنْدَا بْنِ مَعْبَدٍ
“Telah berkata kepadaku beberapa Syaikh bahwasanya mereka hadir ketika Ghudhaif bin Harits mengalami naza’ (sakaratul maut), seraya berkata: ‘Siapakah di antara kalian yang dapat membacakan surat Yaasiin?’ Lalu Shalih bin Syuraih as-Sakuni membacakannya. Maka, ketika sanpai pada ayat ke-40, ia (Ghudhaif) wafat. Shafwan berkata: Para Syaikh berkata:’Bila dibacakan surat Yaasiin di sisi orang yang akan meninggal, niscaya diringankan bagi si mayyit (keluarnya ruh) dengan sebab bacaan itu.’ Kata Shafwan: ‘Kemudian ‘Isa bin Mu’tamir membacakan surat Yaasiin di sisi Ibnu Ma’bad.’ ”
Riwayat ini Maqthu’[3]. Apalagi riwayat ini juga lemah, karena beberapa Syaikh yang disebutkan itu majhul, tidak diketahui nama dan keadaan diri mereka masing-masing.
Jadi riwayat ini lemah (dha'if) dan tidak bisa dipakai sebagai hujjah.
Rujukan :
Irwaa-ul Ghaliil (III/151-152)
Hadits ketujuh belas :
مَا مِنْ مَيِّتٍ يَمُوْتُ فَيُقْرَأُ عِنْدَهُ (يَسٍ) إِلاَّ هَوَّنَ اللهُ عَلَيْهِ
“Tidak ada seorang pun yang akan mati, lalu dibacakan surat Yaasiin, di sisinya (yaitu ketika ia sedang naza’) melainkan Allah akan mudahkan (kematian) atasnya.”
Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Nu’aim dalam kitab Akhbaru Ashbahan (I/188).
Hadits ini adalah hadits Maudhu’.
Takhrij singkat :
Hadits ini diriwayatkan dari jalan Marwan bin Salim Aljazary, dari Shafwan bin ‘Amr, dari Syuraih, dari Abu Darda secara marfu’.
Dalam sanad hadits ini ada seorang rawi yang sering memalsukan hadits, yaitu Marwan bin Salim Aljazary. Imam Ahmad dan an-Nasa’i berkata : “Ia tidak bisa dipercaya.”
Imam Bukhari, Muslim, dan Abu Hatim berkata : “Ia munkarul hadits.”. Abu Arubah al-Harrani berkata : “Ia sering memalsukan hadits.”
Rujukan :
Mizaanul I’tidal (IV/90-91), Irwaa-ul Ghaliil (III/152)
Demikian takhrij singkat dari beberapa hadits yang menyebutkan tentang fadhaail surat Yaasiin. Dan berikut ini adalah penjelasan al-Hafidz al-‘Allamah asy-Syaikh Ibnu Qayyim al-Jauziyah rahimahullahu Ta’ala :
Riwayat-riwayat yang menyebutkan tentang keutamaan-keutamaan (fadhaail) surat-surat dan ganjaran bagi orang yang membaca surat ini akan mendapat pahala begini dan begitu dari awal al-Qur’an sampai akhir, sebagaimana yang disebutkan oleh Tsa’labi dan Wahidi pada awal tiap-tiap surat dan Zamakhsyari pada akhir surat, semuanya ini kata ‘Abdullah bin al-Mubarak : ‘Semua hadits yang mengatakan : ‘Barang siapa yang membaca surat ini akan diberi ganjaran begini dan begitu... semua hadits tentang itu adalah maudhu’. Mereka (para pemalsu hadits) mengatasnamakan sabda Rasulullaah shallallaahu ‘alaihi wasallaam. Sesungguhnya orang-orang yang membuat hadits-hadits itu telah mengakui mereka telah memalsukannya.’”
Mereka berkata : ‘Tujuan kami membuat hadits-hadits palsu agar manusia sibuk dengan (membaca al-Qur’an) dan menjauhkan (kitab-kitab) selain al-Qur’an.” Mereka (para pemalsu hadits) adalah orang-orang jahil dan mereka adalah orang-orang yang ummi akan ilmu hadits.[4]
Wallaahu Ta’ala a’lam bish showab.
Al-Faqir ila Rabbil ‘Arsyil ‘Adzhim
Ibnu Isma’il bin Ibrahim al-Muhajirin
Maraji' :
Yasinan, al-Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas hafizhahulloh, cet. ke-7, penerbit Media Tarbiyah Bogor.
Catatan kaki :
[1] Hadits ini dilemahkan oleh asy-Syaikh Salim bin ‘Ied al-Hilaly dalam Shahih al-Adzkar wa Dha’iifuhu I/388-389.
[2] Untuk keterangan lebih jelas tentang kelemahan hadits masyhur ini, silakan merujuk pada kitab al-Qaulul Mubiin fii Dha’fi Haditsai at-Talqin qa Iqra’u ‘ala Mautakum Yaasiin, oleh asy-Syaikh ‘Ali bin Hasan bin ‘Ali ‘Abdul Hamid al-Atsari al-Halabiy.
[3] Yakni riwayat ini hanya sampai kepada tabi’in, tidak sampai kepada Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallaam.
[4] Al-Manarul Munif fis Shahih wadh Dha’if hal. 113-115, tahqiq : ‘Abdul Fattah Abu Ghuddah.
Untuk posting ini aku ingin mengutarakan mengenai amalan dan kepercayaan ramai orang mengenai membaca surah Yasin. Mereka itu percaya bahawa sekiranya membaca surah yasin itu pada masa atau hari yang tertentu maka mereka akan dapat fadhilat-fadhilat yang tertentu. Untuk menyokong kepercayaan dan amalan mereka itu, mereka telah kemukakan beberapa buah hadith.
Perlu aku ingatkan bahawa membaca Al-Quran adalah suatu ibadah. Suatu ibadah itu tidak sah melainkan ada dalilnya dari Al-Quran dan hadith yang sahih dan hadith yang hasan. Begitu juga dengan fadhilat membaca Al-Quran itu samada fadhilat itu didapati di dunia atau pun dijanjikan untuk dapati di akhirat nanti, ini semua memerlukan dalil dari Al-Quran dan hadith yang sahih.
Yasin adalah sebahagian dari Al-Quran. Membaca surah Yasin bila mana masa pun adalah berpahala dengan izin Allah, ini adalah kaidah umum.
Tetapi membaca surah Yasin pada masa atau hari tertentu dengan harapan untuk mendapat fadhilat tertentu seperti yang diamalkan oleh sebahagian ummat Islam hari ini apakah dibenarkan oleh syara'. Ulamak ahli hadith telah membuat pemeriksaan terhadap hadith-hadith yang mereka gunakan itu dan mereka telah dapati semuanya adalah tidak sah.
Aku sudah tahu mengenai hal tidak sahnya hadith-hadith mengenai fadhilat surah Yasin sejak tahun 90an lagi dari bacaanku pada kitab karangan Al-Muhaddith Muhammad Nasiruddin Al-Albani bernama SilsalatulAhadith Ad-Dha'ifah WalMaudhu'ah. Dalam kitab ini juga diterangkan mengenai tidak sahnya hadith fadhilat surah Al-Waqi'ah.
Untuk tujuan posting ini aku tidak bertujuan untuk ambil terus dari kitab Al-Albani itu. Sebagai ganti aku akan copy and paste dari sebuah blog dengan edit tanpa mengubah teks asal. Semoga Allah membalas jasa penulis blog itu yang bersusah payah menulis posting tersebut.
Blog itu ialah
http://ibnuismailbinibrahim.blogspot.com/2009/06/takhrij-hadits-fadhilah-yasin-bag-1.html
http://ibnuismailbinibrahim.blogspot.com/2009/06/takhrij-hadits-fadhilah-yasin-bag-2.html
Sila baca isi blog tersebut >>>>>>>
Al-Qur’an adalah kitab yang paling wajib dibaca dan ditadabburi oleh kaum muslimin, sesuai dengan firman Allah ‘Azza wa Jalla dalam surat al-‘Alaq ayat 1 :
إِقْرَا
“Bacalah.”
Al-Qur’an memiliki 30 juz dan terdiri dari 114 surat, mulai dari surat al-Fatihah hingga surat an-Naas. Dan kesemuanya itu memiliki keutamaan untuk diamalkan oleh kaum muslimin. Namun, kita melihat banyak orang yang lebih senang membaca surat-surat tertentu dari al-Qur’an karena (niatnya) berbagai fadhilah yang sebetulnya perlu diteliti keshahihannya. Salah satu surat yang sangat masyhur di kalangan masyarakat kita ini adalah surat Yasin. Mereka berdalih dengan berbagai riwayat yang menyebutkan tentang fadhilah surat Yasin ini.
Berikut ini akan kita lihat takhrij singkat dari beberapa riwayat yang menyebutkan tentang fadhilah-fadhilah surat Yasin.
Hadits pertama :
مَنْ قَرَأ يَسٍ فِيْ لَيْلَةٍ أَصْبَحَ مَغْفُوْرًا لَهُ
“Barang siapa yang membaca surat Yaasiin dalam satu malam, maka ketika ia bangun pagi hari diampuni dosanya.”
Riwayat Ibnul Jauzi dalam al-Maudhu’at (I/247)
Hadits ini adalah hadits Maudhu’.
Takhrij singkat:
Diriwayatkan dari Abu Hurairah, Ibnul Jauzi berkata : “Hadits ini dari semua thuruq-nya adalah bathil, tidak ada asalnya.” Imam ad-Daruquthni berkata : “Muhammad bin Zakaria yang ada dalam sanad hadits ini adalah tukang memalsukan hadits.”
Rujukan :
Al-Maudhu’at oleh Ibnul Jauzi (I/246-247), Mizaanul I’tidal (III/549), Lisaanul Mizaan (V/168), al-Fawaa-idul Majmu’ah fii Ahaaditsil Maudhu’ah (hal. 286 no. 944)
Hadits kedua :
مَنْ قَرَأَ يَسٍ فِيْ لَيْلَةٍ ابْتِغَاءَ وَجْهَ اللهِ غُفِرَ لَهُ
“Barang siapa membaca surat Yaasiin pada malam hari karena mengharap keridhaan Allah, niscaya Allah ampuni dosanya.”
Diriwayatkan oleh ath-Thabrani dalam al-Mu’jamul Ausaath dan al-Mu’jamush Shaaghir.
Hadits ini adalah hadits Dha’if.
Takhrij singkat :
Diriwayatkan dari Abu Hurairah, tetapi di dalam sanadnya ada Aghlab bin Tamiim. Imam Bukhari berkata: “Ia adalah munkarul hadits.” Ibnu Ma’in berkata: “Ia tidak ada apa-apanya (tidak kuat).”
Rujukan :
Mizaanul I’tidal (I/273-274) dan Lisaanul Mizaan (I/464-465)
Hadits ketiga :
مَنْ قَرَأَيَسٍ فِيْ لَيْلَةٍ ابْتِغَاءَ وَجْهِ اللهِ غُفِرَ لَهُ فِيْ تِلْكَ اللَّيْلَةِ
“Barang siapa membaca surat Yaasiin pada malam hari karena mengharap keridhaan Allah, maka ia akan diampuni dosanya pada malam itu.”
Hadits ini adalah hadits Dha’if.
Takhrij singkat :
Diriwayatkan oleh Imam ad-Darimi dari jalan Walid bin Syuja’, ayahku (Syuja’) telah menceritakan kepadaku, Ziyad bin Khaitsamah telah menceritakan kepadaku, dari Muhammad bin Juhadah dari al-Hasan, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu. [Sunan ad-Darimi (II/457)]
Hadits ini diriwayatkan juga oleh al-Baihaqi, Abu Nu’aim dan al-Khatib, dari jalan al-hasan, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu.
Hadits ini Munqathi’, karena dalam semua sanadnya terdapat al-Hasan bin Yasar al-Bashriy, ia tidak mendengar riwayat ini dari Abu Hurairah.
Imam adz-Dzahabi berkata : “Al-Hasan tidak mendengar dari Abu Hurairah, maka semua hadits-hadits yang ia riwayatkan dari Abu Hurairah termasuk daru jumlah hadits-hadits munqathi’.
Rujukan :
Mizaanul I’tidal (I/527 no. 1968), al-Fawaa-idul Majmu’ah (hal. 269 no. 945) tahqiq oleh Syaikh ‘Abdurrahman al-Mu’allimy.
Hadits keempat :
مَنْ دَاوَمَ عَلَى قِرَاءَةِ يَسٍ فِيْ كُلِّ لَيْلَةٍ ثُمَّ مَاتَ، مَاتَ شَهِيْدًا
“Barang siapa terus-menerus membaca surat Yaasiin pada setiap malam kemudian dia mati, maka ia mati syahid.”
Hadits ini adalah hadits Maudhu’.
Takhrij singkat :
Hadits ini diriwayatkan oleh ath-Thabrani dalam al-Mu’jamush Shaghir, dari Shahabat Anas radhiyallahu ‘anhu, tetapi di dalam sanadnya ada Sa’id bin Musa al-Azdiy, ia seorang tukang dusta dan ia dituduh oleh Ibnu Hibban sering memalsukan hadits.
Rujukan :
Tuhfatul Dzakirin (hal. 340), Mizaanul I’tidal (II/159-160), Lisaanul Mizaan (III/44-45)
Hadits kelima :
مَنْ قَرَأَيَسٍ فِيْ صَدْرِ النَّهَارِ قُضِيَتْ حَوَا ئِجُهُ
“Barang siapa membaca surat Yaasiin pada permulaan siang (pagi hari), maka terpenuhi semua hajatnya.”
Hadits ini adalah hadits Dha’if.
Takhrij singkat :
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam ad-Darimi dari jalan Walid bin Syuja’, telah menceritakan kepadaku Ziyad bin Khaitsamah, dari Muhammad bin Juhadah, dari ‘Atha’ bin Abi Rabah, ia berkata : “Telah sampai kepadaku bahwasanya Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallaam bersabda…”
Hadits ini mursal, karena ‘Atha’ bin Abi Rabah tidak bertemu dengan Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallaam, ia lahir kurang lebih tahun 24 Hijriyah dan wafat tahun 114 Hijriyah.
Rujukan :
Sunan ad-Darimi (II/457), Misykaatul Mashaabih (takhrij no. 2177), Mizaanul I’tidal (III/70) dan Taqribut Tahdzib (II/22)
Hadits keenam :
مَنْ قَرَأَيَسٍ مَرَّةً فَـكَـأَنَّمَـا قَرَأَ الْقُرْاَنَ مَرَّتَيْنِ
“Barang siapa membaca surat Yaasiin satu kali seolah-olah ia telah membaca al-Qur’an dua kali.”
Riwayat al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman.
Hadits ini adalah hadits Maudhu’.
Rujukan :
Dha’if Jami’ush Shaghir (no. 5789) dan Silsilah Ahaadits adh-Dha’ifah wal Maudhu’ah (no. 4636) oleh al-Hafidz asy-Syaikh al-Albani.
Hadits ketujuh :
مَنْ قَرَأَ يَسٍ مَرَّةً فَـكَـأَ نَّمَا قَرَأَالْقُرَاَنَ عَشْرَ مَرَّابٍ
“Barang siapa membaca surat Yaasiin satu kali seolah-olah ia telah membaca al-Qur’an sepuluh kali.”
Riwayat al-Baihaqi dalam kitab Syu’abul Iman dari jalan Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu.
Hadits ini adalah hadits Maudhu’.
Rujukan :
Dha’if Jami’ush Shaghir (no. 5798) oleh al-Hafidz asy-Syaikh al-Albani.
Hadits kedelapan :
إِنَّ لِكُلِّ شَيْءٍ قَلْبًا وَقَلْبُ الْقُرْاَنِ يَسٍ، وَمَنْ قَرَأَيَسٍ كَتَبَ اللهُ لَهُ بِقِرَاءَتِهَا قِرَاءَةَ الْقُرْاَنِ عَشْرَ مَرَّاتٍ
“Sesungguhnya tiap-tiap sesuatu mempunyai hati dan hati (inti) al-Qur’an itu ialah surat Yaasiin. Barang siapa yang membacanya, maka Allah akan memberikan pahala bagi bacaannya itu seperti pahala membaca al-Qur’an sepuluh kali.”
Hadits ini diriwayatkan oleh at-Tirmidzi (no. 2887) dan ad-Darimi (II/456), dari jalan Humaid bin ‘Abdurrahman, dari al-Hasan bin Shalih, dari Harun Abu Muhammad dari Muqatil bin Hayyan (yang benar adalah Muqatil bin Sulaiman) dari Qatadah dari Anas secara marfu’.
Hadits ini hadits Maudhu'.
Takhrij singkat :
Di dalam isnad hadits ini terdapat dua rawi yang dha’if, yaitu Harun Abu Muhammad dan Muqatil bin Hayyan. Harun Abu Muhammad adalah seorang yang majhul (tidak dikenal riwayat hidupnya). Imam adz-Dzahabi berkata: “Aku menuduhnya majhul.” [Mizaanul I’tidal IV/288). Sedangkan Muqatil bin Hayyan adalah seorang yang dha’if. Ibnu Ma’in berkata : “Dha’if.” Dan Imam Ahmad bin Hanbal berkata : “Aku tidak peduli kepada Muqatil bin Hayyan dan Muqatil bin Sulaiman.” [Lihat Mizaanul I’tidal IV/171-172)
Imam Ibnu Abi Hatim berkata dalam kitabnya al-‘Ilal (II/55-56): “Aku pernah bertanya kepada ayahku tentang hadits ini. Jawabnya : ‘Muqatil yang ada dalam sanad hadits ini adalah Muqatil bin Sulaiman, aku mendapati hadits ini di awal kitab yang disusun oleh Muqatil bin Sulaiman. Dan ini adalah hadits bathil, tidak ada asalnya.’” [Lihat Silsilah Ahaadits adh-Dha’ifah wal Maudhu’ah hal. 312-313 no. 169]. Imam adz-Dzahabi juga membenarkan bahwa Muqatil dalam hadits ini adalah Muqatil bin Sulaiman. [Lihat Mizaanul I’tidal IV/172]. Asy-Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani berkata : “Apabila sudah jelas bahwa Muqatil yang dimaksud adalah Muqatil bin Sulaiman, sebagaimana yang sudah dinyatakan oleh Imam Abu Hatim dan diakui oleh Imam adz-Dzahabi, maka hadits ini Maudhu’. [Silsilah Ahaadits adh-Dha’ifah wal Maudhu’ah hal. 313-314 no. 169]. Kata Imam Waqi’: “Muqatil bin Sulaiman adalah kadzdzab/pendusta.” Kata Imam an-Nasa’i: “Muqatil bin Sulaiman sering dusta.” [Mizaanul I’tidal IV/173].
Hadits kesembilan :
مَنْ قَرَأَيَسٍ حِيْنَ يُصْبِحُ يُسِرَيَوْ مُهُ حَتَّى يُمْسِيَ، وَمَنْ قَرَأَهَا فِيْ صَدْرِ لَيْلَةٍ أُعْطِيَ يُسْرَ لَيْلَتِةِ حَتَّى يُصْبِحَ
“Barang siapa baca surat Yaasiin di pagi hari, maka akan dimudahkan urusan hari itu sampai sore. Dan barang siapa membacanya di awal malam (sore hari), maka akan diberi kemudahan urusan malam itu sampai pagi.”
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam ad-Darimi (II/457)
Hadits ini adalah hadits Dha’if.
Takhrij singkat :
Hadits ini diriwayatkan dari jalan Amr bin Zararah, telah menceritakan kepada kami ‘Abdul Wahhab, telah menceritakan kepada kami Rasyid Abu Muhammad al-Himani, dari Syahr bin Hausyab, ia berkata : “Ibnu ‘Abbas telah menceritakan…”
Dalam sanad hadits ini ada seorang rawi yang bernama Syahr bin Hausyab. Ibnu Hajar : “Ia banyak memursal-kan hadits dan banyak keliru.” [Taqriibut Tahdziib I/423 no. 2841, Mizaanul I’tidal II/283]. Al-Mujaddid asy-Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimahullahu Ta’ala berkata : “Syahr bin Hausyab lemah dan tidak boleh dipakai sebagai hujjah, karena banyak salahnya.” [Silsilah Ahaadits adh-Dha’ifah wal Maudhu’ah jilid I hal. 426]
Hadits ini juga merupakan hadits Mauquf.
Hadits kesepuluh :
مَنْ قَرَأَ يَسٍ كُلَّ لَيْلَةٍ غُفِرَلَهُ
“Barang siapa membaca surat Yaasiin setiap malam, niscaya diampuni (dosa)nya.”
Hadits ini diriwayatkan oleh al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman.
Hadits ini adalah hadits Dha’if.
Rujukan :
Dha’if Jami’ush Shaghir hadits no. 5788 dan Silsilah Ahaadits adh-Dha’ifah wal Maudhu’ah no. 4636.
Hadits kesebelas :
إِنَّ اللهَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى قَرَأَ طه وَيَسٍ قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ اَدَمَ بِأَلْفَيْ عَامٍ فَلَـمَّاسَمِعَتِ الْمَلاَئِكَةُ الْقُرْاَنَ قَالُوْا: طُوْبَى لِأُمَّةٍ يَنْزِلُ هَذَا عَلَيْهِمَ وَطُوْبَى لِأَلْسُنٍ تَتَكَلَّمُ بِهَذَاوَطُوْبَى لِأَجْوَافٍ تَحْمِلُ هَذَا.
“Sesungguhnya Allah Ta’ala membaca surat Thaaha dan Yaasiin 2000 tahun sebelum diciptakannya Nabi Adam. Tatkala para Malaikat mendengar al-Qur’an (yakni kedua surat itu) seraya berkata: ‘Berbahagialah bagi umat yang turun al-Qur’an atas mereka, alangkah baiknya lidah-lidah yang berkata dengan ini (membaca) dan baiklah rongga-rongga yang membawanya (yang menghafal kedua surat itu).”
Hadits ini diriwayatkan oleh ad-Darimi (II/456), Ibnu Khuzaimah dalam kitab at-Tauhid (no. 328), Ibnu Hibban dalam kitab adh-Dhu’afa (I/108), Ibnu Abi ‘Ashim dalam as-Sunnah (no. 607), al-Baihaqi dalam al-Asma’ wash Shifat (I/365) dan ath-Thabrani dalam al-Mu’jamul Ausaath (no. 4873).
Hadits ini adalah hadits Munkar.
Takhrij singkat :
Hadits ini diriwayatkan dari jalan Ibrahim bin Muhajir bin Mismar, ia berkata : “Telah menceritakan kepada kami ‘Umar bin Hafsh bin Dzakwan dari Maula al-Huraqah.” Kata Ibnu Khuzaimah : “Namanya ‘Abdur Rahman bin Ya’qub bin al-‘Ala’ bin ‘Abdur Rahman dari Abu Hurairah, ia berkata: Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallaam…”
Matan hadits ini maudhu’. Kata Ibnu Hibban : “Matan hadits ini palsu dan sanadnya sangat lemah, karena ada dua orang rawi yang lemah :
1.Ibrahim bin Muhajir bin Mismar
Kata Imam al-Bukhari : “Ia adalah munkarul hadits.”
Kata Imam an-Nasa’i : “Ia perawi yang lemah.”
Kata Ibnu Hibban : “Ia sangat munkar haditsnya.”
Kata Ibnu Hajar : “Ia perawi lemah.”
[Mizaanul I’tidal (I/67), Taqriibut Tahdziib (I/67 no. 255)]
2.‘Umar bin Hafsh bin Dzakwan
Kata Imam Ahmad : “Kami tinggalkan haditsnya dan kami bakar.”
Kata Imam ‘Ali Ibnul Madini : “Ia seorang rawi yang tidak tsiqah.”
Kata Imam an-Nasa’i : “Ia rawi matruk.”
[Mizaanul I’tidal (III/189). Lihat Silsilah Ahaadits adh-Dha’ifah wal Maudhu’ah no. 1248]. Al-Hafidz Ibnu Katsir rahimahullahu Ta’ala berkata : “Hadits ini gharib dan munkar, karena Ibrahim bin Muhajir dan Syaikhnya (yaitu, ‘Umar bin Hafsh) diperbincangkan (oleh para ulama hadits).” [Lihat Tafsiir Ibnu Katsir (III/156, cetakan Darus Salaam, th. 1413H].
Hadits kedua belas :
مَنْ سَمِعَ سُوْرَةَيَسٍ عَدَ لَتْ لَهُ عِشْرِيْنَ دِيْنَارًا فِيْ سَبِيْلِ اللهِ وَمَنْ قَرَأَهَاعَدَلَتْ لَهُ عِشْرِيْنَ حَجَّةً وَمَنْ كَتَبَهَا وَشَرِبَهَا أُدْخِلَتْ جَوْفَهُ أَلْفَ يَقِيْنٍ وَأَلْفَ نُوْرٍ وَأَلْفَ بَرَكَةٍ وَأَلْفَ رَحْمَةٍ وَأَلْفَ رِزْقٍ وَنُزِعَتْ مِنْهُ كُلُّ غِلٍّ وَدَاءٍ.
“Barang siapa mendengar bacaan surat Yaasiin, ia akan diberi ganjaran 20 Dinar di jalan Allah. Barang siapa yang membacanya diberi ganjaran kepadanya laksana ganjaran 20 kali melakukan ibadah Haji. Barang siapa yang menuliskannya kemudian ia meminum airnya maka akan dimasukkan ke dalam rongga dadanya seribu keyakinan, seribu cahaya, seribu berkah, seribu rahmat, seribu rizqi, dan dicabut (dihilangkan) segala macam kesulitan dan penyakit.”
Hadits ini diriwayatkan oleh al-Khatib dari ‘Ali, lalu dia berkata :
“Hadits ini Maudhu’.”
Takhrij singkat :
Ibnu ‘Adiy berkata: “Dalam sanadnya ada rawi yang tertuduh memalsukan hadits yaitu Ahmad bin Harun. [Mizaanul I’tidal I/162]. Dalam sanad hadits ini terdapat Isma’il bin Yahya al-Baghdadi. Shalih bin Muhammad Jazarah berkata : “Ia (Isma’il) sering memalsukan hadits.” Imam ad-Daruquthni berkata : “Ia seorang tukang dusta dan matruk.” Imam al-Azdiy berkata : “Ia salah seorang tukang dusta dan tidak halal meriwayatkan dari padanya.”
Rujukan :
Al-Maudhu’at oleh Ibnul Jauzi (I/246-247), al-Fawaa-idul Majmu’ah fil Ahaaditsil Maudhu’ah no. 942 dan Mizaanul I’tidal (I/253-254).
Hadits ketiga belas :
يَسٍ لِمَا قُرِأَتْ لَهُ
“Surat Yaasiin itu bisa member manfaat sesuai tujuan yang dibacakan untuknya.”
Hadits ini Tidak Ada Asalnya لا أصل له
Imam as-Sakhawi berkata : “Hadits ini tidak ada asalnya.”
Rujukan :
Al-Mashnu’ fii Ma’rifatil Haditsil Maudhu’ oleh ‘Ali al-Qari’ (no. 414 hal. 215-216), ta’liq Abdul Fattah Abu Ghuddah, al-Maqaashidul Hasanah (no. 1342).
Hadits keempat belas :
يَسٍ قَلْبُ الْقُرْاَنِ لاَيَقْرَأُهَا رَجُلٌ يُرِيْدُاللهَ وَالدَّارَ الْاَخِرَةَ إِلاَّغُفِرَ لَهُ وَاقْرَؤُوْهَاعَلَى مَوْتَاكُمْ
“Surat Yaasiin itu hatinya al-Qur’an, tidaklah seseorang membacanya karena mengharapkan keridhaan Allah dan negeri akhirat (Surga-Nya), melainkan akan diampuni dosanya. Oleh karena itu, bacakanlah surat Yaasiin itu untuk orang-orang yang akan mati di antara kalian.”
Hadits ini diriwayatkan oleh Ahmad (V/26) dan an-Nasa’i dalam kitab Amalil Yaum wal Lailah (no. 1083).
Hadits ini adalah hadits Dha’if.
Takhrij singkat :
Hadits ini diriwayatkan dari jalan Mu’tamir, dari ayahnya, dari seseorang, dari ayahnya, dari Ma’qil bin Yasar, ia berkata : “Bahwasanya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallaam bersabda…”
Dalam sanad hadits ini terdapat tiga orang rawi yang majhul (tidak diketahui namanya dan keadaannya). Jadi hadits ini Dha’if dan tidak boleh dipakai sebagai hujjah.
Rujukan :
Fat-hur Rabbani (VII/63)
Hadits kelima belas :
اِقْرَأُواْ يَسٍ عَلَى مَوْتَاكُمْ
“Bacakanlah surat Yaasiin kepada orang yang akan mati di antara kalian.”
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad (V/26-27), Abu Dawud (no. 3121), Ibnu Abi Syaibah, an-Nasa’i dalam Amalil Yaum wal Lailah (no. 1082), Ibnu Majah (no. 1448), al-Hakim (I/565), al-Baihaqi (III/383) dan ath-Thayalisiy (no. 973).
Hadits ini adalah hadits Dha’if.
Takhrij singkat :
Hadits ini diriwayatkan dari jalan Sulaiman at-Taimi, dari Abu ‘Utsman (bukan an-Nahdi), dari ayahnya, dari Ma’qil bin Yasar, ia berkata : “Telah bersabda Rasulullaah shallallaahu ‘alaihi wasallaam...”. Hadits ini lemah karena ada tiga sebab yang menjadikan hadits ini lemah :
1.Abu ‘Utsman seorang rawi majhul.
2.Ayahnya juga majhul.
3.Hadits ini mudthorib (goncang) sanadnya.
Penjelasan para imam ahli hadits tentang hadits ini :
1.Tentang Abu ‘Utsman
Kata Imam adz-Dzahabi : “Abu ‘Utsman rawi yang tidak dikenal (majhul).”
Kata ‘Ali Ibnul Madini : “Tidak ada yang meriwayatkan dari Abu ‘Utsman melainkan Sulaiman at-Taimi.” Maksud Ibnul Madini ialah: bahwa Abu ‘Utsman ini majhul. [Mizaanul I’tidal (IV/550), Tahdziibut Tahdziib (XII/182) dan Irwaa-ul Ghalil fii Takhriiji Ahaadits Manaaris Sabil (III/151 no. 688)]. Kata Ibnul Mundzir : “Abu ‘Utsman dan ayahnya bukan orang yang masyhur (tidak dikenal).” [Lihat ‘Aunul Ma’bud (VIII/390)]. Kata Imam Ibnul Qaththan : “Hadits ini ada ‘illat-nya, serta hadits ini mudthorib (goncang) dan Abu ‘Utsman majhul.”
Kata Abu Bakar Ibnul ‘Arabi dan ad-Daruquthni : “Hadits dha’if isnadnya dan majhul, dan tidak ada satu pun hadits yang shahih dalam bab ini (yakni dalam bab Membacakan Yaasiin untuk Orang yang Akan Mati).” [at-Talkhisul Habir ma’asy Syarhil Muhadzdzab (V/110), Fat-hur Rabbani (VII/63), Irwaa-ul Ghaliil (III/151)]. Kata Imam an-Nawawi : “Isnad hadits ini dha’if, di dalamnya ada dua orang yang majhul (Abu ‘Utsman dan ayahnya).” [al-Adzkaar hal. 122][1]
2.Tentang ayahnya Abu ‘Utsman
Ia ini rawi yang mubham (seorang rawi yang tidak diketahui namanya). Ia dikatakan majhul oleh para ulama Ahli Hadits, karena selain tidak diketahui namanya tetapi juga tidak diketahui biografinya.
3.Hadits ini Mudhthorib
Hal ini karena di sebagian riwayat yang disebutkan : Dari Abu ‘Utsman, dari ayahnya, dari Ma’qil bin Yasar. Sedangkan riwayat lain menyebutkan dari Abu ‘Utsman dari Ma’qil bin Yasar tanpa menyebut dari ayahnya.
Dengan demikian, hadits ini martabatnya adalah Dha’if dan tidak boleh dipakai sebagai hujjah.[2]
Hadits keenam belas :
Diriwayatkan dari Shafwan (ia berkata) :
حَدَّثَنِي الْمَشْيَخَةُ أَنَّهُمْ حَضَرُوْا غُضَيْفَ بْنَ الْحَارِثِ الثُّمَالِيَّ حِيْنَ اشْتَدَّ سَوْ قُهُ فَقَالَ هَلْ مِنْكُمْ أَحَدٌ يَقْرَأُ يَسٍ قَالَ فَقَرَأَهَا صَالَحُ بْنُ شُرَيْحٍ السَّكُونِيُّ فَلَمَّا بَلَغَ أَرْبَعِيْنَ مِنْهَا قُبِضَ قَالَ: فَكَانَ الْمَشْيَخَةُ يَقُولُونَ إِذَا قُرِئَتْ عِنْدَ الْمَيِّتِ خُفِّفَ عَنْهُ بِهَا، قَالَ صَفْوَانُ: وَقَرَأَهَا عِيْسَى بْنُ الْمُعْتَمِرِ عِنْدَا بْنِ مَعْبَدٍ
“Telah berkata kepadaku beberapa Syaikh bahwasanya mereka hadir ketika Ghudhaif bin Harits mengalami naza’ (sakaratul maut), seraya berkata: ‘Siapakah di antara kalian yang dapat membacakan surat Yaasiin?’ Lalu Shalih bin Syuraih as-Sakuni membacakannya. Maka, ketika sanpai pada ayat ke-40, ia (Ghudhaif) wafat. Shafwan berkata: Para Syaikh berkata:’Bila dibacakan surat Yaasiin di sisi orang yang akan meninggal, niscaya diringankan bagi si mayyit (keluarnya ruh) dengan sebab bacaan itu.’ Kata Shafwan: ‘Kemudian ‘Isa bin Mu’tamir membacakan surat Yaasiin di sisi Ibnu Ma’bad.’ ”
Riwayat ini Maqthu’[3]. Apalagi riwayat ini juga lemah, karena beberapa Syaikh yang disebutkan itu majhul, tidak diketahui nama dan keadaan diri mereka masing-masing.
Jadi riwayat ini lemah (dha'if) dan tidak bisa dipakai sebagai hujjah.
Rujukan :
Irwaa-ul Ghaliil (III/151-152)
Hadits ketujuh belas :
مَا مِنْ مَيِّتٍ يَمُوْتُ فَيُقْرَأُ عِنْدَهُ (يَسٍ) إِلاَّ هَوَّنَ اللهُ عَلَيْهِ
“Tidak ada seorang pun yang akan mati, lalu dibacakan surat Yaasiin, di sisinya (yaitu ketika ia sedang naza’) melainkan Allah akan mudahkan (kematian) atasnya.”
Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Nu’aim dalam kitab Akhbaru Ashbahan (I/188).
Hadits ini adalah hadits Maudhu’.
Takhrij singkat :
Hadits ini diriwayatkan dari jalan Marwan bin Salim Aljazary, dari Shafwan bin ‘Amr, dari Syuraih, dari Abu Darda secara marfu’.
Dalam sanad hadits ini ada seorang rawi yang sering memalsukan hadits, yaitu Marwan bin Salim Aljazary. Imam Ahmad dan an-Nasa’i berkata : “Ia tidak bisa dipercaya.”
Imam Bukhari, Muslim, dan Abu Hatim berkata : “Ia munkarul hadits.”. Abu Arubah al-Harrani berkata : “Ia sering memalsukan hadits.”
Rujukan :
Mizaanul I’tidal (IV/90-91), Irwaa-ul Ghaliil (III/152)
Demikian takhrij singkat dari beberapa hadits yang menyebutkan tentang fadhaail surat Yaasiin. Dan berikut ini adalah penjelasan al-Hafidz al-‘Allamah asy-Syaikh Ibnu Qayyim al-Jauziyah rahimahullahu Ta’ala :
Riwayat-riwayat yang menyebutkan tentang keutamaan-keutamaan (fadhaail) surat-surat dan ganjaran bagi orang yang membaca surat ini akan mendapat pahala begini dan begitu dari awal al-Qur’an sampai akhir, sebagaimana yang disebutkan oleh Tsa’labi dan Wahidi pada awal tiap-tiap surat dan Zamakhsyari pada akhir surat, semuanya ini kata ‘Abdullah bin al-Mubarak : ‘Semua hadits yang mengatakan : ‘Barang siapa yang membaca surat ini akan diberi ganjaran begini dan begitu... semua hadits tentang itu adalah maudhu’. Mereka (para pemalsu hadits) mengatasnamakan sabda Rasulullaah shallallaahu ‘alaihi wasallaam. Sesungguhnya orang-orang yang membuat hadits-hadits itu telah mengakui mereka telah memalsukannya.’”
Mereka berkata : ‘Tujuan kami membuat hadits-hadits palsu agar manusia sibuk dengan (membaca al-Qur’an) dan menjauhkan (kitab-kitab) selain al-Qur’an.” Mereka (para pemalsu hadits) adalah orang-orang jahil dan mereka adalah orang-orang yang ummi akan ilmu hadits.[4]
Wallaahu Ta’ala a’lam bish showab.
Al-Faqir ila Rabbil ‘Arsyil ‘Adzhim
Ibnu Isma’il bin Ibrahim al-Muhajirin
Maraji' :
Yasinan, al-Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas hafizhahulloh, cet. ke-7, penerbit Media Tarbiyah Bogor.
Catatan kaki :
[1] Hadits ini dilemahkan oleh asy-Syaikh Salim bin ‘Ied al-Hilaly dalam Shahih al-Adzkar wa Dha’iifuhu I/388-389.
[2] Untuk keterangan lebih jelas tentang kelemahan hadits masyhur ini, silakan merujuk pada kitab al-Qaulul Mubiin fii Dha’fi Haditsai at-Talqin qa Iqra’u ‘ala Mautakum Yaasiin, oleh asy-Syaikh ‘Ali bin Hasan bin ‘Ali ‘Abdul Hamid al-Atsari al-Halabiy.
[3] Yakni riwayat ini hanya sampai kepada tabi’in, tidak sampai kepada Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallaam.
[4] Al-Manarul Munif fis Shahih wadh Dha’if hal. 113-115, tahqiq : ‘Abdul Fattah Abu Ghuddah.
Sunday, September 20, 2009
UCAPAN SEMASA BERTEMU PADA HARI 'ID AL-FITHRI عيد الفطر
Sudah menjadi tradisi di negara kita bahawa apabila bertemu pada hari Raya, masing-masing saling mengucapkan "Selamat Hari Raya" dan "Ma'af Zahir Batin". Ucapan-ucapan ini sebenarnya tiada asalnya dari sunnah Nabi صَلَّ اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ.
Sunnah Nabi صَلَّ اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ telah mengajarkan bahawa ucapan apabila bertemu pada hari 'Id ialah
تَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَ مِنْكُمْ
Berikut ialah dalilnya :
Dari Jubair Bin Nafir, katanya : “ Apabila sahabat-sahabat Rasulullah صَلَّ اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ bertemu pada hari 'Id, sebahagian mereka mengucapkan kepada sebahagian yang lain :
تَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَ مِنْكُمْ
“Semoga Allah menerima (amal) kami dan (amal) kamu.”
Menurut Hafiz Ibnu Hajar Al-‘Asqolani bahawa hadith ini isnadnya hasan.
(Fiqh As-Sunnah, As-Saiyid Sabiq, Bab Sunat Mengucapkan Selamat Hari Raya)
Sangat-sangatlah jarang saya mendengar ucapan sunnah ini walaupun dari mulut ustaz-ustaz.
Memang sungguh, sunnah ini adalah sunnah telah ditinggalkan سنة متروكة
Sunnah Nabi صَلَّ اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ telah mengajarkan bahawa ucapan apabila bertemu pada hari 'Id ialah
تَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَ مِنْكُمْ
Berikut ialah dalilnya :
Dari Jubair Bin Nafir, katanya : “ Apabila sahabat-sahabat Rasulullah صَلَّ اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ bertemu pada hari 'Id, sebahagian mereka mengucapkan kepada sebahagian yang lain :
تَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَ مِنْكُمْ
“Semoga Allah menerima (amal) kami dan (amal) kamu.”
Menurut Hafiz Ibnu Hajar Al-‘Asqolani bahawa hadith ini isnadnya hasan.
(Fiqh As-Sunnah, As-Saiyid Sabiq, Bab Sunat Mengucapkan Selamat Hari Raya)
Sangat-sangatlah jarang saya mendengar ucapan sunnah ini walaupun dari mulut ustaz-ustaz.
Memang sungguh, sunnah ini adalah sunnah telah ditinggalkan سنة متروكة
Friday, July 24, 2009
BLOG BARU : KITAB-KITAB ISLAM
Pada hari Rabu 15 Julai 2009 lalu aku buat satu BLOG baru. Isi blog ini ialah mengenai tajuk-tajuk dan gambar-gambar kitab-kitab Islam terutama kitab asas Islam iaitu kitab mengenai Al-Quran dan Al-Hadith dan segala ilmu yang berkaitan dengannya.
Dengan menggunakan kamera digital aku tu aku ambil gambar-gambar kitab itu. Buat permulaan aku masukkan gambar kitab hadith, baru masuk gambar saja, belum masukkan captionnya. Contohnya seperti ini
Dengan menggunakan kamera digital aku tu aku ambil gambar-gambar kitab itu. Buat permulaan aku masukkan gambar kitab hadith, baru masuk gambar saja, belum masukkan captionnya. Contohnya seperti ini
Wednesday, July 8, 2009
Subscribe to:
Posts (Atom)
